LOGINBab Utama : 33/70. Hari ini 3 Bab Utama. Bab Bonus Gems : 11 Bab. Bab Bonus Hadiah : 5 Bab.
Di dalam gua, dunia terasa terpisah dari keganasan gurun.Badai pasir masih meraung di luar, namun dinding batu tebal meredamnya menjadi dengung jauh—seperti napas makhluk raksasa yang tertahan. Api kecil yang dinyalakan dari batu roh menyala stabil, memantulkan cahaya temaram ke dinding gua yang kasar dan berurat hitam.Aylin duduk bersandar di sisi Qing Jian.Tubuhnya masih lemah. Setiap tarikan napas terasa lebih berat dari biasanya, seolah meridian-meridiannya baru saja dipaksa lahir kembali. Terobosan ke tingkat lima Pemurnian Tubuh bukan hadiah kecil—itu meninggalkan rasa perih yang samar di tulang dan ototnya. Namun ia tidak mengeluh.Matanya tak pernah lepas dari pria di hadapannya.Qing Jian duduk bersila, punggung tegak, napasnya perlahan dan dalam. Cahaya keemasan samar masih mengalir di bawah kulitnya—bukan kilau mencolok, melainkan seperti bara api yang tertutup abu. Tenang… namun jelas berbahaya. Setiap denyut Qi yang mengalir darinya membuat udara di sekitar mereka sedi
Sementara itu—jauh dari badai dan darah... di jantung Sekte Gobi-Pay.Aula utama bermandikan cahaya obor yang bergoyang tak tenang. Api-oranye memantul di dinding batu berukir, menciptakan bayangan yang memanjang dan saling menelan, seolah roh-roh gurun ikut mengintip dari celah-celah batu. Setiap hembusan angin yang menyelinap lewat lorong-lorong sempit membawa pasir halus… dan gelombang Qi spiritual yang membuat lampion di langit-langit bergetar, berdenting pelan seperti lonceng peringatan.Para tetua sekte duduk melingkar.Tak ada yang berbicara. Wajah-wajah tua yang telah menyaksikan puluhan tahun pertumpahan darah kini dipenuhi ketegangan yang jarang terlihat. Keringat tipis mengilap di pelipis mereka—bukan karena panas obor, melainkan tekanan energi yang baru saja menyapu seluruh gurun.Tok.Tongkat kayu mengetuk lantai batu.Madam Yin Lan—tubuhnya kurus, punggung sedikit membungkuk, mata sipitnya tajam seperti pisau hitam... menghentikan keheningan.“Apakah kalian semua merasak
Di dasar ngarai yang terbelah dengan lebarnya, udara terasa mati.Tidak ada burung, tidak ada serangga. Hanya gema pasir yang saling bergesek, berderak pelan seperti bisikan makhluk yang tidak pernah bernapas.Di sanalah ia berada.Seorang pria bertubuh kurus namun menjulang tinggi, duduk tegak di atas batu datar yang dipoles waktu. Rambut hitamnya panjang, tergerai liar, melayang perlahan seolah tertiup angin yang tak terlihat—mirip asap pekat dari api kematian. Kulitnya pucat abu-abu, terlalu pucat untuk seorang manusia yang hidup di bawah matahari, seakan darah hangat telah lama berhenti mengalir di bawah permukaannya.Di sekelilingnya, ratusan boneka pasir berdiri membentuk lingkaran.Setinggi pinggang manusia, tubuh mereka kasar dan retak-retak, seperti pahatan terburu-buru dari pasir gurun yang dipaksa hidup. Tidak ada wajah. Tidak ada mata. Namun di dada masing-masing, terukir simbol hitam pekat—tanda kutukan yang berdenyut perlahan, memancarkan aura dingin.Boneka-boneka itu b
Ledakan cahaya emas itu tidak langsung mereda.Justru semakin menggila.Gua bergetar keras, dinding batu memuntahkan debu dan pasir. Retakan merambat seperti urat hitam di langit-langit, seolah tempat itu tak sanggup menahan tekanan yang lahir dari satu tubuh manusia.Qing Jian terjatuh berlutut.Satu tangannya menghantam tanah batu, meninggalkan cekungan kecil. Nafasnya terputus-putus, dadanya naik turun tak beraturan. Dari pori-pori kulitnya, cahaya emas menyembur seperti kabut panas.“ARRRGGGH—!”Rasa sakit itu melampaui batas Ranah Pemurnian Tubuh.Bukan lagi sekadar otot yang diremukkan, bukan tulang yang ditempa. Ini rasa sakit saat fondasi lama dihancurkan untuk membangun sesuatu yang baru.Aylin setengah bangkit, wajahnya pucat namun matanya tajam.“Qing Jian!” serunya panik. “Qi-mu… tidak stabil! Hentikan sekarang juga!”Qing Jian menggertakkan gigi.“Tidak… bisa…” desisnya. “Energiku… terlalu banyak…”Di dalam tubuhnya, tiga energi yang sebelumnya diseimbangkan kini berbalik
Badai gurun mengamuk tanpa ampun.Pasir menghantam wajah Qing Jian seperti ribuan jarum panas. Angin bergemuruh di telinganya, menelan jejak langkah, menutup arah, seolah ingin menelan manusia yang berani menantang wilayah kematian ini. Jubahnya berkibar liar, berat oleh pasir dan darah, namun langkahnya tak melambat.Di dalam pelukannya, tubuh Aylin Qara semakin panas.Panas yang tidak wajar.Bukan demam biasa—melainkan tekanan qi beracun yang mengamuk dari dalam, memaksa darah spiritualnya mendidih, menggerogoti meridian satu per satu.“Bertahanlah…” gumam Qing Jian, napasnya terengah. “Sedikit lagi.”Akhirnya—di balik dinding pasir yang berputar—ia melihatnya.Sebuah mulut gua sempit, tersembunyi di antara batu hitam gurun, cukup dalam untuk mematahkan terjangan angin. Qing Jian menerobos masuk, tubuhnya langsung dihantam keheningan mendadak. Badai meraung di luar, tapi di dalam gua hanya ada suara napas berat dan detak jantung yang tak beraturan.Ia menurunkan Aylin perlahan.Begit
Angin di Aula Pengadilan Dalam mengamuk liar, meraung seperti makhluk hidup yang sedang disayat dari dalam. Setiap hembusannya membawa tekanan berat yang menekan dada, membuat napas terasa pendek. Formasi Angin Gobi-Pay berputar semakin cepat, lingkaran-lingkaran qi hijau pucat saling bertabrakan, memercikkan cahaya dingin yang menari di udara seperti serpihan kaca.Dinding-dinding angin itu bergesekan, menimbulkan suara desiran.Di belakang Qing Jian, tubuh Aylin Qara terbaring lemah. Lapisan qi pelindung yang membungkusnya bergetar tanpa henti, tipis dan rapuh seperti selaput es yang siap pecah kapan saja. Dari balik kulitnya, darah spiritual mengamuk, panas dan liar, mengalir tak beraturan seakan mencari jalan keluar dari tubuh yang sudah tak sanggup menahannya.Qing Jian berdiri di depannya—tegak, tenang, namun tajam seperti bilah yang belum ditarik sepenuhnya.Guo Xiang menghadangnya.Pedang Naga Langit terangkat di tangannya, memancarkan aura berat yang mengalir ke lantai batu. T







