LOGINAbigail creyó haber encontrado el amor eterno en Pietro, pero al descubrir que su esposo solo la desea por su fortuna y que está detrás de la muerte de su padre, su mundo se desmorona. Una discusión llena de tensión los lleva al borde de un accidente, pero en lugar de morir, Abigail despierta en el pasado, justo el día de su boda. Con una segunda oportunidad en sus manos, decide desenmascarar a Pietro y hacer que pague por sus crímenes. Sin embargo, su plan toma un giro inesperado cuando Giorgio Rachad, un alfa enigmático y peligroso, se cruza en su camino. A pesar de la atracción prohibida, ambos deberán enfrentar un mundo que desprecia a Abigail por su naturaleza mestiza. Mientras secretos oscuros emergen y enemigos conspiran para separarlos, Abigail y Giorgio lucharán contra todo para defender lo único que podría salvarlos: un amor que desafía las reglas. ¿Podrá Abigail vengar a su padre y al mismo tiempo abrir su corazón a un futuro que jamás imaginó?
View MoreKaki jenjang berkulit keemasan itu tampak rapuh dan gemetar, ketika sedang berdiri di hadapan sebuah bangunan megah bertingkat dua.
Ia tahu jika sudah seharusnya sekarang bergegas memasuki Mansion mewah di depannya itu, namun entah kenapa serangan gugup dan panik mendadak melanda dirinya. "Miss Maura?" Gadis itu pun sontak terkejut dan menoleh, ketika sebuah suara pria menyapa dirinya yang tengah melamun. Sosok pria paruh baya berbusana formal serba hitam tersenyum kepada dirinya, namun gadis itu masih diam tak membalas senyumnya. "Perkenalkan nama saya Alberto. Mari ikut dengan saya untuk masuk ke dalam, karena kehadiran Anda telah sangat ditunggu," ucap pria paruh baya yang masih tetap murah senyum meski Maura tak bergeming. Tak lagi bisa mengelak, gadis bergaun merah selutut itu pun mau tak mau mengikuti langkah Alberto yang berjalan di depannya, menuntun dirinya memasuki Mansion bercat putih yang terlalu mewah untuk menjadi nyata. Lagi pula, bagaimana ia bisa mengelak? Maura tak kan bisa lagi berubah pikiran atau pun kabur, karena... "Apa nama pulau ini?" Tanya Maura kepada Alberto, saat mereka masih berjalan masuk dari pagar raksasa yang dijaga oleh empat orang, menuju ke bangunan yang ternyata posisinya lumayan jauh. Alberto tersenyum mendengar nada ingin tahu Maura. "Little Olive," sahut pria itu, yang dibalas dengan anggukan Maura. "Little Olive tidak memiliki bangunan lain selain Mansion ini, Miss Maura. Dan akses keluar masuk pulau ini hanyalah melewati laut dan udara," ungkapnya lagi menambahkan. Maura pun seketika meringis mendengarnya. Itulah tepatnya kenapa ia tak bisa mengurungkan niat lagi atau melarikan diri, karena hanya ada laut dengan ombaknya yang sekarang mengelilinginya. Maura dibawa ke Pulau ini dengan helikopter, yang bahkan langsung pergi lagi segera setelah mengantarkannya ke Pulau sepi yang sangat misterius ini. Ah, dan sekarang tubuhnya semakin terasa menggigil, seiring dengan dirinya yang kini telah memasuki bagian teras yang luar biasa luas dari Mansion ini. Alberto mendorong sebuah pintu ganda raksasa dengan kedua tangannya, lalu berdiri di sisi salah satu daun pintu itu dan menatap Maura yang tampak goyah. "Silahkan masuk, Miss," tegurnya lagi. "Semuanya akan baik-baik saja, jangan cemas." Maura pun menelan ludahnya yang terasa berat. Ia tahu jika Alberto hanya berbasa-basi saja, atau mungkin hanya ingin membuatnya tenang dan tidak bertingkah hingga menyebabkan masalah. Tapi suka atau tidak suka, rela atau tidak rela, Maura tidak punya pilihan