MasukPetang jatuh di Teluk Alaska dengan kemurkaan yang tak terbayangkan. Langit yang semula kelabu berubah menjadi hitam pekat, sementara badai salju menyapu permukaan laut dengan kecepatan yang sanggup merobek kulit. Gelombang raksasa menghantam lambung kapal kecil itu, membuatnya terombang-ambing seperti mainan kayu di atas air yang ganas. Di dalam kabin, Jolie dan Jesica menjerit histeris setiap kali kapal miring ke satu sisi."Masuk ke dalam! Jangan keluar sampai aku panggil!" bentak Arthur pada istrinya, suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin.Setelah pintu kabin tertutup rapat, Arthur melirik Edward. Keduanya berdiri di geladak yang licin oleh es, mata mereka tertuju pada satu titik: punggung Dave yang sedang berlutut, berusaha mengikat erat joran-joran pancing agar tidak tersapu ombak. Dave tampak begitu rentan, begitu tidak menyadari maut yang mengintai di belakangnya.Edward memberikan isyarat dagu yang halus. Arthur merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah batang besi pen
Langit di atas kediaman Fortman menggantung rendah, kelabu dan berat, seolah-olah atmosfer itu sendiri sedang menahan napas. Menjelang siang, udara musim Februari yang menggigit tak mampu mengusir kegusaran yang menyelimuti hati Celina. Ia berdiri di balkon kamarnya, jemarinya yang terbalut sarung tangan wol meremas pagar besi yang dingin. Matanya menatap kosong ke arah gerbang, tempat mobil Edward baru saja menghilang beberapa jam yang lalu.Teluk Alaska. Nama itu terus berdengung di kepalanya seperti peringatan bahaya. Mengapa Edward begitu bersikeras memancing di perairan yang dikenal ganas saat musim dingin? Celina mencoba meyakinkan dirinya sendiri; mungkin benar kata ibunya, Edward hanya memiliki selera liburan yang ekstrem. Tidak mungkin kakak iparnya yang terhormat itu berani melanggar hukum atau merencanakan sesuatu yang buruk pada Dave. Namun, batinnya menolak tenang. Bayangan wajah Dave saat mengecup jemarinya tadi pagi—tatapan teduh yang menyimpan ribuan rahasia—membua
Langit di atas Westalis menggantung rendah, kelabu dan mengancam, seolah-olah awan-awan itu menyimpan rahasia gelap yang siap ditumpahkan. Awal Februari membawa angin menggigil yang menusuk tulang, namun di kedalaman pelataran parkir kediaman Fortman, kesibukan liburan akhir pekan mulai memuncak.Edward berdiri tegak di samping Mercedes hitamnya, telinganya menempel pada ponsel mahal sementara matanya yang dingin mengawasi Dave. Dave, sang penguasa Eropa yang sedang menyamar, dalam balutan jaket kerja yang tipis, tampak sibuk mengangkat kotak-kotak pendingin dan joran pancing karbon ke dalam bagasi. Gerakannya efisien, namun punggungnya yang sedikit membungkuk memberikan kesan seorang pelayan yang patuh dan tak berdaya.Tak lama kemudian, Arthur muncul bersama Jesica. Arthur menenteng dua tas besar berisi peralatan teknis—umpan buatan, sensor sonar, dan pisau-pisau filét profesional."Heh, Pelayan! Taruh ini di paling atas. Jangan sampai tertumpuk barang Edward," teriak Arthur tanp
Februari menyapa Westalis dengan udara yang lebih segar, namun di dalam ruang makan kediaman Fortman, udara terasa berat oleh aroma kesombongan yang menyengat.Cahaya matahari pagi menembus jendela kaca besar, memantul pada setelan jas Edward dan Arthur yang tampak licin tanpa cela. Gelak tawa Jesica dan Jolie memecah keheningan, nada suara mereka melengking riang saat membahas rencana pesta malam Valentine di atas kapal pesiar mewah milik Group Miracle."Lihat ini!" Jolie memamerkan layar ponselnya dengan mata berbinar. "Sudah sepuluh ribu orang menyukai fotoku saat aku mengunggah kartu undangan eksklusif dari Alen Parker. Semua teman sosialita ku langsung menelepon semalam, aku sampai tidak bisa tidur karena melayani rasa iri mereka!"Jesica tertawa puas, menyesap kopi mahalnya dengan anggun. "Tentu saja mereka iri. Menjadi tamu terhormat Alen Parker adalah simbol status tertinggi di kota ini. Benar kan, Sayang?"Arthur tersenyum lebar, mengangguk pada istrinya. "Bisnisku meledak,
Malam di Westalis semakin larut, menyisakan kesunyian yang mencekam setelah kepergian Luca Cassano. Di kamar kecilnya yang terletak di sudut terpencil kediaman Fortman, Dave baru saja meletakkan ponsel rahasianya ke dalam laci meja kayu yang sudah usang. Laporan tentang pelarian Carlos Stanza dan munculnya nama Pabio Castaro terus berputar di kepalanya seperti pusaran badai. Ia harus bergerak cepat, sebelum bayang-bayang masa lalu itu menyentuh gerbang rumah ini.Baru saja ia hendak merebahkan tubuhnya di atas dipan sempit, pintu kamar didorong dengan kasar dari luar. BRAAK!Dave terlonjak berdiri, jantungnya berdegup kencang. Ia mengira musuh telah tiba, namun sosok yang muncul di ambang pintu justru menghancurkan pertahanannya lebih telak daripada peluru manapun. Celina berdiri di sana, napasnya memburu, matanya sembab dengan sisa air mata yang masih mengalir di pipinya yang pucat. Ia menyeret sebuah koper besar dengan tangan gemetar."Celina? Apa yang terjadi?" Dave segera mengh
Malam telah menyelimuti New San Alexandria dengan kegelapan yang elegan, namun di kediaman Fortman, lampu-lampu kristal benderang seolah menantang pekatnya langit. Suasana begitu formal; udara terasa berat oleh aroma parfum mahal dan ambisi yang meluap-luap. Di pelataran, sebuah sedan mewah berwarna hitam legam berhenti dengan presisi.Luca Cassano melangkah keluar dari kabin mobil yang sejuk. Ia merapikan setelan jas custom-made miliknya, memastikan setiap lipatan tampak sempurna. Di belakangnya, dua orang pengawal bertubuh tegap menjaga jarak aman, sementara Liliana, sekretaris pribadinya yang cerdas dan anggun, berjalan dengan langkah ritmis sambil mendekap tas kulit berisi dokumen-dokumen berharga.Keluarga Fortman telah berbaris di teras bagaikan prajurit yang menunggu inspeksi jenderal. Theresia berdiri paling depan dengan senyum paling manis yang pernah ia buat seumur hidupnya. Di belakangnya, Celina tampak bagaikan mawar yang layu. Matanya yang indah sedikit sembap, pikiran







