LOGINTernyata aku masih lelaki yang sama, yang tetap tertegun saat melihat tetesan air mata mengalir di pipi Amara. Ia seketika menutup wajah dengan telapak tangan, berusaha menahan agar suara isaknya tidak terdengar. Hanya bahunya yang sedikit berguncang, menandakan emosi yang mendera begitu hebat. Beberapa detik setelah terdiam, kuulurkan padanya selembar tisu di atas meja yang tidak digunakan Zein.
“Ra, jangan nangis,” hiburku. “Nanti kalau Zein lihat, dia akan mengira kita bertengkar.” Amara mengusap wajahnya dan membersihkan sisa air mata dengan tisu yang kuberikan. Ia menoleh sebentar ke arah area bermain, memastikan Zein masih asik dengan aktivitasnya. Pandangannya lalu beralih padaku, untuk kemudian menunduk pada jarinya yang bertaut. “Zein sering menanyakanmu,” gumam Amara. “Aku hampir kehabisan alasan untuk terus berbohong.” Aku ikut menunduk dengan rasa malu dan perih yang bertubi. Ketangguhan Amara dalam menghadapi situasi sulit selama ini terbayang jelas. Zein anak yang cerdas. Pasti butuh ekstra kesabaran untuk memberinya pengertian. Berbohong untuk menutupi kebohongan yang lalu juga perlu keahlian khusus. Aku begitu bodoh membiarkan Amara berjuang sendiri untuk semua masalah yang timbul karena ulahku. “Aku akan kasih tahu Zein,” putusku, tiba-tiba saja ide nekat itu berkelebat di kepala. “Radit!“ Amara menggeleng cepat. “Tidak semudah itu.” “Lalu?” “Butuh waktu,” ucapnya dengan nada memohon. “Untukmu atau untuk Zein?” tanyaku. “Apa yang kamu perdulikan cuma Zein?” Amara malah balik bertanya. Aku menghela napas. Kesal pada diriku sendiri yang masih gampang terpicu amarah. Ternyata aku belum berubah dari seorang Radit delapan tahun lalu yang kerap tersulut emosi. Menghadapi perdebatan seperti ini saja aku hampir hilang kendali. Padahal yang harus kuperjuangkan saat ini adalah kepercayaan Amara untuk kembali menyerahkan hidupnya padaku. “Maaf.” Aku berusaha menatapnya dengan lembut. “Bukan maksudku ingin berdebat.” “Kamu tidak berubah,” sesalnya akan sikapku. “Ya, aku masih tetap mencintaimu.” Kualihkan dengan sengaja arah pembicaraannya. “Kamu selalu egois.” Amara masih meluapkan isi hatinya. “Harus,” tegasku. “Aku tidak mau kehilanganmu lagi, juga Zein.” Sepasang mata Amara membulat saat menatapku. Aku yakin ia kehabisan kata-kata untuk membalas ucapanku yang terakhir. Kuikuti ke mana pun arah pandangnya, hingga ia jengah dan tatapan kami kembali bertemu. “Untuk apa kamu kembali?” Akhirnya Amara menanyakan apa yang sejak dulu kutakutkan. Aku selalu tidak punya jawaban yang tepat untuk pertanyaan ini. Berulang kucoba merangkai apa yang mungkin untuk dijadikan alasan. Sebanyak itu pula aku menemukan kebuntuan hanya untuk satu jawaban. Entah itu ego atau sisa kebodohan yang masih tertinggal, saat ini pun aku cuma terdiam dengan bibir kelu tanpa suara. “Kondisi sekarang sudah jauh berbeda, Ra. Aku punya penghasilan yang lebih dari cukup untuk menghidupi kalian.” “Jadi, kamu pikir selama ini aku nggak mampu menafkahi Zein?” Kilatan emosi terpancar dari sorot mata Amara yang jelas tidak bersahabat. “Hey, listen. Bukan begitu maksudku.” Buru-buru kucoba meluruskan permasalahan. “Aku nggak mau kamu harus berjuang sendirian lagi untuk Zein.” Pelipisku mulai berdenyut. Ingin rasanya kutarik saja perempuan ini dalam pelukku untuk menghindari perdebatan apa pun yang tak juga berhenti. Seperti dulu, seperti masa-masa sulit hubungan kami sebelum akhirnya aku menyerah dan memilih lari