LOGIN“Papa! Papa sudah pulang,” seru Mora menghampiri ayahnya sambil tersenyum lebar. “Mora senang Papa pulang sore ini.”
Imran terkekeh, lalu meraih tubuh mungil putrinya. “Papa ingin jalan-jalan denganmu, Nak.”
“Hore! Ayo telepon Mama biar cepat pulang dan ikut kita jalan-jalan,” pinta Mora antusias.
“Tidak, Mora. Mama masih sibuk, kita pergi berdua saja, bagaimana?”
“Oke!”
Imran membawa putrinya naik ke mobil, lalu melaju pelan meninggalkan kediaman mereka.
Beberapa menit kemudian, Luna sampai di rumah. Ia mendapat pesan dari Imran yang mengatakan bahwa dirinya dan Mora pergi jalan-jalan dan makan malam di luar.
Setelah membaca pesan dari suaminya, Luna menjadi kecewa sekaligus heran.
Akhir-akhir ini, suaminya sering memberi perhatian lebih pada Mora. Luna tahu Imran memang ayah yang baik. Ia sangat sayang pada putri mereka, semua keperluan Mora selalu diperhatikannya.
Hanya saja, belakangan ini Imran sangat sibuk. Tapi entah bagaimana ia selalu punya waktu untuk Mora.
Luna menggelengkan kepala. “Sudahlah, bukankah itu hal baik?”
Setelah lewat jam sepuluh malam, barulah Imran dan Mora pulang ke rumah. Terlihat Imran membopong tubuh Mora yang ketiduran.
“Dari mana saja Mas, Mora sampai ketiduran?”
“Cuma main di mall, beli makanan kesukaan Mora dan bermain di playground,” jawab Imran. “Mora ketiduran karena capek.”
“Kenapa tidak mengajakku, Mas?” tanya Luna.
“Aku kira kamu sibuk,” jawab Imran sambil berjalan melewati Luna menuju kamar Mora.
Luna mengikutinya. Ia tampak ragu ketika berkata, “Mas… aku membutuhkan uang. Bulan ini waktunya ibu berobat dan Alif bayar uang kuliah, uangku tidak cukup,” katanya tak enak hati.
Sungguh, Luna tidak ingin merepotkan Imran untuk urusan keluarganya. Hanya saja, Luna tak tahu harus mendapatkan uang dari mana dalam waktu dekat.
Imran sejenak membisu, tidak menanggapi ucapan istrinya. Lalu dengan suara berat ia bertanya, “Berapa yang kamu butuhkan untuk menutupi kekurangannya?”
“Dua juta, Mas,” jawab Luna pelan.
“Aku transfer ke rekeningmu, Lun. Tapi ini terakhir kali aku membantumu. Keluargamu bukan tanggung jawabku, apalagi kuliah Alif. Dia bisa ‘kan kerja paruh waktu untuk membiayai kuliahnya sendiri?”
Luna menelan ludah sebelum menjawab, “Aku tahu Mas, itu bukan tanggung jawabmu. Hanya saja, aku masih berusaha mencari pekerjaan,” jawabnya dengan nada parau.
Imran tak menanggapi. Ia melangkah menuju kamar mandi tanpa mengatakan apapun. Tak lama, terdengar suara gemericik air.
Luna merasa nelangsa. Ada beban yang menghinggapi hatinya.
‘Aku harus segera mendapatkan pekerjaan agar tidak membebani Mas Imran,’ batin wanita itu.
**
Pagi menyapa, Luna dan Mbok Sumi sudah selesai menyiapkan sarapan.
Imran dan Mora menikmati makan masing-masing dengan lahap, lalu mereka berpamitan pergi.
Setelah mobil Imran menghilang di balik gang, Luna kembali masuk ke dalam rumah.
“Mbok Sum, apa kemarin gelang sudah kamu berikan pada Bapak?”
“Iya, Bu. Pak Imran kemarin mencarinya di laundry room, dan saya akhirnya memberikannya,” jawab Sumi.
“Apa yang dikatakan Bapak?”
“Bapak mengatakan gelang itu akan diberikan pada Bu Luna sebagai hadiah ulang tahun, dan saya disuruh diam,” jawab Sumi.
