LOGIN“Aku tidak memiliki banyak waktu ayah, aku harus segera menaklukkan Nawadurja agar semesta kita dapat terselamatkan. Namun sebelum itu, aku akan memulihkan inti energi kalian supaya ayah dan yang lain bisa menjauh dari sini,” ungkap Lintang.Mendengar itu, Galuh tidak dapat berkata-kata karena sedari awal, keberadaan mereka di sana hanya menjadi beban bagi Lintang.“Baiklah! Ini akan sedikit lebih sakit, jadi aku minta kalian menahannya,” Lintang mulai membentuk segel tangan, mengedarkan cahaya regenerasi tingkat gama, membuat Galuh, Asgar, pangeran Arundia, dan semua orang berteriak kesakitan.Termasuk Limo dan Samhu yang kala itu masih sekarat akibat luka yang dideritanya.Namun berkat cahaya regenerasi dari kekuatan Gama milik Lintang, semua luka yang mereka alami mulai mengalami kesembuhan.Dimulai dari Galuh yang kembali mampu mengendalikan energinya, kemudian Asgar, Putri Shalya, pangeran Arundia, Mayang, Anjeli, Jinggo, Raja Mulu, Kala Pati, Dewi Rembulan, Garu, Raja Kancradaka
Jagat, Galuh, Pangeran Arundia, putri Shalya, Asgar, Garu, Anjeli, Jinggo dan yang lain amat terkejut tatkala mendapati hawa kehidupan Lintang menghilang.Mereka mengira Lintang telah mati sehingga berlutut lemas tidak lagi memiliki harapan.Putri Shalya menangis sejadi-jadinya, begitu pula dengan Anjeli dan Mayang.Sedangkan Jinggo, pangeran Arundia, Garu, Raja Mulu, Raja Kancradaka, Asgar dan Galuh tertunduk tidak berdaya.Pandangan mereka gelap tidak tahu entah harus berbuat apa.Namun semua orang sepakat, jika suatu saat Lintang mati, maka mereka juga akan ikut mati sehingga semua segera bersiap untuk melakukan serangan terakhir terhadap Nawadurja.Bahkan Kala Pati bersama Dewi Rembulan juga turut bergabung karena tidak memiliki pilihan lain.Sementara Dewa Kegelapan tertawa terbahak-bahak.Mendapati rombongan Galuh hendak bunuh diri, Dewa Kegelapan dengan cepat mundur menghindar.Dia tidak mau terlibat pada pilihan bodoh keluarga Lintang, dimana sejak awal, tujuannya memang bukan
“Alam baka merupakan alam tempatnya orang mati, di sana setiap ruh akan berkumpul menunggu hari pembalasan dari setiap apa yang mereka lakukan. Namun alam baka tidak sesederhana seperti apa yang kita bayangkan karena tidak jarang pula ada makhluk yang langsung mendapat balasan di sana,” sambung Maha Dewa Su-ra.“Dalam masa penantian, makhluk baik akan mendapatkan kedamaian, tetapi mahluk buruk akan mendapatkan siksaan,” ucap Maha Dewa Su-ra.“Sedangkan alam lain seperti surga dan alam penyiksaan, itu akan terbuka ketika tidak ada lagi mahluk yang hidup di alam fana. Aku sendiri tidak tahu entah kapan waktunya, namun yang pasti, semua sudah menjadi ketentuan takdir,” ungkap Maha Dewa Su-ra.“Bagaimana, apa kau mengerti anak muda?” Maha Dewa Su-ra menyipitkan mata ke arah Lintang.“Tidak Hyang Maha Dewa,” Lintang lagi-lagi kembali menggeleng membuat Maha Dewa Su-ra menepuk jidatnya sendiri.“Bukan tentang alam kematian yang tidak aku mengerti, Hyang Maha Dewa. Tetapi tentang keabadian y
Dengan mengandalkan tekad dan kecerdasan serta tubuh surgawi, kesadaran Lintang akhirnya berhasil masuk ke titik terdalam materi dari energi kekuatan penciptaan.Ternyata, setiap unsur memiliki tiga komponen penyusun, dan setiap penyusun juga memiliki 3 komponen inti.Inti penyusun itulah yang dimaksud Jagat sebagai akar, sedangkan ibu dari akar merupakan sesuatu yang harus Lintang cari.Sebuah ketiadaan yang akan menjadi cikal bakal energi yang tentu tidak akan mudah Lintang temukan.Dan ruang inti materi nyatanya merupakan alam kosong yang penuh akan bintang-bintang.Kesadaran Lintang menyelam jauh menyusuri ruang itu, mencari setitik harapan agar dia bisa memahami kekuatan asing dari Jagat Bhurvaloka.Semakin jauh Lintang menyelam, maka semakin gelap pula ruang inti materi, bahkan bintang-bintang yang merupakan jelmaan dari energi kini sudah tidak terlihat lagi pertanda Lintang telah mencapai bagian terdalam dari ketiadaan.Selain bayangan dari berbagai macam benda dari alam kehidu
Mungkin selain Arga, kini hanya Lintang seoranglah dari golongan manusia yang mengetahui tentang Jagat Loka.Karena selain mereka, tidak ada lagi yang mampu mencapai rahasia itu.Bahkan para mahluk suci sekali pun tidak memiliki akses menuju kesana, membuktikan bahwa jalan takdir milik Lintang memang telah melampaui para mahluk-mahluk terdahulu.Namun hal itu tidak membuat Lintang lantas merasa senang karena semakin dia mengetahui banyak rahasia, maka semakin sulit pula jalan yang harus ditempuhnya.Bahkan rahasia tersebut bisa saja akan membahayakan keluarganya, sehingga Lintang menjadi tidak tenang.Terlalu banyak kecemasan di dalam kepala Lintang, tetapi untuk saat ini, kecemasan tersebut harus disisihkan karena masih terdapat musuh yang perlu Lintang musnahkan.Setelah dirasa seluruh energinya telah kembali, Lintang akhirnya melesat maju ke dalam pertempuran.Dia mencoba menyerang Nawadurja dengan kekuatan terbaiknya, namun serangan itu ternyata tidak berdampak apa-apa sehingga Li
Pertarungan Ruh Swarnakesa bersama Nawadurja sudah berlangsung lama, begitu pula dengan Lintang dan bola-bola api.Namun satu pun dari mereka belum kunjung terlihat entah siapa yang akan menang.Jika dianalisa dari segi kekuatan, Nawadurja memang jauh lebih unggul.Tetapi ruh Swarnakesa bukanlah mahluk sembarangan, dia sudah hidup jauh sebelum Nawadurja ada sehingga pengalamannya dalam bertarung begitu merepotkan.Sedangkan Lintang, ayah dari pangeran Arundia tersebut terlihat imbang.Namun tanpa Nawadurja sadari, saat ini kekuatan seluruh bola api miliknya mulai mengalami kemunduran.Bukan karena energi karena setiap bola api milik Nawadurja memiliki energi yang tidak terbatas.Melainkan semakin lama, Lintang semakin mengerti harus bagaimana menghadapinya.Jika Ruh Swarnakesa mengandalkan pengalaman untuk bertahan, maka Lintang mengandalkan kecerdasannya.Lintang terkenal sangat tenang dalam bertarung, dan hal itulah yang membuat dia berhasil menemukan celah kelemahan lawan.Mempelaj