MasukPerjalanan yang ditempuh Ye Tian, Lin Hao dan Meng Rou kembali ke desa Qinghe memakan waktu hingga dua hari. Jika malam tiba, mereka memilih beristirahat dan melanjutkan perjalanan keesokan harinya. Sewaktu memasuki desa, para penduduk menatap Ye Tian dengan sinis.
Mereka sudah mendengar kabar bahwa Ye Tian gagal dalam tes akar spiritual dan menjadi bahan tertawaan orang banyak. Bahkan tetua setiap sekte tak satu pun mau menerima pemuda itu sebagai murid.
"Apa kamu nggak sadar diri, Ye Tian? Sudah tahu akar spiritualmu cacat. Mengapa masih mengikuti perekrutan murid empat sekte besar, kalau ujung-ujungnya kamu hanya mempermalukan dirimu sendiri?" cibir salah seorang pemuda seraya mengangkat sudut bibirnya.
"Pemuda macam dia mana mungkin sadar diri! Sekali sampah tetaplah sampah! Mau sekeras apapun kamu berlatih, nggak mungkin bisa menyaingi Tuan Muda Zhou Liang, Lin Fei, apalagi Mei Lan!" kata-kata pedas nan menusuk terlontar begitu saja tertuju pada Ye Tian.
"Owh, jelas aku sangat berbeda sama mereka bertiga. Baik dari status maupun dari segi kehidupan. Aku hanya orang miskin yang kalian anggap remeh, hina di mata kalian semua! Tapi kenapa di saat ada kawanan perampok mau menjarah desa, kalian tidak berani keluar dan hanya meringkuk ketakutan di dalam rumah!" seru Ye Tian lantang dan tegas, menatap satu per satu penduduk dengan tajam.
"Kedua orang tuaku dengan gagah berani melawan kawanan perampok hingga meregang nyawa. Bahkan di saat mereka meninggal pun, kalian tidak sudi mengantarkan jenazah kedua orang tuaku ke peristirahatan terakhir! Orang-orang macam kalian semua tidak tahu berterima kasih dan hanya mengedepankan ego semata!" lanjutnya. Semua langsung terdiam dan tak bisa berkata-kata apa-apa. Mereka lalu menundukkan kepala, karena apa yang dikatakan Ye Tian memang benar adanya.
Sembilan tahun yang lalu, kedua orang tua Ye Tian meninggal melawan kawanan perampok. Tak ada satupun penduduk yang mau membantu, bahkan keluarga Zhou, Lin, maupun Mei memilih mengungsi ke kota Yunzhou. Hanya Meng Han, ayah Meng Rou, dan ayah Lin Hao yang ikut dalam melawan kawanan perampok tersebut. Setelah desa kembali aman baru ketiga keluarga cabang Zhou, Lin, dan Mei kembali ke desa.
Sementara Lin Hao dan Meng Rou tersenyum puas, karena sahabat mereka telah berhasil membungkam mulut-mulut orang-orang yang suka meremehkan dan menghina sahabat mereka selama ini.
"Mungkin sekarang aku hanyalah seorang pecundang! Tapi suatu hari nanti, aku bakal menjadi orang paling terkuat di dunia ini!" setelah berkata seperti itu, Ye Tian bersama Lin Hao serta Meng Rou melangkah pergi meninggalkan wajah-wajah sombong, congkak, dan hanya peduli pada diri sendiri.
****
Sore harinya, para penduduk desa Qinghe berkumpul di alun-alun desa. Suasana ramai dipenuhi suara riuh tawa dan sorak sorai. Mereka mengadakan perayaan untuk menyambut keberhasilan Zhou Liang, Lin Fei, dan Mei Lan yang diterima menjadi murid Sekte Awan Putih.
Lampion-lampion digantung di sepanjang jalan menuju alun-alun desa, meja panjang penuh hidangan sederhana tersaji, dan musik tabuhan genderang desa menggema mengiringi pesta. Wajah-wajah penuh kebanggaan terlihat jelas, seolah-olah ketiga orang muda itu telah mengangkat derajat seluruh desa.
