Share

Keputusan Adelia

Hah?

Mulutku terbuka lebar dengan mata membulat sempurna. Tatapanku makin dalam pada Ibu seolah meminta dijelaskan lebih detail apa maksud perkataannya barusan.

"Iya, kamu yang harus menggantikan Bella menikah sama Rayyan."

Aku refleks menatap Ayah memastikan ucapan istrinya ini benar atau hanya sebuah lelucon. Bisa saja kan mereka lagi mengerjaiku walaupun rasanya itu sangat mustahil. Namun Ayah hanya tertunduk makin dalam seakan takut menatapku dan membenarkan semuanya.

"Tunggu, ini apa maksudnya? Kenapa jadi Adel yang menggantikan Bella?" Pertanyaan itu terlontar juga dari mulutku. Aku ingin kejelasan. Kutatap tajam semua orang yang berada di ruangan ini. Tak terkecuali Ayah.

"Kak Adel tenang saja. Rayyan itu ganteng kok. Ini fotonya kalau Kakak tidak percaya." Bella sudah merangsek maju ke arahku menunjukkan foto di dalam ponselnya tanpa kuminta. Foto laki-laki yang seharusnya adalah calon suaminya.

"Ganteng kan Kak. Dia juga anak orang kaya. Kakak pasti tidak akan menyesal." Bella meyakinkanku dengan penuh semangat.

Aku hanya menatap sekilas pada foto selfie yang menampilkan seorang laki-laki tampan dengan tatapan dingin. Iya, laki-laki itu memang tampan bahkan sangat tampan melebihi pacar-pacarnya Bella, tapi kenapa ditolaknya? Aneh. Kalau laki-laki itu sesempurna yang dibilangnya, bukan kah sayang kalau harus dilepaskan?

Aku menggeleng. Lagipula bukan itu poinnya.

"Maaf, Adel tak mengerti. Kalau tidak ingin menikah kenapa lamarannya diterima? Kenapa tidak dikatakan sejak awal? Dan kenapa harus Adel yang menggantikan?" Gegas aku bertanya dengan menekan kata di akhir kalimatku. Menunjukkan tanda tanya besar di sana.

"Yah …."lirih aku beralih menatap Ayah berharap beliau yang menjelaskan apa arti semua ini. Jangan hanya diam saja tak berani menatapku. Apa ini alasan mereka menginginkan kepulanganku untuk menggantikan Bella yang tidak ingin menikah? Semudah itukah mereka menyuruhku menggantikannya?

"Biar Ibu yang bicara."

Refleks tatapanku beralih ke Ibu. Menunggu penjelasannya.

"Setahun kamu pergi, kamu mungkin tidak tahu permasalahan yang terjadi di rumah ini. Ayah terlilit banyak utang."

"Utang?" Aku menyela cepat. Rasanya tidak mungkin Ayah berutang dan untuk apa?

Ibu mengangguk. "Demi menutupi kebangkrutan usaha kelontong kita, demi pengobatan Ayahmu dulu, Ayah berutang banyak pada salah seorang temannya, dan Ibu yakin kamu tidak tahu akan hal ini. Kami menyembunyikannya dari kalian."

Aku kembali menatap Ayah memastikan kebenarannya. Laki-laki dengan banyak kerutan di wajahnya itu masih tak berani menatapku. Pandangannya ke arah lain.

"Terus?" ujarku minta dilanjutkan.

"Istri teman Ayah itu tiba-tiba datang menagih uangnya. Sedang kita tidak punya uang banyak untuk membayarnya. Hasil usaha kelontong juga tidak bisa menutupi. Hanya cukup untuk menyambung hidup kita sehari-hari serta biaya kuliah Bella. Bu Lasmi–istri teman ayahmu itu tidak mau tahu. Lalu dia mengajukan syarat agar kita terbebas dari utang dan syaratnya adalah menjodohkan salah satu dari kalian dengan anaknya."

"Awalnya aku terima Kak, sebagai baktiku pada Ayah-Ibu, karena Kakak sebagai anak tertua kan tidak ada di sini, aku yang harus menggantikan, tapi setelah dipikirkan lagi rasanya sayang menerima perjodohan tersebut dan berhenti kuliah. Ibu sudah mengeluarkan banyak uang untuk kuliahku jadi kuputuskan membatalkan rencana pernikahan ini tapi ternyata Tante Lasmi menolak," ucap Bella menyela ucapan ibunya dengan wajah sendu.

