Share

Bab 2

Author: Ray Ghafari
"Siapa yang bercanda denganmu?" Dyah melirik dengan kesal, melonggarkan dasi Rakael sambil berkata dengan manja, "Seharusnya usia kita nggak terpaut jauh. Kalau kamu nggak keberatan, panggil aku Kak Dyah saja kalau nggak ada orang lain."

Rakael menggaruk kepalanya dengan malu. "Baiklah, Kak Dyah."

Mereka berbincang beberapa saat di kantor. Setelah keluar dari kantor Dyah, Rakael menuju pintu darurat. Hal pertama yang terlintas di pikirannya adalah membagikan kabar keberhasilannya mendapat kontrak kepada pacarnya, Arumi.

"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif ...."

Ponselnya mati? Rakael menelepon lagi. Hasilnya tetap sama.

Baterainya habis? Dia melirik waktu di ponselnya. Di jam segini, Arumi seharusnya masih di kantor. Mungkin hanya lupa mengisi daya. Mengingat masih ada pekerjaan yang belum selesai, Rakael memutuskan untuk menyampaikan kabar baik ini nanti malam setelah pulang.

Kalau bisa menutup beberapa kontrak lagi, mereka seharusnya segera bisa mengumpulkan uang muka rumah di kota kelas dua ini.

Akhirnya, sore hari pun tiba. Rakael izin pulang satu jam lebih awal. Dia mengendarai motor listrik kecilnya, membeli beberapa bahan makanan favorit Arumi, menuju kontrakan yang mereka tempati bersama dengan perasaan gembira.

Saat tiba di bawah gedung, langit baru saja mulai gelap. Rakael melirik jam di pergelangan tangannya. Waktunya pas. Setelah memasak, dia masih sempat mandi dan menunggu Arumi pulang, tanpa saling mengganggu.

Baru saja Rakael memarkir motor listriknya, dia melihat sebuah mobil sport Mustang yang terparkir di depan pintu unit gedungnya. Mobil itu berguncang naik turun.

"Tsk." Rakael merasa geli. Adegan "goyang mobil" bukan hal baru baginya, bahkan di jalan raya pun kadang bisa ditemui.

Namun, melakukan hal seperti itu tepat di depan pintu unit apartemen, itu baru jarang. Memang cara main orang kaya berbeda.

Rakael hendak membawa barang-barangnya naik, ketika tiba-tiba terdengar suara erangan manja dari dalam mobil. Tubuhnya langsung membeku di tempat.

'Suara itu ... kenapa terdengar seperti Arumi .... Nggak, nggak mungkin! Di jam segini Arumi belum pulang kerja, mana mungkin ada di sini?'

Rakael menggeleng, tetapi suara tadi terus terngiang di benaknya. Dia pun mengangkat ponsel dan kembali menelepon Arumi.

Kali ini, panggilan tersambung. Namun, nada dering yang familier itu justru terdengar dari dalam mobil Mustang tersebut.

Belum sempat Rakael bereaksi, suara Arumi sudah terdengar dari dalam mobil. "Sayang, pacarku telepon!"

"Bukannya kamu bilang akan segera putus dengan sampah itu?"

Mobil sport itu berguncang semakin keras, menarik perhatian beberapa penghuni kontrakan.

Begitu mendengar percakapan Arumi dan pria itu, kepala Rakael seakan-akan meledak. Matanya langsung memerah. Dia melangkah cepat ke depan, menarik pintu mobil hingga terbuka.

Di dalam mobil, Arumi sedang bermesraan dengan seorang pria. Keduanya sedang berada di saat paling krusial dan jelas tidak menyangka pintu akan dibuka tiba-tiba.

Saat melihat Rakael, Arumi pun terkejut. Dia buru-buru menarik terusan yang robek untuk menutupi tubuhnya. "Raka, ini ... ini nggak seperti yang kamu lihat. Aku ...."

"Sialan!" Rakael berteriak marah, memotong ucapan Arumi. Pandangannya tertuju pada pria kaya muda yang terkejut sampai melemas itu. Seketika, dia mengenali orang itu. Marten!

Arumi pernah bersumpah padanya bahwa dia tidak akan sedikit pun berhubungan dengan Marten. Namun sekarang, dia malah bercinta dengan pria itu.

