LOGINFajar menyapa Westalis dengan semburat ungu yang dingin. Di pelataran megah Mansion Fortman, kawanan burung gereja terbang rendah, sayap-sayap kecil mereka membelah kabut tipis sebelum hinggap di atas hamparan rumput yang dipangkas sempurna.
Di bawah pohon maple yang berdiri simetris layaknya penjaga gerbang keangkuhan, makhluk-makhluk itu mematuk tanah, mencari sisa kehidupan di balik jatuhnya bunga pinus kering yang berserakan. Angin pagi berembus kencang, menggoyahkan dahan-dahan tua hingga menimbulkan suara derit yang pilu. Di dalam rumah itu, di balik dinding-dinding marmer yang dingin, seorang pria sedang bergelut dengan kehormatannya yang terkoyak. Dave masih berdiri tegak di samping meja makan kristal sepanjang sepuluh meter. Tangannya bergerak ritmis, memutar, menekan, dan menggosok. Sehelai kain mikrofiber di tangannya menari di atas permukaan kaca yang memantulkan kemewahan yang tak pernah ia miliki. Setiap gerakan tangannya adalah bentuk meditasi dari rasa sabar yang hampir mencapai batas. Peluh membasahi dahi, mengalir melewati pelipis dan jatuh ke lantai mengilap. Dave tidak peduli. Ia terus bekerja dengan ketelatenan seorang pengrajin, seolah-olah jika meja itu tidak cukup berkilau, maka keberadaannya di rumah ini akan semakin memudar. Setelah perjuangan fisik yang melelahkan, permukaan kristal itu akhirnya cemerlang. Dave berhenti sejenak, mengatur napasnya yang memburu. Ia menunduk, menatap siluet wajahnya yang terpantul jelas di permukaan meja. Di sana, terpantul seorang pria dengan rahang tegas dan mata yang menyimpan badai tenang. Ia tampan, secara objektif sangat tampan, namun di rumah ini, ketampanan adalah mata uang yang tidak laku. Mengapa? Pertanyaan itu selalu menghantuinya. Kenapa kau tak pernah benar-benar melirikku, Celina? Apakah karena aku tak punya angka di rekening bank? Atau karena jabatan di Westalis lebih berharga daripada ketulusan seorang suami? Dave menggeleng kuat-kuat, mencoba mengusir pikiran melankolis itu. Sebuah senyum getir tersungging di bibirnya. "Bodoh," bisiknya pada bayangan di meja. "Kenapa tiba-tiba kau mengharapkan pengakuan?" Ia segera sadar dari lamunannya. Tugasnya belum usai. Di balik pintu kayu jati yang berat itu, dapur sudah menunggunya. Di wastafel, tumpukan piring kotor dari jamuan makan malam tadi malam telah menggunung, menanti sentuhan tangan "menantu pengangguran" kebanggaan keluarga Fortman. Menjadi seorang menantu di keluarga konglomerat ternyata tak seindah drama televisi yang ditonton jutaan orang dengan rasa iri. Di sini, tidak ada musik latar yang romantis, yang ada hanyalah denting piring dan makian yang halus. Dave berdecak jengah. Ekor matanya tiba-tiba menangkap sebuah pemandangan kontras di atas meja dapur. Sebuah kotak bekal berwarna biru muda duduk manis di sana. Bibirnya mengulas senyum geli—senyum yang murni namun penuh ejekan diri sendiri. Lihatlah benda konyol itu. Ia telah bangun dua jam lebih awal hanya untuk menyiapkan sandwich tuna dengan saus rahasia, berharap bisa memberikan sedikit energi bagi istrinya. Ingin menunjukkan perhatian pada Celina? Dave membatin sinis. Kau benar-benar konyol, Dave. Kau hanyalah bayangan di rumah ini. Dengan gerakan impulsif, ia menyambar kotak persegi itu. Disampirkannya kain lap di bahu kirinya dengan agak kasar, sebuah gestur frustrasi yang tertahan. Ia hendak bergegas kembali ke "wilayah kekuasaannya" di dapur sebelum anggota keluarga yang lain bangun dan mulai menghujannya dengan