Home / Rumah Tangga / PERGI UNTUK KEMBALI / Bab 3 - Permohonan Maaf

Share

Bab 3 - Permohonan Maaf

last update Last Updated: 2024-06-15 06:31:27

Zein langsung menyelinap di kursi depan saat aku masih berdiri ragu di depan pintu mobil yang dibukakan Radit. Dengan percaya diri bocah kecil itu memasang sabuk pengaman dan segera berbincang akrab layaknya kerabat yang sudah saling mengenal. Syukurlah, paling tidak untuk kali ini Zein telah menyelamatkanku dari keharusan berbasa-basi hal yang tidak perlu dengan ayahnya.

“Di mana restoran fried chicken yang paling dekat?” Radit bertanya saat mobil mulai melaju, sepertinya ditujukan padaku.

“Sebelum arah ke sekolahku, Om.” Zein lebih dulu menimpali.

“Jadi sekarang kita putar balik?” tanya Radit lagi.

“Putar balik, ya, Bun?” Zein yang tidak terlalu hafal rutenya, ikut-ikutan bertanya padaku.

Keduanya serempak menoleh ke belakang untuk meminta jawaban. Namun, saat melihat aku tidak mengatakan apa pun, Radit melekatkan ponselnya pada phone-holder dan segera membuka aplikasi penunjuk jalan.

“Biar yang lebih tahu yang ngarahin,” ucapnya santai, seolah menyindir sikapku yang tetap dingin sejak tadi.

Kondisi jalanan yang padat membuat waktu tempuh menjadi dua kali lipat lebih lama. Zein dengan bersemangat menceritakan apa saja pada Radit. Satu kalimat tanya dari Radit akan dijawab dengan sederet penjelasan oleh bocah kecil itu. Mulai dari teman-teman sekolahnya, aktivitas favoritnya, hingga beberapa kebiasaan kami di rumah yang juga dilontarkan Zein atas pancingan Radit.

Situasi ini benar-benar tidak nyaman untukku. Andai tadi Zein tidak terlalu antusias menanggapi ajakan Radit, aku akan memilih pulang dan mengabaikannya. Hatiku sebenarnya bersimpangan. Di satu sisi, aku sangat benci melihatnya muncul dengan tiba-tiba dan mencoba meraih hatiku kembali, tetapi di sisi lain aku tak bisa memungkiri bahwa ada pertalian darah antara ia dan Zein yang juga sah secara hukum.

Di sela obrolannya dengan Zein, aku tahu Radit berusaha mencari tatapanku melalui kaca spion. Kuputuskan untuk melempar pandangan keluar lewat jendela, melihat apa saja yang bisa mengalihkanku agar tidak terjebak percakapan dengan mereka. Sesekali kudengar keduanya tertawa atas celoteh Zein atau pun lelucon ringan yang dilontarkan Radit. Sampai akhirnya perbincangan itu ternyata membahas jadwal puasa yang tinggal dua hari lagi.

“Puasa, dong.” Ucapan Zein membuyarkan lamunanku. “Aku, kan, udah besar.”

“Keren, ah.” Radit memuji. “Biasanya buka puasa pakai apa?”

“Bunda yang bikin, aku sukanya es alpukat pakai susu,” sahut Zein. “Aku juga suka pisang goreng pakai keju.”

Aku mendengarkan dengan miris percakapan sederhana itu. Andai pertengkaran di antara kami tak pernah terjadi, seperti inilah gambaran kehidupan yang aku dan Zein akan jalani bertiga Radit. Mungkin saja berempat, atau bahkan berlima dengan adik-adik Zein dalam khayalanku. Hatiku terasa nyeri saat membayangkan itu.

“Buka puasanya sama siapa saja?”

Pertanyaan Radit kali ini berhasil menyita perhatianku. Aku yakin ia sengaja menanyakan itu. Radit pasti sedang mencari celah untuk mengetahui statusku selama ia tinggalkan.

“Berdua sama Bunda, kadang-kadang bertiga sama Bude Asih,” sahut Zein.

“Ayah nggak ikut?” Radit lanjut bertanya.

