Share

Bab 5

Bagi Maman malam adalah waktu yang menakutkan baginya, menakutkan dalam arti dia tidak bisa menikmati kedamaian malam seperti yang orang lain rasakan. Setiap setelah sholat Isya dia mulai takut untuk tidur karena saat dia memejamkan mata yang ia rasakan justru rasa pengap dan kebosanan sehingga ia lebih memilih untuk terjaga menunggu datangnya pagi.

Maman sudah lupa kapan terakhir kalinya ia merasakan tidur nyenyak, bahkan ia juga lupa kapan terakhir kali dia mendapatkan mimpi indah. Maman akan sangat bersyukur jika ia bisa mendapatkan tidur meskipun hanya dua atau tiga jam sayangnya kesempatan itu jarang sekali ia dapatkan sehingga kebanyakan malam Maman lewatkan tanpa tidur sama sekali, untung saja meskipun kurang tidur dan membuat badannya sedikit lelah namun tak mempengaruhi kinerjanya saat bekerja, terbukti ia mampu mencapai posisi bagus saat ini.

Malam ini Maman sepertinya kembali tak menemukan tidur yang lelap, ia hanya membolak-balikkan badannya di tempat tidur sementara pikirannya menerawang entah kemana meskipun matanya terpejam. Merasa bahwa ia tak bisa tertidur, Maman lalu bangkit dari pembaringan lalu keluar dari kamarnya, ia lalu duduk disofa panjang yang ada diruang tamu. Maman menyandarkan kepalanya ke bagian atas sofa tersebut sambil memijit pelan kepalanya, matanya ia pejamkan perlahan dengan diikuti desahan nafas pelan.

Entah sudah berapa lama Maman duduk disofa itu, meskipun matanya terpejam namun pikirannya menerawang ke alam antah berantah, ia merasa dirinya terseret pusaran alam yang tak begitu ia kenal, berkali-kali ia mencoba kembali ke kesadarannya namun semakin ia mencoba semakin dalam ia terseret ke pusaran tersebut. 

Perlahan-lahan dia melihat sinar yang begitu terang, sangat terang hingga Maman harus mengurangi intensitas cahaya tersebut dengan meletakkan tangannya tepat di depan mata. Perlahan-lahan sinar itu mulai meredup dan tampak sebuah rumah mungil di hadapan Maman. Ia sangat mengenali rumah ini meskipun puluhan tahun ia tak melihatnya, rumah berpagar tembok berwarna putih, rumah yang meskipun mungil namun kesan mewah tetap terlihat. Setiap fitur di rumah itu merupakan perpaduan gaya Eropa dan gaya tradisional Jawa, rumah yang telah memberikan banyak kenangan dan juga trauma dalam diri Maman.

Maman melangkahkan kaki masuk ke rumah itu dengan perasaan berdebar, tangannya meraba dinding rumah tersebut dan terasa begitu halus tidak berubah seperti yang ia rasakan puluhan tahun yang lalu. Saat ia hendak masuk ke ruang tamu, tiba-tiba ada hawa dingin bercampur hangat dengan sensasi aneh menjalar di bahunya, Maman terdiam di depan pintu tak bergerak dan merasakan hawa itu mulsi menjalar ke seluruh tubuhnya. 

"Kamu sudah kembali, Man?."

Suara berat berwibawa terdengar dari arah belakang, spontan Maman berbalik dan tepat di depannya kini berdiri pria yang wajah dan posturnya tidak akan pernah bisa Maman lupakan, pria yang telah memberikan banyak cinta dan perhatian kepada Maman namun harus pergi karena sebuah kecelakaan.

"Ayah...?." Panggil Maman lirih

"Kenapa kamu hanya berdiri disitu? Tidakkah kamu mau memelukku, nak?." 

Maman langsung mendekati pria tersebut lalu dengan tubuh bergetar ia langsung melekatkan tubuhnya ke dalam rengkuhan tubuh pria tersebut. Ya pria itu adalah ayah Maman, pria yang selama ini Maman rindukan, sekian lama Wajah khas serta suara berat yang penuh wibawa dari pria ini tak pernah lagi Maman lihat dan dengar namun saat ini semua kerinduan Maman telah terbayar.

Perlahan Maman melepaskan diri dari pelukan ayahnya, dengan bergetar ia menatap wajah pria tersebut. Masih sesuai dengan ingatan Maman, tidak ada yang berubah, setiap lekukan wajah itu masih begitu lekat dalam ingatan Maman. Ayah Maman tersenyum sambil menyisir perlahan rambut Maman bagian depan, lalu kemudian menepuk pundak Maman beberapa kali.

