LOGINMatahari mulai tergelincir di ufuk barat Westalis, meninggalkan semburat merah darah di langit yang semakin kelam. Sebuah taksi kuning tua berhenti dengan derit ban yang halus di depan gerbang utama Mansion Fortman.
Dari balkon lantai dua yang dihiasi ukiran bergaya Barok, Nyonya Fortman berdiri tegak, matanya yang tajam bak burung pemangsa memicing, menangkap sosok Dave yang keluar dari pintu penumpang. Nyonya Fortman mendengus kasar, jemarinya yang dihiasi cincin berlian meremas pagar balkon. Amarahnya tersulut seketika. "Dasar parasit tidak tahu diri!" desisnya, suaranya parau oleh kebencian. Saat Dave baru saja menapakkan kakinya di teras luas mansion, Nyonya Fortman sudah berdiri di sana, menghadang layaknya sipir penjara yang siap menjatuhkan hukuman. Wajahnya merah padam, bibirnya bergetar menahan luapan emosi. "Apa-apaan ini, Dave?!" teriaknya tanpa basa-basi. "Kau memesan taksi? Kau pikir kau siapa? Tuan muda di rumah ini? Kau hanyalah pengangguran yang menumpang hidup, dan sekarang kau berani menghambur-hamburkan uang keluarga untuk kemewahan konyol seperti taksi?!" Dave berdiri diam, napasnya tenang meski tatapannya sedalam sumur tua. Di tangan kanan dan kirinya, ia menjinjing dua karung besar yang tampak sangat berat hingga otot-otot lengannya menegang keras di balik kemeja murahannya. "Barang belanjaan hari ini terlalu banyak, Nyonya," jawab Dave dengan nada datar, tanpa sedikit pun rasa takut. "Dua karung ini beratnya lebih dari lima puluh kilogram. Tidak mungkin saya memikulnya dengan berjalan kaki sejauh tiga kilometer tanpa merusak bahan-bahan pesta Anda." Nyonya Fortman mendelik, matanya beralih ke dua karung besar yang diletakkan Dave di atas lantai marmer. Ia terdiam sejenak melihat volume belanjaan itu, namun rasa gengsi menutup pintu logikanya. "Jangan menjawab!" sentaknya lagi, jarinya menunjuk tepat ke hidung Dave. "Kau itu sampah, dan sampah harusnya tahu tempatnya. Sekarang, bawa semua beban itu ke dapur. Jangan biarkan satu menit pun terbuang. Aku ingin pesta malam ini sempurna, dan jika ada satu rasa yang cacat, aku akan pastikan kau tidur di kandang anjing malam ini. Pergi!" Dave tidak membantah. Ia memanggul kedua karung besar itu seolah-olah beratnya seringan kapas. Ada sesuatu yang ganjil dari cara Dave membawa karung-karung tersebut, namun Nyonya Fortman terlalu sibuk dengan egonya untuk menyadari bahwa gerak-gerik menantunya itu lebih mirip seorang prajurit elite daripada seorang pelayan. Di dapur yang luas dan dingin, Dave mulai bekerja. Suara denting pisau yang beradu dengan papan pemotong kayu menjadi satu-satunya irama di ruangan itu. Namun, konsentrasinya terganggu oleh suara tawa yang melengking dari ruang tengah. Nyonya Fortman sedang berbicara di ponselnya. Suaranya sengaja dikeraskan, seolah ingin memastikan setiap sudut rumah mendengar kabar kemenangannya. "Oh, Tuan Dakosta! Tentu saja, tentu!" Nyonya Fortman tertawa renyah, tawa yang bagi telinga Dave terdengar seperti gesekan amplas. "Kami sangat menantikan kehadiranmu dan Wiliam malam ini. Wiliam adalah pemuda paling gemilang di Westalis, dia adalah standar kesempurnaan bagi putri bungsuku." Dave menghentikan gerakan tangannya. Matanya menatap tajam ke