เข้าสู่ระบบLe jour de mes seize ans, mes trois frères sont rentrés à la maison avec une fille qui s'appelait Sylviane. Ils m'ont dit que je devais la traiter comme ma famille. Je ne pensais pas que les choses changeraient. Mais quelques années plus tard, tout a changé. Jean, mon plus jeune frère, m'a poussée dans les escaliers pour elle. Adam, l'aîné, qui avait promis de me protéger pour toujours, m'a dit de partir. Je suis donc partie, discrètement. Ils ont cru que je faisais un caprice, alors ils ont emmené Sylviane à l'étranger, sans même prendre la peine de vérifier où je suis allée. Ils ne savaient pas que j'ai signé un contrat qui me liait au plus grand rival de notre famille en devenant leur plus jeune chimiste. Ce contrat, écrit noir sur blanc, stipulait que je ne pourrais plus jamais rentrer chez moi. La nuit où ils ont découvert que j'étais partie pour de bon ? Ils ont craqué, chacun d'entre eux.
ดูเพิ่มเติมMenara Trophaeum, Mei 2025
Gadis itu mendekati dua belah pintu besar dengan tertatih-tatih. Mantel bulu musim dingin yang ia kenakan terkoyak di sana-sini dan staminanya telah terkuras habis. Ia mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa untuk mendorong kedua pintu itu hingga terbuka. Angin badai salju seketika menerpa wajahnya yang langsung mengeras karena sensasi dingin. Sebuah pemandangan serba putih karena dominasi butiran salju juga turut menyambut. Perlahan ia maju hingga tembok pembatas puncak menara dari bangunan setinggi dua ratus meter di atas pegunungan. Sebenarnya ia sudah terlalu letih, tetapi masih ada satu hal lagi yang harus dilakukan. “Ayolah! Kau bisa melakukannya, Xabi!” bisiknya menyemangati diri sendiri. Bagian atas tembok pembatas hanya setinggi dada. Ia membersihkan salju di area yang akan digunakan untuk berpijak. Ia harus cepat atau salju akan segera menutupinya kembali. Gadis itu kemudian melepas kedua sarung tangan dan sepatu, lalu menata mereka seolah ia akan datang dan menggunakannya lagi. Xabi menaiki dinding pembatas dan berusaha berdiri tegap di atasnya. Angin beserta phobia akan ketinggian membuat tubuhnya limbung. Ia menutup mata menahan rasa dingin dan sakit. Ada sesak di dada yang membuatnya ragu. Ia ingin menangis dan berteriak. Namun, air matanya telah beku dan tenggorokannya tercekat. Gadis itu membuka mata, ia tidak ingin melakukannya dengan mata tertutup. Sekali lagi diamatinya keadaan sekitar. Tidak ada satu orang pun, bahkan mereka yang tadi mengejar dan menghalangi juga sudah tidak terasa keberadaanya. Ia menarik napas pendek dan mengembuskannya untuk yang terakhir kali lalu menghambur ke depan dengan kedua tangan terentang seolah hendak memeluk sang kekasih. Sang badai pun menyambut dengan kebisuan dan kebekuan yang tiada terkira. Tubuh itu berpacu dengan salju. Angin dan gravitasi mempercepat laju keduanya untuk sampai ke permukaan tanah. ***Vladivostok, Mei 2025Xabi terbangun dari tidurnya. Matanya langsung terbelalak dengan napas pendek-pendek. Ia baru saja bermimpi jatuh dari tempat yang sangat tinggi. Butuh beberapa detik untuk mengembalikan semua kesadarannya. Lampu ruangan terlalu temaram hingga ia hampir tidak bisa melihat apapun kecuali selimut putih yang menutupi bagian dada hingga kaki.Bau cairan infus yang menguar dan adanya benda yang menempel di tangan kanan membuat Xabi merasa ia sedang berada di rumah sakit. Ia pun menekan sebuah tombol di samping kasur yang menurut hematnya adalah alat pemanggil perawat.