"Jadilah lelaki kuat nak, tidak peduli seberapa besar gelombang kehidupan menghantam, kau harus tetap kuat berdiri."

Maman mengangguk sambil meresapi kata-kata ayahnya begitu dalam, banyak hal yang terjadi dalam kehidupannya dan beberapa waktu terakhir ini berbagai kejutan telah menjadikan dirinya sebagai pribadi yang baru.

"Bersiaplah pada kejutan-kejutan selanjutnya, karena hidupmu akan berubah dan tidak sederhana lagi, namu sikapmu harus tetap sederhana." Kata ayah Maman sambil menatap Maman dengan lekat.

"Kejutan apa lagi, ayah?." Tanya Maman.

"Nikmati saja alurnya, kau akan menemukan banyak rahasia tak terduga." Ayah Maman menjawab pertanyaan Maman dalam kata-kata yang belum bisa dipahami Maman sepenuhnya, Maman hendak bertanya lagi namun tiba-tiba pandangannya kembali mulai kabur, sosok tubuh ayahnya mulai berpendar menjadi cahaya dan perlahan-lahan menghilang.

"Maman...percaya pada kata hatimu!." Suara ayah Maman terdengar seiring dengan pudarnya sosok pria tersebut di depan Maman. 

"Ayah..ayah..!."

Sontak Maman terbangun dari tidurnya di sofa, tubuhnya bergetar hebat dia baru tersadar bahwa sosok pria yang baru saja ia lihat telah meninggalkan dia sejak ia masih berusia 15 tahun. Dengan nafas tersengal dia berusaha memulihkan kesadarannya, baru kali ini dia merasakan mimpi bertemu dengan mendiang ayahnya.

Sayup-sayup adzan subuh terdengar, Maman berdiri lalu menuju ke kamar mandi untuk bersiap-siap sholat subuh. 

Maman tiba di tempat kerjanya lebih cepat dari biasanya, kali ini dia datang satu jam sebelum batas waktu absen habis, bahkan dia melihat sekelilingnya belum ada karyawan yang datang lebih dulu darinya. Setelah melakukan check-in kartu absensi Maman lalu naik ke ruang kerjanya, sesaat sebelum ia masuk ke ruang kerjanya ia merasa ada seseorang yang berdiri di belakangnya, dengan refleks ia berbalik dan tampak seorang pria berjaket hitam dan bertopi.

"Anda siapa?." Tanya Maman, meskipun dia kaget dengan keberadaan pria tersebut namun ia berusaha tenang.

"Kamu mungkin sudah lupa sama saya...namun saya selalu memperhatikan kamu sejak kamu masuk ke perusahaan ini". Kata pria tersebut.

Maman berusaha mengingat sosok pria yang ada di depannya sekarang, namun wajah pria tersebut belum nampak jelas karena wajahnya tertutupi topi.

"Maaf...tapi saya benar-benar tidak mengingat anda". 

Pria tersebut kemudian mendekati Maman sambil membuka topinya, raut wajah pria tersebut semakin jelas dan perlahan-lahan memori berkelebat dalam ingatan Maman. 

"Anda...paman Suryawan bukan?."

"Ternyata ingatanmu masih kuat, saya kira kamu sudah tidak ingat."

Suryawan atau yang biasa dipanggil paman Suryawan oleh Maman adalah adik bungsu ayahnya, sejak ayah Maman meninggal mereka berdua seperti putus hubungan. Hari ini paman Suryawan tiba-tiba muncul, Maman merasakan sesuatu yang tidak nyaman dalam dirinya.

"Paman minta maaf baru muncul sekarang, saat ini paman akan melaksanakan janji paman ke almarhum ayahmu."

Maman kehilangan kata-kata, janji apa yang dimaksud paman Suryawan? Kenapa ia baru muncul sekarang setelah sekian lama ayahnya meninggal?.

"Kamu pasti bertanya-tanya kenapa saya baru muncul sekarang, bukan?."

Maman hanya mengangguk dalam rasa tak percayanya.

"Saat ini saya belum punya banyak waktu untuk menjelaskan, tapi kamu harus tahu bahwa apa yang terjadi kepadamu belakangan ini salah satu penyebabnya adalah pengaturanku untuk kamu."


Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status