dari semuanya. “Aku akan tulis nomor rekening yang bisa kamu transfer.” “Ra, bukan cuma tentang Zein. Aku mau kalian berdua --” “Too late, Radit.” Amara menggeleng. “Aku nggak bisa.” Debar di dadaku menjadi tak terkendali. Aku tak sanggup menebak apa maksud Amara mengatakan itu. Apakah ada seseorang lain yang telah merebut hatinya? Wajar sebenarnya. Hampir satu dekade aku meninggalkannya. Tak sulit untuk wanita secantik Amara memikat mata lelaki mana pun. “Aku mau pulang sekarang.” Amara meraih ponselnya dan memasukkan ke dalam tas. “Aku harap pertemuan kita hari ini sudah cukup menuntaskan rasa ingin tahumu tentang aku dan Zein.” “Aku belum selesai.” Kuberanikan untuk menahan lengannya yang akan bangkit. Amara terlihat sedikit terkejut, tetapi menuruti dan kembali duduk. Ia membuang pandang ke arah tempat bermain seperti hendak mencari Zein. Kurenggangkan genggaman saat ia sedikit menghentak agar terlepas. Kutarik napas sejenak untuk meredakan emosi yang mulai merambat naik sejak tadi. “Ra, apa kamu sedang dalam hubungan dengan seseorang?” Hati-hati kutanyakan. “Kalau memang seperti itu, aku tidak akan mengganggu.” Sepasang mata indah itu tak kunjung memandangku. Bahkan beberapa saat ia bergeming. Amara yang kukenal akan langsung menjawab jika kenyataannya benar. Aku sudah langsung bisa menebak bahwa tidak ada seseorang pun dalam hidupnya sepeninggalanku dahulu. “Ra, lihat aku.” Kusentuh ujung jarinya kali ini. “Jangan pernah bilang terlambat kalau cinta kita masih bisa diperbaiki.” Amara buru-buru menyembunyikan tangan di bawah meja. Wajahnya ikut menunduk. Aku yakin isi kepalanya sedang berperang dengan hebat kata hatinya. Sebaiknya kubiarkan dulu ia merenung. Jika terlalu memaksa, aku kuatir justru akan terus memancing emosinya. Dari arah arena bermain terlihat Zein sudah berlari menuju arah tempat aku dan Amara duduk. Aku segera mengubah air muka agar bocah cerdas itu tidak berusaha menebak lebih jauh apa yang sedang terjadi antara aku dan ibunya. Amara juga sudah memasang raut ceria seolah tidak ada perdebatan yang kami lalui sebelumnya. Zein tampak masih bersemangat saat menghabiskan sisa minuman dari paper cup Amara. “Sudah selesai mainnya?” Zein mengangguk antusias saat kutanyakan. Bunyi Es kristal yang sudah meleleh separuh, terdengar lucu saat beradu dengan gigi Zein, mengingatkan pada kebiasanku yang dulu sering diprotes Amara setiap kali kedapatan menghabiskan sisa es dari minumannya. “Zein mau ke mana lagi habis ini?” Aku berusaha merayu Zein agar mendapatkan kesempatan untuk menghabiskan waktu lebih lama lagi dengan mereka. “Aku mau beli krayon warna. Kemarin, kan, nggak jadi beli, Bun.” Matanya dengan lincah beralih pada Amara. “Mau dianterin beli krayonnya?” Kutawarkan pada Amara berharap wanita itu mengangguk setuju, tetapi kemungkinan itu langsung sirna saat ia menggeleng pada Zein. “Kasihan Bude Asih kelamaan nungguin. Belinya besok aja, ya.” Amara seolah memberi isyarat bahwa perjumpaan kali ini cukup sebatas ini. “Kalau aku mau satu es krim lagi, boleh?” Zein mencoba merayu Amara. “Asalkan setelah itu kita langsung pulang.” Amara menyerahkan selembar uang pada Zein yang segera berlari menuju tempat pemesanan. Aku ikut berdiri saat Amara bangkit dari duduknya. Ia terlihat sedikit bingung seperti ingin mengucapkan sesuatu padaku. Kuserahkan kunci mobilnya yang sejak tadi tersimpan di saku kemeja. “Mobil kamu?” tanya Amara ragu-ragu. “Aman. Nanti aku pesan ojek