Beranda / Fantasi / Legenda Pendekar Biru / Bab 43 Hantu Hitam

Share

Bab 43 Hantu Hitam

Penulis: Pujangga
last update Terakhir Diperbarui: 2025-07-30 19:54:38

Keberhasilan Lintang dalam menyembuhkan Yunla dengan menggunakan teknik perubahan energi tentu menjadi tanda tanya baru, baik bagi Balada mau pun bagi semua anggota Divisi Bayangan.

Saat Balada keluar dari ruangan peristirahatan Yunla, Linguy langsung mengajak pemuda itu berbincang di taman belakang Penginapan.

“Kau memiliki adik yang luar biasa Balada, aku tidak tahu entah dia titisan dewa atau memang dewa itu sendiri yang sedang menyamar menjadi adikmu. Tapi yang jelas, Kusha seperti bukan manusia,” ungkap Linguy mengemukakan pendapatnya.

“Kau jangan asal bicara Linguy. Kusha adalah adikku, adik yang jelas-jelas lahir dari ibuku. Hanya saja warna kulitnya memang berbeda dengan kita, itu karena penomena purnama biru 7 tahun lalu,” sergah Balada tegas.

Dia tidak terima Lintang dikatakan titisan dewa atau dewa yang menyamar di mana Balada sangat percaya bahwa Kusha benar-benar adiknya.

“Bukan maksudku ke arah sana Balada. tapi kecerdasan, pengetahuan, serta kedewasaannya jauh melebihi
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Legenda Pendekar Biru   Bab 212 Kematian Jejangkat

    “Ka-ka—kau ...,?” Patih Kora dan semua pasukan melebarkan mata.Wush! Slep!Raja Angkala juga muncul di sisi Lintang membuat mata patih Kora dan semua pasukannya semakin terbelalak lebar.“Hahaha, benar! Selama puluhan ribu tahun kita hidup sendiri tanpa memiliki tuan. Sekarang berlutut di hadapannya!” ungkap Raja Angkala tertawa.Mendengar itu, semua siluman buaya yang berada di dalam kubah energi pun serentak menjatuhkan kaki berlutut di hadapan Lintang.“Dialah yang akan menjadi tuan kita. Pembimbing sekaligus pelindung bangsa Bajul yang akan membawa kita menuju kehidupan yang lebih beradab,” tutur Raja Angkala.“Terima sembah hormat kami tuan, kami bersedia mengikuti setiap jalan yang anda kehendaki,” Patih Kora bersama semua pasukan serentak menyatakan sumpah.“Hihihi, bangunlah! Kuterima sumpah kalian,” ucap Lintang.Mendengar itu, semua siluman buaya pun segera bangkit mengikuti perintah Lintang.“Aku tahu apa yang sedang terjadi di dalam bangsa kalian. Untuk itu mari kita sele

  • Legenda Pendekar Biru   Bab 211 Duri dalam daging, pengkhianatan Jejangkat

    Mendengar hal tersebut, sebagian pasukan mulai kembali merasa ragu. Sementara sebagian lagi terlihat tidak peduli.“Hahahaha, bagus! Ternyata ada yang ingin mati di tanganku. Baiklah terima ini!”Jejangkat melontarkan bola energi berwana hitam pekat ke arah Patih Kora membuat sebagian pasukan yang tadi ragu langsung berlompatan berniat menghadang bola tersebut.“Hahahahaha, bodoh! Dasar para pengkhianat kerajaan, matilah kalian semua!” Jejangkat tertawa terbahak-bahak.Dia sangat yakin terhadap kekuatan serangannya. Berapa pun jumlah pasukan yang menghadang bola energi tersebut, mereka tetap akan binasa oleh ledakannya.Patih Kora yang menyaksikan itu terlihat pasrah dengan kematiannya. Dia sadar dirinya tidak akan mampu menghadapi kekuatan Jejangkat di mana buaya tua tersebut merupakan siluman puluhan ribu tahun yang sudah hampir mencapai tingkat kekuatan seorang resi.Bahkan kekuatan Raja Angkala sendiri pun berada jauh di bawahnya. Namun selama ini, Jejangkat selalu berpura-pura le

