Se connecterBab 104. Madeleine terdiam beberapa detik setelah mendengar pertanyaan itu. Bukan karena tersinggung, melainkan seolah sedang menimbang apakah pertanyaan tersebut memang layak ia tanggapi.Akhirnya ia tersenyum tipis.“Lady Moore,” ujarnya tenang, “aku tidak menyadari bahwa kau begitu tertarik pada perubahan perasaan orang lain.”Nada bicaranya ringan, hampir terdengar santai, tetapi tatapannya tetap tajam.Rocella membalas dengan senyum yang sama halusnya. “Bukan karena saya tertarik, Yang Mulia,” katanya. “Hanya saja Anda menolak Yang Mulia Lucas begitu terang-terangan di depan saya.”Ia melanjutkan dengan nada yang seolah polos.“Padahal saya cukup tahu bagaimana dulu Anda sangat terobsesi pada beliau.”Sambil berkata begitu, Rocella melirik sekilas ke arah Lucas, mencoba menangkap reaksi pria itu.Kemudian ia memiringkan kepalanya sedikit, senyumnya masih terpasang.“Atau mungkin sekarang Anda sudah menemukan orang lain untuk dikejar,” lanjutnya pelan, “setelah tidak lagi mendapa
Tatapan dingin Lucas membuat Rocella segera menyadari bahwa ia telah melangkah terlalu jauh. Namun di tengah para bangsawan yang berdiri tidak jauh dari mereka, ia tentu tidak bisa menunjukkan rasa tersinggungnya.Senyum tipis pun kembali menghiasi wajahnya.“Tentu saja, Yang Mulia,” ujarnya lembut. “Saya hanya berpikir akan terlihat lebih sopan jika Anda menyapa mereka lebih dulu di hadapan para bangsawan.”Ia menundukkan kepala sedikit sebagai tanda hormat.“Namun tentu saja, keputusan itu sepenuhnya ada pada Anda.”Rocella lalu melirik sekilas ke arah balkon tempat Madeleine masih berbincang dengan Duke Alaric.“Lagipula,” lanjutnya ringan, “saya yakin Putri Mahkota akan senang menyambut Anda kapan pun Anda memutuskan untuk menghampirinya.”Di balik senyum sopannya, jemari Rocella menggenggam gaunnya sedikit lebih erat.Lucas tidak lagi menoleh padanya.“Jika kau ingin menyapa mereka lebih dulu, silakan.”Nada suaranya tenang, namun jelas siapa yang memegang kendali dalam percakapa
Madeleine menatap Alaric beberapa saat. Sorot matanya tetap tenang, seolah memastikan pria itu benar-benar serius dengan ucapannya.Setelah beberapa detik, senyum tipis muncul di bibirnya.“Saya bisa saja memberi tahu apa yang saya ketahui,” katanya ringan. “Namun apakah itu akan langsung membuat Anda mempercayainya?”Madeleine menjeda sebelum melanjutkan, “Lagipula, apa yang saya miliki baru sebatas perkiraan. Itu bisa saja benar, tapi bisa juga meleset.”Madeleine lalu mengangkat satu jari, seolah menandai sesuatu.“Satu informasi, satu alasan untuk percaya. Dengan begitu, saya bisa mendapatkan kepercayaanmu seutuhnya.”Alaric menatapnya dalam diam. Ia tidak langsung menjawab, seolah menimbang kata-kata Madeleine dengan hati-hati. Ia masih belum sepenuhnya yakin. Namun rasa penasarannya jelas belum hilang.“Namun sebelum itu, saya ingin tahu satu hal,” kata Alaric. “Jika saya berdiri di pihak Anda, apa yang sebenarnya menjadi taruhannya bagi saya?”Madeleine jelas menangkap kecuriga
Istana tidak pernah benar-benar sepi. Di tengah ramainya acara setelah puncak musim panas, Madeleine menyadari seseorang yang tampak familiar.Alaric berjalan mendekat, melewati kerumunan kecil di sekitarnya.“Anda tidak mengatakan akan datang menemui saya, Tuan Alaric,” ujar Madeleine dengan senyum sopan.Alaric menunduk singkat sebagai salam. “Saya baru saja menyelesaikan urusan dengan Putra Mahkota. Kebetulan saya memang ingin berbicara dengan Anda.”Madeleine sempat terdiam sejenak. Kejujuran Alaric yang langsung pada tujuan itu cukup mengejutkannya, tetapi ia segera menenangkan ekspresinya kembali.“Begitu, ya? Jadi, bagaimana dengan saran yang saya berikan waktu itu, Tuan?” tanya Madeleine, beralih ke topik yang lebih serius. “Saya dengar tempat itu sempat diserang.”“Perkiraan Anda tepat, Yang Mulia,” jawab Alaric. Nada suaranya tenang, tetapi tatapannya menunjukkan rasa hormat yang tulus. “Itulah yang ingin saya bicarakan dengan Anda. Langkah pencegahan yang Anda sarankan te
Beberapa wanita bangsawan menutup bibir mereka dengan kipas, berusaha menahan senyum yang nyaris lolos.Rocella sendiri berdiri kaku sesaat. Ia menatap Madeleine, lalu tersenyum tipis.“Benar sekali,” kata Rocella. “Karena itu orang sering bisa menilai seseorang dari beberapa kalimat saja. Kadang kata-kata yang terdengar tenang justru menyimpan niat yang buruk.”Duchess tampak menikmati pertikaian halus antara dua saudari itu.Rocella menambahkan dengan nada manis, “Semua orang tahu bagaimana sikap anda terdahulu, Yang Mulia. Itu bukan rahasia umum.”“Tapi yang mulia putri terlihat berubah beberapa bulan ini,” sambung Duchess. Rocella tertawa pelan. “Nyonya, sifat seseorang tidak mudah berubah.” Rocella melipat kedua tangannya. “Sehebat apa pun seseorang menutupinya, pada akhirnya tabiat itu akan terlihat juga. Bagaimanapun, itu sudah menjadi bagian dari dirinya.”Rocella lalu mengalihkan pandangannya, menyapu wajah para wanita bangsawan yang berdiri di sekitar mereka satu per satu.
Duchess Rowan meletakkan cangkirnya dengan perlahan. Denting porselen yang lembut terdengar singkat di meja, seolah menandai akhir dari percakapan yang sebelumnya.Ia menatap Madeleine dengan sorot mata yang seakan menimbang sesuatu.“Di istana ini, tidak ada seorang pun yang benar-benar bisa berdiri sendirian tanpa dukungan,” ujarnya.Duchess Rowan kemudian sedikit mencondongkan tubuh. Suaranya merendah, namun tetap terdengar jelas.“Saya menyukai orang yang tahu bagaimana menjaga posisinya. Jika suatu hari tempat berdiri Anda mulai goyah, pintu saya selalu terbuka.”Sekilas, ucapan itu terdengar seperti tawaran yang ramah. Namun Madeleine memahami bahwa maknanya jauh lebih dalam.Keluarga Rowan dikenal sangat ambisius. Di kalangan bangsawan, hampir semua orang tahu bagaimana mereka terus berusaha memperluas pengaruhnya di istana.Beberapa wanita bangsawan yang duduk tidak jauh dari meja mereka sempat saling bertukar pandang ketika mendengar nada tawaran itu. Di lingkungan istana, pe







