Home / Fantasi / Langkah di Jalan Keabadian / Bab 10 Ye Tian Kembali Ke Desa Qinghe

Share

Bab 10 Ye Tian Kembali Ke Desa Qinghe

Author: Kopi Senja
last update Huling Na-update: 2025-10-03 22:42:31
Lalu Shen Long mengarahkan Ye Tian ke ruang pembuatan pil dan penempaan senjata.

Di ruang pembuatan pil, beberapa tungku kuno berukir halus masih berdiri kokoh. Aroma obat samar memenuhi udara, sementara botol-botol giok berisi pil tersusun rapi di rak.

Dari sana, mereka menuju ruang penempaan senjata. Sebuah tungku tempa dari besi hitam berdiri di tengah, dikelilingi palu dan logam langka. Meski lama tak terpakai, hawa tajamnya masih terasa.

Terakhir, Shen Long membawa Ye Tian ke sebuah aula luas. Deretan rak tinggi tersusun rapi, masing-masing berisi kitab-kitab kuno.

Di rak bawah terdapat pengetahuan dasar kultivasi. Rak kedua berisi teknik pembuatan pil, daftar tumbuhan obat, serta metode penempaan senjata. Sedangkan di rak ketiga tersimpan kitab teknik serangan, mulai dari pukulan, jurus pedang, tombak, hingga berbagai seni bela diri lainnya.

Semua kitab yang ada di sana bukanlah ilmu biasa, melainkan kitab tingkat tinggi hingga tingkat dewa, yang tak ternilai harganya.
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Sabam Silalahi
makin seru
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Langkah di Jalan Keabadian    Bab 120

    Tekanan ruang di sekitar danau terus meningkat. Udara bergetar halus, seolah tak mampu lagi menahan keberadaan dua kekuatan besar yang saling berhadapan. Ular hitam raksasa itu mengangkat kepalanya tinggi-tinggi. Sisik hitam kebiruannya berderak, retakan kecil yang tadi muncul perlahan tertutup kembali oleh energi kuno yang mengalir deras di sepanjang tubuhnya. Aura buasnya melonjak satu tingkat, lebih pekat, lebih menekan. "Hmph… sudah ratusan tahun aku menjaga tempat ini," desisnya berat. "Bahkan banyak kultivator tingkat tinggi pun mati di hadapanku. Kau pikir tekanan ruang bisa menghentikanku?" Ia membuka mulutnya lebar-lebar. Energi hitam pekat berkumpul di dalam tenggorokannya, berputar liar seperti pusaran jurang. Shen Long mengangkat alis. "Serangan jiwa bercampur energi kuno." Jiang Ruolan berteriak, "Tian’er, hati-hati!" Namun Ye Tian tidak mundur setapak pun. Tatapannya tenang, Ia mengangkat satu tangan. "Berisik." Satu kata itu jatuh bersamaan dengan— B

  • Langkah di Jalan Keabadian    Bab 119 Melawan Ular Hitam Penjaga Bunga Teratai Lima Warna

    Ye Tian menatap sekilas ke arah danau yang membeku setengah. Permukaannya tenang, terlalu tenang—namun di balik lapisan es tipis itu, gelombang aura dingin terus berputar tanpa henti. Tatapannya lalu beralih pada Jiang Ruolan. Ia merasakan energi qi pada Kakak perempuannya itu kacau, namun jejak pertempuran jelas terlihat dari napas yang belum sepenuhnya teratur dan lengan bajunya yang robek di beberapa bagian. "Kakak dan para Saudara dan Saudari segera memulihkan diri terlebih dahulu. Jangan terlalu memaksakan diri, karena itu sangat berisiko. Bisa-bisa nyawa kalian melayang sebelum mendapatkan bunga teratai lima warna itu," ucap Ye Tian tenang. "Ular hitam itu bukan sekadar penjaga biasa." Jiang Ruolan tersenyum tipis, sedikit pahit. "Kamu benar, meski kami mencoba mengurungnya dengan segel formasi es, dia mampu mengancurkan formasi itu. Aku tadi sempat melawannya, tapi aku kesulitan menembus pertahanan

