แชร์

Bab 109

ผู้เขียน: Kopi Senja
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-29 16:49:44
Ye Tian berhenti di ujung gang, langkahnya terhenti begitu saja. Ia tidak berbalik, namun senyum tipis samar terukir di sudut bibirnya.

Dua sosok berjubah merah yang mengikutinya ikut melambat.

Jarak di antara mereka tetap dijaga, seolah tidak ingin terlalu dekat, namun juga tidak berniat melepaskan target.

"Dia berhenti," bisik salah satu dari mereka.

"Jangan gegabah," balas yang lain. "Bisa jadi jebakan."

Namun sebelum mereka sempat mengambil keputusan, aura Ye Tian yang semula samar tiba-tiba menghilang sepenuhnya, seakan ditelan oleh kehampaan.

Keduanya tersentak.

"Aura-nya—!"

Belum sempat kalimat itu selesai, aura penindasan yang sangat kuat turun dari atas seperti sebuah gunung yang menimpa mereka. Lutut mereka gemetar hebat, napas terasa berat.

Sebuah suara datar terdengar dari belakang.

"Kalian terlalu ceroboh dan telah mengusik orang yang salah."

Shen Long berdiri beberapa langkah di belakang mereka, kehadirannya tenang namun menekan. Tidak ada niat membu
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (1)
goodnovel comment avatar
Sabam Silalahi
makin seru
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Langkah di Jalan Keabadian    Bab 116 Mendapatkan Hewan Kontrak Kera Putih

    Shen Long segera menyambut serangan kera putih di depannya. Duar! Dentuman keras menggema ke seluruh area saat kedua tinju beradu, tanah bergetar kuat. Keduanya sama-sama terpental ratusan langkah. "Mustahil....bagaimana mungkin dia bisa mengimbangi kekuatanku," gumam kera putih yang terkejut dengan kekuatan yang di kiliki oleh lawannya itu. Kera putih itu mendarat dengan keras, kakinya menghantam tanah hingga retakan menjalar ke segala arah. Debu beterbangan. Dadanya naik turun, matanya yang merah menyala menatap Shen Long dengan campuran marah dan waspada. Ia menggeram rendah. "Manusia....siapa kau sebenarnya? Dari auramu sepertinya kau bukan manusia? Shen Long merenggangkan jari-jarinya perlahan. Tulang-tulang tangannya berbunyi lirih. Tatapannya tenang, ta

  • Langkah di Jalan Keabadian    Bab 117 Kepanikan Melanda Para Murid

    Raungan keras mengguncang lembah. Batu-batu kecil berjatuhan dari tebing di kiri-kanan, dan tekanan aura buas langsung menekan ke arah mereka. Dari balik kabut tipis, muncul seekor macan raksasa berbulu emas kehitaman. Taringnya panjang melengkung keluar, matanya merah menyala, dan setiap langkahnya membuat tanah bergetar. Aura Raja Buas tingkat tinggi meledak tanpa ditahan. Yinshen refleks berhenti. Napasnya berat. “Itu dia…” Macan bertaring emas itu menundukkan kepala, menatap Ye Tian dan rombongan dengan sorot lapar. "Manusia… dan pengkhianat." Tatapan matanya berhenti pada Yinshen. "Kau menjual harga dirimu demi hidup, rupanya." Yinshen menggertakkan gigi, namun tidak mundur. "Aku memilih hidup." Macan itu tertawa kasar. "Kalau begitu, aku akan memakan kalian semua—

  • Langkah di Jalan Keabadian    Bab 115 Bunga Teratai Lima Warna

    Jiang Ruolan segera menenangkan diri. Tatapannya tertuju pada bunga teratai lima warna di tengah danau, namun ekspresinya tetap waspada. "Jangan gegabah," ujarnya dingin. "Tempat seperti ini tidak mungkin meninggalkan harta tanpa penjaga." Sembilan murid Sekte Bunga Salju langsung siaga. Mereka menyebar, membentuk formasi setengah lingkaran di tepi danau. Aura dingin khas sekte itu mengalir perlahan, membantu mereka menahan tekanan gravitasi dunia kuno. Danau itu tampak tenang. Permukaannya memantulkan cahaya lima warna dari bunga teratai, berkilau indah—namun terlalu sunyi. Tiba-tiba, riak kecil muncul di tengah danau. Satu. Lalu dua. Air berputar pelan, membentuk pusaran kecil tepat di bawah bunga teratai. Aura buas yang tersembunyi perlahan naik ke permukaan, berat dan menekan. Wajah Jiang Ruolan berubah tipis. “Hewan penjaga…” Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya. Sosok besar muncul dari dalam air—ular raksasa bersisik hitam kebiruan, matanya kuning menyala.