"Zhou Liang memang pantas menjadi kebanggaan desa Qinghe. Dengan masuknya dia ke Sekte Awan Putih, masa depan keluarganya pasti semakin cerah!" ucap seorang pria paruh baya dengan suara lantang.
"Bukan hanya Zhou Liang, Lin Fei dan Mei Lan pun hebat. Dua pemuda dan satu gadis berbakat yang akan membuat nama desa kita dikenal luas!" sambung yang lain penuh semangat.
Sorak-sorai semakin riuh ketika Zhou Liang, Lin Fei, dan Mei Lan naik ke panggung sederhana yang dibangun di tengah alun-alun desa. Ketiganya berdiri dengan pakaian baru, senyum penuh kebanggaan terpampang jelas di wajah mereka.
"Lihatlah, inilah kebanggaan desa Qinghe!" seru salah seorang tetua desa. "Zhou Liang, Lin Fei, dan Mei Lan, tiga anak muda yang diterima oleh Sekte Awan Putih!"
Penduduk bersorak gembira. Namun, begitu sorakan mulai reda, Zhou Liang menyapu pandangan ke arah kerumunan, lalu menyeringai sinis.
"Hari ini memang layak dirayakan. Tapi ada satu hal yang lebih lucu untuk dikenang,” katanya lantang. “Seorang pecundang dengan akar spiritual cacat masih berani bermimpi masuk sekte besar. Dialah… Ye Tian!"
Kerumunan mendadak riuh. Beberapa orang menahan tawa, beberapa lagi tertawa terbahak-bahak tanpa peduli perasaan Ye Tian.
"Hahaha, benar kata Zhou Liang!" timpal Lin Fei sambil menepuk dadanya bangga. "Aku sampai heran, kenapa orang seperti dia masih punya muka untuk kembali ke desa ini. Kalau aku jadi dia, sudah sejak dulu mengubur diri dalam tanah!"
Mei Lan menutup mulutnya sambil terkekeh manja, lalu berkata dengan nada meremehkan, "Kasihan sekali. Dia pasti sudah terbiasa jadi bahan tertawaan. Mungkin itu satu-satunya ‘kehebatan’ Ye Tian."
Sorakan tawa meledak di alun-alun desa. Wajah-wajah yang tadinya sempat terdiam karena ucapan Ye Tian siang tadi, kini kembali bersorak, terbawa arus ejekan tiga orang muda yang dielu-elukan itu.
Di balik bayangan jalan kecil, Ye Tian mengepalkan tangan erat-erat. Lin Hao yang berdiri di sampingnya hampir maju menerobos kerumunan, tapi Ye Tian menahan bahunya.
"Tidak sekarang," bisiknya tegas. Sorot matanya menyalakan api tekad pada dirinya, "Biar mereka tertawa sepuasnya. Waktuku akan datang, dan saat itu… akulah yang akan berdiri paling tinggi."
Lin Hao terdiam, sementara Meng Rou menunduk dengan hati panas menahan amarah.
Dari kejauhan, seorang pria paruh baya berdiri di tepi jalan setapak yang agak tinggi, mengawasi keramaian alun-alun desa. Dialah Meng Han, kepala desa Qinghe sekaligus ayah dari Meng Rou. Wajahnya tenang, namun sorot matanya tajam penuh pengamatan.
Meski kedudukannya sebagai kepala desa seharusnya membuatnya hadir dalam acara itu, tetapi Meng Han sengaja tidak datang. Ia tahu pesta semacam ini hanyalah ajang untuk membangga-banggakan sebagian orang sekaligus menjadi kesempatan bagi yang lain untuk merendahkan Ye Tian.
Sebagai ayah angkat, ia sangat memahami penderitaan pemuda itu. Hatinya terasa perih melihat bagaimana putra angkatnya itu kembali dijadikan bahan olok-olok. Namun, Meng Han memilih menahan diri.
"Biarkan saja…" gumamnya pelan, kedua tangannya menggenggam erat di belakang punggung. "Hari ini mereka bisa tertawa sesuka hati. Tapi aku percaya, suatu saat nanti, Ye Tian akan membungkam mulut mereka dengan caranya sendiri."