perintah. Namun, langkah kakinya terhenti di persimpangan lorong. Jantungnya berdegup kencang saat melihat siluet yang sangat ia kenali. Celina. Istrinya itu berdiri di sana, masih mengenakan setelan kantor yang rapi, namun wajahnya tampak tegang. Ia sedang bicara dengan ibunya, Nyonya Fortman. Dahi Dave berkerut. Kenapa Celina sudah kembali? Bukankah dia berangkat sejak subuh tadi? Apakah telah terjadi sesuatu di kantor? Rasa cemas yang protektif mulai membakar dadanya. Dengan gerakan seringan kucing, Dave memutar langkah, bersembunyi di balik dinding pilar besar yang memisahkan ruang tengah dan lorong kamar. Ia memasang telinga lebar-lebar, membiarkan setiap kata yang terucap menjadi sembilu yang menyayat hatinya. "Stop! Aku tak mau mendengarnya lagi, Mom!" Suara Celina melengking, penuh tekanan yang hampir pecah. "Aku masih istri sah Dave, dan Mommy secara terang-terangan mengatur kencan buta untukku? Itu konyol! Aku bukan barang dagangan!" Nyonya Fortman, dengan gaun sutra mewahnya, berdiri dengan dagu terangkat. Wajahnya yang penuh riasan tebal memancarkan aura otoritas yang tak terbantahkan. "Buka matamu, Celina! Kau masih muda, cantik, dan pewaris takhta perusahaan kita. Mengapa kau masih saja memelihara si 'Kecoak Busuk' itu di rumah ini?" Nyonya Fortman mendesis, suaranya mengandung racun yang sangat dikenal Dave. "Lihat teman-teman sosialitamu. Apa kau tidak malu memiliki suami yang hanya tahu cara memegang kain pel? Dia pengangguran! Asal-usulnya gelap! Dia hanyalah parasit yang menempel di nama besar Fortman!" Dave memejamkan mata di balik dinding. Kata "Kecoak Busuk" itu menghantamnya lebih keras dari biasanya. Ia meremas kotak bekal di tangannya hingga jemarinya memutih. "Celina, dengar," Nyonya Fortman melembutkan suaranya, namun nadanya tetap memaksa. Tangannya meremas bahu putrinya. "Paling tidak kau temui dia sekali saja. Tuan Muda Dakosta sangat berharap bisa kencan denganmu. Aku sudah memberikan lampu hijau. Tolong, jangan buat harga diri keluarga kita jatuh karena kau menolak putra mahkota dari Dakosta Group." Celina menggeleng cepat, air mata kemarahan menggenang di sudut matanya. "Tidak! Aku tidak bisa melakukan itu pada Dave. Aku tidak serendah itu." Nyonya Fortman berdecak jengah, melepaskan cengkeramannya dengan kasar. "Aku benar-benar tak mengerti jalan pikiranmu. Di seluruh Westalis, tak ada yang tahu kalau kau sudah menikah. Statusmu masih misteri bagi publik. Apa salahnya menerima kencan itu? Ini demi relasi bisnis kita!" Celina maju selangkah, menatap ibunya dengan keberanian yang membuat Dave terpaku. "Meski seluruh dunia tidak tahu aku sudah bersuami, tapi Tuhan tahu. Dan hatiku tahu. Hentikan semua kegilaan ini. Aku harus kembali ke kantor." Tanpa menunggu jawaban, Celina melenggang pergi dengan langkah kaki yang menghentak lantai marmer. Nyonya Fortman hanya bisa menghela napas berat, tangannya memijat pelipis yang tiba-tiba berdenyut pening. "Anak itu... dia benar-benar terobsesi pada sampah," gerutunya sebelum berbalik menuju kamarnya di lantai tiga. Dave masih terpaku di balik dinding. Ia menyadari Celina sedang berjalan lurus ke arah persembunyiannya. Panik, ia segera memutar tubuh, berpura-pura baru saja keluar dari arah dapur dengan wajah sedatar mungkin. "Hei, Dave!" Suara itu menghentikannya. Sial, tertangkap basah, pikirnya. Dave memutar tubuhnya perlahan. Ia melihat Celina berdiri di hadapannya. Rambutnya sedikit berantakan karena emosi tadi, namun ia tetap terlihat memukau. Celina