MasukKisah seseorang yang gangster Jepang yang memiliki kisah kelam di masa lalu, yang ingin berjuang mencari fakta dan balas dendam terhadap seseorang yang membuat hidupnya berantakan hingga saat ini
Lihat lebih banyakAlena bangun dengan tubuh pegal dan sedikit sakit. Ia membuka matanya yang lelah lalu menoleh ke sisi kiri. Di sana telah tertidur seorang laki-laki yang paling ia cintai. Orang yang selalu ada di sampingnya dan menunggunya untuk pulang.
Laki-laki itu adalah orang ia nikahi enam bulan yang lalu. Mereka bertemu secara tidak sengaja di sebuah cafe internet. Saat itu Alena harus mengirim sebuah file dengan cepat. Hanya saja handphone tiba-tiba hilang. Beruntung ia membawa flashdisk dan mengirimkannya di sana.
Mereka berkenalan dan langsung menjadi akrab. Ansen sangat ramah hingga membuat Alena merasa nyaman berada di dekatnya. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk dekat. Dalam tiga bulan mereka berhasil memantapkan diri untuk menikah.
Pernikahan berlangsung dengan sederhana dan hikmat. Alena merasa sangat bersyukur, setelah sepeninggal sang Ayah akhirnya ia mendapat sosok laki-laki lain sebagai tempat ia bersandar di masa depan.
Alena dan Ansen tinggal di sebuah apartemen mewah dengan fasilitas lengkap. Sebenarnya Alena memiliki banyak sekali rumah dan apartemen. Akan tetapi apartemen ini dipilih karena dekat dengan tempat kerjanya.
Alena bangun dan mengambil pakaian yang telah berserakan dimana-mana. Maklum saja, mereka adalah pengantin baru jadi mereka terbilang sering melakukannya. Apalagi Ansen tiga tahun lebih muda darinya. Tentu saja laki-laki itu akan lebih aktif daripada Alena.
Setelah membersihkan sisa-sisa kekacauan sebelumnya. Alena membersihkan diri, setelah itu ia bersiap untuk pergi ke kantor. Sebelum berangkat ia akan mencium pipi suaminya yang masih tertidur. Tak lupa ia akan mengucapkan kata cinta sebagai bentuk kasih sayang.
"I love you."
Suara itu sangat kecil, ia takut suaranya akan membangunkan Ansen.
Alena pun langsung pergi ke kantor dengan perasaan ringan. Ia merasa Ansen adalah semangat utamanya dalam setiap kegiatan. Setiap kali ia lelah, Ansen akan datang untuk menghiburnya. Itu membuat beban hidup Alena berkurang hingga setengahnya.
Alena bukanlah wanita biasa, ia bekerja sebagai seorang pemimpin perusahaan transportasi. Perusahaan tersebut bukan hanya menaungi kendaraan umum namun juga menaungi berbagai jenis kendaraan dengan basis online. Apalagi saat ini sedang marak penggunaan internet untuk kebutuhan sehari-hari. Hal itu membuat perusahaannya semakin berkembang dengan sangat pesat.
Saat Alena sampai, hampir semua pegawai memberi salam dan hormat padanya. Walaupun ia adalah wanita muda, tapi tetap saja ia adalah pemimpin tertinggi perusahaan. Alena pun bisa dikatakan sebagai bos yang ramah dan mudah diajak berdiskusi. Hal itu membuat para pegawainya menjadi segan dan dekat dengannya.
Saat sore menjelang, akhirnya Alena dapat pulang. Ia sangat merindukan suaminya. Ia ingin cepat-cepat pulang dan memeluk Ansen. Tapi hal pertama yang Alena lihat saat membuka pintu adalah wajah Ibunya yang terlihat dingin.
Ibunya sudah lima tahun menikah lagi dengan seorang pengusaha kecil. Mereka pun memiliki badan yayasan amal untuk membantu anak-anak jalanan. Sangat jarang sekali melihatnya datang berkunjung ke apartemen.
Alena tersenyum melihat sang ibu, tapi sayang ibunya tetap menatapnya dengan wajah masam.
"Kenapa baru pulang? Kamu bekerja setiap hari padahal sudah jadi bos. Apa gunanya memiliki karyawan, jika kamu bekerja terus tanpa pandang bulu. Lihat suamimu, setiap hari ada di rumah dan tidak melakukan apapun. Benar-benar tidak berguna."
Kata-kata yang keluar dari mulut Ibunya sangat pedas, itu membuat Alena menjadi panik. Ia takut Arsen menjadi marah dan tersinggung. Tapi saat melihat laki-laki itu terus menunduk, Alena langsung merasa sedih.
Entah sudah berapa lama laki-laki itu menunduk seperti itu. Sepertinya sang Ibu telah menceramahi nya untuk waktu yang lama. Sebagai seorang istri tentu saja ia tak tega melihat suaminya dimarahi. Tapi sebagai seorang anak, ia tidak berani melawan orang tuanya. Jadi ia hanya bisa membujuk agar ibunya tak lebih marah dari ini.
