INICIAR SESIÓNJauh di bagian lain alam dewa, seekor anak ayam bersama sesosok pemuda berwajah datar tengah berdebat panjang karena jatuh di tempat yang salah.Hal itu diakibatkan oleh bocah kecil yang membawa mereka menggunakan teknik perpindahan dimensi yang belum sempurna.“Dasar bodoh! Tidak berguna! Payah! Mengapa memegangi bocah kecil saja kau tidak bisa, sialan, jelek!” umpat si Cepot kesal.“Mengapa tuan Batara menyalahkanku, bukankah tuan tahu sendiri bahwa di batas ruang dan waktu kita terombang-ambing badai semesta,” teriak Madu Lanang membela diri.“Tentu saja aku tahu tengik! Tapi waktu itu aku menyuruhmu memegangi tangannya. Mengapa malah kau lepaskan? Dasar tidak bisa diandalkan, kau yang salah,” maki Si Cepot.“Mana bisa aku mendengar, suara badai terlalu kencang. Kukira dia bersamamu tuan. Kau yang salah,” sergah Madu Lanang.“Dasar ngeyel, kau yang salah!” bentak si Cepot.“Aku? Tidak! Tidak! Dirimu tuan,” teriak Madu Lanang.Keduanya terus berdebat di tengah sebuah hutan jauh di b
Trang! Wushh! BUMMMMMM!Larik energi hitam melesat jauh ke ketinggian sebelum akhirnya meledak menggetarkan batas semesta.Batara Guru sang raja dari semua raja melebarkan mata tidak percaya, begitu juga dengan Kenaka.Bahkan semua pasukan dari kedua belah pihak menganga, menatap ketinggian dengan bibir bergetar tidak kuasa menahan keterkejutan.Bagaimana tidak, sebuah serangan maha kuat yang mampu membunuh raja dari segala dewa dibelokkan begitu saja oleh seorang gadis kecil berusia tidak lebih dari 8 tahun.Terlebih senjata yang gadis itu gunakan bukanlah senjata pusaka, melainkan hanya sebongkah pedang mainan tumpul yang tidak lebih dari besi biasa.Membuat Kenaka sang pemilik jurus hampir terbatuk darah menyaksikannya.Sementara si gadis kecil hanya menyeringai polos seakan serangan tersebut bukan apa-apa baginya.“Si-si—siapa dia?” gumam Kenaka terbata.“Mo-monster kecil,” Batara Guru juga ikut terbata.Tidak ada yang mengenali gadis itu selain Raden Buana, Mutiara Sendayu, Asgar
Wush! Sring! Trang! BUMMMMM!Benturan dua senjata tingkat tinggi menggema di udara, menciptakan ledakan maha dahsyat yang menggelegar menggetarkan daratan.Batara Guru bertarung menggunakan keris. Sebuah senjata sejenis pisau panjang dengan mata pisau berliku membentuk lekukan-lekukan indah seperti ular sedang menjalar.Keris Nurrasa Rama, pusaka turun-temurun warisan dari eyang Batara Guru yang tiada lain adalah Maha Batara Sang Hyang Nurrasa.Kenaka terpental sejauh ratusan meter, sementara Batara Guru masih berdiri tegak di tempatnya.Hal itu menandakan bahwa kekuatan Batara Guru jauh berada di atas Kenaka.Namun semua itu hanya untuk sementara karena Kenaka tidak mungkin berani berhadapan dengan Batara Guru jika tidak memiliki sesuatu yang mampu mengimbangi kekuatan musuh.Dan benar saja, sesaat setelah dirinya terpental. Kekuatan Kenaka tiba-tiba meningkat pesat membuat Batara Guru langsung menyipitkan mata sembari mengumpat kesal.“Sial! Energi Nurrasa Rama diserap oleh-nya,” Ba
Sedangkan para pasukan musuh langsung mematung penuh ketakutan, mereka kini paham mengapa Kenaka memintanya mundur.Siapa yang tidak tahu akan kesaktian Batara Guru, bahkan dia adalah salah satu tokoh yang paling di segani oleh Dewa Kegelapan.“Pa-pantas saja, ma-maafkan kami tuan,” semua panglima serentak berlutut di depan Kenaka yang kini masih menyeringai lebar menatap langit.Termasuk Burisrawa, dia merasa sangat berdosa kepada Kenaka karena telah berprasangka buruk bahkan berniat melenyapkannya.Burisrawa kini sadar, andai tadi terus maju. Maka tidak menutup kemungkinan, jutaan dari pasukannya juga akan ikut tewas di sana karena di pihak aliansi para dewa masih terdapat tokoh-tokoh sakti seperti Kelenting Sari, Putri Asmara, dan Larasati.Terlebih adanya sosok wanita cantik bermata perak. Sedari awal kehadirannya telah menjadi ancaman terbesar bagi prajuritnya.Tentu saja, wanita itu adalah Dewi Rembulan. kanuragan dan kesaktiannya sampai sekarang tidak bisa dibaca oleh Burisrawa
