LOGINJ'ai découvert que j'étais enceinte en même temps que Rosa, l'amour de jeunesse de mon mari mafieux. Pour protéger son bébé de l'avortement que ses parents souhaitaient, mon mari a revendiqué l'enfant de Rosa comme étant le sien. Quant au mien ? Il m'a manipulée, me disant qu'il ne réclamerait le mien qu'après la naissance de celui de Rosa. Je l'ai confronté, exigeant de savoir pourquoi il m'avait fait ça. Sa réponse a été froide et implacable : « Revendiquer son bébé comme le mien était le seul moyen de les protéger tous les deux. Je ne laisserai rien leur arriver, ni à elle ni à l'enfant. » À cet instant, en regardant l'homme que j'avais aimé pendant dix ans, j'ai réalisé que mon amour pour lui était mort. Peu de temps après, ma famille m'a condamnée, me traitant de s*lope pour avoir eu un enfant sans père et m'a mise sous pression pour avorter. Pendant ce temps, mon mari était dans une autre ville, avec sa bien-aimée, à l'aider à travers sa grossesse. Lorsqu'il est revenu, j'étais déjà partie.
View MoreSalsa berjalan mondar-mandir di depan ruang ICU, lalu bersandar lemas ke dinding ruang tunggu. Tatapan matanya terus-terusan tertuju pada pintu kaca buram di depannya. Pikiran Salsa sudah kacau sejak mendapat kabar kalau ayahnya kritis dan mengalami pendarahan hebat di otak akibat kecelakaan maut yang menimpanya tadi pagi. Bahkan hingga malam hari sang ayah belum juga sadarkan diri.
Pintu kaca di ruang ICU akhirnya terbuka. Seorang dokter paruh baya keluar dan Salsa langsung menghampirinya. “Bagaimana keadaan Ayah saya, dok?” tanya Salsa, berharap ada kabar baik yang ia dapatkan dari dokter. Salsa sangat mengkhawatirkan kondisi Ayahnya meskipun sejak sang Ayah menikah lagi, Salsa nyaris kehilangan sosok Ayah yang dulu begitu menyayanginya. “Kondisi pasien semakin memburuk dan harus dilakukan operasi besar secepatnya. Kami hanya punya waktu tiga jam menunggu sampai deposit untuk operasinya dilunasi, jika tidak kami tidak berani menjamin apapun tentang keadaan pasien,” ucap dokter, yang terpaksa memberi kabar buruk itu pada keluarga pasien. Mendengar itu, kaki Salsa langsung lemas. Wajahnya semakin pucat dan jantungnya berdebar sangat kencang karena takut kehilangan sang Ayah. Air mata kembali mengalir membasahi wajahnya. “Be–berapa biayanya, dok?” tanyanya terbata. “Satu miliar. Minimal ada uang deposit lima puluh persen dulu baru operasi bisa dilakukan. Saya permisi dulu,” pamit dokter itu meninggalkan Salsa dalam kebingungan. Ia masih mematung di tempatnya saat dokter berjalan menjauh. Otaknya mendadak tak bisa diajak berpikir jernih. Satu miliar? Uang dari mana? Jangankan uang sebanyak itu, tabungannya saat ini bahkan tidak akan cukup untuk membayar biaya kamar ICU semalam. Mereka benar-benar tidak punya harta apapun, apalagi selama ini mereka tinggal di rumah kontrakan. Salsa mulai frustrasi, ia bingung harus mencari pinjaman ke mana dalam waktu se-singkat ini untuk menyelamatkan sang Ayah. Di tengah kepanikannya, Salsa melihat Aditya, tunangannya, berjalan mendekat menuju ke arahnya. Namun, Aditya tidak datang sendirian. Dia datang bersama Zara, kakak tiri Salsa. Melihat mereka, Salsa langsung berlari menghampiri dengan air mata yang mulai mengalir deras membasahi wajahnya yang pucat. “Mas Adit, untung saja kamu datang. Tolong bantu Salsa, mas. Ayah harus segera dioperasi dan biayanya harus dilunasi minimal lima puluh persen. Dokter bilang hanya punya waktu tiga jam saja, kalau tidak…” Ucapan Salsa terpotong oleh pertanyaan sang tunangan. “Berapa biaya operasinya?” tanya Adit datar, sama sekali tidak ada rasa iba melihat ayah tunangannya sedang terbaring lemah dan berjuang antara hidup dan mati di dalam ruang ICU. Salsa menarik napas berat sebelum akhirnya menyebutkan angka tak masuk akal itu, “Sa–satu miliar, Mas.” “Apa?” Aditya tersentak kaget mendengar nominal yang disebutkan Salsa. “Apa kamu sudah gila mau pinjam uang dariku sebanyak itu?” Bentak Aditya. Salsa buru-buru memegang tangan tunangannya berharap agar pintu hati sang tunangan terketuk untuk menolongnya. “Kumohon bantu selamatkan Ayahku, Mas. Aku janji akan bekerja siang dan malam agar bisa mengembalikan uangmu,” ucapnya penuh permohonan. Salsa sangat berharap Aditya mau membantunya. Biar bagaimanapun, mereka sudah bersama selama lima tahun kebelakang