Dengan mata merah membara, Rakael mengangkat tinjunya dan menghantam Marten.

"Sialan! Rakael, kamu berani memukulku? Kamu sudah bosan hidup ya!" Marten juga bukan orang yang mudah ditindas. Dia menarik celananya. Dengan bertelanjang dada, dia bergulat dengan Rakael di dalam mobil.

Arumi mengenakan pakaiannya dengan panik. Melihat kekasih barunya hampir terdesak, dia meraih palu pemecah kaca dari dalam mobil dan menghantamkannya ke kepala Rakael.

Pandangan Rakael langsung menjadi gelap. Marten yang tadinya ditekan olehnya pun memanfaatkan kesempatan itu untuk melepaskan diri. Dia mencengkeram rambut Rakael dan menghantamkan tinjunya ke kepala Rakael berkali-kali.

"Sialan! Berani memukulku? Membunuhmu itu semudah menginjak semut!" maki Marten.

Arumi khawatir nyawa Rakael akan terancam, atau mungkin masih tersisa sedikit rasa iba. Dia buru-buru menarik Marten. "Marten, kalau terus dipukul, dia bisa mati!"

Marten memaki sambil berdiri, lalu menendang Rakael beberapa kali lagi dengan keras. Setelah itu, dia mengeluarkan setumpuk uang dari dompetnya dan melemparkannya ke wajah Rakael.

"Rakael, mulai hari ini Arumi adalah pacarku. Kalau kamu berani mengganggunya, aku akan membunuhmu!"

Rakael meringkuk di tanah. Pandangannya sudah mulai kabur. Dia hanya ingin bertanya pada Arumi, kenapa memperlakukannya seperti ini?

Arumi menarik napas dalam-dalam. Sebenarnya dia berniat berbicara soal putus lebih lambat, tetapi karena Rakael sudah melihatnya, dia memutuskan untuk menjelaskannya sekarang.

"Sayang, kamu tunggu aku di dalam mobil sebentar."

Marten meludah, memaki, lalu masuk kembali ke mobil.

Arumi mengambil tisu dari tasnya dan berjalan ke hadapan Rakael, lalu menyodorkannya. "Lap dulu darahmu."

"Kenapa?" Rakael memejamkan mata. Dia sama sekali tidak menyangka, dua hari lalu Arumi masih berada dalam pelukannya, berbicara tentang masa depan. Hari ini, dia justru berada di bawah tubuh pria lain, bahkan mendesah tanpa malu!

"Karena aku sudah muak hidup seperti ini. Raka, kamu memang baik, tapi kamu nggak akan pernah bisa memberiku kehidupan yang kuinginkan." Arumi melihat luka berdarah di tubuh Rakael dan hendak mengusapnya, tetapi Rakael menghindar.

Rakael mengangkat kepala dan tertawa getir. "Uang memang sepenting itu?"

"Penting!" Emosi Arumi pun ikut naik. "Aku mengikutimu selama tiga tahun. Setiap hari melihat teman-temanku pamer rumah dan mobil di media sosial. Lalu aku? Setiap hari bertahan dengan gajimu yang cuma 8 juta sebulan, bahkan beli kosmetik pun harus berpikir dua kali. Menurutmu, aku bahagia?"

"Arumi, kamu pasti akan menyesal!" Rakael memejamkan mata dengan sakit.

Arumi berdiri, melepas liontin giok di lehernya, dan melemparkannya ke depan Rakael. "Ini pemberianmu. Sekarang aku kembalikan. Dan jangan cari gara-gara dengan Marten, dia bukan orang yang bisa kamu provokasi!"

Rakael berteriak, "Pergi!"

Arumi tampak sedikit kecewa. Menurutnya, Rakael berteriak pada seorang wanita adalah tanda ketidakmampuan. Dia mendengus dingin, berbalik, dan naik ke mobil Marten tanpa menoleh lagi.

Sebelum pergi, Marten sengaja menurunkan kaca jendela untuk mengejek. Dia menjentikkan puntung rokok ke wajah Rakael. "Orang miskin masih berani menginginkan wanita? Bahkan becermin saja nggak berani. Kalau bukan karena kita pernah satu kampus, aku sudah membunuhmu!"

Mobil sport itu pun melaju pergi.