lain kecuali melangkahkan kakinya yang gemetar memasuki Mansion besar yang berdiri kokoh, bagai seorang Raja yang angkuh dan berkuasa itu. Kakinya yang mengenakan heels menapak di atas lantai granit putih berpola marble halus. Manik gelap gadis itu pun melebar dengan maksimal, ketika visual penuh kemewahan menyambutnya di dalam. Tatapannya mengagumi dua buah guci besar di samping pintu ganda yang lebih tinggi dari tubuhnya, yang tampak berkilau layaknya emas. Atau jangan-jangan... itu memang emas?? Tak mengherankan juga sebenarnya, mengingat penampakan dari luar Mansion yang menggambarkan bagaimana kemegahan yang tak terbantahkan. Tiba-tiba terdengar langkah kaki elegan yang sedang menuruni tangga besar yang menghubungkan ke lantai dua, dengan ukuran yang lebarnya hampir sama dengan luas dua kali halaman depan rumah Maura. Seorang gadis yang sedang menuruni tangga itu pun seketika beradu tatap dengan Maura, yang tampak terpana. Wow. Dia cantik sekali! Maura hampir tak percaya melihat keindahan paras yang tampak terlalu sempurna itu. Tubuh gadis itu proporsional sempurna bak supermodel, dengan rambut ikal pirang terang seperti boneka, dan mata biru langit yang mempesona. Maura pun seketika merasa bagaikan seekor kura-kura lamban dan bodoh yang sedang beradu tatap dengan seorang bidadari sempurna yang baru turun dari surga. Gadis di tangga itu pun tersenyum samar kepada Maura, tapi kemudian bertanya kepada Alberto. "Jadi dia, si gadis penggantiku?" Alberto tidak langsung menyahut, namun tetap senyuman terukir di wajahnya. "Tumpangan untuk Anda akan segera datang tak lama lagi, Miss Rebecca," ucapnya tanpa memberikan jawaban dari pertanyaan Rebecca. Bibir berpulas lipstik merah milik Rebecca pun sontak cemberut, namun langkah kakinya yang semula terhenti kini kembali bergerak menuruni tangga. Ia pun terus berjalan melewati Maura, tanpa perlu repot sedikit pun menoleh ke arahnya. "Ck. Raven benar-benar keterlaluan. Membuangku hanya demi gadis yang tampak membosankan ini?? Tak masuk akal!" guman Rebecca, meskipun pelan namun dengan sengaja ia ucapkan agar Maura dapat mendengarnya. 'Raven? Apa itu nama pria pemilik pulau dan masion ini??' Seketika napas gadis bersurai hitam panjang itu pun tercekat. Dengan tubuh yang membeku, Maura pun terhempas kembali pada kenyataan yang harus ia hadpi saat ini. Bahwa tubuhnya, kesuciannya sebagai seorang wanita dan harga dirinya, harus ia serahkan hari ini juga. Kepada seorang milyarder misterius yang telah membeli keperawanannya dengan harga tinggi. Milyarder yang memilki Pulau Little Olive dan Mansion mewah ini. Milyarder yang konon hanya menginginkan wanita-wanita yang masih suci belum tersentuh untuk menjadi partnernya bercinta, hingga di satu titik ia merasa bosan. Lalu mengganti wanitanya dengan yang lain namun masih dengan persyaratan yang sama, yakni perawan. Dan Maura, adalah wanita yang akan menjadi penghangat ranjang si Milyarder yang selanjutnya. Sekarang, adalah gilirannya. ***El motor se apagó. El silencio que siguió fue brutal.nGiorgio bajó primero. Yo tardé un segundo más. El refugio parecía un templo olvidado entre sombras y árboles. La tensión se cortaba en el aire apenas pusimos un pie dentro. Las miradas se clavaron en Giorgio como cuchillos. Él lo sabía. para todos en ese lugar el era el enemigo.—creo que no soy bienvenido aqui— me dijo en voz baja y en tono de burla como para bajar un poco la tensión.—no hagas que te maten— le dije. Giorgio asintió con la cabeza y miró de un lado a otro.Raffaele apareció entre la multitud y camino hacia nosotros con lentitud. Alto, delgado, con el rostro cruzado por arrugas que no lo debilitaban, sino que lo convertían en algo más temible: experiencia viva.—Raffaele… —murmuró Giorgio, y su voz no ocultó el asombro.— Giorgio. que bueno verte aqui— le dijo él.Giorgio se veía confundido y me miró, ¿pero que le podía decir yo?—¿desde cuándo estás con ellos?— le pregunto. —desde siempre, es injusto todo lo que
