Share

Chapter 2

Author: Dewa Amour
last update publish date: 2026-02-19 13:39:48

Fajar menyapa Westalis dengan semburat ungu yang dingin. Di pelataran megah Mansion Fortman, kawanan burung gereja terbang rendah, sayap-sayap kecil mereka membelah kabut tipis sebelum hinggap di atas hamparan rumput yang dipangkas sempurna.

Di bawah pohon maple yang berdiri simetris layaknya penjaga gerbang keangkuhan, makhluk-makhluk itu mematuk tanah, mencari sisa kehidupan di balik jatuhnya bunga pinus kering yang berserakan.

Angin pagi berembus kencang, menggoyahkan dahan-dahan tua hingga menimbulkan suara derit yang pilu. Di dalam rumah itu, di balik dinding-dinding marmer yang dingin, seorang pria sedang bergelut dengan kehormatannya yang terkoyak.

Dave masih berdiri tegak di samping meja makan kristal sepanjang sepuluh meter. Tangannya bergerak ritmis, memutar, menekan, dan menggosok.

Sehelai kain mikrofiber di tangannya menari di atas permukaan kaca yang memantulkan kemewahan yang tak pernah ia miliki. Setiap gerakan tangannya adalah bentuk meditasi dari rasa sabar yang hampir mencapai batas.

Peluh membasahi dahi, mengalir melewati pelipis dan jatuh ke lantai mengilap. Dave tidak peduli. Ia terus bekerja dengan ketelatenan seorang pengrajin, seolah-olah jika meja itu tidak cukup berkilau, maka keberadaannya di rumah ini akan semakin memudar.

Setelah perjuangan fisik yang melelahkan, permukaan kristal itu akhirnya cemerlang. Dave berhenti sejenak, mengatur napasnya yang memburu.

Ia menunduk, menatap siluet wajahnya yang terpantul jelas di permukaan meja. Di sana, terpantul seorang pria dengan rahang tegas dan mata yang menyimpan badai tenang. Ia tampan, secara objektif sangat tampan, namun di rumah ini, ketampanan adalah mata uang yang tidak laku.

Mengapa?

Pertanyaan itu selalu menghantuinya. Kenapa kau tak pernah benar-benar melirikku, Celina? Apakah karena aku tak punya angka di rekening bank? Atau karena jabatan di Westalis lebih berharga daripada ketulusan seorang suami?

Dave menggeleng kuat-kuat, mencoba mengusir pikiran melankolis itu. Sebuah senyum getir tersungging di bibirnya. "Bodoh," bisiknya pada bayangan di meja. "Kenapa tiba-tiba kau mengharapkan pengakuan?"

Ia segera sadar dari lamunannya. Tugasnya belum usai. Di balik pintu kayu jati yang berat itu, dapur sudah menunggunya. Di wastafel, tumpukan piring kotor dari jamuan makan malam tadi malam telah menggunung, menanti sentuhan tangan "menantu pengangguran" kebanggaan keluarga Fortman.

Menjadi seorang menantu di keluarga konglomerat ternyata tak seindah drama televisi yang ditonton jutaan orang dengan rasa iri. Di sini, tidak ada musik latar yang romantis, yang ada hanyalah denting piring dan makian yang halus.

Dave berdecak jengah. Ekor matanya tiba-tiba menangkap sebuah pemandangan kontras di atas meja dapur. Sebuah kotak bekal berwarna biru muda duduk manis di sana. Bibirnya mengulas senyum geli—senyum yang murni namun penuh ejekan diri sendiri.

Lihatlah benda konyol itu. Ia telah bangun dua jam lebih awal hanya untuk menyiapkan sandwich tuna dengan saus rahasia, berharap bisa memberikan sedikit energi bagi istrinya.

Ingin menunjukkan perhatian pada Celina? Dave membatin sinis. Kau benar-benar konyol, Dave. Kau hanyalah bayangan di rumah ini.

Dengan gerakan impulsif, ia menyambar kotak persegi itu. Disampirkannya kain lap di bahu kirinya dengan agak kasar, sebuah gestur frustrasi yang tertahan.

Ia hendak bergegas kembali ke "wilayah kekuasaannya" di dapur sebelum anggota keluarga yang lain bangun dan mulai menghujannya dengan perintah.