Tak lama kemudian pintu terbuka dan memberikan sinar tambahan yang membuat Xabi sadar betapa luasnya ruangan itu dan jarak antar pasien hanya dibatasi tirai. Siluet wanita berambut panjang dan berjubah dokter berjalan mendekati setelah menutup pintu. Xabi bisa melihat dengan jelas karena wanita tersebut membawa sebuah lentera. Tirai pembatas ruang Xabi tersibak dan seorang wanita berwajah asing masuk. Ia meletakkan lentera di sudut ruangan dan memberikan botol kecil berisi kapsul-kapsul hijau. “Telan saja dua butir!” pintanya. “Itu hanya vitamin, untuk memastikan kau tidak pingsan setelah mencoba duduk seperti sebelumnya.” Xabi menurut dan kemudian mengamatinya mengutak-atik sebuah alat di meja nakas tepat di samping kepala. “Syukurlah kau sudah sadar. Mereka bilang kau akan bangun tapi kemudian meragukannya, aah, hanya membuatku tambah cemas. Kau mungkin agak terkejut tapi tenang saja. Kita pindah ke sini dan meninimalisir penggunaan alat-alat.” Wanita itu mengambil kembali botol obat dari tangan Xabi dan menukarnya dengan sebuah kotak hitam pipih. “Milikmu. Aku tahu kau masih dalam keadaan lemah, tapi Bos mengatakan kau harus secepatnya menyusul. Letak harta karun sudah dipastikan dan mereka menunggumu untuk proses eksekusi.” Dahi Xabi berkerut mendengarnya. Ia mengamati kotak hitam pipih di tangannya. ‘Sebuah ponsel mungkin?’ pikirnya. Ia mencoba menggerakkan mulut untuk bicara.“Maaf, Anda … siapa?”
Wanita asing berambut hitam tebal itu melihat Xabi untuk pertama kalinya dengan serius. Gadis lemah itu menatapnya kosong. “Kau tidak apa-apa?” “Sepertinya begitu. Maaf, Anda siapa? Sejak kapan saya di sini? Mana keluarga saya?” Mata besar dan biru sang wanita dari balik kacamata kecil berframe tebal itu jelas menunjukkan bahwa ia sedang berpikir keras.“Kau bisa duduk?”
Xabi mengangguk dan sang wanita membantunya. Di luar dugaan, kepalanya terasa sangat berat dan berputar-putar. Ia segera meminum air mineral yang disodorkan sang perawat. Setelah beberapa saat dan dipastikan Xabi tidak pingsan, wanita tersebut duduk di kasur dan memegang pergelangan tangan Xabi yang dipasangi gelang pasien. “Namaku Agnes, aku perawat yang bertanggung jawab di sini. Bisakah kau menyebutkan nama lengkap dan tanggal lahir?” “Tentu, Xabi Amara Deratri, lahir 20 Agustus 1997, umur 17 tahun.” Agnes mengamati gelang pasien seolah mencocokkan informasinya. Ia sesekali melirik Xabi dengan heran. “Apa kau masih ingat nama yang sering kau gunakan saat bermain game?” “Ah ya, aku memakai nama Xavier saat bermain Dota.” “Karakter yang sering kau mainkan?” “Magical type damage character.” “Kapan pertama kali kau menjadi juara nasional?” “2013.” “Apa yang terjadi dua tahun setelahnya?” “Dua tahun? Bukannya sekarang masih 2014?”Agnes melepas tangan Xabi. Ekspresinya antara bingung dan marah. “Kau bercanda kan?” Xabi menggeleng. Wanita yang mengaku sebagai perawat itu menggigit kukunya. Ia tidak bisa memungkiri kepolosan yang ditunjukkan wajah Xabi. Namun, ia juga tidak ingin kejadian kaburnya salah satu penghuni fasilitas ini beberapa hari yang lalu terulang. “Bisakah kau memberiku makan? Aku lapar …” ujar Xabi setelah sekian lama Agnes larut dalam pikiran sendiri. “Oh! Baiklah, aku akan memindahkanmu dulu.” Agnes meraih sesuatu dari kantung jubahnya. Xabi agak terkejut mendapati Agnes mengeluarkan borgol dan mengaitkan tangan kirinya dengan bagian samping ranjang. “Tetap di sini. Aku akan mengambil kursi roda untuk membawamu.” Andai kepalanya tidak pening, Xabi akan memprotes habis-habisan tindakan Agnes. Rumah sakit mana yang memperbolehkan perawatnya memborgol pasien? Ia mencoba tak acuh karena hanya berpikir saja sudah cukup membuatnya mual dan ingin muntah. Apapun yang telah terjadi, kesehatannya harus membaik terlebih dulu agar ia bisa menanyakannya nanti. Perginya suster