로그인J'entretenais une relation secrète avec mon petit ami mafieux, Dante Castellano, depuis sept ans. Aucun contact public. Aucune photo ensemble. Aucune preuve que j'avais un jour été à ses côtés. Il m'avait dit : « Quand je serai assez puissant pour que plus personne n'ose te toucher, je rendrai notre relation officielle. » Je l'avais cru. La veille de notre septième anniversaire, j'ai trouvé une bague en diamant de dix carats dans la veste de son costume. J'ai pleuré de joie, persuadée que sept années passées dans l'ombre touchaient enfin à leur fin. Le lendemain matin, j'ai enfilé ma robe la plus chère et vaporisé le seul parfum qu'il m'avait jamais offert. Je me suis entraînée à sourire devant le miroir, celui que je lui offrirais lorsqu'il me demanderait en mariage. Puis l'écran de mon téléphone s'est illuminé avec une alerte d'actualité de dernière minute. [Dernière minute : Une histoire d'amour de sept ans connaît une fin parfaite : La blogueuse romance Alessia Romano accepte la 100e demande en mariage de son petit ami !] Sur la photo, l'influenceuse aux huit millions d'abonnés s'était hissée sur la pointe des pieds pour embrasser un homme. La main de l’homme reposait derrière sa nuque. Sur cette main se trouvait une cicatrice que j'aurais pu reconnaître entre mille. C'était la cicatrice que Dante avait reçue en prenant un coup de couteau à ma place.
더 보기Sudah hampir satu minggu Asty memergoki suaminya mandi keramas setiap jam lima pagi sebelum shalat subuh. Biasanya pria berkacamata itu mandi keramas saat jam enam pagi, atau setelah melakukan ibadah halal bersama istrinya. Padahal sudah lima hari istrinya sedang kedatangan tamu bulanan, otomatis mereka puasa selama hampir satu minggu.
"Mas tumben jam segini udah mandi keramas, biasanya juga nanti," ujar Asty saat melihat suaminya keluar dari kamar mandi, dengan keadaan rambut yang basah dan hanya melilitkan handuk di pinggang."Ah, iya. Soalnya gerah, makanya aku langsung mandi." Evan terlihat gugup saat ditanyai oleh istrinya."Gerah kok, hampir satu minggu. Itu namanya bukan gerah, tapi .... " Asty menghentikan ucapannya di batin, saat mendengar pertanyaannya suaminya."Tumben kamu udah bangun, biasanya juga nanti, saat kamu sedang datang bulan." Evan melempar pertanyaan kepada istrinya."Iya, Mas. Soalnya hari ini Vina kan mulai berangkat kuliah, jadi aku harus bangun pagi untuk masak. Ya udah aku ke bawah dulu ya." Asty beranjak keluar dari kamar, tujuan wanita itu adalah dapur.Sementara itu, Evan segera memakai bajunya, pria itu sudah merasakan kecurigaan pada istrinya. Mengubur bangkai serapat apapun, pasti akan tercium bau busuk. Begitu juga dengan manusia, menutupi rahasia serapat apapun pasti lama-lama akan terbongkar juga.Pukul setengah tujuh, mereka bertiga sudah berkumpul di meja makan. Saat ini Asty sedang sibuk untuk meladeni suaminya. Namun, tiba-tiba pandangan Asty tertuju pada leher adiknya yang terdapat tanda merah. Asty menyipitkan matanya, ia juga berusaha untuk berpikir positif. Ia percaya jika adiknya bukan gadis bej*t."Vina, itu leher kamu kenapa?" tanya Asty, penuh selidik.Reflek Vina memegangi lehernya. "Oh ini, anu. Aku alergi krim, Kak. Tapi udah nggak apa-apa kok, nanti juga sembuh."Asty terdiam sejenak, benaknya berpikir keras, ia sering memergoki suaminya setiap pagi mandi keramas, dan sekarang Asty juga menemukan tanda merah di leher adiknya. Dan ini untuk yang ketiga kalinya, apa mungkin Vina dan Evan melakukan ... ah, rasanya tidak mungkin. Asty mencoba untuk membuang pikiran kotornya."Ya sudah, ayo buruan sarapan nanti keburu dingin." Asty berujar sembari menjatuhkan bobotnya di kursi."Kak, nanti aku titip nyuci mau nggak. Soalnya aku belum sempat nyuci," ungkap Vina.Asty tersenyum. "Iya, boleh kok.""Terima kasih ya, Kak." Vina pun ikut tersenyum. Setelah itu ia kembali melanjutkan ritual sarapan paginya.Usai sarapan pagi, Evan segera bersiap untuk berangkat ke kantor, sementara Vina juga bersiap berangkat ke kampus. Hari ini Vina terpaksa diantar oleh Evan, lantaran mobil miliknya sedang ada di bengkel. Setelah suami dan adiknya pergi, Asty bergegas untuk membereskan meja makan, tak lupa piring dan gelas yang kotor, langsung dicuci.Setelah selesai, Asty beranjak menuju kamar adiknya untuk mengambil pakaian yang kotor. Setibanya di kamar, Asty berjalan menuju keranjang kotor yang terletak di sebelah