la velada siguió igual de tensa, todos me miraban por el rabillo del ojo. pero la única mirada que realmente pesaba era la de él, de Giorgio. me hacía sentir tan incomoda.—viene hacia aqui— me dijo Kael.Yo no sabía a lo que se refería y entonces lo entendí, era Giorgio caminando hasta nosotros.—Ven conmigo, por favor.Giorgio me lo susurró cerca del oído, como si el peso de lo que estaba a punto de decir no pudiera ser compartido con el mundo. Había esperado toda la noche para hablarme. —dejame en paz — le dije. pero él no se apartó.—dame cinco minutos por favor — me pidio.Yo miré a Kael y el asintio con la cabeza, así que me levanté y acompañe a Giorgio al jardín. —¿Qué quieres? —le espeté sin rodeos, sintiendo todavía el ardor de su mirada cuando desfilé con Kael entre los lobos del salón. —Quiero salvarte, maldita sea —dijo, y su voz quebrada me tomó por sorpresa. —¿Salvarme? ¿Después de abandonarme? Giorgio se acercó más. En sus ojos había culpa. Rabia. Dolor. Y deseo.
Hoy era el día en que me enfrentaría directamente a todos ellos, quería ver sus rostros llenos de rabia y frustración.pero en especial quería ver el rostro de Dunkel, quería ver en sus ojos el odio hacia mi, disfrutar de cada mirada de rencor. quería que todos supieran que no pudieron derrotar a un simple cero.El evento de hoy definitivamente era crucial para nuestros planes, hoy le declararemos la guerra a todo el concejo.El rojo sangre de mi vestido abrazaba cada curva de mi cuerpo como si hubiera sido hecho a medida. Cada paso que daba con los tacones negros resonaba como un golpe en la conciencia de quienes me habían dado por muerta. Estaba viva. Más viva que nunca. Y esa noche… esa noche iban a recordarlo.Entré al salón con la barbilla en alto, el corazón latiendo como un tambor de guerra. Todo estaba bañado en luces doradas y música elegante, pero lo que sentí al cruzar la puerta fue tensión. Un silencio cargado, una pausa incómoda que corté con mi presencia. Era la única ce
Gabriele apretaba el teléfono con tanta fuerza que los nudillos se le pusieron blancos. Su respiración era densa, cargada de odio, de rabia... y de culpa. Había anotado tres direcciones. Tres lugares donde se harían las próximas subastas. Lugares que él mismo había ayudado a proteger. Ahora, estaba a punto de destruirlos. —Toma nota —murmuró con voz baja. Del otro lado, el silencio fue su única respuesta al principio. Después, la voz de Abigail, suave pero firme, se filtró como veneno dulce. —Dime. Gabriele cerró los ojos. La traición se le anudó en la garganta. Dio las direcciones una por una, como si cada palabra le arrancara parte del alma. Cuando terminó, el silencio volvió. — gracias Gabriele esto significa mucho para mi—La voz de Abigail sonaba burlona. —No lo hago por ti —gruñó él—. Lo hago por ella. Así que más te vale que este bien. Abigail no respondió. Colgó. Él se dejó caer en la silla, sintiendo que cada fibra de su ser se desmoronaba. --- Horas más tarde, los ru
Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.
reviewsMore