"Bagaimana keadaan Paman?" ucap Alena mengalihkan pembicaraan.
Mendengar anaknya menyebut suami barunya sebagai seorang Paman, tentu saja sang Ibu marah. Dia memukul pelan kepala Alena hingga dia lupa kenapa dia sampai marah pada sang menantu.
"Kamu selalu saja menyebutnya sebagai Paman. Sudah lima tahun ibu menikah dengannya, tapi kamu tak bisa merubah kebiasaan buruk itu. Panggil dia Ayah, bagaimana pun dia adalah suami Ibu."
Alena tersenyum dan memijit bahunya, sambil membujuk pelan.
"Paman memang baik tapi tidak sebaik Ayah. Bagaimanapun Alena sudah memiliki Ayah kandung sendiri, jadi Alena tak akan memanggil orang lain dalam sebutan Ayah. Lagipula Ibu juga harus menghargai Ansen, bagaimanapun juga Ansen adalah suamiku."
Mendengar anaknya yang cerdas membalikkan kata-katanya, tentu saja Sang ibu hanya mampu diam. Ia tak pernah bisa menang jika Alena sudah mulai berpendapat. Apalagi Alena selalu menggunakan kata-kata lembut setiap kali ia berbicara. Tentu saja sebagai Ibu yang baik, ia tak akan membantah bujukan Alena.
Sang Ibu hanya mendengus dan mengeluarkan barang bawaannya dari keranjang. Barang itu berisi berbagai macam makanan untuk disimpan Alena di lemari es. Beberapa toples sambal dan gorengan-gorengan kering.
Sang ibu menatap Ansen yang masih menunduk. "Kamu kenapa diam saja, cepat ambil piring dan ayo makan bersama."
Alena langsung tersenyum, Ibunya memang galak dan sering menggunakan kalimat-kalimat pedas. Akan tetapi Alena selalu tau bahwa sang Ibu adalah orang yang baik. Hanya saja Ansen tak mengenal ibunya dengan baik. Jadi ia takut Ansen akan salah paham dan membenci Ibunya.
Setelah makan bersama, Alena dan sang Ibu ngobrol dengan bahagia. Sesekali sang Ibu akan berceramah pada Ansen tentang cara menjadi Ayah yang baik.
Melihat suaminya diam saja, Alena sesekali akan menggenggam tangan suaminya sebagai bentuk dukungan.
Ansen hanya tersenyum seadanya dan kembali menunduk untuk mendengar ceramah Ibu mertuanya.
Setelah malam semakin larut, sang Ibu segera pulang. Wanita itu tak bisa menginap atau berkunjung untuk waktu yang lama. Suaminya ada di rumah dan hanya sendirian. Ia takut laki-laki itu akan kesepian di rumah. Alena pun hanya mampu mengantarkan sang Ibu ke parkiran sambil melambaikan tangan.
Melihat Ibunya sudah tak terlihat lagi, Alena segera masuk dan membantu sang Suami membersihkan piring yang kotor. Saat Ansen melihatnya ikut membantu, laki-laki itu langsung menolak.
"Kamu baru pulang dari kantor. Kamu pasti lelah, jadi kamu pergi membersihkan diri dulu lalu kita akan istirahat. Semua piring kotor ini biar aku yang bersihkan. Lagipula aku tidak memiliki pekerjaan sejak tadi, kalau berdiam diri terus tubuhku akan menjadi tidak sehat. Jadi ini bisa dikatakan sebagai olahraga."
Bujukan Ansen membuat Alena semakin merasa bersalah. Laki-laki itu selalu berhasil membuatnya menjadi lebih baik. Ia tak tau bagaimana jadinya jika ia menikah dengan laki-laki lain.
Alena mencium pipi suaminya dengan lembut sambil mengucapkan terima kasih.
"Terima kasih telah sabar menghadapi ibuku."
Ansen pun menaikkan alisnya tak terima. "Ibu kita Alena, dia bukan hanya ibumu saja tapi dia juga ibuku. Apa kamu lupa kita sudah menjadi satu?"
Alena hanya memeluknya lembut sebagai jawaban dan berterimakasih lagi di dalam hati. Ia berterimakasih pada Tuhan karena menjadikan Ansen sebagai jodohnya.