mencoba memberikan senyum tipis—sebuah senyum yang terlihat lelah namun tulus. Dave, yang merasa hatinya baru saja dicabik-cabik oleh percakapan tadi, hanya bisa memalingkan wajah. "Kau... sudah kembali?" tanya Dave pendek, suaranya serak. "Ya, ada berkas yang tertinggal di ruang kerja. Aku harus segera kembali ke kantor," jawab Celina. Matanya kemudian turun ke arah benda di tangan Dave. "Wanginya enak sekali. Itu ... roti isi?" Aroma roti panggang dan mentega memang tidak bisa berbohong. Dave berdehem, berusaha menjaga jarak emosionalnya. "Oh, ini? Aku tadi membuatnya untuk kakek tua yang sering duduk di ujung gang, tapi dia tidak ada hari ini. Jadi... kurasa ini akan terbuang." "Untuk kakek tua?" Celina menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia tahu suaminya berbohong, namun kebohongan itu terasa manis baginya. "Boleh untukku saja? Aku ada rapat besar tiga puluh menit lagi dan perutku sangat perih karena belum sarapan." Celina memasang wajah merajuk yang jarang diperlihatkannya. Dave merasa pertahanannya runtuh seketika. "Ambillah," ujar Dave pelan sembari menyerahkan kotak itu. "Semoga rapatmu lancar." "Terima kasih, Dave. Kau menyelamatkanku," bisik Celina manis sebelum berbalik dan berjalan cepat menuju pintu depan. Dave mematung. Senyuman Celina barusan seolah menciptakan pelangi di tengah badai yang menyelimuti hatinya. Selama dua tahun pernikahan tanpa sentuhan fisik, tanpa malam-malam penuh gairah, perhatian kecil seperti inilah yang membuatnya bertahan hidup. Ia merasa seperti ada bunga yang jatuh dari langit, menghiasi hatinya yang gersang. Namun, keindahan itu hanya bertahan lima detik. "Heh, Kecoak Busuk! Masih mau melamun di sana?!" Suara cempreng Nyonya Fortman memecah keheningan. Pelangi di mata Dave langsung lenyap, digantikan oleh realitas pahit yang dingin. Ia menoleh dan mendapati ibu mertuanya berdiri di balkon lantai dua, menatapnya dengan tatapan jijik yang tak disembunyikan. "Cepat bereskan dapur! Setelah itu, pergi ke pasar pusat. Aku ingin mengadakan pesta besar malam ini untuk menyambut kolega bisnis. Beli bahan makanan terbaik, jangan yang murahan seperti dirimu! Paham?!" Dave menunduk, menyembunyikan kilatan mata yang tiba-tiba berubah menjadi sangat tajam. "Saya mengerti, Nyonya." "Tunggu apa lagi? Cepat pergi dari hadapanku! Melihatmu saja membuat tensiku naik!" Nyonya Fortman melemparkan selembar uang belanja ke arah lantai, membiarkannya jatuh di dekat kaki Dave. Dave memungut uang itu tanpa kata, membungkuk formal, lalu berjalan keluar melewati pintu belakang. Begitu kaki Dave melangkah keluar dari gerbang Mansion Fortman, atmosfer di sekelilingnya berubah. Bahunya yang tadi tampak lesu kini tegak dan kokoh. Tatapannya yang santun berubah menjadi dingin dan waspada. Saat ia berjalan menuju pusat perbelanjaan Westalis, Dave merasakan sensasi yang sangat ia kenali. Sensasi diawasi oleh predator. Klik. Earphone nirkabel yang tersembunyi di balik telinganya berbunyi halus. Sebuah suara berat terdengar dari seberang sana. ["Bos, orang-orang Fabrizio dari Milan sudah mendarat di Westalis. Mereka mulai mencium jejak Anda. Dua unit sedang berada di posisi jam empat Anda. Berhati-hatilah."] Dave tidak berhenti melangkah. Sebuah senyum tipis, kali ini penuh dengan aura berbahaya, tersungging di bibirnya. Jadi, para cecunguk dari Milan sudah bosan hidup? Dave terus berjalan menuju swalayan di ujung jalan, namun saat melewati sebuah gang sempit yang diapit oleh bangunan pertokoan