Home / Fantasi / Langkah di Jalan Keabadian / Bab 48 Di Mulainya Rencana Ye Tian oleh Su Wan'er

Share

Bab 48 Di Mulainya Rencana Ye Tian oleh Su Wan'er

Author: Kopi Senja
last update Last Updated: 2025-11-04 21:44:40

Pertandingan terus berlanjut dimana pertarungan babak ke dua murid sekte Pedang abadi berhadapan dengan murid sekte Laut Biru.

Dimana ranah kultivasi mereka berada di ranah pondasi tingkat delapan dan tingkat tujuh. Perbedaan ranah satu tingkat membuat murid Sekte Laut Biru cukup kewalahan.

"Percuma kau melawanku, kau pun tidak akan bisa mengalahkanku," ucap murid Sekte Pedang Abadi dengan sombong.

"Cih, jangan terlalu sombong. Karena kesombonganmu pada akhirnya menghancurkan dirimu sendiri," jawab murid Laut Biru. Meski ia berasal dari sekte kecil, ia tak mau menyerah begitu saja.

Serangan murid Sekte Pedang Abadi datang bertubi-tubi, pedangnya melesat cepat ke segala arah. Murid Sekte Laut Biru berusaha menangkis dan menghindar, tapi perbedaan ranah satu tingkat membuatnya kewalahan.

Beberapa tebasan berhasil mengenai tubuhnya, memaksanya mundur beberapa langkah sambil mengerang kesakitan. Dengan satu hentakan kuat, pedangnya terlempar dari genggaman, tubuhnya tersungkur
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Sabam Silalahi
cerita yang sangat bagus
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Langkah di Jalan Keabadian    Bab 119 Melawan Ular Hitam Penjaga Bunga Teratai Lima Warna

    Ye Tian menatap sekilas ke arah danau yang membeku setengah. Permukaannya tenang, terlalu tenang—namun di balik lapisan es tipis itu, gelombang aura dingin terus berputar tanpa henti. Tatapannya lalu beralih pada Jiang Ruolan. Ia merasakan energi qi pada Kakak perempuannya itu kacau, namun jejak pertempuran jelas terlihat dari napas yang belum sepenuhnya teratur dan lengan bajunya yang robek di beberapa bagian. "Kakak dan para Saudara dan Saudari segera memulihkan diri terlebih dahulu. Jangan terlalu memaksakan diri, karena itu sangat berisiko. Bisa-bisa nyawa kalian melayang sebelum mendapatkan bunga teratai lima warna itu," ucap Ye Tian tenang. "Ular hitam itu bukan sekadar penjaga biasa." Jiang Ruolan tersenyum tipis, sedikit pahit. "Kamu benar, meski kami mencoba mengurungnya dengan segel formasi es, dia mampu mengancurkan formasi itu. Aku tadi sempat melawannya, tapi aku kesulitan menembus pertahanan

  • Langkah di Jalan Keabadian    Bab 118 Mendapatkan Hewan Kontrak Kedua

    Ye Tian kembali memusatkan perhatiannya ke depan. Macan bertaring emas itu masih tertekan ke tanah, tubuhnya bergetar hebat. Aura Raja Buas yang tadi meledak kini kacau, naik turun tak terkendali. Tanah di bawahnya terus berderak, retakan menjalar semakin lebar. "Jangan menatap ke tempat lain… manusia," geram macan itu dengan susah payah. “Jika kau lengah, aku—" Tekanan ruang tiba-tiba bertambah berat. BOOM! Tanah amblas lebih dalam. Tubuh macan itu tertekan setengah masuk ke tanah, tulang-tulangnya berderak keras. Raungannya terputus, berubah menjadi erangan tertahan. Ye Tian melangkah mendekat, berhenti tepat di depan kepala macan itu. Tatapannya dingin, tanpa emosi. "Kau terlalu banyak bicara untuk makhluk yang nyawanya sedang berada di ujung tanduk." ucapnya datar. Macan itu terengah. Matanya bergetar, menatap Ye Tian dari jarak sedekat ini. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasakan sesuatu yang lebih mengerikan dari kematian—ketidakberdayaan total. "Jika…

