Home / Rumah Tangga / LUKA HATI WANITA YANG KAU SIA-SIAKAN / BAB 1 Di Paksa Mengundurkan Diri

Share

LUKA HATI WANITA YANG KAU SIA-SIAKAN
LUKA HATI WANITA YANG KAU SIA-SIAKAN
Author: Endah Tanty

BAB 1 Di Paksa Mengundurkan Diri

Author: Endah Tanty
last update Last Updated: 2025-07-13 22:05:32

“Kamu dan suamimu tidak bisa berada di satu perusahaan lagi. Ini sangat riskan bagi perusahaan. Pak Imran sekarang sudah menjabat sebagai manajer keuangan,  jadi kamu yang harus mundur, Lun.”

Luna menghela napas panjang mendengar penuturan kepala HRD WR Company—perusahaan konstruksi terbesar di kota Jakarta—yang duduk di hadapannya.

“Aku sudah mendedikasikan diriku di perusahaan hampir 10 tahun, dan bapak tahu bagaimana loyalitasku pada perusahaan,” protes wanita berusia 35 tahun itu dengan nada kecewa.

“Aku tahu, Luna, dedikasimu di divisi operasional sangat luar biasa. Tapi kamu tidak mau ‘kan Imran yang resign dengan posisinya sekarang sebagai manajer keuangan?”

Luna menunduk menatap jemarinya yang saling meremas. Emosi bergejolak di dalam dadanya, tapi ia berusaha menekannya agar tidak meledak.

“Aku ingin menemui pimpinan untuk membicarakan masalah ini,” jawab Luna.

“Beliau sedang dirawat di rumah sakit. Jangan ganggu beliau dengan masalah kecil ini. Lagipula, perusahaan tak akan gulung tikar jika satu karyawannya keluar,” tegas kepala HRD itu.

Luna nyaris kehilangan kata-kata mendengar penuturan pria itu.

“Aku harap kamu tidak mempersulit perusahaan, mengingat suamimu masih bekerja di sini.”

Dada Luna terasa sesak. Ia sudah bekerja keras demi kemajuan perusahaan, tapi nyatanya pemutusan hubungan kerjalah yang didapat, dengan alasan yang tak masuk akal pula!

“Baiklah jika itu keputusan perusahaan,” Luna akhirnya berkata. “Tapi saya tidak akan mengundurkan diri. Silahkan PHK saya, dan penuhi kewajiban perusahaan pada saya,” tegasnya lalu berdiri dari duduknya dan meninggalkan ruangan HRD tanpa permisi.

Malam itu, Luna menunggu sang suami dengan gelisah. Wajahnya tampak menegang sambil memikirkan masalah yang ia hadapi saat ini.

Ia tidak rela harus melepas semua kerja kerasnya begitu saja. Ditambah lagi, ia masih harus menanggung biaya kuliah adik dan juga pengobatan ibunya yang sakit.

Memikirkan semua ini membuat Luna pening.

Tepat pukul sepuluh malam, sebuah mobil hitam berhenti di pintu pagar. Luna segera bergegas membukakan pagar.

Imran—suami Luna—akhirnya pulang ke rumah. Semenjak menjabat sebagai manager keuangan, pria itu hampir tiap hari lembur.

“Mas, makanlah dulu,” tawar Luna sambil menyiapkan makanan di meja makan.

“Ada masalah di rumah?” tanya Imran.

“Tidak di rumah, tapi di kantor,” jawab Luna.

Setelah Imran membersihkan tangannya di wastafel, ia duduk meraih piring dan mengisinya dengan nasi dan lauk yang terhidang.

“Apa kamu juga tahu, Mas, kalau aku diminta mengundurkan diri dari perusahaan?” tanya Luna hati-hati.

Lelaki berbadan tegap dengan kumis tipis itu tampak tenang. “Aku sudah dengar dari Pak Iwan. Dan aku harap kamu menerimanya,” sahutnya. “Kamu bisa melamar pekerjaan di perusahaan lain. Atau kamu mengurus rumah dan Mora saja. Gajiku naik dua kali lipat, cukup untuk memenuhi kebutuhan kita,” jawab Imran.

