LOGINPendant six mois, ils ont bravé tous les interdits. Pour Elena et Aaron, leur relation n'avait rien d'un long fleuve tranquille. C'était un secret brûlant, une passion sauvage et purement charnelle consommée à l'abri des regards. Leurs corps s'aimaient comme des bêtes, cherchant dans la friction de la peau une trêve à la réalité destructrice qui les entourait. Mais on ne joue pas avec le feu sans se brûler. Une dernière nuit de plaisir….. Elena a tout effacé pour survivre. Aaron est prêt à tout détruire pour la posséder à nouveau. La traque est lancée, et elle s'annonce aussi sauvage que leurs nuits.
View MoreMery. Bayi yang baru berumur satu bulan itu harus meregang nyawa akibat dijadikan tumbal orang jahat. Aku sendiri yang menjadi saksi detik-detik di mana Mery berjuang antara hidup dan mati.
Hari itu aku libur sekolah. Aku masih duduk di kelas empat SD. Pagi-pagi Ibu sudah memandikan Mery adikku. Ia wangi dan aku suka sekali aroma mulut bayi. Kuciumi Mery berkali-kali. Aku menjaga adik sementara Ibu sibuk memasak dan melaksanakan tugas sebagai Ibu rumah tangga pada umumnya.
Pukul sembilan pagi, semua pekerjaan Ibu sudah selesai, ia menyuapi Mery dengan pisang. Hanya sedikit, sekitar satu sendok teh saja. Bahkan bisa di katakan pisang itu masih utuh. Setelah itu Ibu menimang-nimang Mery. Kami bercanda di ruang tamu.
"Assalamualaikum," sapa Bu Bidan. Aku tidak tahu kenapa Bu Bidan datang ke rumah. Bukankah biasanya ibu-ibu yang datang ke posyandu?
"Waalaikumsalam," jawab Ibu. Kemudian Bu Bidan mulai mengajak Mery bercanda.
"Hallo cantik, gendut ya, sehat ya, kita timbang dulu ya," kata Bu Bidan. Aku terus memerhatikan Bu Bidan. Ia menidurkan Mery di gendongan yang sudah di kaitkan ke timbangan bayi gantung, timbangan ini hanya mengangkat beban sampai sepuluh kilo saja. Setelah dilihat dengan seksama kemudian Bu Bidan melepaskan gendongan dari timbangan.
"Sudah, naik satu kilo lho. Pantesan endut," kata Beliau. Kemudian ia mencatat hasilnya di buku. aku terus memerhatikanya sampai Bu Bidan pamit pulang. Mungkin, Bu Bidan belum sampai di rumahnya ketika Mery mulai memuntahkan isi perutnya, yang tak lain adalah bubur pisang yang baru saja dimakan.
Huek.
"Hem, makan sedikit udah dimuntahin," kata Ibu gemas. Ia segera menganti baju Mery yang terkena muntah. "Sudah cantik!" kata Ibu lagi. Namun, hal itu tak berlangsung lama. Kembali Mery memuntahkan bubur pisang untuk ke dua kali. Semua masih nampak normal dan baik-baik saja. Sampai akhirnya Mery muntah untuk ketiga kalinya. Di sini Ibu mulai panik.
"Nduk tolong panggil Bapak, adek kok, gumoh terus. Apa dia pusing habis ditimbang?" kata Ibu. Aku langsung berlari ke belakang mencari Bapak yang lagi sibuk membersihkan kandang kambing.
"Pak, dipanggil ibu!" kataku.
"Nggeh, bentar," jawab Bapak. Aku kembali ke ruang tamu. Mery terus saja muntah setiap lima belas detik sekali.
"Ada apa?" tanya Bapak.
"Ini lho anakmu muntah terus. Coba pangilin Bu Bidan," kata ibu. Bapak memeriksa Mery, terlihat mimik wajahnya kurang enak. Kemudian beliau segera berganti baju dan pergi ke rumah Bu Bidan. Tak, butuh waktu lama Bu Bidan sudah di rumah kami lagi.
"Habis makan pisang ya, Bu," kata Bu Bidan.
"Iya," jawab Ibu singkat.
"Bayi itu nggak boleh dikasih pisang Bu. Perutnya belum bisa menerima," kata Bu Bidan lagi.
"Sedikit kok, Bu," jawab Ibu. Ia tunjukan pisang yang tadi disuapin ke Mery. Pisang itu hampir masih utuh.
"Oh, nggeh. Padahal tadi nggak apa-apa ya, Bu?" Bu Bidan sedikit heran.