  • Langkah di Jalan Keabadian    Bab 116 Mendapatkan Hewan Kontrak Kera Putih

    Shen Long segera menyambut serangan kera putih di depannya. Duar! Dentuman keras menggema ke seluruh area saat kedua tinju beradu, tanah bergetar kuat. Keduanya sama-sama terpental ratusan langkah. "Mustahil....bagaimana mungkin dia bisa mengimbangi kekuatanku," gumam kera putih yang terkejut dengan kekuatan yang di kiliki oleh lawannya itu. Kera putih itu mendarat dengan keras, kakinya menghantam tanah hingga retakan menjalar ke segala arah. Debu beterbangan. Dadanya naik turun, matanya yang merah menyala menatap Shen Long dengan campuran marah dan waspada. Ia menggeram rendah. "Manusia....siapa kau sebenarnya? Dari auramu sepertinya kau bukan manusia? Shen Long merenggangkan jari-jarinya perlahan. Tulang-tulang tangannya berbunyi lirih. Tatapannya tenang, ta

  • Langkah di Jalan Keabadian    Bab 117 Kepanikan Melanda Para Murid

    Raungan keras mengguncang lembah. Batu-batu kecil berjatuhan dari tebing di kiri-kanan, dan tekanan aura buas langsung menekan ke arah mereka. Dari balik kabut tipis, muncul seekor macan raksasa berbulu emas kehitaman. Taringnya panjang melengkung keluar, matanya merah menyala, dan setiap langkahnya membuat tanah bergetar. Aura Raja Buas tingkat tinggi meledak tanpa ditahan. Yinshen refleks berhenti. Napasnya berat. “Itu dia…” Macan bertaring emas itu menundukkan kepala, menatap Ye Tian dan rombongan dengan sorot lapar. "Manusia… dan pengkhianat." Tatapan matanya berhenti pada Yinshen. "Kau menjual harga dirimu demi hidup, rupanya." Yinshen menggertakkan gigi, namun tidak mundur. "Aku memilih hidup." Macan itu tertawa kasar. "Kalau begitu, aku akan memakan kalian semua—

  • Langkah di Jalan Keabadian    Bab 115 Bunga Teratai Lima Warna

    Jiang Ruolan segera menenangkan diri. Tatapannya tertuju pada bunga teratai lima warna di tengah danau, namun ekspresinya tetap waspada. "Jangan gegabah," ujarnya dingin. "Tempat seperti ini tidak mungkin meninggalkan harta tanpa penjaga." Sembilan murid Sekte Bunga Salju langsung siaga. Mereka menyebar, membentuk formasi setengah lingkaran di tepi danau. Aura dingin khas sekte itu mengalir perlahan, membantu mereka menahan tekanan gravitasi dunia kuno. Danau itu tampak tenang. Permukaannya memantulkan cahaya lima warna dari bunga teratai, berkilau indah—namun terlalu sunyi. Tiba-tiba, riak kecil muncul di tengah danau. Satu. Lalu dua. Air berputar pelan, membentuk pusaran kecil tepat di bawah bunga teratai. Aura buas yang tersembunyi perlahan naik ke permukaan, berat dan menekan. Wajah Jiang Ruolan berubah tipis. “Hewan penjaga…” Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya. Sosok besar muncul dari dalam air—ular raksasa bersisik hitam kebiruan, matanya kuning menyala.

  • Langkah di Jalan Keabadian    Bab 114

    Siang hari, Long Chen dan rombongannya memasuki kawasan Pegunungan Xuanfeng. Ketika mereka bergerak semakin dalam, mereka mendadak berhenti. Sekelompok pria bertopeng tengkorak muncul dari balik pepohonan, menghadang jalan mereka. "Serahkan semua sumber daya yang kalian miliki, jika ingin hidup melewati wilayah kami," ujar Bao Zhixin, pemimpin Perampok Tengkorak Merah, sambil mengacungkan pedangnya. Long Chen hanya menggeleng pelan. Tatapannya menyapu satu per satu anggota perampok di hadapannya. "Sejak kapan Pegunungan Xuanfeng menjadi wilayah kalian?" Tang Mingyu melangkah maju. "Daerah ini masih berada di bawah kekuasaan Kota Zhoucheng." Bao Zhixin menyeringai. "Jadi kau ingin menentang kami?" Tatapannya mengeras. "Meski kau putra Patriark Tang Qiyu, aku tidak takut menghadapi semut sepertimu." Tang Mingyu menyipitkan mata. Aura di tubuhnya mulai bergerak. "Semut?" suaranya dingin. Bao Zhixin tertawa kasar. Ia mengangkat tangan kanannya. "Habisi mereka. Sisakan sat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status