Luna sesaat terdiam, menyaksikan sang suami yang makan dengan tenang seakan tidak peduli dengan masalah yang ia hadapi.

“Kamu ‘kan tahu Mas, aku harus membiayai pengobatan ibu dan kuliah adikku. Aku tidak bisa membiayai mereka dengan hasil keringatmu,” kata Luna.

“Kalau begitu, cari pekerjaan lain, Lun, tidak usah permasalahkan keputusan HRD!” tegas Imran, lalu bangkit dari duduknya. “Sudah ya, turuti saja apa kata perusahaan. Kamu mau aku ikut kena masalah?”

Setelah mengatakan itu, Imran pergi meninggalkan meja makan.

Luna menghela napas panjang. Perasaannya kini campur aduk.

Entah mengapa pria yang dicintainya sejak duduk di bangku kuliah itu semakin berubah akhir-akhir ini, menjadi cuek dan tidak acuh.

‘Sejak diangkat menjadi manager keuangan kamu berubah, Mas,’ batin Luna sedih.

Namun, ia berusaha tidak terlalu memikirkannya. Bukan salah Imran jika Luna harus mengundurkan diri, ‘kan?

**

Pada akhirnya, Luna terpaksa mengajukan pengunduran diri.

Meski berat melepas semua kerja kerasnya selama satu dekade terakhir, tapi Luna juga tidak ingin mempersulit suaminya.

Setelah mengundurkan diri, Luna memiliki banyak waktu luang. Karena itu, ia memutuskan untuk menjemput putrinya.

“Ma, besok Mama tidak usah jemput Mora,” ucap gadis 9 tahun itu dengan muka cemberut.

Luna tampak terkejut mendengar penuturan putrinya. “Kenapa, Sayang?” tanyanya mengerutkan dahi.

“Biar Papa saja yang jemput. Mora malu kalau dijemput pakai motor, nanti diledekin teman-teman kalau jemputnya pakai motor,” jawab Mora polos.

Luna tertegun, tak menyangka jika putrinya berpikiran seperti itu.

“Baiklah, besok Mora dijemput taksi online saja ya, seperti biasanya,” jawab Luna akhirnya.

“Oke, Ma,” Mora mengacungkan ibu jarinya tanda setuju.

Sementara itu di sebuah kafe, dua pria tampak menikmati makan siang sambil bersenda gurau.

“Ini untuk Bapak karena sudah berhasil membuat Luna keluar dari perusahaan.” Imran menyodorkan amplop.

Pria berkepala botak itu meraih amplop dan membukanya. Ia tersenyum lebar ketika melihat tumpukan uang berwarna merah memenuhi amplop itu.

“Itu hal yang sangat mudah, Pak Imran. Soal pimpinan, aku sendiri yang akan mengatakan tentang resignnya Luna.”

“Oke,” sahut Imran. “Sebagai gantinya, aku merekomendasikan seseorang untuk menggantikan Luna. Jangan ragukan kemampuanya, ia punya banyak pengalaman di operasional dan lulusan terbaik di universitas yang sama denganku,” kata pria itu dengan antusias.

“Sebenarnya sudah ada beberapa kandidat yang melamar, tapi jika Pak Imran merekomendasikan seseorang, aku akan mempertimbangkannya asal….”

“Aku tahu, Pak. Nanti aku berikan uangnya sebagai tanda terima kasih,” kata Imran, mengerti maksud kepala HRD itu.

“Sepakat. Senang bekerja sama denganmu, Imran.”

