LOGIN“Apakah itu berarti Yang Mulia mulai merindukan perhatianku yang menjijikkan itu?” tanya Madeleine telak.
Lucas tersentak. Untuk sesaat, ekspresi dingin di wajahnya retak. Ia tidak langsung menjawab, hanya menatap Madeleine dengan tatapan yang sulit diartikan. “Aku tidak punya maksud apa-apa dengan berhenti berharap padamu, Yang Mulia,” lanjut Madeleine datar. “Aku berhenti mencintaimu karena aku sadar kehadiranku selama ini hanya mengganggumu. Kau sangat muak padaku, bukan? Jadi aku memilih berhenti. Seharusnya kau senang.” Lucas masih bungkam. Namun, Madeleine bisa melihat rahang pria itu mengeras dan jemarinya yang menggantung di sisi tubuh mengepal kuat hingga buku jarinya memutih. Madeleine tidak menunggu balasan. Ia hanya menatap Lucas sekilas, lalu berbalik menjauh tanpa beban. Meninggalkan Lucas yang terpaku menatap punggung istrinya. – Seminggu berlalu sejak insiden di taman belakang Istsna. Madeleine memutuskan untuk menjaga jarak, namun sikap Lucas justru menjadi teka-teki yang sulit dipecahkan. Ia tidak tahu mengapa di tengah jarak yang ia ciptakan, sebuah pesan tertulis tiba-tiba datang dari Lucas—ajakan minum teh bersama sepulang pria itu dari urusannya. Tanpa penjelasan apa pun. Hanya kalimat singkat bertinta emas, dan di bawahnya sebuah gaun cantik dengan potongan mewah telah dipersiapkan untuknya. Madeleine menyentuh gaun itu perlahan. Kainnya lembut, jahitannya rapi, jelas hasil tangan yang telah berpengalaman bertahun-tahun. Sangat indah. Namun, justru itulah yang membuatnya semakin heran. Sejak kapan Lucas melakukan hal semacam ini tanpa maksud yang jelas? Pria itu terlalu apatis untuk hal-hal semacam ini, terlebih jika menyangkut Madeleine Moore, wanita yang ia benci. Madeleine menahan diri agar tak menyentuh gaun itu terlalu lama, takut merusak jahitan kainnya. Ia lalu meletakkan kembali surat dan gaun tersebut ke dalam kotak kertas berwarna perak dan meletakannya kembali di meja. “Aku akan memakai yang lain,” ujar Madeleine pada pelayan pribadinya. Erin tampak kikuk. “Mengapa, Yang Mulia?” “Gaun itu terlalu mewah hanya untuk minum teh,” jawab Madeleine singkat, sembari melirik gaun-gaun lain di balik lemari kaca besar di hadapannya. “Ini pilihan Yang Mulia Putra Mahkota sendiri, Yang Mulia,” ujar Erin. “Mohon dipertimbangkan,” tambahnya sambil menunduk dalam. Kening Madeleine mengerut dalam. Sejak kapan urusan memilih pakaian Putri Mahkota menjadi urusan suaminya? Karena malas berdebat, Madeleine akhirnya mengenakan gaun itu. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. “Ini gaya Madeleine Moore. Mewah dan elegan,” gumamnya, mengagumi potongan gaun tersebut. “Gaun ini dipesan khusus oleh Yang Mulia Putra Mahkota dari keluarga Starwell,” jelas Erin. “Starwell?” Madeleine mengingatnya. Starwell adalah keluarga bangsawan kelas atas penyedia busana khusus untuk keluarga kerajaan. Dalam cerita, Madeleine yang asli sangat menyukai hasil jahitan mereka. ‘Ada apa dengan Lucas?’ batin Madeleine, semakin heran. Ingatan dari pemilik tubuh asli muncul dengan jelas. Lucas sama sekali tak pernah peduli padanya. Ia tak pernah mengingat apa yang Madeleine sukai, bahkan tak pernah repot membelikannya pakaian. Pria itu terlalu apatis untuk disebut sebagai seorang suami. Justru karena itulah dadanya terasa janggal sekarang. Perhatian ini tak masuk akal. Tak selaras dengan Lucas yang ia kenal. “Aku tidak tahu apa motivasinya,” ucap Madeleine pelan, mencoba meredam keraguan yang tersisa, “tapi aku menyukainya.” Ia mengulas senyum lebar, tampak ringan dan lepas. Saat Madeleine menuruni tangga dengan gaun itu, Lucas sudah menunggu. Pria itu mendongak, terpaku lebih lama dari yang seharusnya. Tatapannya menyisir siluet Madeleine, intens seolah sedang menilai sebuah mahakarya sekaligus ancaman. “Cocok untukmu,” puji Lucas datar. Namun, rahangnya yang mengeras dan jemari yang menekan cangkir teh terlalu kuat mengkhianati ketenangan suaranya. Madeleine tertegun, alisnya bertaut sangsi. Putra sulung Kaisar Auvrellis baru saja memujinya? Ini di luar dugaan. Monster berdarah dingin ini—pria bermulut kasar, tanpa hati maupun belas kasih— tiba-tiba bicara manis? Madeleine hampir menumpahkan tawa miris. Hampir. Namun tatapan Lucas yang terlalu serius membuatnya menahan diri. Selama dua tahun pernikahan yang gersang, mulut pria itu tak pernah berisi apa pun selain pujian untuk cinta pertamanya. Sisanya adalah caci maki. Lucas tak pernah absen membandingkan Madeleine secara kejam, mulai dari tutur kata, penampilan, bahkan cara Madeleine berjalan pun tak pernah luput dari mulutnya yang kejam. Maka pujian singkat barusan terasa ganjil, dan salah tempat. Bukan menghangatkan, melainkan mengusik. Alih-alih tersanjung, Madeleine justru diselimuti curiga. Ia meneliti wajah Lucas, mencari maksud tersembunyi yang mungkin terkubur di balik kalimat yang begitu asing dengan tabiat aslinya. ‘Apa yang sedang ia rencanakan?’ batin Madeleine, menyipit curiga. Lucas bangkit. Langkahnya yang mantap memangkas jarak hingga Madeleine refleks menahan napas. Matanya mengikuti setiap gerak-gerik Lucas dengan kewaspadaan penuh, seolah sedang mengamati predator yang mendadak jinak. Saat Lucas menarikkan kursi untuknya—sebuah gestur etiket yang tak pernah ia terima sebelumnya—Madeleine membeku. Madeleine memutar otak, menyisir setiap panel memori tentang naskah aslinya. Namun, sedalam apa pun ia menggali, tidak ada catatan tentang Lucas yang merendahkan ego untuk melayani istrinya. Tidak pernah! "Duduklah, Putri Mahkota Auvrellis." Suara Lucas datar, namun sepasang matanya mengunci Madeleine dalam tatapan yang enggan melepaskan mangsa. Alih-alih merasa terhormat, Madeleine justru merasa terancam. Ketenangan Lucas terasa janggal—terlalu tepat, terlalu diperhitungkan. Ini bukan sekadar percakapan; ini adalah intimidasi yang dibalut rapi dalam etiket formal. "Terima kasih, Yang Mulia," sahut Madeleine pendek, suaranya terdengar bergetar bahkan di telinganya sendiri. Ia duduk dengan kaku, membiarkan Lucas kembali ke posisinya dengan keanggunan yang menyesakkan. Keheningan itu terasa asing. Madeleine merasa kehilangan pegangan pada alur yang ia yakini benar. Keformalan ini adalah wilayah baru yang berbahaya. Ia tak lagi mengenali peran yang sedang Lucas mainkan, atau jebakan macam apa yang sedang dipasang di hadapannya. Madeleine meremas jemarinya di bawah meja, berusaha menyembunyikan getaran yang mengkhianati ketenangannya. ‘Tenang, Madeleine. Jangan biarkan dia melihatmu goyah,’ batinnya memerintah. Ia menarik napas dalam-dalam, memaksa paru-parunya yang sesak untuk