登入Cikarang, 2004. tingkat pertambahan pengidap Sindrom Ludens begitu tinggi, sindrom yang dianekdotkan sebagai sumber kesialan dan akan menghidapi nasib buruk di sekitarnya. Jimi Bandri, 15 Tahun, menantang arus dengan tetap memperlihatkan ciri khas pengidap sindrom laknat itu. Karakteristik itu adalah Heterochromia, dengan salah satu bola matanya berwarna kuning cerah, secerah matahari pagi. Seiring kesembronoannya, kehidupan remaja ia lalui dengan sulit dan penuh perjuangan. Meski ia tidak ungkapkan, rasa penasaran menghinggapi hatinya. Bersama temannya Afif, mereka justru terjerumus dalam organisasi rahasia yang memiliki memusnahkan monster bernama Terak. Jimi mengetahui info lain jika, orang tua meninggal bukan murni kecelakaan melainkan serangan Terak. Kini ia bertekad mencari monster tersebut dan menghentikan serangan-serangan Terak tersebut. Apa kamu siap ikut bersama Jimi berpetualang dalam AGORA BEAK, organisasi pemusnah Terak?
查看更多"You're drunk," I said, shaking my head when I greeted Enver as soon as he entered our home. “Again.”
This was not the first time that he went home drunk, so even though I didn’t like it, I didn't say anything and just let him in.
I helped him get inside our room because he couldn't stand up on his own anymore and when I laid him down, I started to remove his shoes and socks one by one.
I went down to the kitchen for a while, got a small plantain with only warm water, and then returned to the room.
I placed it on the side table as I began to take off all of Enver's clothes.
"En, stop resisting," I said annoyed because he was still fighting with me for his clothes. "I'll just wipe you."
"I can manage," he said. But he doesn't stand up so I'm still struggling to remove his clothes.
And I let out a deep breath when I completely undressed him after he kept resisting.
Well, I am used to it because for almost six months we have been doing this every night he comes home drunk.
I sat on the edge of the bed and started wiping his face down his body.
"You already told me that you will stop drinking too much alcohol," I said softly. "You just recovered from the illness last time and here you are again."
He didn't answer so I just sighed and continued to wipe him.
Enver and I were once schoolmates when we were in college. We don't have the same course, but we often meet in the library where we review when there is an examination.
We always shared a table and often talked about a certain topic in the books that we were reading back then.
That's where our friendship started. And as often happens to a woman and a man who are always together, we both fell for each other.
He courted me and I said yes to him within just a month.
Well, I have this belief that a relationship doesn’t define how long a man courts a woman. And I think I would just waste our time if I made him wait long just to make our relationship official.
Besides, he could still court me even though we are already in a relationship.
And he did.
He showed me how much he loves and cares for me. Not a day goes by that he doesn't tell me how much he loves me. And that hasn't gone away even after a few years.
He was three years older than me, so he finished his studies earlier than me. But that doesn't change anything in our relationship even though we started to rarely see each other because we are not in the same school anymore.
Until he asked me to marry him right after I graduated from college when I was 20 years old. And I didn't think twice and accepted him because I knew that he would take care of me for the rest of our lives.
And I am willing to do the same for him.
But since he was still busy with his work, we rarely saw each other even when we got married.
I lived in the house that he provided for us. While he mostly stayed at the hotel where his work called him.
And I understand that because he was just starting to manage their family business. He needs to be on-site all the time to make sure everything goes well, as part of his training.
Besides, he never neglected his duty to me. He always makes enough time for me.
He calls as soon as he wakes up and we talk while having breakfast together. It was the same at noon, happy lunch break, and even at our dinner. And before going to sleep.
I see all his efforts and appreciate all of it, so who am I to want more when he gives me the attention I need as his wife?
And when he was finally able to study everything about their company, two years after our marriage he finally came home to me.
It was the happiest day of my life because I could finally share the same roof with my husband.
That was the moment we realized how much we love each other. And how we take care of each other even though we both have jobs.
We never lacked and went above and beyond in taking care of each other as the day went by.
But…
I sighed again as I kissed him after I wiped his whole body. I also put aside the basin with only water in the bathroom and stared at Enver who was now fast asleep.
Six months have passed since he began drinking every night.
At first, I thought it was normal because he hadn't been with his friends for a long time. That's why I didn't overthink it and just let him do what he wanted.
But with each passing day, his attitude also began to change.
He is always mad and irritated even though I just call him on his cellphone. And he doesn't let me know every time he leaves to go to work, or he and his friends go out.
And when I asked him about his changes, he always said that I was just thinking too much.
He insisted that maybe I was just overthinking things. That I should just relax because it will only put stress on me.
But I know something is going on.
And I can't even do anything to find what might be the reason behind all of these changes in him.
I just shook my head and lay down next to him.
I can't do anything with this thought so it is better to just rest because I still have work tomorrow.
I had just closed my eyes when Enver suddenly faced me followed by his tight hug.
And because of his hug, everything I had been thinking about earlier gradually started slipping into my mind.
So, I just hugged him atoo.
But just a few moments later, he started kissing my neck while his hand wandered to different parts of my body.
I thought he was already sleeping.