online untuk balik ke sekolah Zein.” Amara mengangguk padaku sebagai tanda berpamitan “Aku dan Zein balik dulu,” ucapnya. Aku membalasnya dengan senyuman, meskipun dengan sedikit getir. “Ra, tadi aku letakin kartu namaku di mobil kamu,” ujarku saat ia mulai beranjak. Amara menoleh sejenak, dan membuat langkahnya terhenti. “Kirimi aku pesan kapan aku bisa ketemu lagi dengan Zein.” Aku memandangnya penuh harap. Masih kulihat Zein melambaikan tangan sebelum keduanya keluar melewati pintu kaca. Aku memandangi dua orang yang sangat kucintai itu bergandengan tangan menuju ke mobil. Mataku tak putus memandang hingga kendaraan mereka berlalu dari areal parkir. Hatiku terasa sungguh bahagia, sekaligus hampa pada saat yang sama. Ternyata, seperih ini rasanya melepas kekasih hati tanpa tahu kapan akan bertemu kembali. Seketika aku mengumpat pada sosok Radit delapan tahun lalu yang tak ingin kuhadirkan kembali.Jika ada yang bertanya kapan saatnya kamu berada di titik hidup terbaik, bisa dikatakan itulah yang aku rasakan sekarang. Bahkan saat aku mengira bahwa kemarin adalah masa terbaikku, tetapi terbantahkan saat menjalani hari ini. Apalagi yang harus kuingkari saat semua bahagia sudah aku dapat dalam genggaman. Istri yang cantik, anak yang cerdas, karir yang bagus, juga rumah tangga yang hangat yang membuatku rindu untuk selalu pulang. Duri-duri kecil pasti ada saja datang menghampiri. Namun, sekarang hanya terasa menggelitik karena aku dan Amara sudah berhasil meyintas luka tusukannya. Kecuali satu, rasa cemburuku pada lelaki yang Amara sebut sahabat. Meski sosoknya berhasil merawat Zein dengan baik pasca kecelakaan yang lalu, tetapi aku masih harus waspada akan sepak terjangnya. Aku tidak ingin lelaki itu mencari celah untuk merebut Amara. “Zein mau dibelikan rasa apa? Ayah sedang di toko es krim?” Hampir setiap hari saat pulang bekerja, kusempatkan untuk membelikan Zein makanan. A
Benar apa yang dikatakan orang-orang. Air mata haru tidak dapat tertahan ketka tiba di Masjidil Haram dan melihat langsung Baitullah. Air mataku bercampur senyuman saat Radit menatapku dengan binaran yang sama. Kubiarkan ia membanggakan pencapaiannya, bahwa ia telah berhasil memenuhi janjinya.“Walau tidak haus, tetap harus minum.” Radit menyodorkan botol air minum yang sudah ia isi ulang dengan air zam-zam.Aku dan Radit baru saja menyelesaikan tawaf. Radit menarikku ke pinggir agar dapat duduk sejenak untuk mengumpulkan tenaga karena setelah ini kami akan melanjutkan rukun sa’i.“Kamu berkeringat.” Radit mengusap ujung hidungku yang dihinggapi bulir-bulir peluh. “Kalau lelah istirahat dulu.”Suhu udara di masjidil haram hampir mencapai 45 derajat celcius. Meski matahari terasa seperti tepat di atas kepala, tetapi kelembaban udara terukur rendah. Normalnya, berjalan kaki mengitari ka’bah tidak akan mengeluarkan keringat. Mungkin efek obat yang kuminum untuk menghilangkan rasa meriang
“Kamu berangkat berdua Radit saja, Nduk. Biar Ibu nunggu tahun depan. Jangan sungkan, itu rezeki kalian. Radit sudah membiayai ongkos haji Ibu. Sudah lebih dari cukup buat Ibu. Terima kasih sudah mau menerima Radit kembali, Nduk. Maafkan kesalahan-kesalahan Radit terdahulu. Maafkan Ibu juga yang kurang mampu mendidik Radit. Ibu selalu mendoakan kalian agar rukun dan makmur sampai hari tua.”Kuputar ulang rekaman suara Ibu yang dikirimkan Mbak Arum lewat pesan. Aku masih berusaha agar Ibu ikut serta dalam perjalanan umrohku beserta Radit. Namun, sesuai yang telah disampaikan Radit sebelumnya, Ibubmemang menolak.Semua sudah dipersiapkan. Zein sudah bersedia ditinggal dalam pengasuhan Alia selama aku dan Radit tidak ada. Bude Asih akan diperbantukan untuk menyediakan keperluan Zein selama menginap di rumah Papa.Meski semua persiapan sudah lengkap, ada satu hal yang sejak kemarin menghadirkan gundah di hatiku. Cincin pernikahan yang memang sengaja aku lepas setiap akan pergi mandi, mend