“Oke, terima kasih Mbok,” sahut Luna. Benaknya masih dipenuhi tanya. Tidak biasanya Imran menyiapkan hadiah ulang tahun.
Sementara itu, di WR Company—tepatnya di ruang HRD—Pak Iwan sedang serius membaca CV.
“Agnes … semua yang tercatat di CV ini sangat bagus. Memang pantas jika Pak Imran merekomendasikan dirimu sebagai ganti Luna,” ucap pria itu, tampak terkesan dengan pengalaman dan pencapaian wanita di hadapannya.
Agnes tersenyum ramah. Ada kilat bangga di sepasang matanya yang indah.
Ia yakin dirinya akan diterima menggantikan posisi Luna—rivalnya saat di bangku universitas.
Dengan senyum mengembang, Agnes keluar dari kantor HRD.
“Aku akan mengganti kedudukanmu, Luna,” gumam Agnes sambil melangkah menuju area parkir di basement.
“Agnes! Bagaimana wawancaramu dengan Pak Iwan?”
Agnes menoleh saat melihat Imran menghampirinya.
Senyum wanita itu semakin lebar, “Semuanya berjalan lancar, Mas. Terima kasih telah merekomendasikan aku,” jawabnya dengan nada lembut.
Imran membalas senyumannya. Pria itu mengedarkan pandangan ke sekitar, memastikan tidak ada orang selain mereka berdua.
Imran lalu menarik tangan Agnes ke arah pilar yang tampak tersembunyi. Ia meraih tubuh Agnes dan menghapus jarak di antara mereka.
“Aku ingin kita bertemu malam ini,” bisik Imran sambil mendekatkan bibirnya ke telinga Agnes.
Agnes tersenyum, “Aku tunggu di apartemenku,” jawabnya sambil ikut berbisik.
“Aku kangen kamu,” ujar Imran, nada suaranya terdengar berat.
Saat jarak di antara semakin menipis, Agnes segera menahan dada pria yang mendekapnya itu.
“Mas, ini di kantor,” ujar Agnes pelan. Meski menolak, nada suaranya terdengar menggoda.
Imran menggeram pelan. “Agnes… aku ingin sekali menikahimu.”
Agnes terkekeh senang mendengarnya. Ia mengusap pipi Imran dengan lembut. “Tidak sekarang, Mas… aku ingin hubungan ini kita sembunyikan dulu, jangan sampai Luna tahu,” bisiknya tepat di depan bibir pria itu.
Imran memejamkan mata. “Terus terang saja, aku sudah mulai bosan dengan Luna. Dia tidak bisa merawat tubuhnya sampai terlihat kurus kerempeng,” gerutunya. “Kenapa dulu kamu tidak mau menerima lamaranku, Agnes?”
“Maaf, Mas… saat itu aku ingin fokus ke pendidikanku. Tapi setelah waktu berlalu, ternyata Mas Imranlah yang aku rindukan.”
“Aku akan meninggalkan Luna demi kamu.”
Agnes menatap pria itu lekat. “Mas Imran serius ingin meninggalkan Luna demi aku?” tanyanya. Seulas senyum kemenangan terbit di wajahnya yang jelita.
“Aku serius Nes, sejak dulu kamulah kuimpikan,” kata Imran, lalu mengecup bibir Agnes sekilas. “Dan sekarang kamu semakin cantik.”
Agnes tersenyum. “Kembalilah, Mas. Sebelum kita kepergok,” katanya sambil tertawa.
Imran mengangguk, lalu melepas dekapannya. “Oh ya, aku punya hadiah untukmu,” ucapnya, lalu mengambil sesuatu dari saku jasnya.
Sebuah gelang berbentuk balok dengan kombinasi mata di tengahnya.
“Oh… manis sekali kamu Mas…” Agnes tersenyum senang seraya meraih gelang itu dan langsung memakainya di tangan putihnya.
“Cantik sekali. Ukurannya sangat pas untukku.” Wajah Agnes tampak berseri-seri menatap gelang di tangannya. Ia lalu menatap Imran. “Terima kasih, Mas.”