[Lapangan Belakang Sekolah]Benso sebenarnya berada di posisi sadar dan tidak sadar, karena bagaimanapun akhir pertarungannya dengan Sriti tidak begitu baik. Namun saat ia bangun kesekian kali dengan menggunakan seluruh kekuatannya, ia melihat situasi yang pelik. Di dekatnya berdiri Glori yang dengan cekatan menggunakan jemarinya mengontrol robot besar dengan remot pengendali."Siapa perempuan ini? Dia lagi bertarung? .. itu Tulus dan Arin.. yang terluka parah?" Kesadarannya semakin pulih. Ia juga menyadari Sriti yang terbaring diam di balik balutan shimurgh miliknya."Jangan mati, jangan mati, jangan mati," ucap Benso berkali-kali saat ia membuka balutan shimurgh tersebut. Sriti mengalami luka bakar dan kulitnya melepuh.Benso kemudian mendekatkan telinya ke hidung dan mulut Sriti, berharap menemukan tanda-tanda kehidupan. Angin yang berhembus dan turunnya hujan hitam sempat menyulitkannya menemukan tanda tersebut. Hingga akhirnya ia per
Ujang menjerit sejadinya saat sebuah tombak trisula menembus pahanya. Awalnya ia kaget melihat benda bulat raksasa yang dapat dihentikan dengan mudah oleh penjaga sekolah yang mendadak sebagian tubuhnya berubah menjadi robot. Namun ia tidak menyangka jika salah satu temannya malah melesatkan tombak trisula kearahnya. Pegangan tangannya di rambut Indri yang sedang ia jambak lantas mengendur."Upgrade!" ucap indri seraya menggenggam trisula tersebut.Batang besi trisula tersebut berubah warna menjadi keputihan, namun yang mencolok adalah bobotnya yang menjadi lebih berat. Seketika membuat Ujang terjatuh karena tidak kuat menahan sakit dan beban trisula. Mendapati dirinya terbebas dari Ujang, Indri mengusap hidupnya yang sedari tadi mengeluarkan darah karena dihajar Ujang."Bocah brengsek! Lo apain besinya sampai menjadi berat banget! Bangsat!" Umpat Ujang yang masih saja menyerang Indri.Mendengar celotehan itu, Indri bergeming dan menikmati jeritan Ujang.
[Lapangan depan El-Dorado]Listu sudah berdiri berhadapan dengan terak besar yang terus menyebut dirinya sebagai Moret. Terak berbentuk terenggiling berdiri tersebut cukup banyak bicara namun ia belum juga menyerang Listu, kecuali berdiri mengamankan sesuatu. Sembari mengulur waktu, Listu membaca situasi dan lingkungannya."Sebelum menggunakan shrapnel, gue memang merasa mampu menggunakan kekuatan turunan tanpa shrapnel. Tapi setelah gue pakai, kondisi tubuh gue lebih stabil, telinga gue terlalu pengang.." gumam Listu. Perlahan namun pasti, rasa sakit ditubuhnya menghilang seiring dengan regenerasi."Buff!"Listu berteriak dan mengubah penampilan yang dikelilingi dengan lingkaran, mantra dan cahaya. Moret terkesima dan segera menutup matanya karena awalnya silau melihat perubahan tersebut. Listu menggenggam sebuah tongkat yang ia gunakan sebagai senjatanya, seluruh buff support diarahkan kepada dirinya. konsentrasi daya yang besar pada sa
[Bangsal Perawatan] "Yunita, hei yunita. Bangun," panggil suara seorang laki-laki ke arah Yunita yang masih terbaring di ranjang lengkap tertutup selimut. Suaranya yang awalnya samar tersebut perlahan terdengar jelas. Kepalanya pengar, matanya begitu berat untuk dibuka, namun Yunita terus berusaha. Pandangannya akhirnya mulai terlihat, ia mendapati Teja dan Herman berdiri di samping ranjang. Sekilas ia melihat Teja yang wajahnya dipenuhi plester dan beberapa bagian tubuhnya dibalut perban. "Gue baru tau, anggota Fraksi bisa bermalas-malasan di atas ranjang," seloroh Teja. ".. Diam, sudah lama gue tidur?" tanya Yunita perlahan, ia berkali-kali mengedipkan mata untuk mengatur cahaya yang masuk ke matanya. "Lumayan mba, kami memindahkan ranjangmu dari ruangan sebelumnya karena si anak baru masih memiliki radiasi," ujar Herman yang masih memegang kruk di lengan sebelahnya. "Jimi? oh.. apa dampaknya?" "Pemulihan lo
Pembicaraan empat orang tersebut kini menjadi lebih intens. Jimi menduga Afif ingin mundur selangkah agar mengetahui tujuan dari pembagian pilihan yang terlalu dini dilakukan. Namun, dalam kepala Afif muncul pikiran yang lain. Ia Harus mampu mengeluarkan informasi terbaik yang dapat digunakan mer
Oktober 2004, Presiden ke-enam Republik Indonesia dilantik, diawali dengan pelantikan anggota DPR dan diakhiri dengan Pelantikan kabinet Republik Indonesia Bersatu. Tersirat harapan dari Presiden baru tersebut karena beberapa minggu sebelumnya, pejuang HAM, Munir tewas di dalam pesawat. Penerbang
Pertanyaan macam apa itu? jawabannya sudah jelas kan, kegiatan kalian asik, pukul-pukulan dengan monster. Lagipula kalian menggali sesuatu dari tanah, jelas ada yang kalian kumpulkan. Hal misterius itu akan menarik siapa saja untuk bergabung, bukan? Afif menggerutu dalam kepalanya, ini juga yang
"Astaga! masa ada hantu di belakang kita! Bangsat betul!" Afif mencaci dalam hatinya, namun ia tidak bisa langsung membalikkan badan kebelakang.Perlahan ia melihat ke arah Jimi yang sudah melihat dirinya namun bukan dengan pandangan takut melainkan penasaran. Tangan Jimi sudah dikepalkan
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
評論