Melihat liontin giok di tanah, hati Rakael seolah-olah berdarah. Giok itu adalah pusaka keluarganya. Menurut kakeknya, giok itu sudah berusia ratusan tahun. Dia memberikannya kepada Arumi dengan harapan kelak bisa diwariskan kepada generasi berikutnya.

Tak disangka ....

Tangan Rakael yang menggenggam giok itu perlahan mengencang. Dia tidak menyadari bahwa darah di telapak tangannya justru terserap oleh giok tersebut.

Prak! Giok di tangannya pecah. Kepala Rakael berdengung hebat. Suara seperti guntur teredam meledak di dalam benaknya.

"Aku adalah Jayadipa, leluhur ketiga dari Sekte Arkapura. Aku meninggalkan warisan ini untuk orang yang berjodoh."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kutukan Warisan Kultivasi: Godaan Wanita Tak Berujung   Bab 50

    "Nak, kamu yang namanya Rakael?" Harun menggaruk rambut putih di kepalanya, lalu pandangannya tertuju ke tubuh Chelsea. "Wah, kamu lumayan beruntung juga. Segede itu, pasti enak banget."Chelsea ketakutan sampai wajahnya pucat. Setengah badannya bersembunyi di belakang Rakael dan dia tidak berani mengangkat kepala.Rakael mengerutkan keningnya sedikit. Orang-orang ini sepertinya bukan anak buah Arlan. Arlan sudah pernah dirugikan sekali. Kalau benar-benar ingin berurusan dengannya, tidak mungkin hanya mengirim beberapa orang seperti ini.Kalau bukan Arlan, berarti tinggal satu orang lagi."Marten yang suruh kalian ke sini?" Kilatan dingin melintas di mata Rakael. Dia tiba-tiba menyesal. Menyesal karena waktu itu menghukumnya terlalu ringan.Harun mengorek telinganya dan berlagak pura-pura bodoh. "Marten siapa? Nggak pernah dengar."Rakael makin yakin dengan dugaannya. Dia melindungi Chelsea di belakangnya. "Mau apa kalian sebenarnya?"Harun menatap Chelsea di belakang Rakael, lalu ters

  • Kutukan Warisan Kultivasi: Godaan Wanita Tak Berujung   Bab 49

    "Kak Rakael." Melihat Rakael sudah selesai bekerja, Chelsea berlari kecil mendekat dengan wajah agak malu. Chelsea adalah rekan kerja wanita yang mengantarkan sarapan untuk Rakael tadi pagi.Rakael memang sudah beberapa kali berinteraksi dengannya, tetapi semuanya hanya urusan pekerjaan. Mereka punya kontak satu sama lain, tetapi isi percakapan yang ada juga sebatas hal-hal terkait kerja.Rakael sedang merapikan barang-barangnya dan bersiap meninggalkan kantor. Melihat Chelsea berdiri di depannya, dia meletakkan berkas di tangannya lalu bertanya, "Ada apa, Chelsea?""Kak Rakael, aku ... hari ini ulang tahunku. Bolehkah aku mengajakmu makan bersama?" Setelah berkata demikian, Chelsea tampak tidak berani menatap Rakael.Kedua tangannya terus mengusap-usap ujung kemejanya karena gugup. Sebenarnya, selain tubuhnya yang agak berisi, fitur wajah Chelsea tergolong cantik.Seperti yang pernah dikatakan Jevin, kalau Chelsea bisa turun belasan kilo lagi, dia pasti akan menjadi gadis cantik yang

  • Kutukan Warisan Kultivasi: Godaan Wanita Tak Berujung   Bab 48

    "Baik." Loreta tersenyum tipis dan mengangguk setuju.Namun, sepasang matanya terus tertuju pada wajah Rakael, tidak bergeser sedikit pun. Bahkan Sarah juga merasa ada yang aneh.Rakael bukanlah perawat pertama Loreta, tetapi ini pertama kalinya dia melihat Loreta menatap seseorang begitu lama dan sedemikian serius."Bekerjalah dengan baik. Kalau kamu merasa nggak sanggup, kamu bisa langsung datang mencariku," kata Sarah. Setelah memberi beberapa pesan tambahan, dia pun berbalik dan pergi.Rakael tiba-tiba jadi sedikit memahami Jevin.Demi mendapat sebuah transaksi, perjuangan orang-orang di industri mereka ini mungkin tidak kalah berat dibanding kurir makanan. Untuk tenaga penjual pria, kondisinya masih lebih baik. Sementara tenaga penjual wanita yang cantik, benar-benar harus mengerahkan segala cara demi menarik klien. Menemani makan dan minum sudah jadi hal biasa.Kalau bertemu klien besar yang sesungguhnya, sesama pria pasti paham maksudnya."Anak muda, duduklah," Loreta akhirnya m