arah daging sapi yang sedang ia potong. "Benar, Tuan Dakosta," lanjut Nyonya Fortman dengan nada penuh konspirasi. "Makan malam ini bukan sekadar jamuan. Aku ingin kita membahas masa depan Wiliam dan Celina. Sudah saatnya Celina melepaskan beban lamanya dan bersanding dengan pria yang setara. Aku akan mengatur segalanya." Darah Dave mendidih. Rasa marah yang dingin menjalar dari ujung kaki hingga ke kepalanya. Tanpa sadar, cengkeramannya pada pisau daging itu menguat. BRAKK! Dave menghantamkan pisau daging itu ke atas meja kayu dengan kekuatan yang luar biasa. Papan pemotong itu retak, dan bunyi hantaman itu bergema di seluruh ruangan, memotong tawa Nyonya Fortman seketika. Wanita tua itu tersentak, ponselnya hampir jatuh. Dengan wajah penuh murka, ia menyerbu ke dapur. "Apa yang kau lakukan, Kecoak?! Kau mencoba menakutiku?!" Dave menarik napas dalam, wajahnya masih menunduk, menyembunyikan mata yang mungkin bisa membuat Nyonya Fortman terkena serangan jantung jika ia melihatnya. "Maaf, Nyonya," ujar Dave pendek, nadanya bergetar oleh amarah yang ditekan. "Dagingnya sedikit keras." "Kau benar-benar tidak berguna! Jika kau merusak suasana malam ini, aku bersumpah akan mengusirmu tanpa alas kaki!" Nyonya Fortman memaki habis-habisan sebelum berbalik pergi dengan angkuh. .................................. Pukul delapan malam. Ruang makan Mansion Fortman telah berubah menjadi panggung sandiwara yang gemerlap. Lampu gantung kristal memantulkan cahaya kuning keemasan di atas meja yang penuh dengan hidangan lezat karya tangan Dave. Arthur dan Jesica, kakak ipar Dave, sudah duduk di sana. Jesica menatap deretan makanan dengan air liur yang hampir menetes. Saat ia hendak menyambar sepotong daging panggang, Nyonya Fortman masuk dan memukul tangannya dengan kipas. "Jangan sentuh! Tamu istimewa kita belum tiba," tegur sang ibu. "Tamu istimewa? Siapa, Mom? Sampai-sampai kita harus menunggu begini lama?" tanya Jesica manja. Nyonya Fortman tersenyum lebar. "Tuan Anthony Dakosta dan putra tunggalnya, Wiliam. Mereka akan tiba lima menit lagi." "Wiliam?!" Jesica memekik senang, lalu matanya melirik ke arah Dave yang berdiri di sudut ruangan seperti bayangan. "Wah, Dave, kau dengar itu? Wiliam Dakosta akan datang. Dia tampan, kaya, dan pewaris tunggal kerajaan bisnis. Kurasa kau harus mulai mengemasi barang-barang busukmu dari kamar. Sebentar lagi kau akan menjadi sejarah di rumah ini." Dave hanya diam, berdiri dengan posisi istirahat di tempat, matanya menatap lurus ke depan seolah-olah keluarga Fortman hanyalah sekumpulan debu yang tak berarti. Tak lama kemudian, Jolie dan suaminya, Edward, bergabung. Mereka sudah mendengar kabar itu di lorong. "Celina akhirnya akan mendapatkan pria yang tepat," timpal Jolie sambil tertawa sinis ke arah Dave. "Bukan kecoak busuk yang hanya bisa mencuci piring. Kau tahu, Dave? Keberadaanmu di sini adalah penghinaan bagi estetika rumah ini." "Sudah saatnya Celina membuka matanya yang buta," Nyonya Fortman menimpali, suaranya dingin dan tajam. "Dulu suamiku yang memaksakan pernikahan konyol ini. Sekarang dia sudah tidak ada, tidak ada lagi alasan untuk mempertahankan sampah ini di dalam mansion." Di tengah badai hinaan itu, pintu depan