Angin sore berhembus melewati tempatnya berdiri, seolah ikut membawa doa dalam hatinya untuk pemuda yang sejak kecil telah ia anggap sebagai putra sendiri.
Pesta itu berlangsung meriah hingga malam hari. Lampion-lampion bergantungan memancarkan cahaya kuning redup yang bergoyang diterpa angin malam. Tawa dan sorak-sorai penduduk tak pernah berhenti, seolah kebahagiaan malam itu tiada habisnya.
Namun di balik kegembiraan itu, nama Ye Tian justru berkali-kali disebut sebagai bahan hinaan. Setiap kali ada yang menyebut kegagalannya dalam ujian akar spiritual, gelak tawa pun pecah semakin keras.
"Kalau saja akar spiritualnya tidak cacat, mungkin Ye Tian juga bisa ikut berdiri di sana bersama Zhou Liang dan yang lain,” ucap seorang pria sambil terkekeh, membuat orang-orang di sekitarnya tertawa terbahak.
"Ah, sudahlah. Anak itu memang hanya jadi beban. Kalau tidak karena kepala desa yang mengasihani, entah sudah jadi apa dia sekarang," sahut yang lain dengan nada meremehkan.
Rombongan Ye Tian bergerak meninggalkan kawasan danau tanpa menoleh kembali. Hutan kembali menyelimuti mereka. Pepohonan kuno menjulang tinggi, akar-akar besar mencuat dari tanah seperti urat naga, dan kabut tipis menggantung rendah di antara batang pohon. Aura dunia kuno di tempat ini terasa semakin pekat, seolah setiap langkah membawa mereka lebih dalam ke wilayah yang belum tersentuh. Jiang Ruolan berjalan di sisi Ye Tian. "Dunia ini… jelas bukan reruntuhan biasa," ucapnya pelan. "Semakin jauh kita masuk, tekanan gravitasinya makin kuat." Ye Tian mengangguk tipis. "Ini bukan dunia yang diciptakan untuk kultivator lemah." Di belakang mereka, Ming Liu, Yinshen, dan Bao Liang berjalan dalam wujud manusia. Tidak ada lagi jejak keganasan—yang tersisa hanyalah kepatuhan mutlak. Yinshen melirik sekeliling. "Ada pergerakan aura di depan. Tidak kuat, tapi jumlahnya banyak." Bao Liang menyeringai tipis. "Seperti… pemburu tingkat rendah. Mereka menunggu mangsa." Shen Long tersen
Tekanan ruang di sekitar danau terus meningkat. Udara bergetar halus, seolah tak mampu lagi menahan keberadaan dua kekuatan besar yang saling berhadapan. Ular hitam raksasa itu mengangkat kepalanya tinggi-tinggi. Sisik hitam kebiruannya berderak, retakan kecil yang tadi muncul perlahan tertutup kembali oleh energi kuno yang mengalir deras di sepanjang tubuhnya. Aura buasnya melonjak satu tingkat, lebih pekat, lebih menekan. "Hmph… sudah ratusan tahun aku menjaga tempat ini," desisnya berat. "Bahkan banyak kultivator tingkat tinggi pun mati di hadapanku. Kau pikir tekanan ruang bisa menghentikanku?" Ia membuka mulutnya lebar-lebar. Energi hitam pekat berkumpul di dalam tenggorokannya, berputar liar seperti pusaran jurang. Shen Long mengangkat alis. "Serangan jiwa bercampur energi kuno." Jiang Ruolan berteriak, "Tian’er, hati-hati!" Namun Ye Tian tidak mundur setapak pun. Tatapannya tenang, Ia mengangkat satu tangan. "Berisik." Satu kata itu jatuh bersamaan dengan— B
Ye Tian menatap sekilas ke arah danau yang membeku setengah. Permukaannya tenang, terlalu tenang—namun di balik lapisan es tipis itu, gelombang aura dingin terus berputar tanpa henti. Tatapannya lalu beralih pada Jiang Ruolan. Ia merasakan energi qi pada Kakak perempuannya itu kacau, namun jejak pertempuran jelas terlihat dari napas yang belum sepenuhnya teratur dan lengan bajunya yang robek di beberapa bagian. "Kakak dan para Saudara dan Saudari segera memulihkan diri terlebih dahulu. Jangan terlalu memaksakan diri, karena itu sangat berisiko. Bisa-bisa nyawa kalian melayang sebelum mendapatkan bunga teratai lima warna itu," ucap Ye Tian tenang. "Ular hitam itu bukan sekadar penjaga biasa." Jiang Ruolan tersenyum tipis, sedikit pahit. "Kamu benar, meski kami mencoba mengurungnya dengan segel formasi es, dia mampu mengancurkan formasi itu. Aku tadi sempat melawannya, tapi aku kesulitan menembus pertahanan
