Home / Thriller / Langkah Dewi : Warisan Rahasia / Bab 55 – “Titian Terakhir”

Share

Bab 55 – “Titian Terakhir”

Author: T.Y.LOVIRA
last update Last Updated: 2025-10-24 09:27:58

Malam itu menyeret bayangan panjang ke wajah Dewi. Ia berdiri di tepi jurang yang tak hanya mengancam nyawanya, tapi juga masa depan bangsa yang telah ia perjuangkan sejak lama. Suara deru angin menyapu sepi, seolah memberikan isyarat bahwa perjalanan panjang mereka sudah sampai pada titik kritis.

“Ini bukan tentang siapa yang akan menang atau kalah,” bisik Dewi pada dirinya sendiri, “Ini soal menegakkan keadilan meskipun dunia berusaha membungkamnya.” Setiap langkahnya kini penuh kehati-hatian, namun tekadnya tetap membara seperti api yang enggan padam.

Damar dan Rani berdiri di sampingnya, mata mereka tajam menatap ke depan, siap menghadapi apa pun yang menghadang. “Kita sudah melewati begitu banyak pengkhianatan dan jebakan,” kata Damar, “Tapi kali ini, kita harus benar-benar bersiap menghadapi gelombang terakhir.”

Rani mengangguk, “Tidak ada ruang untuk kesalahan. Semua yang kita perjuangkan ada di ujung benang ini.”

Tiba-tiba, suara notifikasi masuk di ponsel Dewi. Pesan itu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Langkah Dewi : Warisan Rahasia   Bab 128 — Ketika Rakyat Menjadi Bukti

    “Jika hukum dibeli, maka kebenaran akan berjalan kaki—mengetuk pintu satu per satu.”Subuh belum selesai ketika pesan itu menyebar tanpa pusat. Bukan selebaran. Bukan seruan resmi. Hanya potongan video pendek—tangan-tangan yang membuka buku kas UMKM, peta banjir yang ditimpa izin lama, grafik harga air yang turun setelah sumbernya dikembalikan. Tak ada logo. Tak ada wajah Dewi.“Ini bergerak organik,” kata Laila, matanya menyapu layar-layar kecil yang berkedip. “Tak bisa diputus dari satu tombol.”Arga mengangguk. “Karena tidak ada tombolnya.”Di sisi lain kota, Wilayah Mati—yang dulu sunyi dan dilabeli tak produktif—mulai bernapas. Truk-truk kecil bergerak, bukan membawa kayu, tapi kamera. Bukan menebang, tapi menandai. Intelijen lingkungan bekerja tanpa seragam: nelayan, guru, sopir, jurnalis lepas. Mereka mencatat suhu tanah, tinggi air, suara mesin di malam hari. Data hidup.Dewi tiba di pos lapangan menjelang pagi. Bau tanah basah menyambutnya. Seorang ibu menunjukkan garis air d

  • Langkah Dewi : Warisan Rahasia   Bab 127 — Serangan Tanpa Peluru

    “Mereka tak datang membawa senjata. Mereka datang membawa pasal.”Pagi itu, matahari terbit tanpa dramatis. Justru itulah yang membuat Dewi curiga.Di layar utama, berita mengalir rapi—terlalu rapi. Tak ada kecaman frontal, tak ada makian. Yang muncul adalah opini “netral”, kajian hukum, dan diskusi akademik yang tiba-tiba serempak membahas satu hal: legalitas Protokol Cahaya.“Mereka masuk lewat hukum,” kata Arga, menyesap kopi yang sudah dingin. “Judicial review, gugatan administratif, audit kepatuhan. Semua jalur dibuka bersamaan.”Dewi mengangguk. “Serangan tanpa peluru selalu yang paling mematikan.”Di ruang rapat, peta kekuatan diperbarui. Negara kecil yang semalam menyatakan dukungan kini disorot merah—tekanan ekonomi mulai dijatuhkan. Jalur dagang diperlambat. Asuransi dinaikkan. Kredit ditahan.“Mereka ingin memberi contoh,” ujar Laila, analis kebijakan. “Siapa pun yang berdiri di belakangmu akan ‘dipersulit’.”Dewi berdiri, menatap layar. “Dan siapa yang memimpin orkestranya