terbuka. Celina masuk dengan wajah kelelahan. Langkah kakinya terhenti saat melihat seluruh keluarganya berkumpul di meja makan dengan wajah-wajah yang penuh kemenangan. Suasana mendadak hening. Mereka semua langsung memasang topeng keramahan yang palsu. Dave, tanpa sepatah kata pun, membungkuk kecil dan berjalan menuju dapur. Celina menatap punggung suaminya dengan kerutan di dahi. Ia merasa ada sesuatu yang sangat salah malam ini. Di luar, kegelapan telah menyelimuti Westalis sepenuhnya. Sementara gelak tawa dari dalam ruang makan terdengar seperti pesta pora para pemenang, Dave berada di pintu belakang mansion. Wajahnya dingin sekeras es. Di tangannya, ia menyeret dua karung besar yang sama dengan yang ia bawa tadi siang—namun kali ini, ada cairan merah gelap yang merembes tipis dari bawah karung tersebut, meninggalkan jejak di atas paving blok. Sebuah mobil SUV hitam tanpa plat nomor menunggu di lorong gelap yang tidak terjangkau lampu taman. Dua orang pria bertubuh tegap, mengenakan setelan hitam legam, segera keluar dari mobil. Begitu melihat Dave, keduanya membungkuk dalam-dalam, penuh hormat yang mutlak. "Bos," bisik salah satu dari mereka. Dave melemparkan dua karung itu ke hadapan mereka. "Orang-orang Marco. Mereka pikir mereka bisa mengintaiku di swalayan. Buang mayat-mayat ini ke dasar teluk. Pastikan tidak ada satu pun bukti yang tersisa." "Siap, Bos," jawab mereka serempak, lalu dengan cepat melempar karung-karung berisi mayat itu ke dalam bagasi mobil. Dave mengeluarkan ponsel satelitnya, menekan satu tombol cepat. "Luca," suaranya berat, otoritasnya keluar sepenuhnya. "Aku akan ke markas setelah seisi rumah ini tidur. Siapkan laporan tentang pergerakan Dakosta Group di pasar saham." ["Baik, Bos. Helikopter akan menjemput Anda di atas gedung Pusat Miracle Group tepat tengah malam,"] jawab suara di seberang sana. Dave mematikan ponselnya, mengatur napasnya kembali menjadi 'Dave si menantu sampah', dan melangkah masuk ke dalam rumah. Saat ia kembali ke lorong menuju dapur, langkahnya terhenti. Di ruang tengah, jamuan makan malam baru saja usai, dan keluarga Dakosta tampaknya sudah pulang. Namun, suasana di sana tidaklah damai. Nyonya Fortman, Jesica, dan Jolie mengelilingi Celina yang duduk di sofa dengan wajah pucat. "Apa yang merasukimu, Celina?!" teriak Nyonya Fortman, suaranya melengking tinggi. "Wiliam bersikap sangat manis, dia bahkan menawarkan kerja sama investasi besar, dan kau hanya diam seperti patung? Kau bahkan tidak tersenyum saat dia memuji kecantikanmu!" "Aku lelah, Mom. Aku tidak meminta makan malam ini diadakan," jawab Celina lemah. "Lelah? Atau kau masih memikirkan si pengangguran itu?" Jesica mencibir. "Kenapa kau masih mempertahankannya? Apa yang dia berikan padamu selain rasa malu di depan teman-teman kita?" Nyonya Fortman melangkah maju, memegang dagu putrinya, memaksa Celina menatap matanya. "Katakan pada Mommy, Celina. Apa yang membuatmu begitu terikat pada Dave? Apa kau benar-benar mencintainya, atau kau hanya ingin menyiksa diri sendiri dengan hidup bersama sampah itu?" Dave berdiri terpaku di balik dinding. Jantungnya berdegup kencang, sebuah perasaan manusiawi yang jarang ia rasakan. Ia menahan napas, telinganya menajam, menunggu jawaban dari wanita yang telah menjadi istrinya selama dua tahun itu. Jawaban yang akan menentukan apakah ia akan menghancurkan keluarga Fortman malam ini, atau memberinya satu kesempatan lagi. "Jawab, Celina! Apa perasaanmu sebenarnya pada Dave?" desak Nyonya Fortman lagi. Keheningan menyelimuti ruangan itu, begitu pekat hingga suara detak jam dinding terdengar seperti dentuman meriam di telinga Dave. 