Perjalanan pulang kembali ke kota didominasi celoteh Zein tentang serunya bermain bersama anak-anak desa. Seminggu berada di kampung halaman Radit rupanya memberi pengalaman baru bagi Zein. Bocah kecil itu menitikkan air mata sedikit saat berpamitan dengan sang nenek. Baru setuju untuk diajak pulang setelah ayahnya menjanjikan akan ada liburan susulan ke desa setelah kenaikan kelas.Radit sudah memindahkan barang-barang pribadinya ke rumahku minggu lalu. Setelah melalui diskusi panjang, akhirnya Radit mengalah. Kami akan menetap di rumahku sampai Zein menamatkan sekolah dasar. Pertemanan Zein di lingkungan tetangga menurutku pantas untuk dipertimbangkan. Jarak menuju sekolah Zein juga akan semakin jauh jika harus ditempuh dari rumah ayahnya. Sesuai kesepakatan bersama, rumah pribadi Radit selama lima tahun ke depan akan disewakan pada salah satu instansi yang sedang membutuhkan rumah dinas.Seminggu ini juga aku bingung memikirkan kado apa yang akan aku berikan sebagai hadiah ulang ta
Tempat ternyaman selain rumah Ibu, adalah berada di samping Amara di mana pun aku berada. Dulu, semasa kuliah, duduk di dekatnya saja sudah mampu menghilangkan permasalahan hidupku hari itu. Setelah menikah, mencium dan memeluknya menjadi tempat pelampiasan gundah terindah bagiku. Menyatu dengannya ibarat mendapatkan energi terbarukan yang membuatku siap untuk melakukan apa saja setelahnya.Pasti Amara menganggapku gila atas apa yang baru saja kulakukan padanya. Aku tahu ia kewalahan, tetapi aku juga yakin ia menikmatinya setara denganku. Keadaan yang terang benderang mungkin membuat gairahku lebih menyala. Aku bisa melihat indahnya Amara tanpa terhalang apa pun.“Radit, ayo bangun.” Jemari Amara kembali mengusikku. “Sudah hampir pukul setengah lima sore.”Sejak tadi sebenarnya aku tidak tidur. Aku mengatur napas setenang mungkin agar Amara mengira demikian. Jika Amara tahu bahwa aku hanya pura-pura, pasti wajah perempuan itu akan merona merah seketika. Amara menciumi wajahku, dahiku,
Terhitung tiga hari berlalu sejak kami tiba di kampung halaman Radit, pagi ini Mbak Arum tetap dengan ramahnya menyiapkan sarapan untuk kami sekeluarga. Saat kuutarakan rasa sungkanku, perempuan itu tersenyum lebar sampai memunculkan lesung pipinya yang samar-samar.“Rumah ini sudah seperti rumahku. Setiap hari, dua atau tigakali aku kemari untuk nengokin Ibu,” ujarnya. “Apa yang dimasak di rumah, pasti setiap hari aku antar buat Ibu.”“Terima kasih, Mbak,” ucapku mewakili Radit.“Selama di sini kamu nggak usah repot-repot masak, nyuci baju, nyuci piring, biar aku yang kerjakan,” larangnya persis seperti kemarin saat aku kedapatan mencuci tumpukan gelas setelah tamu lebaran pulang.“Aku nggak enak ngelihat Mbak Arum capek beres-beres sendirian.”“Gantian,” ujarnya. “Nanti kalau ada rezeki, aku, Mas Cipto dan anak-anak bisa mampir ke rumah Radit, aku juga nggak mau kerjain apa-apa di sana.”“Oh, baik, Mbak,” sahutku seraya meringis kecil.“Guyon aku,” ucapnya sambil tertawa. “Maksudnya