Chapter 4“Apa yang harus kita lakukan, Ray?”“Cepat tutup kembali gordengnya, jangan sampai mereka tahu kalau aku sedang ada di rumah saat ini”Aku merasa saat ini sudah seperti berdiri di bibir jurang, tinggal menunggu kaki siapa yang akan mendorongku masuk dan mati di dalamnya. Aku memikirkan kembali saran yang diberikan oleh Yamamoto padaku, namun tetap saja terasa sangat sulit jika aku harus menerimanya. Namun di tangkap oleh para Polisi itu dan hidupku akan berakhir dengan hukuman mati tentu saja bukanlah hal yang akan aku pilih. “Sebaiknya kamu pikir baik-baik apa yang disarankan oleh Yamamoto padamu tadi, Ray!”“Tapi aku tidak mau kembali ke tempat itu, Yosh!”“Tapi sekarang juga sudah tidak ada jalan lain lagi, Ray! Mungkin sebentar lagi akan datang lebih banyak Polisi lagi ke sini”“Apa sebaiknya aku kabur saja dari negara ini?”“Mau kabur kemana kamu? Mungkin saja kamu sekarang sudah menjadi DPO karena berita ini sudah menyebar di mana-mana. Waktu kamu sudah ada banyak lag
Chapter 4 “Apa yang harus kita lakukan, Ray?” “Cepat tutup kembali gordengnya, jangan sampai mereka tahu kalau aku sedang ada di rumah saat ini” Aku merasa saat ini sudah seperti berdiri di bibir jurang, tinggal menunggu kaki siapa yang akan mendorongku masuk dan mati di dalamnya. Aku memikirkan kembali saran yang diberikan oleh Yamamoto padaku, namun tetap saja terasa sangat sulit jika aku harus menerimanya. Namun di tangkap oleh para Polisi itu dan hidupku akan berakhir dengan hukuman mati tentu saja bukanlah hal yang akan aku pilih. “Sebaiknya kamu pikir baik-baik apa yang disarankan oleh Yamamoto padamu tadi, Ray!” “Tapi aku tidak mau kembali ke tempat itu, Yosh!” “Tapi sekarang juga sudah tidak ada jalan lain lagi, Ray! Mungkin sebentar lagi akan datang lebih banyak Polisi lagi ke sini” “Apa sebaiknya aku kabur saja dari negara ini?” “Mau kabur kemana kamu? Mungkin saja kamu sekarang sudah menjadi DPO karena berita ini sudah menyebar di mana-mana. Waktu kamu sudah ada ba
Chapter 3“Tidak mungkin! Aku benar-benar sudah yakin tidak meninggalkan bukti sedikitpun di sana”“Tapi kamu lihat itu apa? Masih mau bilang kalau kamu kali ini memang benar-benar main bersih?”Aku juga merasa heran kenapa Polisi bisa menemukan botol obat yang aku gunakan untuk meracuni Yamaguchi. Padahal aku sangat yakin jika botol itu sudah aku masukan ke dalam tas.“Habislah kita kalau sampai mereka mengetahui kalau semua itu ulahmu” imbuh Yamamoto sembari memukul mejaYamamoto terlihat benar-benar begitu marah terhadapku. Aku pun juga bisa paham jika dia bersikap seperti itu. Karena sedari awal dia sudah mengatakan jika misi ini cukup berat. Dia sudah berulang kali mencoba menanyakan apakah aku yakin akan mengambil misi itu, dan aku selalu menjawab dengan penuh keyakinan jika aku yakin akan mengambilnya.“Kalau tahu akhirnya begini, lebih baik aku lempar ke orang lain saja” ucap Yamamoto.“Terus bagaimana ini? Aku tidak mau tertangkap oleh para Polisi itu. Tolong bantu aku!” uca
Chapter 2 Masih tampak begitu jelasnya di ingatan Ray hingga saat ini, bagaimana menyeramkannya kejadian sepuluh tahun yang lalu. Sebuah tragedi yang begitu tragis yang menghancurkan seluruh hidupnya. Kala itu, Ray yang baru saja pulang dari tamasya sekolah, ingin segera bertemu dengan kedua orang tuanya karena merasa kangen. Namun ketika dia sampai di rumah, bukannya sambutan atupun pelukan hangat yang ia terima dari ayah dan ibunya, justru sebuah kejutan yang sangat luar biasa ia dapatkan. Dengan mata kepalanya sendiri, dia melihat kedua orangtuanya tergeletak meregang nyawa di lantai kamar, dengan bersimbah darah di sekujur tubuh mereka. Entah sebenarnya apa yang terjadi, Ray juga tidak tahu. Ray hanya bisa berteriak minta tolong, namun tak ada satupun orang yang datang. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba ada seorang laki-laki berbaju serba hitam dan memakai topi, datang menghampiri Ray dengan membawa sebuah pisau yang sudah berlumuran darah dan sebuah pistol. Ray yang takut p
Chapter 1Menjalani hidup sebagai anggota gangster sekaligus merangkap sebagai pembunuh bayaran mungkin tidak pantas untuk disebut sebagai pilihan hidup yang layak untuk seorang manusia, apalagi bagi seorang pemuda sehat berumur 27 tahun seperti diriku. Namun berkat berkat menjalani kehidupan itu s
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.