  • Legenda Pendekar Biru   Bab 210 Teman Baru

    Saat Lintang keluar dari Pranayama, ternyata dia tidak sendiri, melainkan bersama dengan Raja Angkala yang tengah terluka parah.Mahluk itu, Lintang ampuni atas beberapa pertimbangan yang berdasar dari pengakuan Raja Angkala sendiri.Sehingga ketika Raja Angkala hampir tewas, Lintang segera membawanya keluar.“Terimakasih,” ucap Lintang setelah berhasil dipulihkan oleh energi regenerasi Raja Angkala.“Hahaha, tidak perlu sungkan. Aku yang seharusnya berterimakasih karena berkat pengampunan dan ramuan terakhir milikmu, tubuhku bisa pulih dengan sempurna,” ungkap Raja Angkala dengan masih dipenuhi keterkejutan.“Hihihi, jangan dipikirkan,” Lintang terkekeh.“A-a—apa yang sebenarnya terjadi Kusha?” putri Widuri mulai mendapat keberanian.“Me-mengapa dia ma-masih hidup?” tanya putri Widuri bingung.“Sudahlah! Widuri, masalah ini sudah berlalu. Aku akan menjelaskannya nanti, karena sekarang kita akan membereskan siluman berengsek yang hampir membuatmu celaka,” jawab Lintang.“Ta-ta—tapi bu

  • Legenda Pendekar Biru   Bab 209 Pertarungan di sarang Buaya bagian 7

    “Bangsat! Kau licik manusia. Mati kau sekarang!” Raja Angkala begitu sangat geram.Dia kembali menebaskan pedang berniat membawa Lintang mati bersamanyya.Namun tidak semudah itu di mana tanpa putri Widuri, Lintang kini bisa bergerak leluasa.Wush! Trang!Pedang putih dan seruling surga kembali saling berbenturan, BUM! Sebuah ledakan besar mementalkan tubuh keduanya.Tetapi baik Lintang mau pun Raja Angkala, mereka sama-sama kembali maju saling menyerang.Pertarungan berlangsung sengit tanpa ada seorang pun yang mengetahuinya.Puluhan sampai ratusan jurus mereka saling keluarkan dengan niat membunuh yang begitu besar.Namun baik Lintang mau pun Raja Angkala mereka sama-sama bisa bertahan.Sampai 5 menit kemudian, tubuh Raja Angkala mulai mengalami kejang tidak bisa bernapas.Dia jatuh berlutut di atas lantai sembari memegangi dadanya yang terasa sesak.Sedangkan Lintang masih berdiri memegangi serunglingnya sembari menyeringai lebar.Sekuat apa pun mahluk, mereka tetap akan mengalami

  • Legenda Pendekar Biru   Bab 208 Pertarungan di sarang Buaya Bagian 6

    “Hahaha, itulah yang kumaksud! Aku terkesan,” raja Angkala tertawa terbahak bahak.Setelah itu, pertarungan sengit pun dimulai. Lintang dan Raja Angkala melesat secara bersamaan.Wush! Trang! Trang! Trang! Bum! Trang! Wush!Keduanya berlesatan bagai dua sinar yang saling beradu, membuat semua mahluk di sana tidak dapat melihat entah seperti apa bentuk serangan mereka.Patih Kora, para panglima, dan semua pasukan buaya hanya mampu menyaksikan dampak dari pertemuan serangannya saja. Sedangkan wujud Lintang dan Raja Angkala serupa sirna tidak terlihat. Goa besar tempat rumah-rumah dan istana kerajaan siluman Bajul terus beguncang tak tertahankan.Batuan runcing stalaktit di atas langit-langit mulai berjatuhan, menghancurkan apa pun yang ada di bawahnya.Sementara istana candi yang begitu besar terus mengalami keretakan, bahkan sampai berkembang menjadi sebuah rekahan.Wush! Trang! Trang! BUMMM!Lintang dan Raja Angkala sama-sama terpundur jauh ke belakang. Begitu juga dengan putri Widur

  • Legenda Pendekar Biru   Bab 207 Pertarungan di sarang buaya bagian 5

    Siluman Buaya tua sempat terperangah menyaksikan Lintang memiliki energi regenerasi. Dia tidak pernah mendengar ada manusia yang mampu melakukan itu sehingga membuatnya semakin curiga terhadap sosok Lintang.Sementara Raja Angkala menyeringai tipis menyembunyikan rasa senangnya.Selama ribuan tahun bersembunyi di dasar muara, baru kali ini dia mendapatkan lawan yang cukup seimbang.Sudah lama raja Angkala sangat penasaran terhadap dunia luar, dia ingin mencari pendekar hebat yang mampu menghadapinya.Namun sebagai seorang raja, dirinya selalu saja dihalang-halangi oleh siluman buaya tua yang tiada lain adalah adik dari ayahnya.Sekarang secara tidak sengaja, Raja Angkala berhasil menemukan apa yang selama ini didambakannya. Yaitu pertarungan sengit dengan pendekar dari golongan manusia.Raja Angkala tidak menyangka, pendekar muda yang dia temui di hulu sungai saat menculik putri Widuri tersebut ternyata memiliki kesaktian yang luar biasa.Saat ini dia benar-benar sedang sangat senang.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status