  • Langkah Dewi : Warisan Rahasia   Bab 126 — Protokol Cahaya

    “Transparansi adalah pisau bermata dua: ia bisa menyelamatkan, atau memotong sampai ke tulang.”Lampu-lampu server menyala serempak, hijau—lalu biru. Angka-angka bergerak seperti arus laut yang tak bisa dibendung. Dewi berdiri di depan panel kaca, bayangannya terbelah oleh pantulan layar, seolah ada dua dirinya: satu yang memikul idealisme, satu lagi yang siap menanggung akibat.“Penguncian dibuka,” kata Arga. “Repositori publik aktif. Log transaksi, perizinan, alur pembiayaan—semuanya.”“Termasuk yang sensitif?” tanya Dewi tanpa menoleh.“Termasuk,” jawab Arga. “Nama, waktu, jalur. Tidak ada sensor.”Di ruang kendali, seseorang menarik napas panjang. Mereka tahu, setelah ini tak ada jalan pulang. Protokol Cahaya bukan sekadar rilis data—ia adalah pengakuan bahwa negara ini berani berdiri di bawah sorot lampu, tanpa bayangan.Di luar, dunia bergerak cepat. Editor menekan tombol terbit. Analis menyalakan grafik. Para pelobi berhenti tersenyum.Ponsel Dewi bergetar. Pesan masuk, terenkr

  • Langkah Dewi : Warisan Rahasia   Bab 125 — Retakan di Dalam Barisan

    “Pengkhianatan jarang datang dari musuh. Ia lahir dari orang yang pernah duduk semeja dan tersenyum paling lama.”Ruang rapat itu sunyi, terlalu sunyi untuk keputusan sebesar ini. Lampu LED memantul di meja kaca, memecah wajah-wajah yang biasanya lantang menjadi bayangan kaku. Dewi berdiri di ujung meja, kedua tangannya bertumpu ringan, seolah beban dunia tak cukup berat untuk membungkukkannya.“Negara itu menarik diri,” kata Arga, analis kepercayaannya. “Alasannya klasik: stabilitas nasional dan tekanan mitra strategis.”“Tekanan siapa?” tanya Dewi, datar.Tak ada yang langsung menjawab. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar seperti napas tertahan.Dewi menoleh ke layar. Peta kawasan menyala, satu titik berubah abu-abu. Kecil, tapi efeknya menjalar—seperti retakan halus di kaca yang terlihat sepele, sampai tiba-tiba seluruh permukaan runtuh.“Ini bukan soal satu negara,” lanjut Dewi. “Ini sinyal.”Seseorang di ujung meja menggeser kursi. “Jika mereka mundur, rantai kepercayaan

  • Langkah Dewi : Warisan Rahasia   BAB 124-Standar, Kuasa, dan Ketakutan yang Tidak Pernah Diucapkan

    Lampu-lampu gedung itu menyala dingin, putih, tanpa jendela.Bukan karena ingin terlihat modern—melainkan agar siapa pun di dalamnya lupa waktu.Dewi duduk di ujung meja kaca panjang. Di seberangnya, layar besar menampilkan peta dunia. Bukan peta politik. Bukan peta militer.Peta alur uang.“Perhatikan baik-baik,” katanya, suaranya tenang namun menekan.“Perang modern tidak lagi dimulai dengan tembakan.”Ia menyentuh layar. Garis-garis cahaya muncul—mengalir dari negara berkembang menuju pusat-pusat lama dunia.“Inilah kolonialisme versi baru,” lanjutnya. “Bukan penjajahan wilayah. Tapi penjajahan standar.”Salah satu hadirin mengernyit.“Standar… pembayaran?”“Bukan cuma pembayaran,” Dewi mengoreksi. “Bahasa teknologi. Protokol. Aturan main. Siapa yang menentukan standar—dialah yang mengatur aliran nilai.”Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan pelan,“Dan selama ini, bukan kita.”Di ruangan itu, semua paham. Negara boleh merdeka secara bendera, tapi selama sistemnya mengikuti desain

  • Langkah Dewi : Warisan Rahasia   BAB 123 — Api yang Menyala Bersama

    “Mereka datang dengan helikopter. Kami menjawab dengan persatuan.”Deru baling-baling memecah udara, tapi tak lagi menakutkan. Di kampung itu—yang tak tercatat di peta, yang disebut wilayah mati—orang-orang berdiri tegak. Bukan sebagai tameng. Sebagai saksi. Lampu-lampu rumah menyala bergantian, seperti denyut nadi yang menemukan ritmenya kembali.Dewi melangkah ke tengah lapangan kecil. Tanah basah menahan sepatunya, namun ia tak goyah. Di atas, helikopter berputar ragu, sorot lampunya menyapu—dan berhenti. Bukan pada Dewi. Pada rakyat.Rizal berdiri di sampingnya, wajahnya tenang. “Mereka tak menyangka ini,” katanya pelan.“Karena mereka menghitung angka,” jawab Dewi. “Bukan manusia.”Siaran nasional kembali hidup—namun kali ini retak. Di layar-layar publik, tayangan terbelah dua. Di satu sisi, kurator kebijakan mengulang frasa keamanan. Di sisi lain, kanal alternatif menampilkan hal sederhana: mata air yang kembali mengalir, warga menanam kembali bantaran sungai, data izin yang run

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status