“Si-siapa yang datang itu?” gumam salah satu panglima kegelapan dengan bibir bergetar.Kemudian setelah dia, satu persatu para panglima lain juga mulai mengemukakan pertanyaan yang sama. Termasuk panglima Elit.Sementara panglima tinggi Burisrawa seketika mengepalkan tangan, merasa sangat geram karena tahu bahwa akan ada yang mengganggu peperangannya.Betapa tidak, saat ini pasukan maha besar yang dia pimpin sudah banyak berkurang. Hal itu tentu akibat kebodohan Kenaka yang terpancing oleh kelicikan Arga.Dari 60 juta pasukan, saat ini kemungkinan hanya tersisa sekitar 12 juta pasukan lagi membuat Burisrawa mulai merasa cemas khawatir misinya akan mengalami kegagalan.Terlebih dari balik portal dimensi muncul aura yang amat kuat, menandakan bahwa siapa pun yang datang pasti bukan makhluk sembarangan.Sementara Kenaka masih tampak tenang. Alih-alih cemas atau ketakutan, dia malah menyeringai lebar seperti sudah tahu bahwa alur perang akan seperti ini.Hal itu tentu membuat Burisrawa da
Namun tidak semudah itu, sebagai pemimpin tertinggi. Kenaka juga bukan makhluk biasa.Dengan sigap Kenaka menyilangkan pedang. Membuat dua senjata berkekuatan maha tinggi beradu tak terelakan.Trang!Percikan api hitam berhamburan mencapai ratusan meter, daratan berguncang, serta langit menderu menciptakan pusaran badai hitam yang sangat besar.Menyaksikan itu, semua pasukan yang tidak jauh dari sana segera berlesatan menghindar. Termasuk para panglima dewa Kegelapan.Mata mereka melebar dengan wajah memucat dipenuhi keringat dingin ketakutan.Tidak ada satu pun pasukan yang tidak menelan ludah oleh benturan kekuatan Arga.Mereka sepakat bahwa Arga dan Kenaka adalah monster perang paling berbahaya.**Selepas mengalami benturan pedang, setengah dari tubuh Kenaka tertanam ke dalam tanah.Tapi itu tidak bisa menghentikan gerakannya, dalam sekali kibasan tangan, tanah di bawah tubuhnya lenyap berhamburan.Kenaka kembali bangkit dengan wajah keheranan. Dia sangat terkejut mendapati tekana
Atmarani saat ini telah tiba di lantai satu pagoda dan langsung bergabung dengan kelompok Palwa.“Bagaimana?” tanya Indrayan khawatir.“Sudah selesai,” jawab Atmarani membuat semua peserta menarik napas lega.“Di mana tuan Lintang?” tanya Palwa.“Mengapa kau bertanya padaku? Aku tidak tahu, mungkin
“Si-siapa kau pak tua?” suara Atmarani bergetar karena kesedihan.Air mata berderai lirih membasahi wajah cantiknya yang kian memucat. Rasa sakit kehilangan Lintang sungguh membuat Atmarani tidak lagi semangat melanjutkan kehidupan.Dia memukul-mukul kubah energi menggunakan tangannya sampai tulang
“Mengapa? Me-mengapa selalu seperti ini? Me-mengapa setiap orang yang aku sukai selalu saja tewas? Mengapa dunia ini selalu tidak adil?” Atmarani meracau tidak karuan.Jiwa gadis itu benar-benar terpukul saat menyaksikan Lintang tersiksa. Dan ketika Lintang tidak lagi bergerak, hati Atmarani terasa
Trang! Trang! Bummmm!Wush! Buk! Aaaa! Trang! BUMM!Lintang dan Kuradala terus bergerak saling menyerang, tetapi gerakan mereka sangat cepat hingga Atmarani tidak bisa melihatnya.Yang terlihat dari pertarungan keduanya hanyalah percikan api dan muntahan gelombang energi yang meledak di ketinggian.