Jelas sudah bahwa Radit sedang terang-terangan mengorek informasi. Aku hendak mencegah Zein berbicara lebih banyak, tetapi dengan polosnya bocah kecil itu sudah lebih dulu mengutarakan isi hatinya.

“Om lupa? Ayahku belum pulang kerja. Tadi, kan, aku udah kasih tahu Om waktu kita di sekolah.”

Kali ini ada perih yang begitu nyata tergambar dalam tatapan Radit saat beradu denganku lewat spion mobil. Aku yakin, semua luka ini juga menyakiti dirinya sama dalamnya. Namun, bukan berarti ia bisa semudah itu mengucap maaf dan membalikkan keadaan. Aku ragu kehadiran Radit akan mampu menjadikan hidupku lengkap. Yang Zein dan aku miliki saat ini sudah lebih dari sempurna.

***

Duduk di hadapan Radit seperti ini sangat membuatku salah tingkah. Zein tak lagi memperdulikan apa pun lagi setelah menghabiskan menu yang ia pesan. Aneka permainan di sudut restoran ini lebih menarik perhatiannya. Tanpa berdosa ia meninggalkanku berdua Radit yang sejak tadi hanya saling diam tanpa tahu harus berbicara apa.

“Zein persis kamu.” Suara Radit akhirnya terdengar lebih dulu. “Selalu ekspresif saat bercerita.”

Aku hanya menunduk, memandangi gelas minuman yang esnya sudah separuh mencair. Berusaha sekuat tenaga untuk tidak mencari tahu apa pun tentang Radit dan kehidupannya, meskipun di dalam otakku sudah berbaris ribuan kalimat yang ingin aku tanyakan padanya.

“Boleh aku tahu kabar kalian?”

Aku menengadah kali ini. Yang Radit tanyakan pastilah tidak hanya sekedar kabar. Aku harus cerdas memilih jawaban agar tidak membuka celah lebih dalam lagi untuknya.

“Seperti yang kamu lihat. Aku dan Zein baik-baik saja.” Sengaja kutekankan itu.

“Syukurlah.” Radit memandangku dengan rasa bersalah. “Aku minta maaf.”

Permohonan maafnya yang terlihat tulus malah memancing tawaku. Tawa getir diiringi sakit hati yang sudah bertahun terpendam, tidak akan segampang itu luluh dengan tiba-tiba. Aku masih punya harga diri untuk tidak bersikap murahan.

“Kamu masih sendiri?” Radit terlihat sangat bingung saat ingin mengkonfirmasi statusku. ”Maksudku saat ini–“

“Sudah dengar dari Zein, bukan? Aku yakin kamu sudah paham.” Lekas kupotong kalimatnya.

Radit mengangguk, tetapi rasa penasarannya tidak berhenti sampai di situ. Yang ia tanyakan selanjutnya justru lebih lugas dari sebelumnya.

“Apa selama aku pergi, kamu pernah menikah?”

Kuberi Radit tatapan tajam atas pertanyaannya barusan. Bagaimana mungkin ia sempat mempertanyakan itu, sementara selama ia tidak ada aku berusaha keras membesarkan Zein seorang diri. Tidak adakah sedikit empatinya menanyakan kesulitanku?

“Fokusku saat ini hanya Zein,” jawabku singkat.

Aku berharap kalimat itu mampu menjelaskan bahwa aku sedang tidak ingin menjalin hubungan apa pun dengan siapa pun saat ini. Termasuk dirinya. Status kami dahulu tidak akan mengubah pertimbanganku.

“Aku terus mencari kamu dua tahun terakhir,” gumam Radit tanpa memandang ke arahku. “Aku kira kamu pindah ke kota lain.”

“Untuk apa?” Ini adalah kalimat tanya pertama dariku untuk Radit sejak bertemu kembali.

“Untuk menebus semua salahku sama kamu, Ra,” jawabnya. “Harusnya dulu aku juga bawa kamu dan Zein, bukan malah pergi sendiri.”