almari. Tanpa pikir panjang, Asty membawa keranjang tersebut keluar dari kamar adiknya. Setelah itu, ia masuk ke dalam kamar miliknya, untuk mengambil pakaian kotor miliknya serta sang suami.Asisten rumah tangga sedang cuti, terpaksa Asty melakukan pekerjaan rumah dengan tangannya sendiri. Bahkan untuk mencuci pun demikian, saat ini Asty sedang memilih baju berwarna dan tidak. Tiba-tiba wanita berambut sebahu itu menemukan celana dalam milik suaminya ditumpuk baju kotor milik adiknya. Detik itu juga Asty membulatkan matanya."Ini kan milik, mas Evan. Kenapa bisa ada di tumpukan baju kotor milik Vina." Pikiran Asty mendadak kacau. Setelah itu ia kembali memilah pakaian tersebut.Saat Asty merogoh saku jas milik suaminya, ia kembali menemukan benda asing. Dengan cepat Asty mengambilnya, seketika matanya kembali membulat saat mendapati alat tes kehamilan yang terdapat dua garis merah pada benda pilih tersebut. Dada Asty bergemuruh hebat, milik siapakah benda itu, kenapa bisa ada di saku jam suaminya."Awas saja ya, mas. Beraninya kamu bermain apa di belakangku, siap-siap saja jadi gembel." Asty meremas benda pipih itu dengan penuh emosi.***Tidak butuh waktu lama, kini mobil milik Evan sudah berhenti di depan kampus. Evan tersenyum saat mengingat kebersamaannya dengan adik iparnya itu. Ia tahu jika perbuatannya memang salah, tapi entah kenapa Evan justru ketagihan. Begitu juga dengan Vina, mungkinkah perempuan itu lupa jika pria yang selalu menghabiskan malam dengannya adalah suami kakaknya sendiri."Mas, aku khawatir kalau nanti, kak Asty mengetahui apa yang kita lakukan." Vina berujar seraya melepas sabuk pengamanannya.Evan menggenggam erat dengan Vina. "Kamu jangan khawatir, Asty tidak akan mengetahuinya. Percaya sama, mas."Vina tersenyum. "Iya, Mas. Ya sudah aku kuliah dulu ya.""Iya belajar yang bener." Evan mengacak rambut panjang Vina."Iya, Mas." Vina segera keluar dari mobil tersebut. Setelah itu Evan segera melajukan mobilnya meninggalkan tempat tersebut."Vina, kamu itu lebih menggoda dibandingkan dengan Asty," batin Evan. Saat ini ia dalam perjalanan menuju ke kantor."Huh, setelah ini tinggal ketemu dan menghabiskan waktu bersama dengan Rena." Evan tersenyum saat mengingat Rena, sekretaris pribadi sekaligus wanita simpanannya.Tidak butuh waktu lama kini Evan tiba di kantor. Pria berjas hitam itu segera melangkahkan kakinya menuju ke lantai dua puluh, di mana ruangannya berada. Evan tak henti-hentinya tersenyum, karena tidak lama lagi ia akan bertemu dengan pujaan hatinya, yaitu Rena.Setibanya di depan ruangan Evan segera membuka pintu ruangannya. Pria itu tersenyum saat melihat pemandangan yang begitu indah, bagaimana Evan tidak merasa bahagia, setiap pagi ia selalu disuguhi oleh aksi Rena yang sangat menggemaskan. Evan berjalan menghampiri Rena yang sedang duduk di sofa dengan pose menggoda."Good morning, Sayang." Rena menyapa Evan dengan suara manjanya."Kamu memang selalu membuatku merasa bahagia." Evan tersenyum lalu berjalan menghampiri Rena.Untuk sesaat keduanya saling pandang dan berakhir pada benda kenyal yang saling bertarung. Setelah cukup puas Evan melepaskannya, pria itu tersenyum saat mengingat kejadian yang baru saja terjadi. Begitu juga dengan Rena, wanita itu juga tersenyum.Tiba-tiba telepon berbunyi, dengan masih bertelanjang dada Evan mengangkat telepon tersebut.[Pagi, Pak. Di bawah ada ibu Asty, katanya ada perlu dengan, Bapak]Evan langsung membulatkan matanya, bagaimana mana istrinya tiba-tiba datang. Karena sebelumnya Asty tidak pernah datang ke kantor.Alessia a regardé Dante se faire emmener et toute l'assurance sur son visage a disparu instantanément. Elle a finalement paniqué et s'est mise à ramper jusqu'à Leonardo. Elle s'est prosternée encore et encore, frappant son front contre le sol jusqu'au sang.« Don Giorgi, s'il vous plaît, laissez-moi partir ! J'avais tort ! Je ne recommencerai plus jamais. Je ne ferai plus jamais de mal à Signorina Chiara ! »Leonardo a baissé les yeux vers elle. Son regard était glacial et totalement dénué de compassion. « Quand vous lui faisiez du mal, avez-vous seulement pensé à ce qui pourrait vous arriver ? Même si nous prenions votre vie, cela ne compenserait jamais la douleur qu'elle a ressentie en perdant son enfant. »Il a fait un signe du menton aux Soldati, son ton toujours aussi froid. « Emmenez-la. »Alessia était terrifiée. Elle se débattait désespérément tout en criant : « Non ! Ne m'emmenez pas ! Je vous en supplie, laissez-moi partir ! »Cependant, les Soldati sont restés impassibl
