FAZER LOGIN“Sejak pulang dari perang, Gusti Ratu tidak pernah lagi berbicara. Dia seperti mayat hidup yang kadang berjalan kesana kemari sembari menangis. Kami tidak tahu lagi entah bagaimana cara memulihkannya,” ungkap panglima pasukan bernama Hianita kepada Lintang.Mutiara Sendayu yang mendengar itu sontak turut merasa sedih karena dia juga sempat merasakan hal yang sama.Akan tetapi dia tidak mampu berbuat apa-apa selain menyerahkan segalanya kepada Lintang.Sedangkan Limo hanya terdiam, menatap kosong ke arah Lintang, berharap Lintang segera memberi tahu prihal nasib Arga yang sesungguhnya kepada mereka.Namun sayang, Lintang tidak menggubrisnya. Dia menggeleng ke arah Limo karena jangankan kepada para bidadari dimana Mutiara Sendayu sendiri belum mengetahui kenyataan itu.Lintang memiliki alasan yang kuat untuk tidak menyampaikan kabar tersebut kepada keluarga Arga, salah satunya tidak ingin memberi harapan palsu, khawatir dia tidak mampu menyelamatkan Arga.Lintang takut keluarga Arga aka
Di suatu daratan indah, di tepi sebuah danau teratai yang di sekelilingnya ditumbuhi pohon belimbing merah yang tidak pernah berhenti berbuah. Seorang gadis berparas sangat cantik sedang termangu, menatap kosong entah sedang memikirkan apa.Gadis itu memiliki mata yang indah berwarna biru cerah, kulit mulus seputih susu, serta rambut lurus sedikit bergelombang berwarna hitam menawan.Bibir mungilnya nampak merona menggumamkan sebuah nama. Nama yang membuat pipi anggunnya akan memerah kala mengingatnya.Entah sudah berapa lama sang gadis berada di sana, yang jelas dia seperti enggan pulang seakan apa yang tengah dirinduinya sedang tidak ada di tempat yang seharusnya.Mata biru itu sesekali berkedip, menyeka bayangan wajah yang terus menghalangi pandangannya.Namun sebanyak apa pun dia melakukan itu, bayangan yang dirindu tetap tidak mau menghilang.“Haaaaaaah,” sang gadis cantik membuang napas panjang.Dia kemudian menghela sedikit berat untuk kembali tenggelam ke dalam lamunan.Akan t
“Mati bagi kami tidak masalah kesatria Agung. Kami tidak bisa membiarkan sahabat Arga terlalu lama menderita,” ujar Naraca tidak peduli.“Aku mengerti kekhawatiran kalian. Kalian memang sahabat sejati. Namun apa gunanya berkorban nyawa jika pada akhirnya tubuh adikku tetap berada di tangan musuh,” tegas Lintang.“Kalian hanya akan mati sia-sia,” sambung Lintang membuat Naraca dan Kalakumba langsung terdiam.Tetapi tidak lama dari itu, Kalakumba kembali bertanya, “ja-jadi apa rencana anda, kesatria Agung?”“Kerjakan apa yang kita bisa lakukan sekarang. Masih terlalu banyak hal yang harus kita benahi agar pengorbanan adikku tidak sia-sia. Salah satunya adalah membuat keluarga yang dia tinggalkan bahagia. Selebihnya membantu mengatur dan mengawasi peradaban agar tidak terjadi lagi peperangan,” jawab Lintang.“Terkait nasib adikku, biar aku yang selesaikan. Namun aku tidak bisa mencarinya sekarang,” sambung Lintang.“A-apa kami bisa ikut denganmu, kesatria Agung. Kami tahu kemampuan kami
“Ayahmu benar nak, tidak baik terus menunda janji. Terlebih keluarga calon mempelai sudah menunggu terlalu lama di rumah kita,” tutur Prabu Dewangga.“Ja-jadi kapan waktu yang baik menurut kakek?” Lintang tidak berdaya.“Sesuai wetonmu pada kelahiran baru,” jawab Prabu Dewangga.“Purnama depan?”Lintang melebarkan mata karena purnama sempurna hanya tinggal beberapa hari lagi, mungkin tidak lebih dari 40 hari dari sekarang.“Benar,” angguk Prabu Dewangga.“Ba-bagaimana dengan ibunda, apa ibu setuju?” Lintang menoleh ke arah Ratu Gayatri.“Ibu ikut apa kata ayahmu, nak,” jawab Ratu Gayatri membuat Lintang semakin tidak berdaya.“Jika itu yang terbaik menurut kalian, maka apa boleh buat,” Lintang menarik napas panjang.Meski terdapat banyak yang harus dipertimbangkan, tetapi Lintang tidak bisa membantah ibundanya.Dengan begitu, Lintang harus segera pergi ke alam Bungusan menemui Mutiara Sendayu, selanjutnya ke nagari awang-awang istana Larasati sebelum kemudian berangkat bersama-sama ke
Perang adalah jalan akhir bagi seorang pejuang dalam mewujudkan ikrar mutlak demi kepentingan halayak banyak.Jalan terjal penuh duri yang selalu menuntut pengorbanan bagi siapa pun yang berani menempuhnya.Seperti kata pepatah, “tidak ada kekerasan yang akan berakhir baik, menang kalah tetap menanggung rugi. Pemenang akan jadi arang, sedangkan yang kalah akan menjadi abu.”Dan hal itu-lah yang kini Lintang alami.Banyak prajurit, kerabat, serta rekan yang gugur dalam perang.Bahkan adik yang paling dia sayangi pun berakhir dalam kematian.Sebuah bayaran pahit yang harus Lintang tanggung, yang membuat hidupnya akan selalu diliputi rasa bersalah.Namun hal itu cukup sepadan karena berkat pengorbanan mereka yang gugur, Lintang akhirnya menuai kemenangan.Semesta tidak jadi hancur, kehidupan dapat terselamatkan.Begitu pula dengan keluarga besarnya. Mereka kini bisa kembali menjalani hari sebagaimana mestinya.Meski harus kehilangan kanuragan akibat luka yang ditorehkan oleh Nawadurja, L
“Ilusi kebalikan. Bukankah ini mirip kemampuan pedang Kak Arga? Ta-tapi ini jauh lebih sulit dan lebih mematikan. Dasar tongkat bedebah!” Nayaka mulai mengerti saat mendapati permukaan tongkat semesta kembali utuh setelah semua luka yang dia dapatkan pindah ke tubuh Nayaka.Ini mirip dengan teknik cermin abadi pada pedang kebalikan. Apa pun yang kita lakukan terhadap si pemilik pedang akan berbalik kepada diri kita sendiri.Hanya bedanya, jurus dari tongkat semesta ini terjadi di dalam dunia ilusi sehingga Nayaka menemukan jalan buntu untuk mematahkannya.“Ingin mempermainkanku, cih! Tidak akan kubiarkan!” Nayaka mengibaskan tangan, membuka kembali kurungan sutra kegelapan yang melindungi dirinya.Setelah itu Nayaka melesat tinggi ke atas, mengayunkan pedang berniat menebas tongkat raksasa.Namun meski hanya sebatas tongkat, benda besar tersebut juga tidak tinggal diam.Mendapati dirinya akan ditebas oleh kekuatan tingkat tinggi, tongkat semesta pun segera bergerak melakukan perlawana