"Kan bisa nanti habis menikah tetap kuliah," ujarku menimpali, memberi solusi. Nada bicaraku sedikit meninggi.

"Tidak semudah itu Del. Bisa jadi Rayyan tidak mengizinkan Bella kuliah lagi dan fokus menjadi istrinya. Kasihan Bella, Del." Ibu yang menjawab, menyanggahku.

Kasihan? Lalu bagaimana denganku? Tidak perlu dikasihani? Aku tersenyum getir mendengarnya.

"Adel rasa semua masih bisa dibicarakan baik-baik. Pasti Rayyan dan Ibunya mau mengerti asal Bella kuliah benar untuk membuktikan semua itu, Bu," sanggahku tidak mau kalah. Aku tidak mau dijadikan korban dan menggantikan Bella begitu saja.

"Tidak!" teriak Bella menolak tegas.

"Aku nggak mau Kak, menikah dengan laki-laki cacat dan seumur hidup mengurusnya di kursi roda." Tatapan Bella ke arah Ayah seolah menyindir cinta pertamaku itu.

Ayah sejak mengalami kecelakaan terpaksa duduk di kursi roda dan itu sudah berlangsung bertahun-tahun dengan Ibu yang setia merawatnya. Itu juga yang membuatku menaruh hormat pada Ibu Mayang, ibunya Bella. Meskipun perlakuannya padaku berbeda.

"Bella!" bentak Ibu berseru tak suka menegur anaknya.

"Hah? Cacat?" Mataku membola mendengarnya.

"Sudahlah, Bu. Tidak perlu ditutupi lagi. Nanti Kak Adel juga tahu kalau laki-laki yang akan menikahinya adalah pria cacat dan aku tidak mau seumur hidup dengannya. Bella masih muda, Bu. Masa depan Bella masih panjang."

Oh, sekarang aku paham. Jadi ini alasan Bella menolak laki-laki itu. Lalu aku dijadikan tumbal untuk menggantikannya.

"Lalu bagaimana denganku? Apa kalian tidak ingin mendengarkan pendapatku tentang rencana kalian ini? Kenapa cuma Bella yang kalian pikirkan? Apa aku tidak punya masa depan, jadi dikorbankan?" Aku bersuara mengungkapkan isi hatiku. Ini juga tentang masa depanku, dan aku tidak ingin tinggal diam.

"Loh, Kak. Memang sudah seharusnya Kak Adel yang berkorban. Masa Bella? Justru Kak Adel tidak perlu sudah payah kerja lagi. Utang Ayah juga dianggap lunas. Memang Kakak bisa membayar utang sebanyak itu? Pikirkan Ayah yang sudah tua, bahkan untuk menghidupkan kita saja dia tak mampu."

"Bella!" Ibu kembali menegur Bella yang mulut rombengnya tidak bisa diam. Bisa-bisanya di hadapan Ayah bicara begitu kasar dan bahkan terkesan menyindir. Bagaimanapun juga dia anak kandung Ayah. Satu darah yang sama denganku.

"Kalau aku tidak mau, bagaimana?"

Semua mata manatapku terkejut. Tatapan mereka mengisyaratkan tak percaya.

"Sudah, Bu. Kalau Adelia tidak mau jangan dipaksa." Akhirnya Ayah bersuara.

"Jadi Ayah mau masuk penjara?" tukas Ibu membuatku membelalakkan mata.

Sekarang giliranku yang terkejut.

"Penjara? Maksudnya? Ibu tidak bohong kan?"

"Ya, tentu saja beneran. Makanya itu Kak Adel yang harus berkorban. Demi Ayah kita. Ayah sudah tua memangnya Kakak tega membiarkan Ayah masuk penjara?" Pake kursi roda lagi." Ucapan Bella sungguh mengiris hatiku.

"Benar Yah?" Aku memastikan menatap sosok tua tersebut lekat.

Ayah mengangguk lemah.

Ya Allah. Kenapa bisa begini?

"Bagaimana? Keputusan ada di tanganmu, Del. Waktumu tidak banyak. Lusa pernikahannya." Ibu kembali bersuara. Makin membuatku tersudut. Kulihat Bella tampak santai tak merasa bersalah. Lalu tatapanku beralih ke Ayah yang tertunduk dengan wajah sendu.

Aku menghela napas dulu sebentar sebelum akhirnya menjawab, "Ya, aku bersedia."

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status