Agnes memberi kesempatan Xabi untuk mengamati kondisinya. Ia mencoba menggerakkan kaki tapi terasa berat karena ia tidak memiliki cukup tenaga. Ia menyibak selimut dan kaget melihat kedua kakinya kurus dan pucat. Begitu pula tangan dan tubuhnya. Sayang tidak ada cermin yang bisa digunakan untuk memeriksa wajah. Namun, Xabi tahu betul ada yang salah dengan rambutnya. Teksturnya tidak lagi terasa lembut dalam bentuk helaian melainkan dikepang kecil-kecil mulai dari kulit kepala hingga melewati bahunya sedikit. Xabi menarik napas panjang dan kemudian menyesal karena aroma cairan infus kini memenuhi rongga dadanya. Terlalu banyak hal yang ingin ia tanyakan. Situasinya saat ini lebih dari sekedar aneh dan rumah sakit ini ... tidakkah terlalu sunyi? Yang terdengar olehnya hanya tarikan napas melalui alat bantu pernapasan. Helaian napas itu sangat banyak dan sangat pelan. Seolah-olah suara itu bisa berhenti setiap saat lalu sesuatu menyerang Xabi secara tiba-tiba. Entahlah, yang jelas ia merasa terlalu lemah untuk merasa takut. Agnes tiba dengan kursi rodanya. Sebelum memindahkan Xabi, ia melepas kateter infus di tangan kanan dan borgol di tangan kiri. Di luar dugaan, tenaga Agnes sebagai perawat cukup besar. Ia mampu mengangkat dan membantu Xabi duduk di kursi roda. “Apakah mereka semua sedang tidur?” tanya Xabi ketika Agnes mendorong kursi melewati ranjang-ranjang pasien yang hampir semuanya telah berisi. Tirai yang tadi ia lihat hanya menutupi biliknya saja. Selebihnya tempat tidur itu berbaris rapi dan memenuhi ruangan. Masing-masing dilengkapi dengan kantung infus dan alat aneh di meja samping kepala. Jarak dari kasurnya ke pintu masuk membuatnya berkalkulasi ada sekitar lima puluh pasien atau lebih yang menempati ruang yang sama dengannya. “Da (Ya), Kau boleh menutup mata jika tidak ingin melihat.” Agnes terlihat jelas tidak ingin membahasnya dulu. Xabi terkesiap ketika melihat pemandangan luar untuk pertama kali. Kelap-kelip lampu pemukiman sama semaraknya dengan bintang gemintang di atas. Ada laut di bawah sana, berbatasan langsung dengan daratan yang agak menjorok ke dalam. Daratan itu tersambung dengan dua barisan pegunungan di ujung kanan dan kirinya hingga seolah membentuk sebuah kepala dengan dua tanduk. “Di mana ini?” tanya Xabi tanpa memalingkan pandangannya meski Agnes mendorong kursi roda di sepanjang beranda. “Vladivostok, wilayah timur Rusia.”***Point de vue de KatiaPascal m'a offert le mariage le plus extravagant que j'aurais pu imaginer, le genre d'événement dont les tabloïds parlaient à voix basse et dont l'ancienne moi n'aurait jamais pu rêver.Puis je suis tombée enceinte d'un garçon.C'était une surprise, à mon âge, je ne pensais pas que c'était encore possible. Mais il était là, doux, beau, avec les yeux de Pascal et mon calme.Quand il a eu un an, Pascal a organisé une grande fête d'anniversaire, tout le monde est venu, même les Renard.Pascal les a fait entrer.Adam a encore vieilli depuis la dernière fois que je l'ai vu, ses épaules étaient voûtées, son regard s'était assombri.Léon est venu en chaise roulante, Jean avait une mine d'enfer, il était épuisé, fatigué.Ils ne m'ont pas parlé, ils ont juste laissé un petit cadeau près de la table. La carte disait : « Que tu aies la vie la plus merveilleuse, la plus parfaite ».Je ne l'ai pas ramené à la maison, je l'ai laissé près de la poubelle.Parce que lorsque certa
