Share

Bab 3

Penulis: Ray Ghafari
Rakael hanya merasa kepalanya seperti akan pecah. Rasanya seperti ada tak terhitung banyaknya benda yang dipaksa masuk ke kepalanya sekaligus. Dia memegangi kepalanya dan menjerit kesakitan, lalu pingsan.

Ketika Rakael kembali sadar, dia sudah terbaring di rumah sakit. Dia tertidur selama tiga hari tiga malam.

Dari mulut perawat, Rakael mengetahui bahwa pemilik kontrakannya yang menemukan dirinya, lalu menelepon ambulans untuk membawanya ke rumah sakit ini.

Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Rakael memegangi kepalanya dan duduk, merasa bahwa di dalam benaknya seolah-olah telah bertambah banyak sekali hal.

Jimat, pil, pemurnian senjata, ilmu medis, serta teknik kultivasi yang hanya ada dalam legenda. Semua itu terasa begitu ajaib. Jika kejadian ini tidak menimpanya sendiri, Rakael sama sekali tidak akan percaya bahwa di dunia ini benar-benar ada kultivator!

Apa ini karena giok itu?

Untuk memastikan bahwa semua ini nyata, Rakael segera duduk bersila di atas ranjang rumah sakit. Mengikuti metode kultivasi yang muncul di benaknya, dia mulai mencoba berlatih.

Dalam warisan ini bukan hanya ada metode kultivasi, tetapi juga beberapa pemahaman latihan dari sosok abadi itu, yang dapat membuat Rakael menghindari banyak jalan berliku.

Mungkin memang bakatnya luar biasa. Tak lama setelah memasuki kondisi meditasi, Rakael merasakan ada sedikit aliran energi yang menyusup ke dalam tubuhnya. Seiring aliran itu terus membesar, di bagian bawah perutnya terasa seperti ada kobaran api yang menyala.

Setelah beberapa saat, rasa panas itu perlahan menghilang, digantikan oleh sensasi nyaman yang sulit digambarkan, seolah-olah seluruh kelelahan di tubuhnya telah tersapu bersih.

Apa ini yang disebut menarik energi ke dalam tubuh?

Rakael belum sempat merasa gembira, ketika tiba-tiba dia mencium bau kotoran. Siapa yang buang kotoran di ruang rawatnya?

Rakael langsung membuka mata dan buru-buru melihat ke sekeliling. Barulah dia menyadari bahwa tubuhnya lengket. Bau busuk seperti kotoran itu ternyata berasal dari tubuhnya sendiri.

"Huek!" Rakael mual-mual dan langsung masuk ke kamar mandi di ruang rawatnya. Dia mandi selama satu jam penuh, baru akhirnya bau menyengat di tubuhnya sedikit berkurang.

Ketika tanpa sengaja melihat dirinya di cermin, Rakael terkejut mendapati dirinya yang tampak berbeda. Bekas-bekas bopeng jerawat yang dulu tertinggal di wajahnya kini sudah benar-benar menghilang.

Wajahnya yang tadinya hanya sedikit tampan, kini menjadi sangat tampan! Bahkan entah hanya perasaannya atau bukan, dia merasa kakinya menjadi sedikit lebih panjang.

Tadinya tinggi badannya 1,78 meter, tetapi sekarang sepertinya sudah mencapai 1,8 meter!

Rakael terus menatap dirinya di cermin. Ini bisa dibilang berkah tersembunyi dari musibah yang dia alami.

Belum sempat duduk dengan tenang, Rakael tiba-tiba merasa dirinya melupakan sesuatu. Benar, dia tidak sadarkan diri selama tiga hari tanpa mengajukan izin cuti. Bukankah di kantor nanti ....

Celaka! Rakael buru-buru mencari ponselnya.

Layar ponsel itu sudah pecah, sepertinya rusak saat perkelahian hari itu. Untungnya masih bisa dinyalakan.

Di layar masih terpampang foto dirinya bersama Arumi. Keduanya tersenyum begitu manis. Namun sekarang, foto itu justru membuat Rakael merasa mual!

"Arumi!"

Terdengar suara "prak". Layar ponsel kembali retak. Baru saat itu Rakael menyadari bahwa kekuatannya kini jauh lebih besar dari sebelumnya.

Sial. Sepertinya ponsel ini benar-benar harus diganti.

"Kenapa kamu bangun? Cepat berbaring lagi." Perawat mendorong pintu dan masuk. Dia datang untuk mengganti perban Rakael. Mencium masih ada sedikit bau tak sedap di dalam ruangan, dia langsung membuka jendela.