bekerja normal. Setelah detak jantungnya mereda, netra Madeleine jatuh pada pakaian yang dikenakan Lucas. Warnanya adalah favoritnya. Madeleine teringat salah satu panel di komik: pakaian itu adalah hadiah yang yang ia rancang khusus untuk Lucas. Madeleine tertegun sejenak. “Aku baru kembali dari kediaman Duke Alaric untuk membahas masalah perbatasan,” ujar Lucas tiba-tiba. Ia membetulkan kerah pakaiannya, seolah tahu ke mana arah pandangan Madeleine tertuju. “Aku tidak bertanya,” sahut Madeleine singkat. “Aku hanya ingin mengatakannya,” balas Lucas. Sekali lagi, batin Madeleine menjerit. ‘Sebenarnya apa yang pria ini inginkan?’ **“Apakah itu berarti Yang Mulia mulai merindukan perhatianku yang menjijikkan itu?” tanya Madeleine telak. Lucas tersentak. Untuk sesaat, ekspresi dingin di wajahnya retak. Ia tidak langsung menjawab, hanya menatap Madeleine dengan tatapan yang sulit diartikan. “Aku tidak punya maksud apa-apa dengan berhenti berharap padamu, Yang Mulia,” lanjut Madeleine datar. “Aku berhenti mencintaimu karena aku sadar kehadiranku selama ini hanya mengganggumu. Kau sangat muak padaku, bukan? Jadi aku memilih berhenti. Seharusnya kau senang.” Lucas masih bungkam. Namun, Madeleine bisa melihat rahang pria itu mengeras dan jemarinya yang menggantung di sisi tubuh mengepal kuat hingga buku jarinya memutih. Madeleine tidak menunggu balasan. Ia hanya menatap Lucas sekilas, lalu berbalik menjauh tanpa beban. Meninggalkan Lucas yang terpaku menatap punggung istrinya. – Seminggu berlalu sejak insiden di taman belakang Istsna. Madeleine memutuskan untuk menjaga jarak, namun sikap Lucas justru me
Rocella membeku. Perubahan drastis kakaknya terasa seperti tamparan yang sulit ia cerna. Semuanya terjadi terlalu mendadak—sikap tenang itu, tatapan tajam itu, seolah-olah Madeleine yang selama ini bisa ia kendalikan telah lenyap. Dari sudut matanya, Rocella melihat para pelayan yang biasanya bersikap santai kini berdehem gugup. Mereka segera membetulkan posisi berdiri, lalu membungkuk sangat dalam saat Madeleine melintas di depan mereka. Sebuah rasa hormat yang murni karena wibawa, bukan karena takut akan amarah. Rocella mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Amarah dan kegelisahan bercampur di dadanya melihat pengakuan yang baru saja didapatkan kakaknya dari para pelayan. Tanpa sepatah kata pun, Rocella berbalik dan pergi dari sana dengan langkah terburu-buru. Ia perlu menyusun ulang rencananya. Madeleine yang tenang ternyata jauh lebih berbahaya daripada Madeleine yang gila. – Sejak kejadian di taman, Lucas gelisah. Sosok Madeleine terus menghantui pikirann
Sore itu, Madeleine menyusuri taman belakang Istana. Pepohonan yang dahan-dahannya melengkung karena berat buah yang ranum menciptakan ketenangan tersendiri. Di tempat ini, hiruk-pikuk istana yang menyesakkan terasa begitu jauh. Madeleine menghirup udara dalam-dalam, merasa seolah beban di pundaknya sedikit terangkat. "Taman ini dibangun sendiri oleh mendiang Ratu terdahulu," jelas Erin, dayang istana yang melangkah tenang di belakang Madeleine. Madeleine menyentuh permukaan halus sebutir buah yang menggantung rendah. "Pasti beliau sangat mencintai tempat ini," gumamnya. Ia mengamati barisan pohon yang tertata rapi namun tetap terlihat alami. Di dunia aslinya, taman seperti ini hanya bisa ia lihat melalui layar ponsel atau buku sejarah. Merasakan tekstur daun dan mencium aroma manis buah yang matang secara langsung memberikan sensasi yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. "Beliau menghabiskan sebagian besar waktunya di sini saat merindukan kampung halamannya," tambah E
