La star du hockey qui m'a ruiné

La star du hockey qui m'a ruiné

last updateHuling Na-update : 2026-01-13
By:  ShyneOngoing
Language: French
goodnovel18goodnovel
Hindi Sapat ang Ratings
8Mga Kabanata
456views
Basahin
Idagdag sa library

Share:  

Iulat
Buod
katalogo
I-scan ang code para mabasa sa App

« Dis-moi que tu ne veux pas ça, Vivianne… » Le souffle chaud de Noah caressait ma peau, son doigt effleurant mon clitoris douloureux, et son regard fixé sur moi. « J’arrêterai si tu me le demandes… » Ma taille se cambrant, un léger gémissement s’échappa de mes lèvres tandis qu’il glissait deux doigts en moi, un sourire narquois se dessinant sur ses lèvres. Je devrais le repousser… Je devrais le maudire, mais je n’y arrivais pas. Mon corps me trahissait. Je le désirais, j’avais horreur de l’admettre. Comment mon corps pouvait-il désirer le même homme qui avait ruiné ma vie ? « Non… Noah… » Ma respiration était saccadée, mes ongles s’enfonçant dans le matelas tandis que le désir m’envahissait. « Ne… ne… touche pas… argh ! Juste là… Putain ! S’il te plaît, ne t’arrête pas… » « Où, V… Dis-moi où tu veux que je te touche. » Ses doigts s’agitèrent en moi, me titillant. « Juste là… Putain ! » Mes hanches se soulevèrent d'un coup, mon vagin palpitant de plaisir, mes parois se contractant autour de ses doigts… juste avant que mon orgasme ne me submerge…

view more

Kabanata 1

1

"Kamu akhirnya ... mau umumin hubungan kita?"

Fernando mengangkat alis dan meliriknya sekilas, "Umumin apa? Besok aku ada kencan buta di rumah. Kamu datang untuk bantu ramaikan suasana saja, jangan sampai pihak perempuan merasa canggung."

Kata demi kata terdengar jelas ke telinga Clark bagaikan petir yang menyambar.

Jantungnya seakan berhenti berdetak dan pikirannya kosong total. "Kamu mau kencan buta? Lalu aku ini apa?"

Fernando sudah bangkit dan mulai berpakaian. Mendengar ucapan Clark, dia menatap Clark dengan malas dan berkata, "Kamu? Kamu itu partnerku untuk macam-macam hal. Partner makan, partner main game, dan juga ... partner ranjang untuk saling memenuhi kebutuhan fisik."

Sekujur tubuh Clark langsung diliputi hawa dingin. Rona di wajahnya perlahan memudar, bibir dan giginya bergetar pelan.

Melihat ekspresinya, senyum di wajah Fernando perlahan menghilang. Dia mendekat sedikit dan bertanya, "Clark, jangan bilang selama ini kamu mengira kita pacaran?"

Nada bicara yang bercampur candaan itu bagaikan pisau tajam yang langsung menusuk dada Clark. Clark menahan rasa perih di hidungnya, lalu berkata dengan suara yang tak karuan, "Ng ... nggak mungkin, dong. Aku mau mandi dulu."

Clark bangkit dengan panik. Langkahnya goyah saat berjalan ke kamar mandi.

Begitu pintu tertutup, seluruh tenaganya seolah terkuras hingga habis. Dia jatuh terduduk di lantai. Kata-kata Fernando tadi masih terngiang di telinganya. Melihat tubuhnya yang dipenuhi bekas cupang dari Fernando, air mata Clark mengalir deras.

Mereka sudah saling mengenal lebih dari 20 tahun. Selama ini, mereka tumbuh bersama, pernah minum dari gelas yang sama, dan membaca komik yang sama. Bahkan saat usia 18 tahun, mereka pernah tidur bersama dalam keadaan mabuk.

Setelah terjadinya kejadian itu sekali, kemudian berlanjut untuk kedua kali, ketiga kali, dan selanjutnya ....

Di malam hari, tubuh mereka begitu selaras. Di siang hari, mereka melakukan hampir semua hal mesra yang biasa dilakukan pasangan.

Bergandengan tangan di tengah keramaian, berciuman saat tahun baru sambil berjanji akan bersama di tahun berikutnya, setiap hari menelepon lama untuk menjaga perasaan agar tetap hangat ....

Clark selalu mengira mereka sudah bersama, hanya saja belum mengumumkannya ke publik.

Namun, sekarang Fernando malah mengatakan bahwa mereka ini bukan pasangan?

Hati Clark terasa perih hingga kesulitan untuk bernapas. Dengan tangan gemetar, dia membuka pancuran air sampai paling deras. Setelah itu, dia baru berani menangis dengan keras. Entah berapa lama kemudian, sampai air matanya kering, dia baru membenahi emosinya dan keluar.

Fernando sudah berpakaian rapi dan duduk di sofa sambil menelepon.