  • Kutukan Warisan Kultivasi: Godaan Wanita Tak Berujung   Bab 47

    Sambil berjalan, Sarah menjelaskan, "Panti Jompo Beria dibagi menjadi halaman depan, halaman tengah, dan halaman belakang.""Halaman depan adalah area utama untuk aktivitas harian para lansia, ada taman, gazebo, ruang catur, dan pusat kebugaran. Halaman tengah adalah area hunian, setiap lansia memiliki satu unit suite pribadi dengan fasilitas lengkap. Sedangkan halaman belakang adalah area kantor dan logistik kami, termasuk ruang medis, kantin, dan gudang."Rakael berjalan di belakangnya sambil mendengarkan dengan serius, meski matanya tidak bisa menahan diri untuk mengamati sekeliling.Panti jompo ini ternyata jauh lebih besar daripada yang terlihat dari luar. Di setiap sudutnya terasa sangat terawat dan elegan. Selain aroma cendana dan wangi pepohonan, seolah juga samar-samar tercium bau obat di udara."Tugas utamamu adalah membantu perawat utama dalam merawat para lansia di area yang ditugaskan. Termasuk mengantarkan makanan untuk lansia yang kesulitan bergerak, membantu mereka berj

  • Kutukan Warisan Kultivasi: Godaan Wanita Tak Berujung   Bab 46

    "Langsung ke halaman belakang, cari Bu Sarah. Dia yang bertanggung jawab merekrut orang."Rakael menghela napas lega dan segera mengucapkan terima kasih. "Terima kasih, Pak."Saat mendorong pintu kayu yang tebal itu, aroma dupa cendana bercampur wangi rumput dan pepohonan langsung menyambutnya. Di dalamnya terdapat taman yang tertata rapi, dengan jalan setapak dari batu yang berkelok-kelok.Di kedua sisi jalan tumbuh berbagai bunga dan pepohonan bernilai tinggi. Beberapa lansia berpakaian rapi dan bersih sedang duduk di gazebo, bermain catur sambil mengobrol. Wajah mereka tampak santai dan menikmati hidup.Rakael berjalan menuju halaman belakang sesuai petunjuk. Saat melewati sebuah taman kecil, dia melihat seorang nenek mengenakan gaun bermotif bunga sedang berusaha dengan susah payah mengambil layang-layang yang jatuh ke tanah. Rakael refleks hendak melangkah maju untuk membantu, tetapi kakinya tiba-tiba berhenti.Mengingat pengalaman Jevin, dia pun diam-diam menarik kembali langkahn

  • Kutukan Warisan Kultivasi: Godaan Wanita Tak Berujung   Bab 45

    Dulu, setiap melihat ada lansia menyeberang jalan, dia pasti akan maju membantu menopang mereka. Namun, sekarang ... hehe. Tidak menendang mereka saja sudah termasuk bermurah hati."Itu memang menyedihkan."Rakael menepuk bahu Jevin dengan penuh simpati. Serangan mendadak memang paling fatal. Setelah dikeroyok, dia bahkan tidak tahu alasannya mengapa dia dipukuli. Namun bagaimanapun juga, dengan adanya Jevin sebagai contoh nyata, Rakael jelas tidak bisa menempuh jalan yang sama.Rakael lalu menanyakan nama para lansia itu serta gambaran fisik mereka. Setelah memiliki sedikit pemahaman, barulah dia berdiri dan bersiap pergi melihatnya sendiri."Tunggu, aku sudah cerita sebanyak itu, tapi kamu masih mau pergi juga?" Jevin menatap Rakael seolah sedang melihat orang bodoh. Orang-orang di panti jompo itu bukan sekadar sulit ditangani, melainkan benar-benar tidak bisa didekati sama sekali.Rakael menyeringai. "Aku cuma mau lihat-lihat. Punya target jelas lebih baik daripada keliling kota car

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status