Rakael kembali tersadar. Dia tiba-tiba teringat bahwa dirinya sudah berhasil menarik energi ke dalam tubuh dan bisa menggunakan beberapa teknik kecil. Kebetulan, dia bisa mencoba pada perawat ini.

Kilatan cahaya emas melintas di kedua mata Rakael. Dinding di hadapannya seolah-olah tembus pandang. Seketika, dia melihat seorang pria tua di kamar sebelah sedang mengorek jari kakinya.

"Hei, kamu sedang melihat apa?" Perawat kecil itu menyadari Rakael menatap dinding di belakangnya dengan tatapan kosong. Kenapa baru sekarang dia menyadari pria ini sangat tampan?

Rakael masih terpaku beberapa saat, lalu tersentak kembali ke dunia nyata. Matanya benar-benar bisa menembus pandang!

"Sepertinya ada noda kotor di dinding." Rakael asal menjawab, lalu segera menghentikan tekniknya dan duduk dengan patuh kembali ke ranjang.

Saat perawat melepas perban di wajah dan tubuh Rakael, dia tertegun sejenak, lalu mengulurkan tangan kecilnya dan menyentuh wajah serta dada Rakael. Dia bertanya dengan terkejut, "Kamu ... lukamu kok semuanya sudah sembuh?"

Dia jelas ingat, kemarin wajah Rakael masih penuh luka dan tubuhnya dipenuhi memar, tetapi sekarang semuanya sudah menghilang ....

Hanya Rakael sendiri yang tahu bahwa ini kemungkinan besar karena saat menarik energi ke dalam tubuh. Kekuatan spiritual telah menutrisi fisiknya sehingga luka-lukanya sembuh dengan cepat.

Sepertinya rumah sakit ini tidak bisa ditinggali lama-lama. Kalau sampai orang lain tahu, bukankah dia akan ditangkap dan dijadikan bahan penelitian?

"Mungkin karena fisikku bagus, jadi pemulihannya cepat. Oh ya, di mana pakaianku?"

Setelah berganti kembali ke pakaiannya sendiri, Rakael sebenarnya ingin membayar biaya rawat inap. Namun, perawat bilang wanita yang mengantarnya ke rumah sakit telah membayar biaya rawat inap dan pengobatannya. Dia pun segera meninggalkan rumah sakit.

Rakael membuka ponselnya. Di sana ada beberapa pesan dari Arumi serta lebih dari sepuluh panggilan tak terjawab.

Rakael terlebih dahulu menelepon Dyah dan menjelaskan keadaannya. Setelah tahu bahwa Rakael sempat terluka, Dyah langsung memberinya izin cuti beberapa hari agar dia beristirahat dengan baik.

Namun, Rakael menolaknya. Dia merasa tubuhnya sekarang sudah tidak bermasalah. Kepergian Arumi juga membuatnya sadar sepenuhnya bahwa di dunia ini, hanya uang dan kekuatanlah yang paling penting!

Tanpa uang dan kekuatan, seseorang bahkan tidak punya hak untuk mencintai. Dia ingin menghasilkan uang, menghasilkan banyak uang!

Selain panggilan dari kantor, Rakael juga melihat panggilan dari Ranti. Setelah ragu sejenak, dia tetap menelepon balik. Terlepas dari hal lain, Ranti sekarang juga kliennya. Dia tidak bisa mengabaikannya.

"Kak Ranti."

Sebenarnya Rakael tidak ingin bertemu Ranti, setidaknya untuk saat ini. Namun, setelah tahu bahwa Ranti ingin memperkenalkan klien kepadanya, dia ragu sejenak, lalu menyetujuinya.

Yang dia benci adalah anak Ranti, bukan Ranti. Dia tidak perlu mempersulit hidupnya dengan uang.

Tak lama kemudian, dari ponsel terdengar suara Ranti yang ceria. "Oke, nanti sore aku kirim alamatnya. Kamu harus datang ya."

Setelah menutup telepon, Rakael mengingat kembali semua yang telah terjadi dan tiba-tiba merasa lega. Dia seharusnya berterima kasih pada Arumi. Kalau bukan karena dirinya, mungkin dia tidak akan pernah menemukan rahasia giok itu dan menjadi kultivator!