"Iya, begitu habis ditimbang tadi langsung muntah Bu. Apa iya bayiku pusing?" kata ibu. "Ya, semacam habis makan minum kemudian di ayun, jadinya pusing."
Bu Bidan melempar senyum kecil mendengar ucapan Ibu barusan. Setelah memeriksa, Bu Bidan pulang. Tak apa-apa katanya, nanti juga berhenti muntahnya.
Namun, hal itu tidak terjadi. Mery masih terus memuntahkan bubur pisang dan semakin banyak. Bude yang kebetulan mampir mau belanja bertanya-tanya awalnya bagaimana kok, bisa begitu. Kemudian tetangga mulai berdatangan satu persatu. Ibuku sudah tidak kuasa melihat Mery yang semakin lemas. Akhirnya Bude yang mengendong Mery. Sementara aku ... aku mengusap bibir Mery setiap kali ia habis muntah.
"Astagfirullahaladzim," ucap Bude setiap kali Mery muntah. Aku berinisiatif menaruh bak bayi di bawah untuk menampung muntahan adikku. Posisi Mery tengkurap sementara tangan Bude ia letakan di keningnya. Aku lari ke dalam mengambil kain untuk mengelap bubur pisang yang dimuntahkan. Hampir semua baju bayi aku pakai untuk membersihkan bibir adik, kupilih baju dan selimut yang lembut. Ibu menangis tersedu di kamar, sementara Bapak memanggil nenekku. Lama-lama Bude pun tak tega. Kini ganti nenek yang memangku Mery. Kejadianya berlangsung begitu cepat.
Aku tak memerhatikan Bapak lagi, entah kemana beliau, apa cari jampi-jampi ke orang pintar? Atau kemana? Entahlah.
Kini bubur pisang itu makin banyak. Tak hanya keluar dari mulut tetapi, juga lewat lubang hidung. Bubur itu begitu kental dan kasar, banyak bulir-bulir pisang yang tak hancur. Sungguh aneh. Pikirku.
"Ati-ati, nduk. Nanti hidungnya wedangan," kata para tetangga memberikan peringatan. Dengan cekatan kubersihkan dan kupencet hidung adik. Wedangan itu seperti terkena balsem, panas. Ku pastikan tak ada bubur pisang di lubang hidungnya yang kecil agar ia bisa bernapas.
Aku lihat ubun-ubunya mulai cekung. Seiring dengan kelopak matanya. Aku punya sebuah firasat, adikku tak akan selamat. Kini durasi muntahnya makin lambat, tak seperti tadi. Badan gendut adikku makin menyusut. Aku memegang tanganya, uratnya mulai timbul. Kaki dan tanganya keriput, kemudian keningnya mulai membiru. Napasnya masih teratur, tak tersenggal-senggal. Begitu tenang. Kini seluruh badanya membiru, aku tahu dia akan segera pergi. Ku bersihkan wajahnya untuk yang terakhir kali. Aku berdiri menuju kamar mandi, pandanganku kosong. Cukup lama aku di sana, sampai ku dengar suara riuh itu.
"Sudah tidak ada," kata mereka. Sebenarnya aku sudah tahu. Akan tetapi, tetap saja hatiku pilu. Aku terdiam cukup lama di kamar mandi. Tadi pagi aku masih mengajaknya bercanda.
"Gendok mana? Gendok mana?" Aku dengar orang-orang panik mencariku. Selamat jalan Mery. Ucapku. Kemudian aku membasuh wajahku dan keluar dari kamar mandi.
"He, ini Gendok di sini," kata Budeku. Semua orang memenuhi rumahku dari depan sampai dapur. Sebagian lagi mencoba menenangkan Ibu yang baru saja sadar karena pingsan. Sementara Bude Sulis menyodorkan air putih untukku. Aku berjalan pelan, menenggok Ibu di kamar. Kemudian aku ke ruang tamu. Mery sudah tidur dengan tenang di atas meja dengan kain jarik sebagai alas dan selimut.
Bubur pisang sebanyak bak mandi menganjal pikiranku. Perut adikku hanya sekecil itu. Kalau bubur itu aku kembalikan ke perutnya, tentu tidak akan muat. Kematianya sungguh tak wajar. Aku mengutuk orang yang telah berbuat jahat kepada adikku.
Aku tidak tahu, apakah ada yang sadar mengenai hal itu. Kutatap bak berisi bubur pisang yang di muntahkan adikku yang kini di letakan di bawah kursi. Hanya dalam waktu tak lebih dari dua jam ia membunuh bayi mungil itu.