"Besok ada banyak orang yang datang, ruang VIP restoran harus lebih besar. Pihak perempuan seleranya yang nggak terlalu berat. Untuk kue, pesan Black Forest. Bunganya pakai mawar pink putih. Setelah ditata, foto dan kirim ke aku untuk dicek. Lalu siapkan belasan set jas, tunggu aku pulang untuk pilih. Semuanya harus warna hitam, Jennah cuma suka warna itu."

Mendengar nama itu, hati Clark langsung terguncang. Tanpa sadar, dia menoleh dan melihat senyum manis di sudut bibir Fernando.

'Jennah? Jadi orang yang akan dia temui untuk kencan buta ... adalah Jennah?'

Sorot mata Clark langsung meredup. Kalau memang Jennah, Clark mengerti kenapa Fernando bisa sesenang itu.

Waktu SMA, Fernando pernah diam-diam menyukai Jennah. Setiap hari, dia bisa menyebut nama itu puluhan kali di depan Clark. Sayangnya, sebelum sempat menyatakan perasaan, Jennah sudah pergi ke luar negeri.

Sejak itu, Clark tak pernah lagi mendengar Fernando menyebut nama itu. Belakangan, setelah malam kekacauan yang membuat mereka semakin dekat, Clark mengira Fernando sudah benar-benar melupakan Jennah.

Tak disangka, sosok cinta pertama yang tak pernah dia sebut lagi itu, malah tetap masih belum bisa dilupakannya. Rasa sakit yang sempat mereda, kini kembali menyeruak. Clark sampai tak mampu menggenggam ponselnya.

Setelah terdengar bunyi ponsel terjatuh yang keras, Fernando pun menoleh. Senyumnya santai saat berkata, "Sudah selesai mandi? Nanti kamu yang check-out ya? Biaya kamar sudah aku bayar."

Sambil bicara, Fernando mengambil jaketnya dan hendak pergi. Sebelum keluar, dia menoleh lagi dan tersenyum samar dengan penuh arti.

"Clark, aku selalu anggap kamu sebagai saudara. Ke depannya, jangan pasang ekspresi seperti orang mati rasa di depanku. Kalau nggak, aku malah akan mengira kamu punya pikiran aneh sama aku."

"Aku sudah kenal banget sama kamu. Dari satu tatapanku saja, kamu langsung tahu apa yang aku pikirkan. Kamu nggak merasa hidup seperti ini terlalu membosankan? Kalau kita benar-benar pacaran, rasanya hari-hari udah habis dijalani semuanya."

Suara Fernando perlahan menjauh seiring dengan langkah kakinya, tapi terus bergema di dalam hati Clark. Clark duduk di atas ranjang yang dingin, lalu tertawa ... hingga air matanya kembali mengalir.

Ternyata, selama ini Fernando selalu memandangnya seperti itu.

Clark duduk sendirian sampai larut malam, lalu turun untuk check-out.

Di luar sedang hujan deras, tapi Clark seolah tidak merasakannya. Dia berjalan pulang dengan pikiran yang kosong.

Melihat kondisinya yang basah kuyup, ayah dan ibu Clark segera mengambil handuk kering. Mereka bertanya dengan penuh kekhawatiran, "Hujan deras begini kenapa nggak naik taksi?"

Clark menatap kedua orang tuanya dengan ekspresi bengong. Sorot matanya tampak redup dan suaranya serak. "Ayah, Ibu, bukannya kalian selalu ingin pindah ke luar negeri karena perubahan bisnis perusahaan dulu? Aku sudah pertimbangkan dengan baik, kita pindah saja dan jangan pernah kembali lagi."

Setelah membujuk selama setengah tahun dan akhirnya mendengar putri mereka mengalah, ayah dan ibu Clark agak terkejut. "Kamu benar-benar sudah pertimbangkan baik-baik? Kamu putus sama pacarmu, ya?"

Mengingat kata-kata Fernando, hati Clark terasa perih. Dia tersenyum getir sambil menggeleng.

"Nggak ada pacar, dari awal memang nggak pernah ada. Itu cuma aku bohong supaya kalian nggak terus mendesakku menikah."

Meski tidak tahu apakah ucapannya itu benar atau tidak, orang tua Clark tetap merasa senang. Mereka segera menyiapkan prosedur imigrasi sambil menyuruhnya membereskan barang.

Clark mengangguk pelan, lalu kembali ke kamar dan membuang semua hal yang berhubungan dengan Fernando.

Album foto tebal yang disimpannya dengan telaten selama belasan tahun, berbagai perhiasan, pakaian, patung buatan tangan yang diberikan Fernando ....

Semuanya kini dibuang ke tempat sampah.

"Nona, barang sebagus ini mau dibuang semua?"

Melihat rasa sayang di mata asisten rumah tangga, Clark mengangguk dan berkata pelan, "Nggak butuh lagi."

Bukan hanya barang-barang itu, bahkan perasaan ini dan juga Fernando ... semua sudah direlakannya.

Palawakin
Susunod na Kabanata
I-download

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata

To Readers

Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.

Walang Komento
8 Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status