'Ayo jawab, Celina ... 'Suasana Ballroom Hotel Cleopatra kian memanas, namun bagi Celina, udara di sekitarnya terasa tipis dan menyesakkan. Dari sudut ruangan yang remang, ia diam-diam memperhatikan sosok pria yang menjadi pusat semesta malam itu. Tuan Muda Alen Parker sedang berdiri di antara Tuan Nigel Foster dan para diplomat tinggi Eropa. Gerak-geriknya tenang, setiap kata yang keluar dari balik topengnya tampak seperti titah yang diperebutkan. Pria itu seperti magnet, dan semua orang di sana adalah serbuk besi yang rela melakukan apa saja demi mendekat. Namun, bukan tumpukan uang atau kekuasaan absolut yang membuat jantung Celina berpacu tidak karuan. Ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang bersifat naluriah. Cara pria itu memiringkan kepala, cara ia menumpukan berat badan pada satu kaki, hingga tatapan tajam yang sesekali menyapu ruangan—semuanya memicu memori sensorik di otak Celina. Kenapa kehadirannya terasa begitu mirip dengan Dave? "Celina! Lihat dia!" Jolie tiba-tiba menghampiri, mem
Tiga hari telah berlalu seperti hembusan angin yang membawa aroma badai. Pesta topeng yang digelar oleh raksasa Westalis, Group Foster, kini hanya tinggal hitungan jam. Seantero kota—bahkan seluruh daratan Eropa—seolah menahan napas. Headline surat kabar dan media sosial tak henti-hentinya menggaungkan satu nama: Alen Parker. Sang penguasa Miracle Group yang mistis akhirnya akan muncul dari balik tirai emasnya. Para wanita lajang dari klan bangsawan dan putri-putri konglomerat telah menghabiskan ribuan dolar hanya untuk memastikan helai rambut mereka jatuh dengan sempurna malam ini. Di kediaman Fortman, sore itu suasana lebih mirip medan perang estetika daripada sebuah rumah. Jolie dan Jesica sudah sibuk berhias sejak matahari masih tinggi. Gaun-gaun sutra dan brokat berserakan di lantai marmer tanpa dipedulikan, sementara tiga orang perias profesional dan penata rambut bergerak lincah di sekitar mereka. Celina muncul di ambang pintu dengan wajah murung. Matanya redup, tak ada
Mobil sedan perak milik Celina meluncur mulus memasuki area parkir sebuah mall kelas atas di pusat Westalis. Begitu mesin mati, Dave menunjukkan inisiatif yang lahir dari insting perlindungannya yang tajam; ia keluar lebih dulu, memutari mobil, dan membukakan pintu untuk Celina dengan gerakan yang sangat sopan. Celina menatap suaminya, hatinya menghangat melihat perlakuan manis itu, meski di mata dunia, tindakan Dave hanyalah standar operasional seorang pelayan. Mereka melangkah masuk ke dalam mall yang megah. Dave berjalan di samping Celina dengan dagu tegak dan langkah yang tenang. Ia tidak terlihat norak atau kagok meski berada di tengah kemewahan—sesuatu yang membuat Celina tersenyum lega. Namun, ketenangan itu terusik saat tiga orang wanita dengan pakaian bermerek dan aroma parfum yang menusuk hidung muncul dari arah gerai perhiasan. Mereka adalah teman-teman sosialita Celina. "Celina! Oh, Tuhan, sudah lama tidak bertemu!" salah satu dari mereka berseru, menghampiri dengan