dan Salsa yakin Adit punya tabungan lebih dari satu miliar. Ia bahkan sudah menemani pria itu dari nol sampai sekarang sukses punya usaha showroom mobil. Salsa yakin Aditya tidak akan tega membiarkan satu-satunya orang tua yang dia miliki meninggal dunia tanpa sempat ditangani di ruang operasi. Namun, Aditya justru menepis tangan Salsa dengan kasar hingga gadis cantik itu mundur selangkah. “Aku gak punya uang sebanyak itu. Kalaupun ada, lebih baik uang itu aku pakai untuk menambah unit mobil di showroomku,” jawab Aditya tanpa perasaan. Ulu hati Salsa mendadak sakit seperti diremas tangan tak kasat mata dengan sangat kuat. Dia menatap Aditya nyaris tidak percaya mendengar penolakan dari pria itu. Bagaimana bisa pria yang selama ini dia sayangi berubah menjadi orang tak berperasaan di saat ayahnya sedang kritis? Dengan sisa harapan yang ada, Salsa menatap kakak tirinya yang berdiri di sebelah Aditya. “Kak, sejak Ibumu menikah dengan ayahku, ayah begitu menyayangimu. Bahkan seluruh kasih sayangnya dia berikan untukmu. Aku mohon bantu aku untuk bujuk Mas Adit agar mau menyelamatkan nyawa Ayah,” ujar Salsa lagi sambil menangis. Dia berharap sang kakak tiri mau melakukannya. Kalau bukan karena Salsa, tidak mungkin Zara bisa menjadi asisten pribadi sang tunangan. Namun, Zara yang sejak tadi melipat tangannya di depan dada hanya menatap Salsa penuh ejekan. Tidak ada sedikit pun raut sedih di wajahnya, padahal pria di dalam ruang ICU itu adalah ayah tiri yang selalu memanjakannya. Orang yang berhasil meyakinkan Salsa kalau Zara bisa bekerja profesional di showroom milik Aditya. “Sudahlah Salsa. Pasrahkan saja nyawa ayahmu pada Tuhan, daripada kamu pusing mikirin biayanya,” jawab Zara tanpa belas kasihan sedikitpun melihat adik tirinya yang sedang menangis membayangkan betapa beratnya sang Ayah berjuang di dalam sana. Belum sempat Salsa menanggapi ucapan menyakitkan dari kakak tirinya, Aditya kembali bersuara. “Lagian aku datang ke sini mau memutuskan hubungan kita,” timpal Aditya. Deg. Mendengar itu, Salsa sampai lupa cara bernapas. Dia menatap pria yang sangat dia cintai selama lima tahun terakhir ini. Pria yang dia temani berjuang dari nol, dari zaman tidak punya apa-apa, sampai sekarang bisa sukses dan namanya tercatat sebagai pengusaha muda yang sukses. “Kamu jangan bercanda, Mas,” ucap Salsa lirih, ia berharap ada masalah dengan pendengarannya barusan. “Aku serius. Aku sudah lama ingin memutuskan hubungan kita. Dan hari ini adalah momen yang tepat. Aku jatuh cinta sama Zara. Mulai hari ini kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi,” ucapnya. “Nggak, Mas. Kamu pasti bohong kan? Kita bahkan sebentar lagi akan menikah, Mas. Tolong jangan seperti ini,” lirih Salsa sambil berderai air mata. “Dia calon suamiku, Salsa. Dia lebih mencintaiku daripada kamu. Mulai sekarang, lupakan kalau kalian pernah bersama,” sambar Zara. Ada binar bahagia di matanya ketika berhasil melukai hati saudara tirinya ini, dengan merebut semua milik Salsa. Menurut Zara, dialah yang lebih pantas bahagia dari adik tirinya ini. Aditya kemudian merogoh sakunya, mengambil cincin pertunangan mereka yang dua bulan terakhir tidak pernah ia pakai lagi, lalu melempar cincin itu tepat di depan kaki Salsa. Setelah itu, tanpa memperdulikan kondisi Salsa yang hancur, Aditya berbalik dan berjalan meninggalkan ruang ICU bersama Zara. “Mas Adit, kamu gak bisa kayak gini sama aku, Mas. Mas Adit, hiks hiks,” teriak Salsa sambil menangis. Tubuh Salsa langsung melorot ke lantai. Dia sudah tidak punya kekuatan lagi untuk berdiri. Ulu hatinya sangat sakit seperti ditikam senjata tajam, membuatnya nyaris tak bisa lagi untuk bernapas. Salsa meremas ulu hatinya dengan keras bermaksud agar mengurangi sakitnya, tetapi rasa perih itu tetap tidak mau hilang bahkan kian menjadi-jadi. Salsa menangis sendirian di lantai rumah sakit. Namun, di tengah kebingungan dan rasa sakit akibat dikhianati oleh kakak tiri dan tunangannya, Salsa sadar dia tidak punya banyak waktu untuk meratapi nasib malangnya. Nyawa ayahnya sedang dipertaruhkan di dalam ruang ICU. Dia harus menyelamatkan sang ayah, bagaimanapun caranya. Rasa sakit ini harus dia singkirkan dulu. Saat otaknya berputar mencari jalan keluar, tiba-tiba terlintas satu nama di benaknya. Seseorang yang sangat kaya raya, yang