Pagi di Istana Auvrellis dimulai dengan keheningan yang kaku. Di paviliun timur, Emma berdiri mematung di depan jendela tinggi. Nama Madeleine masih muncul tanpa diundang—sebuah identitas dari kehidupan yang telah berakhir. Ia menarik napas pelan, mencoba menyingkirkan bayang-bayang masa lalunya. Sekarang ia bukan lagi Emma, melainkan Madeleine, sang Putri Mahkota yang ditakdirkan mati. Dan ia tidak akan membiarkan nasib itu terulang. Saat para pelayan masuk dengan langkah nyaris tak bersuara, Madeleine membiarkan mereka bekerja. Jemari mereka bergerak cekatan merapikan gaun dan menyisir rambutnya dengan sangat hati-hati. Ada ketegangan yang jelas dari para pelayan itu; mereka bekerja seolah sedang menghindari kesalahan fatal. Emma merasakan kecanggungan yang nyata. Di kehidupannya yang lama, ia adalah pihak yang menunduk dan menerima perintah. Ia terbiasa bekerja kasar untuk bertahan hidup, bukan duduk diam sementara orang lain mengurusi setiap detail tubuhnya. Kini, sa
"Semuanya keluar!" perintah Lucas akhirnya. "Jika tidak, dia akan mulai berteriak dan menuduh siapa pun yang dia inginkan." Suaranya dingin menusuk. "Baik, Yang Mulia," jawab para pelayan serempak sebelum bergegas meninggalkan ruangan. Rocella masih berdiri di sisi pria itu. Ia melirik, berharap mendapatkan pembelaan, namun Lucas bicara bahkan tanpa menoleh ke arahnya. "Kau juga keluar. Tinggalkan aku bersama istriku!" Rocella tersentak, rasa kesal kilat melintas di wajahnya. "Baik, Yang Mulia," sahutnya sambil mengangguk sopan. Namun, sebelum berbalik pergi, Emma sempat menangkap sorot kebencian yang tajam dari matanya. Setelah sang adik pergi, keheningan yang menyesakkan menyelimuti ruangan. Lucas melangkah mendekat, matanya menyipit penuh selidik. "Apa yang sedang kau mainkan, Maddie?" Maddie. Nama itu terdengar akrab sekaligus merendahkan di telinga Emma. Ia mengerutkan kening, merasakan debaran tidak nyaman di dadanya. "Lady Madeleine! Kau mendengarku?"
Uhuk! Uhuk! Paru-paru Emma terasa terbakar saat ia memuntahkan sisa air yang menyumbat tenggorokannya. Begitu matanya terbuka, ia tidak menemukan kegelapan gang sempit atau kepungan rentenir yang mengejarnya. Ia justru terbaring di atas ranjang sutra yang terlalu empuk. “Sudah bangun? Sandiwara yang luar biasa, Lady Madeleine.” Suara itu berat dan sedingin es. Emma menoleh ke arah pintu. Di sana, seorang pria berdiri tegap dengan jubah kebesaran khas bangsawan membalut tubuhnya. Wajahnya tampan, seperti pahatan dewa Yunani, namun tatapannya menghujam tajam ke arah Emma. “Kakak, kau selalu seperti ini,” suara ketus lain menyambar. Di samping pria itu, berdiri seorang gadis berambut pirang dengan mahkota kristal yang berkilau—Rocella. “Apa kau harus menceburkan diri ke danau hanya agar ibu menghukumku lagi?” Emma tidak menjawab. Ia justru terpaku menatap kedua tangannya sendiri. Kulit itu justru bersih dan halus, tanpa bekas luka parut akibat kerja kasar bertahun-tahun di







