Masuk"Aku juga anakmu kan, Yah? Kenapa cuma aku yang diminta berkorban? Sejak kecil Ayah memperlakukanku berbeda dari Bella. Bukan karena ku iri, tapi ini sudah kelewatan, ini menyangkut masa depanku. Apa aku tak berhak bahagia?" Adelia merasa ayahnya tak adil dalam memberi kasih sayang. Sejak kecil dia selalu mengalah demi Bella, adik kandung yang terlahir dari rahim berbeda. Sekarang demi baktinya, ia terpaksa menikah dengan laki-laki yang tidak dikenalnya sama sekali, bahkan katanya calon suaminya itu cacat.
Lihat lebih banyakAsheryl POV
I'm here in my Office now, i have so many work to do, ahhh this is so tiring. While I'm reading some document's my phone ring.
I grab my phone and answer it
"Hello?" I answered
"Is this Miss Asheryl Bierman"? the caller ask me
"Yes, I am" I answered
"Ma'am We need you to come at SC Hospital as soon as possible your Fiancee got accident ” she said
I froze as the situation sink in my Mind. No, it can't be. I hurriedly go to the hospital as much as I can, i can't stop my tears not to fall. As I entered the hospital i felt my body shaking, then I approach the nurse and she lead me to the Emergency Room. I waited for the doctor to come out. 1 hour, 2 hour had passed.
Then, i heard the door open and i saw the doctor coming.
Doctor: Are you his fiance?
I nooded
Doctor: Luckily He's fine, he had a serious injured but we manage to save him and we need to monitor him. For now we will transfer him in a private room. And there's a possibility that he will be in a coma.
"W-what? Coma? For how long?" I answered with teary eyes
He sighed
"For now I can't tell for how long because it's depend in his condition if when will he wakes up and we need to monitor him" he said
"Thank you Doc, please tell me if there's something I can do" I replied
He nood and walk away and I get inside the room where they transfer my fiance. I cried as I saw his situation, there's a lot of tube in his body. My heart aching as I saw him lying in that kind of situation.
I sat in the chair near him and hold his hands. I wiped my tears away and kiss his forhead. I called my boss that I'm in leave for a few weeks because of what happened and he let me. I also called my friends and told them what happened and they comfort me. They want to visit here in a few days. Me and Sylvester has no family left, our parents died long ago and we have no siblings. It's so funny that we have the same story about our family.
Days passed by, we keep on Monitoring Sylvester,our friends visit here and they brought some foods. I'm happy to have them, we chitchat and I can't help not to smile as they tried to cher me up using that way.
I was about to get some water when I heard a moan, I turn around and saw Sylvester moving. I walk beside him in tears and I called the doctor.
Doctor: He's giving a sign that he will wake up soon
My heart jump out of happiness as I heard those words
"Thank you so much Doc" I said with happiness
The Doctor checked Sylvester again and left. I went to beside Sylvester with a smile.