Aku terus mengikuti setiap prosesnya, mulai dari Mery dimandikan dan dikafani. Sampai ia di berangkatkan ke kuburan untuk dimakamkan. Aku lihat semua. Sampai hari ini aku tidak pernah melupakan peristiwa itu. Di mana adikku tersiksa di depan mataku. Orang jahat itu, aku tahu siapa dia.
Wanita iblis.
Aku calon tumbal pesugihan yang berhasil selamat.
Deux ans. Vingt-quatre mois de silence, de saisons qui se croisent sur les cimes du Morvan, et de paix payée au prix fort.Pour Aaron, ces deux années furent un enfer de plomb. Les premiers mois, il avait littéralement retourné la France. Des plaines de Bourgogne aux confins de l'Occitanie, ses hommes avaient fouillé, interrogé, corrompu. Mais Elena avait disparu comme une ligne de fumée dans un ciel d'hiver. Le bref signal de son appel près de Laroche-Migennes n'avait été qu'une impasse. Elle n'avait plus jamais rallumé de téléphone, plus jamais utilisé sa véritable identité, plus jamais touché à un compte bancaire. L'argent d'Adam avait été son dernier lien avec la société. Elle était devenue un fantôme dans un pays de brume.À New York, le parrain était devenu une légende de terreur. Sa frustration et son obsession non résolue s'étaient muées en une discipline de fer. Son empire s'était étendu, lavé dans le sang de quiconque croisait sa route, mais le penthouse de Manhattan restait
Le silence qui suivit la coupure de la ligne fut plus assourdissant que n'importe quelle détonation. Dans la chambre de bonne désertée, Aaron resta immobile, le bras encore levé, le téléphone pressé contre l'oreille comme s'il pouvait encore y puiser le souffle d'Elena.Ses aveux résonnaient en boucle dans son esprit, agissant comme un carburant hautement inflammable. Il n'y a que toi. Tu es partout en moi. Ces mots venaient de balayer d'un coup de balai magistral la jalousie maladive qui lui broyait les viscères depuis vingt-quatre heures. Le soulagement fut si violent qu'il en eut presque le vertige, immédiatement remplacé par une poussée d'adrénaline et une excitation sexuelle brute, sauvage. Elle ne s'était pas donnée au peintre. Son corps s'était verrouillé. Elle lui appartenait toujours, marquée au fer rouge par son souvenir.Mais la fin de sa déclaration — ce constat d'une destruction mutuelle — fit durcir ses traits. On se détruit l'un l'autre.— Qu'on brûle, alors, murmura-t-
Elena ne descendit pas à Narbonne. Alors que le TGV ralentissait à l'approche des paysages arides du Sud, une intuition viscérale lui souffla de rester assise. Fuir en Occitanie, se terrer dans un village de pierre des Corbières comme le lui avait suggéré Adam, c’était exactement le genre de trajectoire prévisible qu’Aaron décoderait en analysant le profil du jeune artiste. Elle laissa les collines défiler derrière la vitre et prolongea son voyage, s'enfonçant encore plus loin, changeant de train pour se perdre dans une autre province, là où personne ne l'attendait.Une fois arrivée dans une gare anonyme, elle se dirigea immédiatement vers une petite boutique de téléphonie d'occasion. Avec une partie des billets d'Adam, elle acheta en liquide un téléphone d'entrée de gamme et une carte SIM prépayée, anonyme.Elle sortit sur le parvis désert, la main tremblante. Ses doigts, qui connaissaient ce numéro par cœur, composèrent la suite de chiffres internationaux. Elle prit une immense insp
La gare de Lyon était une fournaise d'anxiété. Elena, enfoncée dans un vieux sweat-shirt à capuche déniché à la hâte dans une friperie près de la place d'Italie, se fondait parmi les voyageurs du matin. L’enveloppe de billets d’Adam pesait contre ses côtes, comme une preuve tangible du drame qu’elle laissait derrière elle. Elle avait acheté son billet en liquide à une borne automatique, choisissant un trajet pour Narbonne, la porte d'entrée de cette Occitanie sauvage qu'Adam lui avait décrite.Sur le quai, chaque uniforme de contrôleur ou d'agent de sécurité la faisait tressaillir. Elle s'engouffra dans la voiture du TGV, s'installant près de la vitre, côté couloir, pour garder un œil sur les passagers qui montaient. Sa paranoïa tournait à plein régime : ce quadragénaire en costume qui la regardait un peu trop longuement au moment de ranger sa valise était-il un homme d'Aaron ? Ce passager qui chuchotait au téléphone deux rangs plus bas transmettait-il sa position ?Lorsque le train s






Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.