Memikirkan dirinya yang merupakan lulusan berprestasi, tetapi justru melepaskan kesempatan ke luar negeri dan pergi menjual asuransi demi omong kosong bernama "cinta", Rakael merasa dirinya benar-benar bodoh!

Dia mengulurkan tangan untuk menghentikan sebuah taksi dan pulang terlebih dahulu ke kontrakannya.

Pemilik kontrakan Rakael bernama Almira, seorang janda kaya muda yang cantik. Beberapa gedung di sekitar sana semuanya adalah propertinya. Di Kota Dusara yang harga tanahnya selangit, hanya beberapa gedung itu saja sudah bernilai triliunan.

Bahkan hanya dengan hidup dari uang sewa, dia sudah bisa hidup nyaman seumur hidup. Namun, Rakael jarang berhubungan dengannya. Fakta bahwa dia mengirim Rakael ke rumah sakit dan bahkan membayarkan biaya pengobatannya benar-benar di luar dugaan Rakael.

Rakael kembali ke kontrakan, mandi, lalu berganti pakaian bersih. Setelah itu, barulah dia menuju tempat tinggal Almira.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kutukan Warisan Kultivasi: Godaan Wanita Tak Berujung   Bab 50

    "Nak, kamu yang namanya Rakael?" Harun menggaruk rambut putih di kepalanya, lalu pandangannya tertuju ke tubuh Chelsea. "Wah, kamu lumayan beruntung juga. Segede itu, pasti enak banget."Chelsea ketakutan sampai wajahnya pucat. Setengah badannya bersembunyi di belakang Rakael dan dia tidak berani mengangkat kepala.Rakael mengerutkan keningnya sedikit. Orang-orang ini sepertinya bukan anak buah Arlan. Arlan sudah pernah dirugikan sekali. Kalau benar-benar ingin berurusan dengannya, tidak mungkin hanya mengirim beberapa orang seperti ini.Kalau bukan Arlan, berarti tinggal satu orang lagi."Marten yang suruh kalian ke sini?" Kilatan dingin melintas di mata Rakael. Dia tiba-tiba menyesal. Menyesal karena waktu itu menghukumnya terlalu ringan.Harun mengorek telinganya dan berlagak pura-pura bodoh. "Marten siapa? Nggak pernah dengar."Rakael makin yakin dengan dugaannya. Dia melindungi Chelsea di belakangnya. "Mau apa kalian sebenarnya?"Harun menatap Chelsea di belakang Rakael, lalu ters

  • Kutukan Warisan Kultivasi: Godaan Wanita Tak Berujung   Bab 49

    "Kak Rakael." Melihat Rakael sudah selesai bekerja, Chelsea berlari kecil mendekat dengan wajah agak malu. Chelsea adalah rekan kerja wanita yang mengantarkan sarapan untuk Rakael tadi pagi.Rakael memang sudah beberapa kali berinteraksi dengannya, tetapi semuanya hanya urusan pekerjaan. Mereka punya kontak satu sama lain, tetapi isi percakapan yang ada juga sebatas hal-hal terkait kerja.Rakael sedang merapikan barang-barangnya dan bersiap meninggalkan kantor. Melihat Chelsea berdiri di depannya, dia meletakkan berkas di tangannya lalu bertanya, "Ada apa, Chelsea?""Kak Rakael, aku ... hari ini ulang tahunku. Bolehkah aku mengajakmu makan bersama?" Setelah berkata demikian, Chelsea tampak tidak berani menatap Rakael.Kedua tangannya terus mengusap-usap ujung kemejanya karena gugup. Sebenarnya, selain tubuhnya yang agak berisi, fitur wajah Chelsea tergolong cantik.Seperti yang pernah dikatakan Jevin, kalau Chelsea bisa turun belasan kilo lagi, dia pasti akan menjadi gadis cantik yang

  • Kutukan Warisan Kultivasi: Godaan Wanita Tak Berujung   Bab 48

    "Baik." Loreta tersenyum tipis dan mengangguk setuju.Namun, sepasang matanya terus tertuju pada wajah Rakael, tidak bergeser sedikit pun. Bahkan Sarah juga merasa ada yang aneh.Rakael bukanlah perawat pertama Loreta, tetapi ini pertama kalinya dia melihat Loreta menatap seseorang begitu lama dan sedemikian serius."Bekerjalah dengan baik. Kalau kamu merasa nggak sanggup, kamu bisa langsung datang mencariku," kata Sarah. Setelah memberi beberapa pesan tambahan, dia pun berbalik dan pergi.Rakael tiba-tiba jadi sedikit memahami Jevin.Demi mendapat sebuah transaksi, perjuangan orang-orang di industri mereka ini mungkin tidak kalah berat dibanding kurir makanan. Untuk tenaga penjual pria, kondisinya masih lebih baik. Sementara tenaga penjual wanita yang cantik, benar-benar harus mengerahkan segala cara demi menarik klien. Menemani makan dan minum sudah jadi hal biasa.Kalau bertemu klien besar yang sesungguhnya, sesama pria pasti paham maksudnya."Anak muda, duduklah," Loreta akhirnya m

