تسجيل الدخولTidak ingin menyerah begitu saja, Ratu Naga segera mengalirkan energinya ke seluruh tubuh, membuat tubuhnya kini di lapisi oleh energi aneh berwarna abu.Suatu esensi energi sangat kuat yang hampir mendekati energi putih milik Anantari, namun bedanya, energi milik Ratu Naga memiliki ilusi tersendiri yang membuat Lintang hampir saja sesak nafas karena terkena tekanannya.“Apa ini energi sejati kaum naga?” gumam Lintang seraya mundur menjauh.Namun meski begitu, Lintang masih terlihat tenang, dia juga segera mengeluarkan 80% energi naganya agar dapat mengimbangi lawan.“Baiklah, ayo kita mulai Ratu!” seru Lintang.“Hahaha, sombong kau manusia, seberapa tinggi pun kau mengetahui kelemahan bangsa naga, kau tetaplah manusia, tidak ada yang mampu mengimbangi kekuatan sejati kami,” teriak Ratu Naga dengan tawa merendahkan.“Mulailah, kau jangan banyak bica …! sial,” umpat Lintang.Baru saja dia akan berbicara, Ratu Naga telah lebih dulu lenyap dari pandangan, membuat Lintang segera memasang
“Baiklah, ayo kita keluar,” seru Sugi.“Siap Sesepuh!” ujar semua orang secara bersamaan.Mendapati itu, Kelenting Sari dan Anantari pun seketika lenyap dari pandangan, mereka berlalu menuju tempat dimana Bawana berada.“Sial, mereka memang memiliki energi sangat banyak,” umpat Madu Lanang yang tidak dapat mengikuti langkah keduanya.Madu Lanang juga sebetulnya dapat melakukan itu, namun dia harus berubah terlebih dahulu ke dalam wujud siluman serigala.Tanpa wujud siluman serigala, energi Madu Lanang hanya sampai pada tingkat kependekaran dewa tahap menengah, membuat dia tidak mampu menandingi Anantari dan Kelenting Sari.“Kau tidak perlu mengeluh Lanang, mereka memang lebih kuat dari kita,” ucap Sugi menyusul Madu Lanang.“Hahaha, kau benar Sugi, ayo cepat,” tanggap Madu Lanang.Di belakang keduanya semua murid berlari mengekor menggunakan ilmu meringankan tubuh, mereka melompat dari satu pohon bambu ke pohon lain, membuat hutan Bambu terlihat berguncang karena hentakannya.Bawana t
Di aula padepokan hutan Bambu, Bawana, Sugi, Madu Lanang, Samhu dan semua orang kembali berkumpul untuk melakukan pertemuan.Kali ini tubuh mereka tampak segar setelah seharian beristirahat, udara dan suasana di hutan Bambu memang sangat menyegarkan, terlebih musim ini di sana telah masuk musim penghujan membuat energi alam meningkat dua kali lipat.“Kau pandai mencari tempat, Sugi,” ungkap Madu Lanang memuji.“Hahaha, Ini hanya sebuah kebetulan saja, Lanang,” tanggap Sugi tersenyum kecil.“Baiklah, semua orang sepertinya sudah berkumpul, aku akan memulai pembicaraan,” seru Bawana dengan suara lantang, membuat semua orang seketika terdiam dan memasang telinga mereka untuk menyimak.“Kalian tentunya sudah dapat menebak apa yang ingin aku sampaikan, memang betul, keberadaan kami di tempat ini adalah untuk memulai perang, aku senang semua di sini telah bersiap-siap karena itulah pesan Lintang,” ungkap Bawana kepada seluruh penghuni hutan Bambu.Dia melakukan pertemuan tiada lain untuk me
“Baiklah, jika kalian tidak ingin menyerangku lebih dulu maka akulah yang akan menyerang kalian,” seru Lintang.Kali ini pandangan matanya begitu dingin karena kesal, dimana para naga sejak tadi malah terus berbincang tanpa menghiraukannya.Lintang segera memasang kuda-kuda dan mengayunkan tongkat semesta ke arah mereka, menciptakan selarik cahaya energi berwarna jingga bercorak kehijauan.Serangan energi tersebut meluncur cepat menuju pada naga membuat mereka terkejut bukan buatan.Mendapati itu, Maha Patih Devadas segera mengibaskan ekornya, menciptakan satu tombak air berbentuk Trisula yang melesat menyambut serangan energi milik Lintang.Sehingga dua serangan energi kuat tersebut bertemu di udara, menciptakan ledakan besar yang mengguncang seluruh daratan berbatu.“Sudah kuduga, ternyata dia sangat kuat,” umpat Senopati Baga.Beruntung mereka masih sempat menghindar dengan terbang menjauh, andai masih berada di tempat semula, maka sudah pasti ke-4 Senopati tersebut akan terkena da
“Ini seperti di kedalaman laut namun tidak terdapat air sama sekali,” gumam Lintang, sejauh mata memandang hanya terdapat bebatuan keras dan terumbu karang saja.Alam lelembut memang terkadang sangat aneh berbeda dengan dunia manusia, di sini, sesuatu yang tidak mungkin pun dapat menjadi mungkin.“Apa tuan merasakannya?” tanya Jagat.“Ya Jagat, Asgar memang ada di sini,” jawab Lintang.“Ayo, kita harus segera menjemput ular tengik itu, firasatku tidak enak terhadap Sugi dan yang lainnya,” seru Lintang.Dia heran ketika masuk ke dalam alam lelembut, firasatnya langsung mengingat Sugi dan rombongan Bawana.Seperti akan ada sesuatu yang buruk namun entah apa, dimana Lintang sendiri tidak mampu memperkirakannya.Sangat tidak mungkin ada makhluk lain yang berani menyerang mereka karena bersama Bawana terdapat setengah pasukan tempur milik Lintang.Lintang menggeleng dan mencoba tidak berburuk sangka, dia yakin Bawana pasti dapat mengatasinya, sekarang tujuan pemuda itu hanya satu, yaitu me
Di tempat Sugi, semua orang tertawa gembira menikmati pesta penyambutan, mereka menyantap berbagai hidangan daging dan olahan rebung bambu, sebuah makanan asing yang hanya terdapat di hutan bambu.“Bolehkan aku tahu nama anda?” tanya Sugi pada Raja Samhu.“Tentu saja tuan pendekar, orang memanggilku Samhu, raja dari bangsa kaum raksasa,” jawab Samhu sopan, membuat Sugi langsung mengerutkan kening tidak mengerti.“Raksasa?” tanya Sugi cepat.Sugi merasa heran dengan pengakuan Samhu, dimana wujudnya saat ini justru sebaliknya, alih-alih seorang raksasa, dia malah terlihat seperti seorang anak kecil berusia 7 tahun.Andai tidak memiliki wajah tua dan berjenggot, sudah sedari awal Sugi ingin mencubit pipinya karena lucu.Tidak hanya Samhu, tetapi ke empat makhluk kerdil yang bersamanya juga cukup aneh, mereka juga memiliki tubuh kerdil dengan wajah yang telah dewasa.Selain itu, telinga mereka juga sangat panjang dan runcing berbeda dengan manusia pada umunya, berkaki lebar, bahkan dua ka