Imran hanya menyungingkan senyum tipis, lalu melahap menu makan siang di hadapannya tanpa kata.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • LUKA HATI WANITA YANG KAU SIA-SIAKAN   Bab 101 Luka Yang Telah Terobati

    Dargo dan Omar menghabiskan waktu bersama seakan meluapkan rindu yang tak pernah terucap.“Aku sudah tua Omar, bahkan dokter menvonis usiaku tak lama lagi, aku menyesali perbuatanku pada ibumu, Aku hanya ingin berpesan padamu, perlakukan dengan baik wanita yang telah mau menerima kekuranganmu, apalagi jika dia melahirkan anakmu,” ucap Dargo dengan sangat bijaksana.Omar tersenyum hangat menatap sang ayah, ia berjanji dalam hatinya tidak akan menyia-nyiakan waktu dalam hidupnya, kini ia memilkii keluarga yang sempurna bersama Luna, di tambah kehadiran sang putri.Sementara itu Luna sedang berbincang dengan Rina, gadis itu tampak lega dan bahagia, karena usahanya menyelamatkan Dargo berhasil.“Rin, kamu harus melanjutan sekolahmu, kami akan membiayai semua pendidikanmu, sampai universitas,” ucap Luna.“Apa tidak berlebihan, Anda membiarkan Aku bekerja di perkebunan ini saya sudah sangat berterima kasih,” jawab Rina.“Tidak Rina, kamu gadis yang cerdas, sayang jika tidak diimbangi deng

  • LUKA HATI WANITA YANG KAU SIA-SIAKAN   Bab 100 Akhir Dari Sang Buronan

    Rina mengirim pesan pada Omar melalu sebuah chat menceritakan rencana Agnes dan Iwan malam ini.Omar yang saat itu membaca chat dari Rina, menunjukkan wajah serius dan tampak berpikir keras.“Apa apa Mas?” tanya Luna sembari duduk di sebelah Omar.“Rina mengirim pesan jika Agnes dan Iwan serta Tuan Dargo, akan mengadakan pertemuan mereka juga akan pesta miras juga, dan Agnes akan melaksanakan rencana busuknya malam ini,” jelas Omar.“Kita harus bergerak cepat , jangan sampai terjadi sesuatu dengan Rina dan Tuan Dargo, kejahatan Agnes harus di gagalkan malam ini,” jawab Luna.Omar dan Luna terdiam sesaat mereka sedang memikirkan suatu rencana.“Luna, apa kamu membawa obat tidurku?” tanya Omar.“Iya Mas..Aku membawanya, karena kamu sering mengeluh tak bisa tidur dan gelisah, jadi aku membawa obat itu,” jawab Luna.“Kita akan pakai obat itu malam ini, Aku akan mengirim pesan pada Rina,” jawab Omar.Jari-jemari Omar dengan cepat menyentuh layar ponsel dan menulis pesan untuk Rina.{Rin

  • LUKA HATI WANITA YANG KAU SIA-SIAKAN   Bab 99 Akankah Berhasil

    Agnes menatap Rina, lalu tersenyum hangat. “Kamu harus setuju dengan kesepakatan ini. Jika tidak, lebih baik kamu keluar dari rumah Tuan Dargo,“ ancam Agnes masih menatap lekat gadis di depannya.“Katakan Andini, Aku harus apa biar Aku bisa kaya, Aku janji akan menuruti semua perkataanmu,” sahut Rina.“Aku akan membuat skenario jika Tuan Dargo melecehkanmu, lalu kamu tuntut dia. Selama proses persidangan, Aku akan berusaha mendapatkan surat kuasa, dari Tuan Dargo, dengan begitu, semua usaha dan keuangannya akan di bawah kendaliku,” jelas Agnes pelan.Rina tampak berpikir lalu kembali menatap Agnes. “Apa Aku harus benar-benar tidur dengan Tuan Dargo, Aku tidak mau,” jawab Rina.“Tidak Rin, kita hanya membuat seakan-akan Tuan Dargo melecehkanmu nanti Aku akan atur semuanya, kamu tinggal melakukan instruksiku!” perintah Agnes.“Apakah ini benar-benar aman?”“Tentu saja, saat kasusnya mencuat, Tuan Dargo tak punya pilihan lain kecuali menyerahkan semuanya padaku dan memberikan Aku surat k