  • Langkah di Jalan Keabadian    Bab 114

    Siang hari, Long Chen dan rombongannya memasuki kawasan Pegunungan Xuanfeng. Ketika mereka bergerak semakin dalam, mereka mendadak berhenti. Sekelompok pria bertopeng tengkorak muncul dari balik pepohonan, menghadang jalan mereka. "Serahkan semua sumber daya yang kalian miliki, jika ingin hidup melewati wilayah kami," ujar Bao Zhixin, pemimpin Perampok Tengkorak Merah, sambil mengacungkan pedangnya. Long Chen hanya menggeleng pelan. Tatapannya menyapu satu per satu anggota perampok di hadapannya. "Sejak kapan Pegunungan Xuanfeng menjadi wilayah kalian?" Tang Mingyu melangkah maju. "Daerah ini masih berada di bawah kekuasaan Kota Zhoucheng." Bao Zhixin menyeringai. "Jadi kau ingin menentang kami?" Tatapannya mengeras. "Meski kau putra Patriark Tang Qiyu, aku tidak takut menghadapi semut sepertimu." Tang Mingyu menyipitkan mata. Aura di tubuhnya mulai bergerak. "Semut?" suaranya dingin. Bao Zhixin tertawa kasar. Ia mengangkat tangan kanannya. "Habisi mereka. Sisakan sat

  • Langkah di Jalan Keabadian    Bab 113 Tiba Di Dunia Kuno

    Tekanan berat itu perlahan mereda. Beberapa saat kemudian, tubuh mereka mulai beradaptasi dengan tempat itu. Otot-otot yang semula kaku perlahan mengendur, napas menjadi lebih stabil. Tanah di sekitar mereka retak halus akibat tekanan aura yang ditekan paksa agar tidak bocor keluar. Lin Hao membuka mata lebih dulu. Ia menarik napas panjang, wajahnya tampak sedikit serius. "Akhirnya bisa bergerak secara leluasa." Meng Rou mengangguk pelan. "Jika bertarung tanpa penyesuaian, kita akan dirugikan." Ye Tian membuka matanya terakhir. Tatapannya menyapu hutan di sekeliling mereka—pepohonan menjulang tinggi, daun-daunnya tebal dan gelap, sementara dari kejauhan terdengar raungan rendah hewan buas. "Hewan buas di sini juga hidup di bawah gravitasi ini," ucapnya datar. "Jangan menganggap tingkat mereka sama dengan dunia luar." Seolah menjawab ucapannya, semak-semak di depan mereka bergetar. Seekor binatang buas bertubuh besar melangkah keluar. Sisiknya kusam kehijauan, matanya m

  • Langkah di Jalan Keabadian    Bab 112

    Ye Tian menyesap tehnya perlahan, lalu meletakkan cangkir itu kembali ke meja. Pandangannya beralih ke Lin Hao dan Meng Jin. "Aku ditangkap siang tadi," ucapnya datar. Alis Lin Hao langsung terangkat. "Ditangkap?" "Balai Hukum Kota," lanjut Ye Tian singkat. "Atas tuduhan merampas sumber daya milik Chanming." Suasana kamar langsung berubah sunyi. Meng Rou mengerutkan kening, sementara Meng Jin mengepalkan tangan tanpa sadar. "Chanming dari Sekte Kelelawar Merah?" tanya Lin Hao dengan suara rendah. Ye Tian menganggukkan kepala perlahan. "Dia dengan sengaja menjebak Tuan Muda dan memberikan tuduhan palsu. Sebelumnya, dia memerintahkan dua murid untuk mengawasi kami," ujar Shen Long. Meng Rou menghela napas lega, namun ekspresinya tetap serius. "Kalau sampai ke Balai Hukum… berarti dia memang berniat menekanmu sejak awal." "Benar," jawab Ye Tian. “Dia telah menargetkanku, dan aku yakin saat ini dia sedang menyiapkan rencana lain." Lin Hao terdiam sesaat. "Berarti kedat

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status