Namun, langkah kakinya terhenti di persimpangan lorong. Jantungnya berdegup kencang saat melihat siluet yang sangat ia kenali.

Celina. Istrinya itu berdiri di sana, masih mengenakan setelan kantor yang rapi, namun wajahnya tampak tegang. Ia sedang bicara dengan ibunya, Nyonya Fortman.

Dahi Dave berkerut. Kenapa Celina sudah kembali? Bukankah dia berangkat sejak subuh tadi? Apakah telah terjadi sesuatu di kantor?

Rasa cemas yang protektif mulai membakar dadanya. Dengan gerakan seringan kucing, Dave memutar langkah, bersembunyi di balik dinding pilar besar yang memisahkan ruang tengah dan lorong kamar.

Ia memasang telinga lebar-lebar, membiarkan setiap kata yang terucap menjadi sembilu yang menyayat hatinya.

"Stop! Aku tak mau mendengarnya lagi, Mom!" Suara Celina melengking, penuh tekanan yang hampir pecah. "Aku masih istri sah Dave, dan Mommy secara terang-terangan mengatur kencan buta untukku? Itu konyol! Aku bukan barang dagangan!"

Nyonya Fortman, dengan gaun sutra mewahnya, berdiri dengan dagu terangkat. Wajahnya yang penuh riasan tebal memancarkan aura otoritas yang tak terbantahkan.

"Buka matamu, Celina! Kau masih muda, cantik, dan pewaris takhta perusahaan kita. Mengapa kau masih saja memelihara si 'Kecoak Busuk' itu di rumah ini?"

Nyonya Fortman mendesis, suaranya mengandung racun yang sangat dikenal Dave. "Lihat teman-teman sosialitamu. Apa kau tidak malu memiliki suami yang hanya tahu cara memegang kain pel? Dia pengangguran! Asal-usulnya gelap! Dia hanyalah parasit yang menempel di nama besar Fortman!"

Dave memejamkan mata di balik dinding. Kata "Kecoak Busuk" itu menghantamnya lebih keras dari biasanya. Ia meremas kotak bekal di tangannya hingga jemarinya memutih.

"Celina, dengar," Nyonya Fortman melembutkan suaranya, namun nadanya tetap memaksa. Tangannya meremas bahu putrinya.

"Paling tidak kau temui dia sekali saja. Tuan Muda Dakosta sangat berharap bisa kencan denganmu. Aku sudah memberikan lampu hijau. Tolong, jangan buat harga diri keluarga kita jatuh karena kau menolak putra mahkota dari Dakosta Group."

Celina menggeleng cepat, air mata kemarahan menggenang di sudut matanya. "Tidak! Aku tidak bisa melakukan itu pada Dave. Aku tidak serendah itu."

Nyonya Fortman berdecak jengah, melepaskan cengkeramannya dengan kasar. "Aku benar-benar tak mengerti jalan pikiranmu. Di seluruh Westalis, tak ada yang tahu kalau kau sudah menikah. Statusmu masih misteri bagi publik. Apa salahnya menerima kencan itu? Ini demi relasi bisnis kita!"

Celina maju selangkah, menatap ibunya dengan keberanian yang membuat Dave terpaku. "Meski seluruh dunia tidak tahu aku sudah bersuami, tapi Tuhan tahu. Dan hatiku tahu. Hentikan semua kegilaan ini. Aku harus kembali ke kantor."

Tanpa menunggu jawaban, Celina melenggang pergi dengan langkah kaki yang menghentak lantai marmer.

Nyonya Fortman hanya bisa menghela napas berat, tangannya memijat pelipis yang tiba-tiba berdenyut pening. "Anak itu... dia benar-benar terobsesi pada sampah," gerutunya sebelum berbalik menuju kamarnya di lantai tiga.

Dave masih terpaku di balik dinding. Ia menyadari Celina sedang berjalan lurus ke arah persembunyiannya. Panik, ia segera memutar tubuh, berpura-pura baru saja keluar dari arah dapur dengan wajah sedatar mungkin.

"Hei, Dave!"

Suara itu menghentikannya. Sial, tertangkap basah, pikirnya.

Dave memutar tubuhnya perlahan. Ia melihat Celina berdiri di hadapannya. Rambutnya sedikit berantakan karena emosi tadi, namun ia tetap terlihat memukau.