Makan malam telah usai, meninggalkan keheningan yang canggung di antara dinding-dinding Mansion Fortman yang dingin. Dave berdiri di depan wastafel dapur, punggungnya yang tegap dan bahunya yang luar biasa lebar tampak mendominasi ruangan yang remang-remang itu. Ia sedang mencuci piring, tangannya yang terbiasa memegang senjata kini bergerak ritmis di antara busa sabun.Celina berjalan pelan mendekat. Langkah kakinya tertahan beberapa meter di belakang suaminya. Ia tertegun sesaat, matanya terpaku pada postur tubuh Dave yang amat maskulin. Ada kekuatan tersembunyi yang terpancar dari punggung itu, sebuah ketegaran yang entah mengapa membuat Celina merasa aman. Andaikan hubungan kami tidak sepahit ini, batin Celina lirih, aku ingin sekali bersandar di bahu itu, melepaskan semua penat yang menghimpitku.Suara air dari keran yang mengucur deras mengejutkan Celina, membuyarkan lamunan liarnya. Ia buru-buru berdehem, mencoba menyingkirkan getaran di dadanya."Dave," sapanya lembut, berja
Jam makan siang di kantin Micro Pusat terasa lebih riuh dari biasanya. Aroma pasta al dente dan saus marinara menguar di udara, namun pikiran Celina tidak berada di atas piringnya. Ia duduk berhadapan dengan Tracy, mencoba menikmati makan siangnya di tengah kepenatan audit pemasaran yang menggunung. Cuaca Westalis yang lembap membuat peluh tipis muncul di dahi Celina. Secara refleks, ia merogoh tasnya, mengeluarkan sapu tangan putih bersulam benang emas—hadiah ulang tahun dari Dave—dan menyeka dahinya. Deg! Tracy tiba-tiba berhenti mengunyah. Matanya membulat, garpunya berdenting jatuh ke atas piring porselen. "Celina! Dari mana kau mendapatkan itu?!" Tracy memekik, suaranya naik dua oktav hingga beberapa karyawan di meja sebelah menoleh. Celina tersentak, jantungnya berdegup kencang karena kaget. "Ada apa denganmu, Tracy? Ini hanya sapu tangan." "Hanya sapu tangan katanya?!" Tracy menyambar kain sutra itu dari tangan Celina. Ia membolak-baliknya dengan tangan gemetar, jarinya m
Kota Ostia, pelabuhan satelit Westalis yang menjadi pusat ekonomi baru, pagi itu didera hiruk-pikuk yang tak biasa. Di depan markas besar Miracle Group—sebuah menara kaca hitam yang menjulang seolah hendak menusuk langit—sekumpulan wartawan telah berkumpul seperti kawanan serigala yang mencium bau darah. Kamera-kamera dengan lensa panjang membidik pintu utama saat sebuah SUV mewah berwarna hitam legam berhenti di sana. Luca keluar dari kursi penumpang dengan setelan jas yang licin dan wajah sedingin es. "Tuan Luca! Benarkah Tuan Muda Alen Parker akan menghadiri pesta di Westalis pekan depan?" "Apakah benar pimpinan tertinggi Miracle Group sudah berada di daratan ini?" Pertanyaan-pertanyaan itu menghujani Luca layaknya peluru, namun ia tak sedikit pun melambatkan langkah. Di balik kacamata hitamnya, Luca hanya bisa mendengus geli. Para wartawan ini mengejar bayangan yang bahkan tak mereka kenali wajahnya. Luca tahu benar di mana "bos" mereka saat ini: mungkin sedang sibuk me