tua yang gelap, tubuhnya bergerak secepat kilat. Ia menghilang ke dalam bayang-bayang. Dua pria dengan jaket kulit hitam dan tatapan dingin muncul di mulut gang beberapa detik kemudian. Mereka tampak kebingungan, menoleh ke kiri dan ke kanan mencari target mereka yang tiba-tiba raib seolah ditelan bumi. "Mana dia? Tadi dia di sini!" salah satu dari mereka mendesis. Tepat saat itu, sebuah bayangan jatuh dari atas tembok gang. Dave melayang di udara, tungkainya yang panjang memberikan tendangan berputar yang telak menghantam rahang salah satu pengejarnya. Brakk! Pria itu terkapar seketika. Dave mendarat dengan anggun di aspal yang lembap, menatap pria satunya yang kini gemetar ketakutan sembari mencabut pisau. "Cecunguk tengik," suara Dave terdengar berat dan penuh wibawa, sangat berbeda dengan menantu penurut di mansion tadi. "Apa yang kalian cari di wilayahku? Kematian?" Di bawah langit Westalis yang mulai terang, sang "Kecoak Busuk" menunjukkan taringnya yang sebenarnya.Suasana Ballroom Hotel Cleopatra kian memanas, namun bagi Celina, udara di sekitarnya terasa tipis dan menyesakkan. Dari sudut ruangan yang remang, ia diam-diam memperhatikan sosok pria yang menjadi pusat semesta malam itu. Tuan Muda Alen Parker sedang berdiri di antara Tuan Nigel Foster dan para diplomat tinggi Eropa. Gerak-geriknya tenang, setiap kata yang keluar dari balik topengnya tampak seperti titah yang diperebutkan. Pria itu seperti magnet, dan semua orang di sana adalah serbuk besi yang rela melakukan apa saja demi mendekat. Namun, bukan tumpukan uang atau kekuasaan absolut yang membuat jantung Celina berpacu tidak karuan. Ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang bersifat naluriah. Cara pria itu memiringkan kepala, cara ia menumpukan berat badan pada satu kaki, hingga tatapan tajam yang sesekali menyapu ruangan—semuanya memicu memori sensorik di otak Celina. Kenapa kehadirannya terasa begitu mirip dengan Dave? "Celina! Lihat dia!" Jolie tiba-tiba menghampiri, mem
Tiga hari telah berlalu seperti hembusan angin yang membawa aroma badai. Pesta topeng yang digelar oleh raksasa Westalis, Group Foster, kini hanya tinggal hitungan jam. Seantero kota—bahkan seluruh daratan Eropa—seolah menahan napas. Headline surat kabar dan media sosial tak henti-hentinya menggaungkan satu nama: Alen Parker. Sang penguasa Miracle Group yang mistis akhirnya akan muncul dari balik tirai emasnya. Para wanita lajang dari klan bangsawan dan putri-putri konglomerat telah menghabiskan ribuan dolar hanya untuk memastikan helai rambut mereka jatuh dengan sempurna malam ini. Di kediaman Fortman, sore itu suasana lebih mirip medan perang estetika daripada sebuah rumah. Jolie dan Jesica sudah sibuk berhias sejak matahari masih tinggi. Gaun-gaun sutra dan brokat berserakan di lantai marmer tanpa dipedulikan, sementara tiga orang perias profesional dan penata rambut bergerak lincah di sekitar mereka. Celina muncul di ambang pintu dengan wajah murung. Matanya redup, tak ada
Mobil sedan perak milik Celina meluncur mulus memasuki area parkir sebuah mall kelas atas di pusat Westalis. Begitu mesin mati, Dave menunjukkan inisiatif yang lahir dari insting perlindungannya yang tajam; ia keluar lebih dulu, memutari mobil, dan membukakan pintu untuk Celina dengan gerakan yang sangat sopan. Celina menatap suaminya, hatinya menghangat melihat perlakuan manis itu, meski di mata dunia, tindakan Dave hanyalah standar operasional seorang pelayan. Mereka melangkah masuk ke dalam mall yang megah. Dave berjalan di samping Celina dengan dagu tegak dan langkah yang tenang. Ia tidak terlihat norak atau kagok meski berada di tengah kemewahan—sesuatu yang membuat Celina tersenyum lega. Namun, ketenangan itu terusik saat tiga orang wanita dengan pakaian bermerek dan aroma parfum yang menusuk hidung muncul dari arah gerai perhiasan. Mereka adalah teman-teman sosialita Celina. "Celina! Oh, Tuhan, sudah lama tidak bertemu!" salah satu dari mereka berseru, menghampiri dengan
Makan malam telah usai, meninggalkan keheningan yang canggung di antara dinding-dinding Mansion Fortman yang dingin. Dave berdiri di depan wastafel dapur, punggungnya yang tegap dan bahunya yang luar biasa lebar tampak mendominasi ruangan yang remang-remang itu. Ia sedang mencuci piring, tangannya yang terbiasa memegang senjata kini bergerak ritmis di antara busa sabun.Celina berjalan pelan mendekat. Langkah kakinya tertahan beberapa meter di belakang suaminya. Ia tertegun sesaat, matanya terpaku pada postur tubuh Dave yang amat maskulin. Ada kekuatan tersembunyi yang terpancar dari punggung itu, sebuah ketegaran yang entah mengapa membuat Celina merasa aman. Andaikan hubungan kami tidak sepahit ini, batin Celina lirih, aku ingin sekali bersandar di bahu itu, melepaskan semua penat yang menghimpitku.Suara air dari keran yang mengucur deras mengejutkan Celina, membuyarkan lamunan liarnya. Ia buru-buru berdehem, mencoba menyingkirkan getaran di dadanya."Dave," sapanya lembut, berja
Jam makan siang di kantin Micro Pusat terasa lebih riuh dari biasanya. Aroma pasta al dente dan saus marinara menguar di udara, namun pikiran Celina tidak berada di atas piringnya. Ia duduk berhadapan dengan Tracy, mencoba menikmati makan siangnya di tengah kepenatan audit pemasaran yang menggunung. Cuaca Westalis yang lembap membuat peluh tipis muncul di dahi Celina. Secara refleks, ia merogoh tasnya, mengeluarkan sapu tangan putih bersulam benang emas—hadiah ulang tahun dari Dave—dan menyeka dahinya. Deg! Tracy tiba-tiba berhenti mengunyah. Matanya membulat, garpunya berdenting jatuh ke atas piring porselen. "Celina! Dari mana kau mendapatkan itu?!" Tracy memekik, suaranya naik dua oktav hingga beberapa karyawan di meja sebelah menoleh. Celina tersentak, jantungnya berdegup kencang karena kaget. "Ada apa denganmu, Tracy? Ini hanya sapu tangan." "Hanya sapu tangan katanya?!" Tracy menyambar kain sutra itu dari tangan Celina. Ia membolak-baliknya dengan tangan gemetar, jarinya m
Kota Ostia, pelabuhan satelit Westalis yang menjadi pusat ekonomi baru, pagi itu didera hiruk-pikuk yang tak biasa. Di depan markas besar Miracle Group—sebuah menara kaca hitam yang menjulang seolah hendak menusuk langit—sekumpulan wartawan telah berkumpul seperti kawanan serigala yang mencium bau darah. Kamera-kamera dengan lensa panjang membidik pintu utama saat sebuah SUV mewah berwarna hitam legam berhenti di sana. Luca keluar dari kursi penumpang dengan setelan jas yang licin dan wajah sedingin es. "Tuan Luca! Benarkah Tuan Muda Alen Parker akan menghadiri pesta di Westalis pekan depan?" "Apakah benar pimpinan tertinggi Miracle Group sudah berada di daratan ini?" Pertanyaan-pertanyaan itu menghujani Luca layaknya peluru, namun ia tak sedikit pun melambatkan langkah. Di balik kacamata hitamnya, Luca hanya bisa mendengus geli. Para wartawan ini mengejar bayangan yang bahkan tak mereka kenali wajahnya. Luca tahu benar di mana "bos" mereka saat ini: mungkin sedang sibuk me