  • Kutukan Warisan Kultivasi: Godaan Wanita Tak Berujung   Bab 47

    Sambil berjalan, Sarah menjelaskan, "Panti Jompo Beria dibagi menjadi halaman depan, halaman tengah, dan halaman belakang.""Halaman depan adalah area utama untuk aktivitas harian para lansia, ada taman, gazebo, ruang catur, dan pusat kebugaran. Halaman tengah adalah area hunian, setiap lansia memiliki satu unit suite pribadi dengan fasilitas lengkap. Sedangkan halaman belakang adalah area kantor dan logistik kami, termasuk ruang medis, kantin, dan gudang."Rakael berjalan di belakangnya sambil mendengarkan dengan serius, meski matanya tidak bisa menahan diri untuk mengamati sekeliling.Panti jompo ini ternyata jauh lebih besar daripada yang terlihat dari luar. Di setiap sudutnya terasa sangat terawat dan elegan. Selain aroma cendana dan wangi pepohonan, seolah juga samar-samar tercium bau obat di udara."Tugas utamamu adalah membantu perawat utama dalam merawat para lansia di area yang ditugaskan. Termasuk mengantarkan makanan untuk lansia yang kesulitan bergerak, membantu mereka berj

  • Kutukan Warisan Kultivasi: Godaan Wanita Tak Berujung   Bab 46

    "Langsung ke halaman belakang, cari Bu Sarah. Dia yang bertanggung jawab merekrut orang."Rakael menghela napas lega dan segera mengucapkan terima kasih. "Terima kasih, Pak."Saat mendorong pintu kayu yang tebal itu, aroma dupa cendana bercampur wangi rumput dan pepohonan langsung menyambutnya. Di dalamnya terdapat taman yang tertata rapi, dengan jalan setapak dari batu yang berkelok-kelok.Di kedua sisi jalan tumbuh berbagai bunga dan pepohonan bernilai tinggi. Beberapa lansia berpakaian rapi dan bersih sedang duduk di gazebo, bermain catur sambil mengobrol. Wajah mereka tampak santai dan menikmati hidup.Rakael berjalan menuju halaman belakang sesuai petunjuk. Saat melewati sebuah taman kecil, dia melihat seorang nenek mengenakan gaun bermotif bunga sedang berusaha dengan susah payah mengambil layang-layang yang jatuh ke tanah. Rakael refleks hendak melangkah maju untuk membantu, tetapi kakinya tiba-tiba berhenti.Mengingat pengalaman Jevin, dia pun diam-diam menarik kembali langkahn

  • Kutukan Warisan Kultivasi: Godaan Wanita Tak Berujung   Bab 45

    Dulu, setiap melihat ada lansia menyeberang jalan, dia pasti akan maju membantu menopang mereka. Namun, sekarang ... hehe. Tidak menendang mereka saja sudah termasuk bermurah hati."Itu memang menyedihkan."Rakael menepuk bahu Jevin dengan penuh simpati. Serangan mendadak memang paling fatal. Setelah dikeroyok, dia bahkan tidak tahu alasannya mengapa dia dipukuli. Namun bagaimanapun juga, dengan adanya Jevin sebagai contoh nyata, Rakael jelas tidak bisa menempuh jalan yang sama.Rakael lalu menanyakan nama para lansia itu serta gambaran fisik mereka. Setelah memiliki sedikit pemahaman, barulah dia berdiri dan bersiap pergi melihatnya sendiri."Tunggu, aku sudah cerita sebanyak itu, tapi kamu masih mau pergi juga?" Jevin menatap Rakael seolah sedang melihat orang bodoh. Orang-orang di panti jompo itu bukan sekadar sulit ditangani, melainkan benar-benar tidak bisa didekati sama sekali.Rakael menyeringai. "Aku cuma mau lihat-lihat. Punya target jelas lebih baik daripada keliling kota car

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status