  • Langkah di Jalan Keabadian    Bab 118 Mendapatkan Hewan Kontrak Kedua

    Ye Tian kembali memusatkan perhatiannya ke depan. Macan bertaring emas itu masih tertekan ke tanah, tubuhnya bergetar hebat. Aura Raja Buas yang tadi meledak kini kacau, naik turun tak terkendali. Tanah di bawahnya terus berderak, retakan menjalar semakin lebar. "Jangan menatap ke tempat lain… manusia," geram macan itu dengan susah payah. “Jika kau lengah, aku—" Tekanan ruang tiba-tiba bertambah berat. BOOM! Tanah amblas lebih dalam. Tubuh macan itu tertekan setengah masuk ke tanah, tulang-tulangnya berderak keras. Raungannya terputus, berubah menjadi erangan tertahan. Ye Tian melangkah mendekat, berhenti tepat di depan kepala macan itu. Tatapannya dingin, tanpa emosi. "Kau terlalu banyak bicara untuk makhluk yang nyawanya sedang berada di ujung tanduk." ucapnya datar. Macan itu terengah. Matanya bergetar, menatap Ye Tian dari jarak sedekat ini. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasakan sesuatu yang lebih mengerikan dari kematian—ketidakberdayaan total. "Jika…

  • Langkah di Jalan Keabadian    Bab 117 Kepanikan Para Murid

    Raungan keras mengguncang lembah. Batu-batu kecil berjatuhan dari tebing di kiri-kanan, dan tekanan aura buas langsung menekan ke arah mereka. Dari balik kabut tipis, muncul seekor macan raksasa berbulu emas kehitaman. Taringnya panjang melengkung keluar, matanya merah menyala, dan setiap langkahnya membuat tanah bergetar. Aura Raja Buas tingkat tinggi meledak tanpa ditahan. Yinshen refleks berhenti. Napasnya berat. “Itu dia…” Macan bertaring emas itu menundukkan kepala, menatap Ye Tian dan rombongan dengan sorot lapar. "Manusia… dan pengkhianat." Tatapan matanya berhenti pada Yinshen. "Kau menjual harga dirimu demi hidup, rupanya." Yinshen menggertakkan gigi, namun tidak mundur. "Aku memilih hidup." Macan itu tertawa kasar. "Kalau begitu, aku akan memakan kalian semua—dan membuktikan pilihanmu salah!" Tubuhnya merendah, otot-ototnya menegang. Namun sebelum ia menerjang— Ye Tian melangkah satu langkah ke depan. Langkah itu ringan, nyaris tak bersuara. Tapi dunia s

  • Langkah di Jalan Keabadian    Bab 116 Mendapatkan Hewan Kontrak

    Shen Long segera menyambut serangan kera putih di depannya. Duar! Dentuman keras menggema ke seluruh area saat kedua tinju beradu, tanah bergetar kuat. Keduanya sama-sama terpental ratusan langkah. "Mustahil....bagaimana mungkin dia bisa mengimbangi kekuatanku," gumam kera putih yang terkejut dengan kekuatan yang di kiliki oleh lawannya itu. Kera putih itu mendarat dengan keras, kakinya menghantam tanah hingga retakan menjalar ke segala arah. Debu beterbangan. Dadanya naik turun, matanya yang merah menyala menatap Shen Long dengan campuran marah dan waspada. Ia menggeram rendah. "Manusia....siapa kau sebenarnya? Dari auramu sepertinya kau bukan manusia? Shen Long merenggangkan jari-jarinya perlahan. Tulang-tulang tangannya berbunyi lirih. Tatapannya tenang, tanpa sedikit pun niat membunuh yang berlebihan. "Aku memang bukan manusia," jawabnya singkat. Raungan kera putih menggema. Aura buasnya melonjak, bulu-bulu putih di tubuhnya berdiri, otot-ototnya membengkak nyata.

  • Langkah di Jalan Keabadian    Bab 115 Bunga Teratai Lima Warna

    Jiang Ruolan segera menenangkan diri. Tatapannya tertuju pada bunga teratai lima warna di tengah danau, namun ekspresinya tetap waspada. "Jangan gegabah," ujarnya dingin. "Tempat seperti ini tidak mungkin meninggalkan harta tanpa penjaga." Sembilan murid Sekte Bunga Salju langsung siaga. Mereka menyebar, membentuk formasi setengah lingkaran di tepi danau. Aura dingin khas sekte itu mengalir perlahan, membantu mereka menahan tekanan gravitasi dunia kuno. Danau itu tampak tenang. Permukaannya memantulkan cahaya lima warna dari bunga teratai, berkilau indah—namun terlalu sunyi. Tiba-tiba, riak kecil muncul di tengah danau. Satu. Lalu dua. Air berputar pelan, membentuk pusaran kecil tepat di bawah bunga teratai. Aura buas yang tersembunyi perlahan naik ke permukaan, berat dan menekan. Wajah Jiang Ruolan berubah tipis. “Hewan penjaga…” Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya. Sosok besar muncul dari dalam air—ular raksasa bersisik hitam kebiruan, matanya kuning menyala.

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status