Imran tampak senang ketika Agnes mencuri kecupan darinya.
“Ini hadiah sebagai awal hubungan kita,” kata pria itu. “Kita akan lebih sering bertemu karena sebentar lagi kita akan bekerja di kantor yang sama.”
Agnes memeluk pria itu. “Hari-hari kita akan lebih menyenangkan, Mas,” katanya manja.
“Dan aku sudah tidak sabar menantikannya,” balas Imran sambil membalas pelukan Agnes.
Agnes tersenyum miring.
‘Aku ingin melihat bagaimana reaksimu ketika pekerjaan dan suamimu jatuh ke tanganku, Luna….’
Dargo dan Omar menghabiskan waktu bersama seakan meluapkan rindu yang tak pernah terucap.“Aku sudah tua Omar, bahkan dokter menvonis usiaku tak lama lagi, aku menyesali perbuatanku pada ibumu, Aku hanya ingin berpesan padamu, perlakukan dengan baik wanita yang telah mau menerima kekuranganmu, apalagi jika dia melahirkan anakmu,” ucap Dargo dengan sangat bijaksana.Omar tersenyum hangat menatap sang ayah, ia berjanji dalam hatinya tidak akan menyia-nyiakan waktu dalam hidupnya, kini ia memilkii keluarga yang sempurna bersama Luna, di tambah kehadiran sang putri.Sementara itu Luna sedang berbincang dengan Rina, gadis itu tampak lega dan bahagia, karena usahanya menyelamatkan Dargo berhasil.“Rin, kamu harus melanjutan sekolahmu, kami akan membiayai semua pendidikanmu, sampai universitas,” ucap Luna.“Apa tidak berlebihan, Anda membiarkan Aku bekerja di perkebunan ini saya sudah sangat berterima kasih,” jawab Rina.“Tidak Rina, kamu gadis yang cerdas, sayang jika tidak diimbangi deng
Rina mengirim pesan pada Omar melalu sebuah chat menceritakan rencana Agnes dan Iwan malam ini.Omar yang saat itu membaca chat dari Rina, menunjukkan wajah serius dan tampak berpikir keras.“Apa apa Mas?” tanya Luna sembari duduk di sebelah Omar.“Rina mengirim pesan jika Agnes dan Iwan serta Tuan Dargo, akan mengadakan pertemuan mereka juga akan pesta miras juga, dan Agnes akan melaksanakan rencana busuknya malam ini,” jelas Omar.“Kita harus bergerak cepat , jangan sampai terjadi sesuatu dengan Rina dan Tuan Dargo, kejahatan Agnes harus di gagalkan malam ini,” jawab Luna.Omar dan Luna terdiam sesaat mereka sedang memikirkan suatu rencana.“Luna, apa kamu membawa obat tidurku?” tanya Omar.“Iya Mas..Aku membawanya, karena kamu sering mengeluh tak bisa tidur dan gelisah, jadi aku membawa obat itu,” jawab Luna.“Kita akan pakai obat itu malam ini, Aku akan mengirim pesan pada Rina,” jawab Omar.Jari-jemari Omar dengan cepat menyentuh layar ponsel dan menulis pesan untuk Rina.{Rin
Agnes menatap Rina, lalu tersenyum hangat. “Kamu harus setuju dengan kesepakatan ini. Jika tidak, lebih baik kamu keluar dari rumah Tuan Dargo,“ ancam Agnes masih menatap lekat gadis di depannya.“Katakan Andini, Aku harus apa biar Aku bisa kaya, Aku janji akan menuruti semua perkataanmu,” sahut Rina.“Aku akan membuat skenario jika Tuan Dargo melecehkanmu, lalu kamu tuntut dia. Selama proses persidangan, Aku akan berusaha mendapatkan surat kuasa, dari Tuan Dargo, dengan begitu, semua usaha dan keuangannya akan di bawah kendaliku,” jelas Agnes pelan.Rina tampak berpikir lalu kembali menatap Agnes. “Apa Aku harus benar-benar tidur dengan Tuan Dargo, Aku tidak mau,” jawab Rina.“Tidak Rin, kita hanya membuat seakan-akan Tuan Dargo melecehkanmu nanti Aku akan atur semuanya, kamu tinggal melakukan instruksiku!” perintah Agnes.“Apakah ini benar-benar aman?”“Tentu saja, saat kasusnya mencuat, Tuan Dargo tak punya pilihan lain kecuali menyerahkan semuanya padaku dan memberikan Aku surat k