Ye Tian kembali memusatkan perhatiannya ke depan. Macan bertaring emas itu masih tertekan ke tanah, tubuhnya bergetar hebat. Aura Raja Buas yang tadi meledak kini kacau, naik turun tak terkendali. Tanah di bawahnya terus berderak, retakan menjalar semakin lebar. "Jangan menatap ke tempat lain… manusia," geram macan itu dengan susah payah. “Jika kau lengah, aku—" Tekanan ruang tiba-tiba bertambah berat. BOOM! Tanah amblas lebih dalam. Tubuh macan itu tertekan setengah masuk ke tanah, tulang-tulangnya berderak keras. Raungannya terputus, berubah menjadi erangan tertahan. Ye Tian melangkah mendekat, berhenti tepat di depan kepala macan itu. Tatapannya dingin, tanpa emosi. "Kau terlalu banyak bicara untuk makhluk yang nyawanya sedang berada di ujung tanduk." ucapnya datar. Macan itu terengah. Matanya bergetar, menatap Ye Tian dari jarak sedekat ini. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasakan sesuatu yang lebih mengerikan dari kematian—ketidakberdayaan total. "Jika…
Raungan keras mengguncang lembah. Batu-batu kecil berjatuhan dari tebing di kiri-kanan, dan tekanan aura buas langsung menekan ke arah mereka. Dari balik kabut tipis, muncul seekor macan raksasa berbulu emas kehitaman. Taringnya panjang melengkung keluar, matanya merah menyala, dan setiap langkahnya membuat tanah bergetar. Aura Raja Buas tingkat tinggi meledak tanpa ditahan. Yinshen refleks berhenti. Napasnya berat. “Itu dia…” Macan bertaring emas itu menundukkan kepala, menatap Ye Tian dan rombongan dengan sorot lapar. "Manusia… dan pengkhianat." Tatapan matanya berhenti pada Yinshen. "Kau menjual harga dirimu demi hidup, rupanya." Yinshen menggertakkan gigi, namun tidak mundur. "Aku memilih hidup." Macan itu tertawa kasar. "Kalau begitu, aku akan memakan kalian semua—dan membuktikan pilihanmu salah!" Tubuhnya merendah, otot-ototnya menegang. Namun sebelum ia menerjang— Ye Tian melangkah satu langkah ke depan. Langkah itu ringan, nyaris tak bersuara. Tapi dunia s
Shen Long segera menyambut serangan kera putih di depannya. Duar! Dentuman keras menggema ke seluruh area saat kedua tinju beradu, tanah bergetar kuat. Keduanya sama-sama terpental ratusan langkah. "Mustahil....bagaimana mungkin dia bisa mengimbangi kekuatanku," gumam kera putih yang terkejut dengan kekuatan yang di kiliki oleh lawannya itu. Kera putih itu mendarat dengan keras, kakinya menghantam tanah hingga retakan menjalar ke segala arah. Debu beterbangan. Dadanya naik turun, matanya yang merah menyala menatap Shen Long dengan campuran marah dan waspada. Ia menggeram rendah. "Manusia....siapa kau sebenarnya? Dari auramu sepertinya kau bukan manusia? Shen Long merenggangkan jari-jarinya perlahan. Tulang-tulang tangannya berbunyi lirih. Tatapannya tenang, tanpa sedikit pun niat membunuh yang berlebihan. "Aku memang bukan manusia," jawabnya singkat. Raungan kera putih menggema. Aura buasnya melonjak, bulu-bulu putih di tubuhnya berdiri, otot-ototnya membengkak nyata.