Alessia a marqué une pause avant de reprendre avec suffisance : « Parce que tu fais partie des personnes responsables de la mort de son enfant ! »« Enfant ? » Tout le corps de Dante a tremblé et ses pupilles se sont brusquement contractées.Il s'est retourné vers moi d'un mouvement brusque, les yeux remplis de choc et d'incrédulité.« Nous... avions un enfant ? »À la mention de cet enfant, mes yeux se sont remplis de larmes. Pourtant, je n'ai rien dit. Je me suis contentée de le regarder froidement. Mon silence était la réponse la plus cruelle qui soit.Dante a immédiatement compris qu'Alessia disait la vérité. Son corps tout entier s'est mis à trembler et son visage est devenu livide. Il a reculé de plusieurs pas en titubant, sa voix portant encore une dernière lueur d'espoir désespéré. « Tu mens, n'est-ce pas ?! »En voyant sa réaction, Alessia a éclaté de rire. Son rire était aigu et désagréable, particulièrement glaçant dans le silence de la nuit. Elle a relevé la tête et s
J'ai baissé les yeux vers les silhouettes tremblantes à mes pieds. Ma voix était calme. « Vous méprisez tous les domestiques, n'est-ce pas ? Alors découvrez ce que cela fait de servir les autres. »Pour ces jeunes hommes et femmes élevés dans le luxe, c'était une humiliation insupportable, mais aucun n'a osé protester.À ces mots, Leonardo a souri avec approbation. Ses yeux étaient remplis de tendresse et sa voix grave était douce. « Comme vous voudrez. »Les Soldati les ont escortés hors de la salle de réception. Le corps inconscient de Dante a également été emmené.Le chaos qui régnait dans la salle s'est progressivement dissipé. Les lumières se sont rallumées, une douce musique de piano a commencé à résonner et les invités sont venus me présenter leurs félicitations comme si rien ne s'était passé.C'était ma fête d'anniversaire. Mes parents aimants la célébraient avec moi et mon fiancé prenait ma défense.J'ai souri en acceptant chaque bénédiction.C'était le plus bel anniver
À mes mots, toute couleur a quitté le visage de Dante. Ses pupilles se sont brusquement contractées et son épaule blessée s'est mise à trembler légèrement tandis que le sang s'écoulait plus abondamment. Ses yeux étaient remplis de culpabilité, mêlée d'incrédulité et de souffrance.« Cara, ne fais pas ça. » Sa voix tremblait.Il semblait incapable d'accepter une façon aussi distante de m'adresser la parole.L'un de ses subordonnés s'est précipité vers lui, les sourcils froncés, et a déclaré d'un ton pressant :« Patron, arrêtez de parler. Votre épaule ne peut pas attendre. Vous avez besoin de soins immédiatement. »Dante a repoussé sa main avec force. Son geste était étonnamment puissant. Il a vacillé d'un pas mais a gardé les yeux fixés sur moi, la voix rauque. « Alors tu connaissais ta véritable identité depuis le début. Pourquoi me l'avoir cachée ? Tu ne me faisais donc aucune confiance ? »À l'instant où cette accusation a quitté ses lèvres, Mama a fait un pas en avant. Son re
L'amie d'Alessia s'est jetée sur moi. J'ai attrapé son poignet et l'ai repoussée brutalement.« Qu'est-ce qui vous donne le droit de me traiter de voleuse ? »Instantanément, le chat du live a explosé.[C'est toujours les coupables qui cherchent des excuses.][Regardez son attitude.][Elle est
Pendant trois jours, Alessia a affiché son bonheur aux yeux du monde entier. Le premier jour, elle a publié une vidéo sur ses réseaux sociaux. Dante se tenait dans la cuisine, maladroitement occupé à lui préparer une soupe. Blottie contre lui, elle affichait un sourire écœurant de douceur.[Il appr
J'ai traîné ma valise jusqu'à l'appartement que j'avais acheté des années plus tôt avec toutes mes économies. Depuis que Dante était devenu un Don de la mafia, cet endroit était resté vide.Lorsque j'ai aperçu la décoration chaleureuse, une amertume a envahi ma poitrine. C'était autrefois l'endroit
J'ai essayé de retirer la bague, mais elle refusait de bouger. Le métal s'enfonçait profondément dans ma chair. Elle était trop petite, trop serrée, comme un cercle de feu enroulé autour de l'os de mon doigt. Chaque mouvement envoyait une nouvelle vague de douleur dans tout mon bras.Pourtant, ce n






Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.
리뷰