  • LUKA HATI WANITA YANG KAU SIA-SIAKAN   Bab 98 Kesepakatan

    Luna menatap lekat gadis muda dihadapannya, tampak sekali jika gadis itu sedikit cemas.“Jika begitu, Aku akan menghubungi Mas Omar, tampaknya masalah penting,” jawab Luna, lalu meraih ponsel dan tampak berbicara.Setelah pembicaraannya di ponsel selesai, Luna kembali duduk di sofa, ia memberikan minuman pada Rina.“Tunggulah sekitar tiga puluh menit, suamiku akan datang,” ujar Luna.“Baik Bu..”Luna dan Rina berbincang, mengenai tempat tinggal Rina sembari menunggu Omar. Sekitar tiga puluh menit Omar pun datang, pria itu langsung menatap Rina penuh penasaran.“Duduklah Mas..ini Rina, ia akan menyampaikan informasi, mengenai orang di duga ayah kandungmu,” ujar Luna.Omar duduk, lalu Rina dan Omar saling berjabat tangan .“Beberapa minggu yang lalu Aku mendapatkan surel dari seseorang yang mengaku jika orang tuaku mencariku, tapi setelah Aku menghubungi ponselnya tidak

  • LUKA HATI WANITA YANG KAU SIA-SIAKAN   Bab 97 Mulai Terbuka

    Iwan dan Agnes meninggalkan ruang kerja Dargo, setelah keluar dari ruangan mereka saling tatap dan tersenyum sinis.“Kita hampir berhasil, Agnes,” bisik Iwan.“Kita harus bergerak cepat,” sahut Agnes.Agnes dan Iwan berjalan menuju halamaan, waktu tiba di pintu depan mereka terkejut, karena Rina sudah ada di depan pintu utama, baru saja mau membunyikan bel.“Rina…ada perlu apa kamu kesini?” tanya Agnes.“Andini…bisakah kita bicara sebentar,” balas Rina.“Bisa..kita ke halaman samping saja,” ajak Agnes.Rina mengangguk dan melangkah mengikuti Agnes, sementara Iwan hanya tersenyum pada Rina lalu berlalu keluar rumah Dargo.Rina masih mengikuti langkah Agnes, mereka menuju ke halaman samping dan duduk di gazebo.“Ada perlu apa, waktu terakhir kita ketemu, kamu tidak mau Aku traktir dan terkesan menjauh dariku,” Agnes menatap dalam ke arah Rina.Rina menerbitkan senyum hangat. ”Maaf..Aku hanya minder saja, kamu sekarang sudah menjadi atasanku, tapi setelah Aku pikir, ada baiknya ‘kan be

  • LUKA HATI WANITA YANG KAU SIA-SIAKAN   Bab 96 Keberanian Gadis Desa

    Agnes terlihat mengamati perkebunan dan membayangkan bisa menguasai perkebunan yang lumayan luas itu.“Jangan sampai Omar tahu jika ia memiliki orang tua setajir ini, hidup Luna akan semakin bahagia, jika suaminya mewarisi perkebunan ini,” gumam Agnes pelan.Wanita yang sudah berpikiran licik itu memikirkan bagaimana cara untuk mendapatkan surat kuasa dari Dargo.Agnes berjalan layaknya pemilik perkebunan, banyak yang menatapnya dengan tatapan kagum, belum ada satu tahun menjadi pekerja perkebunan ia sudah di percaya Tuan Dargo.“Andini,“ sapa mondor perkebunan.“Pak mandor, ada apa?”“Selamat ya Aku dengar sekarang kamu mengelola keuangan perkebunan,” jawab mandor sambil nyengir.“Benar, Tuan Dargo memberi jabatan itu.”“Bisalah kamu mengusulkan kenaikan untuk gajiku?”“Heummm…Bisa tapi Pak Mandor harus giat bekerja,” balas Agnes sambil tertawa kecil.“Aku sudah giat bekerja, Andini,” sahut Mandor.“Lebih giat lagi,” Andini tersenyum, sambil berjalan meninggalkan mandor.Mandor per

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status