Celina mencoba memberikan senyum tipis—sebuah senyum yang terlihat lelah namun tulus. Dave, yang merasa hatinya baru saja dicabik-cabik oleh percakapan tadi, hanya bisa memalingkan wajah.

"Kau... sudah kembali?" tanya Dave pendek, suaranya serak.

"Ya, ada berkas yang tertinggal di ruang kerja. Aku harus segera kembali ke kantor," jawab Celina. Matanya kemudian turun ke arah benda di tangan Dave. "Wanginya enak sekali. Itu ... roti isi?"

Aroma roti panggang dan mentega memang tidak bisa berbohong. Dave berdehem, berusaha menjaga jarak emosionalnya. "Oh, ini? Aku tadi membuatnya untuk kakek tua yang sering duduk di ujung gang, tapi dia tidak ada hari ini. Jadi... kurasa ini akan terbuang."

"Untuk kakek tua?" Celina menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia tahu suaminya berbohong, namun kebohongan itu terasa manis baginya.

"Boleh untukku saja? Aku ada rapat besar tiga puluh menit lagi dan perutku sangat perih karena belum sarapan."

Celina memasang wajah merajuk yang jarang diperlihatkannya. Dave merasa pertahanannya runtuh seketika.

"Ambillah," ujar Dave pelan sembari menyerahkan kotak itu. "Semoga rapatmu lancar."

"Terima kasih, Dave. Kau menyelamatkanku," bisik Celina manis sebelum berbalik dan berjalan cepat menuju pintu depan.

Dave mematung. Senyuman Celina barusan seolah menciptakan pelangi di tengah badai yang menyelimuti hatinya.

Selama dua tahun pernikahan tanpa sentuhan fisik, tanpa malam-malam penuh gairah, perhatian kecil seperti inilah yang membuatnya bertahan hidup. Ia merasa seperti ada bunga yang jatuh dari langit, menghiasi hatinya yang gersang.

Namun, keindahan itu hanya bertahan lima detik.

"Heh, Kecoak Busuk! Masih mau melamun di sana?!"

Suara cempreng Nyonya Fortman memecah keheningan. Pelangi di mata Dave langsung lenyap, digantikan oleh realitas pahit yang dingin.

Ia menoleh dan mendapati ibu mertuanya berdiri di balkon lantai dua, menatapnya dengan tatapan jijik yang tak disembunyikan.

"Cepat bereskan dapur! Setelah itu, pergi ke pasar pusat. Aku ingin mengadakan pesta besar malam ini untuk menyambut kolega bisnis. Beli bahan makanan terbaik, jangan yang murahan seperti dirimu! Paham?!"

Dave menunduk, menyembunyikan kilatan mata yang tiba-tiba berubah menjadi sangat tajam. "Saya mengerti, Nyonya."

"Tunggu apa lagi? Cepat pergi dari hadapanku! Melihatmu saja membuat tensiku naik!" Nyonya Fortman melemparkan selembar uang belanja ke arah lantai, membiarkannya jatuh di dekat kaki Dave.

Dave memungut uang itu tanpa kata, membungkuk formal, lalu berjalan keluar melewati pintu belakang.

Begitu kaki Dave melangkah keluar dari gerbang Mansion Fortman, atmosfer di sekelilingnya berubah. Bahunya yang tadi tampak lesu kini tegak dan kokoh. Tatapannya yang santun berubah menjadi dingin dan waspada.

Saat ia berjalan menuju pusat perbelanjaan Westalis, Dave merasakan sensasi yang sangat ia kenali. Sensasi diawasi oleh predator.

Klik. Earphone nirkabel yang tersembunyi di balik telinganya berbunyi halus. Sebuah suara berat terdengar dari seberang sana.

["Bos, orang-orang Fabrizio dari Milan sudah mendarat di Westalis. Mereka mulai mencium jejak Anda. Dua unit sedang berada di posisi jam empat Anda. Berhati-hatilah."]

Dave tidak berhenti melangkah. Sebuah senyum tipis, kali ini penuh dengan aura berbahaya, tersungging di bibirnya.

Jadi, para cecunguk dari Milan sudah bosan hidup?