Luna menatap lekat gadis muda dihadapannya, tampak sekali jika gadis itu sedikit cemas.“Jika begitu, Aku akan menghubungi Mas Omar, tampaknya masalah penting,” jawab Luna, lalu meraih ponsel dan tampak berbicara.Setelah pembicaraannya di ponsel selesai, Luna kembali duduk di sofa, ia memberikan minuman pada Rina.“Tunggulah sekitar tiga puluh menit, suamiku akan datang,” ujar Luna.“Baik Bu..”Luna dan Rina berbincang, mengenai tempat tinggal Rina sembari menunggu Omar. Sekitar tiga puluh menit Omar pun datang, pria itu langsung menatap Rina penuh penasaran.“Duduklah Mas..ini Rina, ia akan menyampaikan informasi, mengenai orang di duga ayah kandungmu,” ujar Luna.Omar duduk, lalu Rina dan Omar saling berjabat tangan .“Beberapa minggu yang lalu Aku mendapatkan surel dari seseorang yang mengaku jika orang tuaku mencariku, tapi setelah Aku menghubungi ponselnya tidak
Iwan dan Agnes meninggalkan ruang kerja Dargo, setelah keluar dari ruangan mereka saling tatap dan tersenyum sinis.“Kita hampir berhasil, Agnes,” bisik Iwan.“Kita harus bergerak cepat,” sahut Agnes.Agnes dan Iwan berjalan menuju halamaan, waktu tiba di pintu depan mereka terkejut, karena Rina sudah ada di depan pintu utama, baru saja mau membunyikan bel.“Rina…ada perlu apa kamu kesini?” tanya Agnes.“Andini…bisakah kita bicara sebentar,” balas Rina.“Bisa..kita ke halaman samping saja,” ajak Agnes.Rina mengangguk dan melangkah mengikuti Agnes, sementara Iwan hanya tersenyum pada Rina lalu berlalu keluar rumah Dargo.Rina masih mengikuti langkah Agnes, mereka menuju ke halaman samping dan duduk di gazebo.“Ada perlu apa, waktu terakhir kita ketemu, kamu tidak mau Aku traktir dan terkesan menjauh dariku,” Agnes menatap dalam ke arah Rina.Rina menerbitkan senyum hangat. ”Maaf..Aku hanya minder saja, kamu sekarang sudah menjadi atasanku, tapi setelah Aku pikir, ada baiknya ‘kan be
Agnes terlihat mengamati perkebunan dan membayangkan bisa menguasai perkebunan yang lumayan luas itu.“Jangan sampai Omar tahu jika ia memiliki orang tua setajir ini, hidup Luna akan semakin bahagia, jika suaminya mewarisi perkebunan ini,” gumam Agnes pelan.Wanita yang sudah berpikiran licik itu memikirkan bagaimana cara untuk mendapatkan surat kuasa dari Dargo.Agnes berjalan layaknya pemilik perkebunan, banyak yang menatapnya dengan tatapan kagum, belum ada satu tahun menjadi pekerja perkebunan ia sudah di percaya Tuan Dargo.“Andini,“ sapa mondor perkebunan.“Pak mandor, ada apa?”“Selamat ya Aku dengar sekarang kamu mengelola keuangan perkebunan,” jawab mandor sambil nyengir.“Benar, Tuan Dargo memberi jabatan itu.”“Bisalah kamu mengusulkan kenaikan untuk gajiku?”“Heummm…Bisa tapi Pak Mandor harus giat bekerja,” balas Agnes sambil tertawa kecil.“Aku sudah giat bekerja, Andini,” sahut Mandor.“Lebih giat lagi,” Andini tersenyum, sambil berjalan meninggalkan mandor.Mandor per