Point de vue de KatiaDix ans se sont écoulés depuis que j'ai rejoint le groupe Orman.Durant cette période, les formules que j'avais développées les avaient aidés à générer des centaines de milliards de bénéfices, des marchés entiers avaient été remodelés grâce à mon travail. Je n'étais plus une chimiste secrète cachée derrière la porte d'un laboratoire, j'étais leur atout le plus précieux.Et j'étais aussi la petite amie de Pascal Orman.Il m'a dit qu'il était tombé amoureux de moi la première fois qu'il m'avait vue. C'était peut-être vrai, peut-être pas, mais être sa compagne signifiait que je recevais des choses que la plupart des membres de l'organisation n'ont jamais eues : la liberté et la sécurité.Grâce à Pascal, je n'étais pas obligée de rester au Mexique à plein temps, je pouvais voyager souvent, il me demandait simplement où je voulais aller et m'y emmenait.Mais à cause de ce qu'il était et de ce qu'était le Groupe Orman, nous avons toujours voyagé sous le radar, avec de
Point de vue d'AdamJ'ai fermé les yeux une seconde. Quand je les ai ouverts, j'ai vu Sylviane. Elle se tenait devant la porte d'entrée, s'attardant comme si elle avait quelque chose à cacher.Sylviane, tout a commencé quand je l'ai ramenée à la maison.Les menaces sont arrivées peu après la mort d'Arthure, des messages anonymes, des avertissements, des demandes de protéger Sylviane, sinon Katia en paierait le prix.Et maintenant, je ne pouvais m'empêcher de me demander : et si je n'avais pas ramené Sylviane à la maison ? Si je n'avais pas cru pouvoir gérer les deux ? Si j'avais pu protéger Katia, diriger l'empire, empêcher que tout ne s'écroule ?Katia serait-elle encore là ?Sylviane s'est éclipsée dans l'obscurité, disparaissant derrière les haies.J'ai froncé les sourcils, la suspicion m'a envahi, alors j'ai suivi.Je n'ai pas tardé à entendre des voix basses, en colère.« Tu n'as pas le droit de me menacer », a sifflé Sylviane, « je t'ai donné ce que tu as demandé ! »« Et mainte
Point de vue d'Adam« Elle s'est proposée comme leur chimiste », ai-je dit en forçant les mots, « la plus jeune de l'histoire. »Léon n'a rien dit, il savait aussi ce que cela signifiait. Si Katia avait vraiment rejoint le groupe Orman, elle était partie, même si elle vivait, elle ne pourrait jamais revenir.Mon esprit s'est emballé. Comment avions-nous pu en arriver là ? Comment la fille que je portais autrefois sur mes épaules s'était-elle éloignée au point que je n'avais même pas remarqué son départ ?Et pire encore, pourquoi se sentait-elle obligée de le faire ?Une douleur froide et creuse a surgi dans ma poitrine.Léon s'est levé brusquement. « Je vais au Mexique. »« Quoi ? »« Je vais parler à Pascal Orman, peu importe ce qu'il faut faire, c'est notre sœur. »« Je lui ai déjà parlé », ai-je dit, la voix basse, « c'était presque impossible de la ramener maintenant, et j'avais peur qu'on énerve Pascal et qu'il lui fasse quelque chose, alors il faut rester calme. »Mais Léon ne
Point de vue de KatiaDemain, le jour du départ.Je pensais que le reste de mon temps allait s'écouler tranquillement, peut-être même paisiblement, jusqu'à ce que mon téléphone s'illumine d'un appel inattendu de Léon.« Tu rentres pour dîner ? » a-t-il demandé.La question m'a prise au dépourvu. «
Point de vue de Katia« Ils vont le regretter », a dit Jules une fois que nous étions dans la voiture, les portes se refermant derrière nous comme une sentence finale, « désolé si j'ai dépassé les bornes, mais je n'arrive pas à me faire à l'idée, quel genre de frère choisit une étrangère plutôt que
Point de vue de KatiaDehors, les rues de la ville scintillaient de joie pendant les fêtes. Les couples se tenaient la main, les enfants portaient des sucres, tous les passants semblaient rentrer à la maison.Maison, ce mot ne signifiait plus grand-chose pour moi.Je continuais à marcher, sans dest
Point de vue de KatiaJe pouvais sentir la haine de mon frère à mon égard, alors j'ai décidé de disparaître, d'aller quelque part où ils ne me retrouveraient jamais.« Est-ce que tu as pris ta décision, Mlle Renard ? Une fois que tu signes le contrat, tu comprends que toute ta vie appartient au gro






Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.
ความคิดเห็น