Dave terus berjalan menuju swalayan di ujung jalan, namun saat melewati sebuah gang sempit yang diapit oleh bangunan pertokoan tua yang gelap, tubuhnya bergerak secepat kilat. Ia menghilang ke dalam bayang-bayang.

Dua pria dengan jaket kulit hitam dan tatapan dingin muncul di mulut gang beberapa detik kemudian. Mereka tampak kebingungan, menoleh ke kiri dan ke kanan mencari target mereka yang tiba-tiba raib seolah ditelan bumi.

"Mana dia? Tadi dia di sini!" salah satu dari mereka mendesis.

Tepat saat itu, sebuah bayangan jatuh dari atas tembok gang. Dave melayang di udara, tungkainya yang panjang memberikan tendangan berputar yang telak menghantam rahang salah satu pengejarnya.

Brakk!

Pria itu terkapar seketika. Dave mendarat dengan anggun di aspal yang lembap, menatap pria satunya yang kini gemetar ketakutan sembari mencabut pisau.

"Cecunguk tengik," suara Dave terdengar berat dan penuh wibawa, sangat berbeda dengan menantu penurut di mansion tadi. "Apa yang kalian cari di wilayahku? Kematian?"

Di bawah langit Westalis yang mulai terang, sang "Kecoak Busuk" menunjukkan taringnya yang sebenarnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • LELAKI PALING DIINGINKAN    Chapter 74

    Angin musim semi di Westalis bertiup kencang, menggoyangkan dahan-dahan pohon maple di luar jendela Kediaman Fortman dengan suara gesekan yang terdengar seperti bisikan rahasia. Namun, di dalam ruang makan yang megah itu, suasana justru terasa membeku. Udara seolah memadat, menyisakan keheningan yang begitu tipis hingga suara napas pun terdengar seperti ancaman.Dave Alen Parker duduk dengan tenang di kursi utama—singgasana yang biasanya diduduki oleh mendiang James Fortman. Ia tidak lagi mengenakan topeng peraknya. Wajahnya yang tegas, dengan rahang yang kokoh dan sorot mata biru yang tajam, kini terpampang nyata tanpa penghalang. Di samping kiri dan kanannya berdiri Luca dan Silvester, dua bayangan setia yang memberikan kesan bahwa meja makan itu kini adalah pusat komando kerajaan bisnis global.Edward dan Arthur berdiri kaku di sisi kanan, tangan mereka mengepal namun gemetar di samping jahitan celana. Jolie dan Jesica di sisi kiri tampak seolah nyawa mereka telah dicabut paksa

  • LELAKI PALING DIINGINKAN    Chapter 73

    Langit Roma sore itu tampak seperti terbakar, membiaskan warna merah tembaga yang memantul di atas genangan darah di pelataran Miracle Hospital.Puluhan tentara bayaran Carlos Stanza dan Frozman kini tak lebih dari onggokan daging tak bernyawa, berserakan di antara puing-puing kendaraan baja yang hancur. Di tengah-tengah pemakaman masal itu, Dave Alen Parker berdiri tegak. Luka di dadanya berdenyut hebat, darah segar mengalir dari pelipisnya, namun aura dominasinya justru semakin mengintimidasi.Celina berlari keluar dari lobi rumah sakit yang baru saja selamat dari kehancuran. Begitu melihat sosok Dave yang masih berdiri, air matanya tumpah. Ia menghambur ke pelukan suaminya, menghirup aroma maskulin yang bercampur bau mesiu."Dave! Kau hidup... kau selamat," isak Celina.Dave tersenyum tipis, mengusap pipi Celina dengan jemarinya yang kasar. "Kau harus pulang, Celina. Tempat ini terlalu kotor untukmu sekarang."Di sekeliling mereka, tim penjinak bom yang dipimpin Luca baru saja men