mungkin bisa menjadi harapan terakhirnya. Salsa langsung menyeka air matanya. Dia memaksakan diri untuk bangkit, lalu setengah berlari meninggalkan area ruang ICU menuju rumah pria itu. “Bertahanlah, Yah. Salsa akan berusaha menyelamatkan nyawa Ayah,” bisiknya pilu.Point de vue d'IsabellaJ'ai épousé Ethan un an plus tard, et je peux dire avec certitude que notre mariage ne pouvait pas être plus parfait. Ethan me chérissait de toutes les manières possibles.Peu de temps après, je suis tombée enceinte de son enfant.Dix mois plus tard, notre fille est née.Le temps a passé, et lorsqu'elle a eu deux ans, j'ai finalement décidé de retourner à New York avec mes parents.Remettre les pieds à New York a été une expérience totalement différente de celle de mon départ. À l’époque, j’étais une autre personne. Aujourd’hui, je suis revenue avec ma petite fille dans les bras, mon mari aimant à mes côtés et mes parents derrière moi. J’ai changé. J’ai été plus forte. Plus heureuse.Mais le monde est petit - trop petit.Je ne m'attendais pas à croiser Rosa, et pourtant, elle était là, vendant des ballons dans la rue.J’ai hésité, ne voulant pas la reconnaître. Je voulais juste passer mon chemin avant que ses mains sales ne touchent ma robe.Mais elle m'a remar
Point de vue d’IsabellaDès l’instant où mes véritables parents, Bianca et Enzo, m’ont emmenée chez eux, j’ai compris qu’ils n’avaient pas exagéré.C'est la famille mafieuse la plus puissante du Nord, leur influence s’étendant à travers le monde - cent fois plus grande que tout ce que Vincent Falcone avait pu bâtir.J’avais été enlevée il y a des années par l’un des rivaux de mon père, en pleine guerre sanglante autour d’un projet de développement d’une usine de drogue. Mon père s’était vengé de celui qui en était responsable, mais lorsqu’il s’était enfin mis à ma recherche, j’avais déjà disparu.Mais mes parents biologiques n’avaient jamais cessé de me chercher. Ils n’avaient simplement jamais imaginé que j’avais été élevée par une autre famille mafieuse - bien moins puissante que la leur.Au début, les hommes de mon père n’ont pas cru en moi. À leurs yeux, j’étais trop douce, trop fragile pour être la fille d’Enzo.Même mon propre père m’a dit :« Tant que je suis là, tu n’as pas à
Point de vue de VincentUn étrange soulagement m’a envahi, comme si j’avais oublié quelque chose d’important… ou comme si je venais de perdre quelque chose d’essentiel.En réalité, cette sensation m’a hanté depuis le jour où j’ai quitté la maison. Et maintenant, elle est devenue de plus en plus forte, à tel point que mon cœur m’a brûlé presque.Est-ce qu’il s’est passé quelque chose au manoir ? Est-ce qu’il est arrivé quelque chose à Isabella ?J’ai sorti mon téléphone et j’ai appelé son numéro. Une dizaine de tentatives, et toujours aucune réponse.À présent, j’étais officiellement paniqué. Pourquoi diable Isabella n’a pas répondu à mon fichu téléphone ?Je me suis levé précipitamment du lit, j’ai attrapé ma veste et mon pantalon, prêt à sortir de cette pièce. Mais la voix de Rosa m’a arrêté net.« Vincent, où vas-tu ? »« Je dois rentrer vérifier quelque chose. Isabella n’a pas répondu à mon téléphone. »Sa voix a tremblé, au bord des larmes.« Alors tu vas juste me laisser là ? Tou
Point de vue d'IsabellaQuand je me suis réveillée, il n'y avait que deux personnes dans la pièce. La femme pleurait, et l'homme faisait les cent pas. Ma tête était encore en désordre, et l'amnésie semblait m'avoir frappée de plein fouet.En me voyant m'éveiller, la femme a cessé de pleurer et a pris ma main.« Isabella, comment te sens-tu ? »Je l'ai reconnue immédiatement. C'était ma mère biologique, Bianca. Bien que je ne l'aie rencontrée qu'une seule fois, la ressemblance entre nous était indéniable.L'homme, qui faisait les cent pas nerveusement, était incontestablement mon père biologique, Enzo.Ils me regardaient tous les deux avec tant d'inquiétude dans les yeux. C'était un contraste frappant avec ceux qui m'avaient un jour traitée de honte, qui m'avaient forcée à signer les papiers de divorce et à interrompre ma grossesse.La voix de mon père était douce, bien que son expression était tendue.« Je leur ferai payer ça, Isabella. Tu es une Rossi. Personne ne te fera plus jamais


















Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.