"Please wake up soon my love" I said while looking at him
"Syaratnya kalian tetap tinggal di rumah besar. Tidak ada yang boleh pindah ke tempat lain."Oh, itu. Syukurlah. Kukira syarat yang susah. Aku bisa bernapas lega jadinya. "Tapi kami bawa Ayah Burhan, bisa?" Kali ini dadaku kembali berdegup kencang. Mas Rayyan memberikan penawaran. Ayah. Aku yang meminta pada Mas Rayyan agar Ayah ikut dengan kami. Sekarang apa jawaban Mama Lasmi? Aku takut permintaan ini ditolaknya.Tampak Mama Lasmi menarik napas berat lalu menatapku lekat hingga membuatku tak nyaman. Pasti sekarang Mama Lasmi tambah marah padaku. Ia tentu tahu kalau keinginan tersebut datang dariku."Terserah."Jawaban Mama Lasmi terdengar pasrah, tapi dengan nada minor. Membuatku masih tak nyaman. Pasti itu untuk menyenangkan anaknya, bukan ikhlas dari dalam hati. Setelah mengatakan hal tersebut, ibu mertuaku tersebut pamit pulang. Dia bahkan tidak masuk lagi ke dalam ruangan Ayah sekedar pamit sebagai sikap basa-basi semata menghormati besannya. Aku duduk di sebelah Mas Rayyan
"Maksud Mas?" tanyaku penasaran. Kutatap sepasang bola mata berwarna hitam legam di depanku saat ini. "Kita tinggal di rumah kita. Rumah yang memang sudah dipersiapkan jika nanti aku menikah.""Mas yakin? Mama Lasmi bagaimana?" Aku hati-hati bertanya. Meski sudut hatiku senang karena ternyata Mas Rayyan mempunyai rumah pribadi. Senang di sini artinya aku bisa bebas mengajak Ayah ikut serta tinggal dengan kami tanpa rasa sungkan pada Mama Lasmi dan Nenek. Ayah pasti juga mau dan tidak akan menolaknya. Namun di sisi lain aku pun merasa tak enak karena seolah memisahkan Mas Rayyan dari ibunya. Itu karena Mas Rayyan anak tunggal. Belum lagi rumahnya sangat besar dan luas. Kami tinggal di sana saja masih terlalu besar untuk ditinggali. Apalagi jika ditinggal pergi? Mungkin akan semakin sepi terasa. "Nggak perlu khawatirkan ibuku, setelah nikah, ini adalah hidupku, hidup kita. Selama ini aku sudah patuh padanya. Sampai sekarang ini. Kenapa keinginan yang satu ini ditolak? Kita perlu mand
"Ini sudah keputusan bulat Ayah, Del. Pernikahan kami memang sudah seharusnya berakhir. Maaf jika selama ini membuatmu menderita," balas Ayah menatapku sendu. Ia memegang tanganku seolah meyakinkanku kalau keputusannya sudah benar dan ia baik-baik saja. Aku tetap menggeleng lemah dengan mata sudah berkaca-kaca mengisyaratkan kalau aku juga baik-baik saja dengan pernikahan mereka. Tidak masalah. Ini sudah berlangsung lama dan mentalku sudah sekuat baja menghadapi ketidakadilan yang sering kurasakan selama hidup bersama mereka. "Oh, jadi gara-gara dia, kamu mengakhiri hubungan kita?!" Ibu Mayang bangkit dari duduknya dan mengarahkan telunjuknya kepadaku. Ia menatapku nyalang. Aku merasa terpojok dan refleks beranjak dari kursi yang kududuki lalu mendekat ke Ayah. Kaget juga dengan respon yang Bu Mayang berikan. Sepertinya dia malah salah paham dan menuduhku yang tidak-tidak. Aku sendiri baru tahu tentang keinginan Ayah ini, di sini sama seperti mereka. Jadi salah besar tuduhan Bu Mayan
Hari demi hari keadaan Ayah semakin membaik. Aku intensif ikut menjaganya juga di rumah sakit. Tidak meninggalkannya pun barang sehari. Selalu ontime di sisinya untuk mengamati sendiri bagaimana keadaannya selama dirawat di sana. Bisa dipastikan dari awal beliau masuk rumah sakit sampai lima hari dirawat, aku ada di dekatnya, ikut tidur di ruangan yang sama dengannya. Aku tak mau jauh dari Ayah, tak ingin lagi kejadian kemarin terulang kembali. Aku garut menjaganya dengan baik. Aku memutuskan menginap di rumah sakit, dan sudah mengantongi izin juga dari Mas Rayyan, begitupun izin dari Mama Lasmi dan Nenek. Mas Rayyan juga ikut menemani. Tak ada masalah dengan Ibu mertua maupun Nenek. Syukurlah kedua orang berpengaruh di rumah Mas Rayyan tersebut mau mengerti dan mengizinkan setelah kuberi alasan kalau aku tidak bisa meninggalkan Ayah sendirian lagi karena hanya dia satu-satunya keluarga yang kupunya. Mungkin terdengar aneh kukatakan seperti itu karena masih ada Bu Mayang dan Bella












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan