Share

Bab 4

Maman diikuti Simon berjalan keluar dari ruangan pak Burhan meninggalkan pak Burhan yang masih duduk mematung dengan wajah pucat karena tak percaya dalam hitungan menit ia kehilangan jabatan yang selama ini ia banggakan.

"Mulai besok jalankan tugasmu, kamu mungkin satu-satunya orang yang bisa saya percaya di tim data control untuk saat ini." Kata Maman ke Simon yang berjalan disampingnya, Simon menatap ke arah sahabat sekaligus koordinatornya ini dengan seksama lalu mengangguk dengan senyuman hangat.

Maman mengenal sosok Simon saat ia baru saja masuk menjadi bagian dari tim data control, Simon lebih dulu bergabung beberapa bulan dengan tim tersebut. Maman masih ingat bagaimana ia pertama kali melihat sosok pemuda yang telah memberinya banyak bantuan.

Saat itu...

Hari pertama Maman bergabung ke tim data control ia masih belum tahu kemana melapor bahwa dirinya adalah anggota baru di tim tersebut. Ia hanya diberikan info untuk menemui seseorang yang bernama pak Aksana sayangnya ia belum pernah sekalipun melihat atau mengenal sosok yang bernama pak Aksana ini.

"Hey kamu! Apa yang kamu lakukan disini?".

Ia melihat seorang karyawan memakai seragam tim data control mendekat kepadanya, ekspresi sinis terlihat dari wajah tersebut.

"Kamu bukan anggota tim ini, kan?." Tanya karyawan tersebut setelah berada di depan Maman.

"Eh..iya..maaf...saya baru bergabung, saya disuruh bertemu dengan pak Aksana, kalau boleh tau dimana saya bisa bertemu beliau?." Maman sedikit membungkukkan badan sebagai tanda sopan dan hormat saat bertanya.

Namun, hari itu Maman tidak mengetahui jika karyawan didepannya ini punya rencana untuk mengerjai Maman.

"Hah emangnya kamu siapa mau ketemu pak Aksana?, Harus buat janji dulu kalau mau ketemu beliau."

"Maaf...tapi kata HRD pak Aksana sudah diinfokan kalau saya mau melapor, karena ini hari pertama saya bergabung ke tim ini".

"Emangnya kamu manajer sampai HRD harus turun tangan memberikan info ke pak Aksana?." Karyawan tersebut memandang sinis ke arah Maman yang mulai terlihat bingung dan panik.

"Begini saja...aku antarkan kamu ke tempat pak Aksana tapi kamu bayar saya dua ratus ribu rupiah, bagaimana?." Karyawan tersebut mengajukan tawaran yang langsung membuat mata Maman membeliak karena terkejut, bagaimana bisa ada karyawan yang meminta uang hanya untuk mengantarkannya menemui pak Aksana? Dan dua ratus ribu? Uang yang ada di dompetnya saja cuma ada lima puluh ribu rupiah untuk jaga-jaga jika ada keperluan tiba-tiba saat pulang.

"Bagaimana, mau gak?." Desak karyawan itu lagi.

Tiba-tiba dari arah belakang Maman seperti ada yang menepuk dan berdiri sosok pria bertubuh kurus tinggi dengan kulit putih berseragam tim data control, dari sekilas saja Maman bisa melihat pria ini punya kharisma yang bisa membuat kaum hawa tergila-gila, seketika ada rasa iri dalam hati Maman.

"Jangan bayar, entar dia keenakan." Kata karyawan yang disampingnya.

"Hei lu jangan ikut campur, ini urusan gue!." Hardik karyawan di depan Maman.

"Lu kayak preman saja minta uang ke orang dengan paksa." 

"Heh...gue gak maksa gue cuma minta imbalan, lagian ini bukan urusan lu."

Karyawan yang berdiri di samping Maman lalu maju berhadap-hadapan dengan karyawan yang mencoba memalak Maman, lalu dengan dingin ia berkata ke karyawan tersebut.

"Saya paling tidak suka kalau ada yang sok preman disini!"

Kedua karyawan tersebut saling bertatapan tajam, namun kemudian karyawan yang tadi bersikap preman ke Maman kemudian melangkah disamping karyawan yang membela Maman, ia sempat menabrakkan lengannya ke lengan Maman dengan kasar sebelum meninggalkan mereka berdua.

Karyawan yang membela Maman tadi lalu berbalik ke arah Maman sambil tersenyum lalu berkata.

"Kamu mau ketemu pak Aksana kan? Ayo ikuti aku." 

Maman berhasil menemui pak Aksana dengan bantuan tersebut, pak Aksana saat itu menjabat sebagai kepala produksi yang membawahi tim data control, setelah menerima surat penugasan Maman dari HRD pak Aksana lalu mengarahkan Maman ke sebuah meja kecil untuk mulai bertugas sebagai data control.

Tugas data control adalah mengambil data dari bagian-bagian produksi, mulai dari supply bahan baku, kualitas bahan baku, transfer bahan baku ke pengolahan, pengolahan bahan baku, hasil pengolahan, kualitas hasil pengolahan, finishing, dan perbaikan hasil pengolahan yang direject. Hari pertama memulai tugas Maman benar-benar kelabakan menjalankan prosedur sebagai tim data control.

"Kamu salah cara ambil sampling bahan bakunya." Tegur seorang karyawan dari belakang, saat Maman menoleh ia melihat kembali sosok karyawan yang membelanya tadi.

"Kamu sudah baca buku panduan ini belum?." Kata karyawan tersebut sambil menyerahkan sebuah buku panjang berwarna putih tentang data control, Maman menerima buku tersebut dan membaca judulnya BUKU PETUNJUK OPERASIONAL DATA CONTROL.

"Kamu baca dan pelajari buku itu, selebihnya tergantung dari cara kamu beradaptasi dengan pekerjaan ini." Kata karyawan tersebut.

"Maaf...sepertinya hari ini saya harus berterima kasih untuk dua hal ke kamu."

"Dua hal? Maksudnya?."

"Iya dua hal, pertama kamu sudah menyelamatkan saya tadi dari pemalakan, kedua kamu sudah memberikan saya petunjuk untuk bekerja dengan baik disini. Dari tadi saya kebingungan tidak ada satupun karyawan data control yang datang membantu saya, cuma kamu yang datang memberikan buku ini" kata Maman dengan serius.

"Aduuh...gak usah seperti itu, saya hanya membantu, tidak usah sungkan" sahut karyawan tersebut.

"Oh saya harus kembali ke meja saya, ada data yang masih belum saya rekap, kalau koordinator tim data control lihat bisa uring-uringan dia, oh ya...saya harus mengingatkan kalau koordinator data control itu orangnya rese suka mencari kesalahan dan suka jual muka ke pimpinan jadi hati-hati yaa..." Karyawan itu kemudian berbalik untuk meninggalkan Maman.

"Eh tunggu dulu...nama kamu siapa? Aku Rahmansyah panggil saja Maman." Kata Maman sebelum karyawan tersebut beranjak.

Karyawan tersebut kemudian berbalik kembali ke arah Maman lalu menjulurkan tangan ke arah Maman.

"Aku Simon Patodingan, panggil saja Simon".

Jabatan erat tangan Maman dan Simon hari itu menandai awal persahabatan dua orang pemuda dengan karakter yang berbeda namun saling menguatkan.

Kini posisi jabatan Maman telah naik setingkat dari posisi Simon, dan itu membuat Simon bangga karena sejak awal ia melihat Maman ia tahu pemuda yang kini menjadi koordinatornya itu punya kemampuan dan kecerdasan yang spesial. Bagi Maman sosok Simon merupakan sahabat sekaligus pelindung yang ia butuhkan saat ia kehilangan keberanian, dan ia yakin Simon punya loyalitas, kejujuran, dan setia kawan yang belum pernah Maman temukan di sekelilingnya. 

"Simon...semakin banyak hal yang membuatku harus berterima kasih kepada kamu." Kata Maman ke Simon sebelum mereka berpisah di parkiran. Jika Maman pulang ke rumahnya dengan naik motor, Simon hanya perlu jalan kaki ke tempat tinggalnya karena rumah yang ia kontrak selama ini berada tidak jauh dari tempat kerja mereka.

"Saya hanya suka membantu, jangan sungkan." jawab Simon.

"Sepertinya kalimat itu pernah saya dengar, tapi dimana ya?." 

Keduanya lalu tertawa mengenang kembali peristiwa dimana mereka pertama kali ditakdirkan untuk bertaut sebagai sahabat.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status