LOGINPerasaan Mendalam
Sterling bangun dengan susah payah dari tempat tidurnya. Kepalanya terasa seperti dihantam palu bertubi-tubi, sementara tenggorokannya kering dan pahit akibat mabuk semalam. Dengan langkah goyah ia masuk ke kamar mandi, membiarkan air dingin mengguyur tubuhnya cukup lama. Sedikit demi sedikit, kesadarannya kembali jernih. Setelah selesai, ia mengusap wajahnya dengan handuk lalu melirik jam di dinding. Hari sudahYang Paling Ditakuti Manusia Adalah Jatuh Cinta (Part 2) Begitu keluar dari aula sidang, semua orang langsung merasakan suasana berbeda. Ibu kota yang biasanya damai kini dipenuhi aura membunuh. Pasukan Tentara Pusat bersenjata lengkap bergerak di jalan-jalan utama. Bendera mereka berkibar di mana-mana. Derap kaki kuda dan suara armor bergesekan terdengar tanpa henti. Polisi berkuda dari Kementerian Kehakiman berteriak keras di sepanjang jalan: “Atas perintah Kantor Panglima!” “Malam ini ibu kota memasuki jam malam dan darurat militer!” “Siapa pun yang keluar rumah setelah jam delapan malam akan dibunuh tanpa pengecualian!” Kerumunan warga langsung panik. Orang-orang berlarian ke segala arah. Toko-toko buru-buru ditutup. Suasana kota berubah kacau hanya dalam hitungan menit. D
Yang Paling Ditakuti Manusia Adalah Jatuh Cinta (Part 1) Pada saat seperti ini, sikap Xiao Long, Kepala Inspektorat, menjadi hal yang paling menentukan. Bukan karena kedudukannya tinggi — meskipun ia adalah salah satu dari tujuh pemimpin keluarga, dan posisinya berada di atas enam pemimpin lainnya. Bukan juga karena kekuasaannya besar — karena Inspektorat berdiri independen, tidak berada di bawah Kantor Panglima ataupun Yang Minghua. Bukan pula semata-mata karena ia terkenal adil, tegas menjalankan hukum, dan dihormati seluruh keluarga. Tetapi karena ribuan polisi militer yang mengendalikan arena rapat berada sepenuhnya di bawah komandonya. Ke pihak mana Xiao Long berpihak, pasukan elit polisi militer itu akan mengikuti. Dan bila bentrokan pecah, sehebat apa pun seseorang, mustahil melawan ribuan pasukan bersenjata lengkap hanya dengan tangan kosong. Terlebih lagi,
Percakapan Pertama – PART 3 “Baiklah, rapat kita lanjutkan.” Suara Yang Minghua terdengar tenang, seolah pembunuhan barusan hanyalah gangguan kecil yang tidak layak dipermasalahkan. Tak seorang pun berani bersuara. Tatapan puas melintas di wajah Yang Minghua. Di matanya, para perwira di bawah sana tak ubahnya sekumpulan orang pengecut yang hanya mengerti bahasa kekerasan. Memang benar. Begitu darah ditumpahkan, seluruh aula langsung tenggelam dalam ketakutan. “Selanjutnya—” “Aku mengajukan tuntutan!” Suara seorang wanita memotong ucapannya. Jernih. Tegas. Dan menggema ke seluruh aula yang sunyi. Semua kepala menoleh bersamaan. Shirakawa berdiri perlahan dari kursinya. Wajah gadis itu sedikit pucat, tetapi sorot matanya tetap lurus tanpa goyah sedikit pun. “Aku m
Percakapan Pertama Yang Minghua mulai membuka sidang. “Rekan-rekan sekalian, rapat pleno tahunan perwira keluarga tingkat panji ke atas resmi dimulai…” Nada suaranya tenang. Terlalu tenang. Seolah tidak ada apa pun yang terjadi. Seolah kursi Ketua Kepala Staf yang ia duduki sekarang memang sudah seharusnya menjadi miliknya sejak awal. “Yang Mulia Presiden, maaf… tapi sepertinya Anda duduk di tempat yang salah.” Suara itu terdengar muda dan agak gugup. Seluruh aula spontan menoleh. Seorang pemuda berdiri perlahan dari deretan kursi Black Flag Army. Wajahnya masih menyisakan kepolosan anak muda. Kedua tangannya bahkan tampak sedikit gemetar. Sterling dan Zi Chuan Xiu sama-sama terkejut. Itu putra Derek—Deco. Yang Minghua mengangkat alis tipis. “Oh?” Ia tersenyum samar. “Aku rasa wajahmu cukup asing
Pertemuan Pertama “Megah sekali…” Luo Jie menelan ludah sambil memandangi aula sidang utama Keluarga Zi Chuan dengan mata membelalak. Ini pertama kalinya ia menghadiri rapat resmi perwira tingkat Panji ke atas, dan pemandangan di depannya benar-benar membuatnya terpaku. Aula itu sangat luas hingga terasa menyesakkan. Karpet merah tua membentang tanpa ujung seperti lautan darah yang tenang. Dinding tinggi dipenuhi relief ukiran yang tampak hidup, menggambarkan sejarah panjang Keluarga Zi Chuan. Di atas sana, langit-langit menjulang begitu tinggi sampai orang enggan mendongak terlalu lama. Lampu kristal raksasa bergantungan seperti gugusan bintang, memancarkan cahaya keemasan yang membuat seluruh aula terlihat agung sekaligus dingin. Lebih dari seribu perwira tinggi memenuhi tempat itu, tetapi suasana masih terasa lapang. Bai Chuan yang duduk di sebelah Sterling berbisik kagum, “Sebera
Si Bajingan Tak Tahu Malu “Komandan.” Kapten Kopra melangkah masuk lalu menyerahkan sepucuk surat kepada Di Lin. “Baru saja ditemukan di kotak surat.” Di Lin menerima surat itu dengan tenang. Tatapannya yang dingin menyapu isi kertas tipis tersebut. Di sana hanya tertulis satu kalimat aneh: “Yuanming secara terbuka mengumumkan pertemuan agung Kaisar Yang dan Permaisuri Yang di bawah langit cerah.” Alis Di Lin sedikit berkerut. Sesaat kemudian, ia mengangguk pelan seolah memahami sesuatu. Kopra yang berdiri di samping segera memberi hormat lalu mundur keluar dengan bijaksana tanpa bertanya apa pun. “Apa itu?” Suara lembut terdengar dari belakang. Lin Xiujia berjalan mendekat sambil membawa secangkir teh hangat. Wajah cantiknya dipenuhi