  • LELAKI PALING DIINGINKAN    Chapter 72

    Lorong rumah sakit yang biasanya hening kini berubah menjadi arena gladiator yang bersimbah darah. Luca Cassano, yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai perisai tak tertembus keluarga Parker, mulai mencapai titik nadirnya. Dominico—pembunuh bayaran paling brutal kiriman Carlos Stanza—bergerak seperti bayangan yang haus nyawa. Pisau kerambit di tangannya telah merobek jas Luca, meninggalkan luka menganga di bahunya. Luca terpojok di dinding, napasnya memburu, matanya mulai mengabur akibat hantaman bertubi-tubi.Dominico menyeringai, mengangkat pisaunya untuk satu serangan fatal ke arah tenggorokan Luca. Namun, tepat sebelum besi dingin itu menyentuh kulit, sebuah dentuman keras menghancurkan kesunyian.BRAKK!Pintu ruang ICU didobrak dari dalam dengan kekuatan yang mustahil dimiliki oleh seseorang yang baru saja sekarat. Dari balik kepulan uap dingin alat medis, Alen Parker muncul. Ia bukan lagi pria yang terbaring lemah dengan selang oksigen; ia berdiri tegak dengan pakaian takt

  • LELAKI PALING DIINGINKAN    Chapter 71

    Koridor Miracle Hospital Roma berubah menjadi pusaran kepanikan. Di dalam ruang ICU, bau ozon dari alat defibrilator dan aroma tajam obat-obatan bercampur dengan aroma kematian yang kian menebal. Dave Alen Parker masih terbaring kaku, wajahnya sepucat marmer Carrara, sementara garis di layar monitor Electrocardiogram kian mendatar, hanya menyisakan getaran-getaran lemah yang menandakan sisa nyawa yang hampir padam.Di ambang pintu, Celina berdiri dengan napas tersengal. Rambutnya berantakan, gaunnya kusut setelah penerbangan darurat paling gila dalam hidupnya menggunakan jet pribadi yang dikirim Luca. Matanya yang sembab menatap pemandangan mengerikan di depannya: Dave, suaminya, pria yang beberapa jam lalu ia maki sebagai monster, kini tampak begitu rapuh di bawah kepungan selang medis.Ia mungkin tak pernah mengerti dengan kehidupan yang Dave jalani, tentang bagaimana ia menjadi seorang yang sukses di usia mudanya, tentang masa lalu keluarga Parker dan para musuh yang merenggut se

  • LELAKI PALING DIINGINKAN    Chapter 70

    Deru helikopter medis membelah keheningan malam Roma, mendarat dengan urgensi yang mencekam di landasan Miracle Hospital. Di dalam ambulans khusus yang menyambut, Luca Cassano menggenggam tangan Dave Alen Parker yang sedingin es. Kemeja putih yang dikenakan Dave kini telah berubah menjadi kanvas merah yang mengerikan. Darah terus merembes, menantang maut yang kian mendekat."Tahan, Tuan Muda! Jangan menyerah sekarang!" teriak Luca, suaranya parau oleh ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.Begitu pintu ambulans terbuka, tim dokter terbaik klan Parker segera melarikan brankar Dave menuju ruang operasi. Lampu merah di atas pintu menyala—sebuah tanda bahwa di balik sana, seorang pewaris takhta sedang bertarung mempertahankan napas terakhirnya.Luca berdiri mematung di koridor yang sunyi, tangannya yang bersimbah darah gemetar hebat. Tak lama kemudian, derap langkah kaki yang tergesa-memecah keheningan. Keluarga Wilson tiba. Marquez Wilson memimpin di depan dengan wajah yan

  • LELAKI PALING DIINGINKAN    Chapter 69

    Matahari Westalis mulai tenggelam, membasahi langit dengan warna oranye yang tampak seperti luka yang menganga. Di kediaman megah keluarga Fortman, kesunyian terasa mencekam. Silvester berdiri kaku di gerbang, sementara Luca—tangan kanan setia keluarga Parker—membukakan pintu mobil hitam mengkilap yang baru saja membelah kesunyian pelataran.Sesosok pria keluar dengan gerakan yang sangat terkontrol. Ia mengenakan topeng, sebuah simbol perlindungan sekaligus kutukan. Dave Alen Parker berjalan cepat, langkah sepatunya beradu dengan marmer teras, menciptakan irama urgensi yang menggetarkan udara. Ia mengabaikan kemegahan pilar-pilar rumah itu; pikirannya hanya tertuju pada satu nama: Celina."Nona Celina ada di teras belakang, Tuan Muda. Dekat kolam renang," bisik Silvester tanpa berani menatap mata di balik topeng itu.Dave melangkah lebar, melintasi koridor luas hingga udara segar dari taman belakang menyapu wajahnya. Di sana, di tepi kolam renang yang airnya memantulkan cahaya senj

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status