Kelebat kenangan buruk itu hadir kembali seiring Radit mengungkapkan penyesalannya. Malam itu aku berteriak memanggilnya, menahannya agar tidak pergi, berulangkali hingga kudengar Zein menangis dari dalam rumah. Ia bahkan tidak menoleh ke belakang saat sepeda motor itu membawa sosoknya semakin menjauh dan hilang dari pandangan. Aku menunggunya kembali, berhari-hari, sampai rasa jemu itu menetapkan bahwa ia tidak akan mungkin pulang.

“Aku nggak bisa bilang sudah maafin kamu,” tuturku setelah beberapa saat. “Yang pasti sekarang aku sudah berdamai dengan hatiku.”

Radit mengangguk cepat. Jemarinya jadi sering bergerak. Sesekali terlihat bertaut, kemudian terlepas untuk menumpu dagu. Aku melihatnya sekilas dari sudut mataku. Reaksinya saat resah kadang seperti itu.

“Aku mengerti. Sampai kemarin aku masih bisa terima kalau ini akan jadi alasan kamu untuk menolakku,” ujarnya. “Tapi siang tadi, sewaktu aku dengar Zein cerita tentang ayahnya, aku pikir ini bukan hanya soal kita berdua.”

Aku mulai bisa menebak ke arah mana Radit membawa perbincangan ini. Ia pasti mengira jika itu menyangkut Zein, aku akan dengan sangat mudah berubah pikiran tentang hubungan kami.

“Jangan pernah manfaatin Zein,” ucapku tegas.

“Apa kamu pernah mengajukan cerai, Ra?” tanya Radit lagi, seolah tidak mempedulikan ucapanku sebelumnya.

Aku enggan menjawab. Biar saja Radit mengartikan sendiri sikap diamku. Bertahun lelah menunggunya pulang, aku sudah menganggapnya hilang. Sejak itu pula tidak pernah sedetik pun terbersit di hatiku untuk menjalin hubungan dengan lelaki lain.

“Aku juga nggak pernah ceraikan kamu,” tuturnya pelan. “Artinya kita masih pasangan yang sah secara hukum.”

Radit benar. Kami masih berstatus suami istri dalam catatan negara. Namun, bukan berarti ia bisa seenaknya masuk ke dalam hidupku begitu saja. Aku sudah menatanya demikian rapi agar tidak ada celah bagi sebentuk kepedihan untuk kembali hadir mengobrak-abrik susunannya.

“Apa yang kamu mau dari aku dan Zein?”

“Sebuah keluarga yang utuh, Ra.”

“Aku akan atur agar kamu bisa rutin ketemu Zein.”

“Yang tinggal dalam satu rumah.”

“Aku bahagia hanya dengan Zein.”

“Apa kamu pernah berpikir bahwa Zein juga bahagia?”

Perdebatan itu berhenti begitu saja. Aku menatapnya lama. Pintar sekali ia menggunakan buah hati kami sebagai alasan. Apakah Zein bahagia? Apakah cukup bagi Zein hidup hanya berdua denganku? Beragam kebimbangan merasuki pikiranku dari segala arah, hingga akhirnya semua bongkahan yang mengganjal di dalam kepala terwakilkan dalam tetesan air mata.

Untuk pertama kali setelah sekian lama, aku kembali kalah dan menangisi Radit.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PERGI UNTUK KEMBALI   Bab 45 - Pergi Untuk Kembali

    Jika ada yang bertanya kapan saatnya kamu berada di titik hidup terbaik, bisa dikatakan itulah yang aku rasakan sekarang. Bahkan saat aku mengira bahwa kemarin adalah masa terbaikku, tetapi terbantahkan saat menjalani hari ini. Apalagi yang harus kuingkari saat semua bahagia sudah aku dapat dalam genggaman. Istri yang cantik, anak yang cerdas, karir yang bagus, juga rumah tangga yang hangat yang membuatku rindu untuk selalu pulang. Duri-duri kecil pasti ada saja datang menghampiri. Namun, sekarang hanya terasa menggelitik karena aku dan Amara sudah berhasil meyintas luka tusukannya. Kecuali satu, rasa cemburuku pada lelaki yang Amara sebut sahabat. Meski sosoknya berhasil merawat Zein dengan baik pasca kecelakaan yang lalu, tetapi aku masih harus waspada akan sepak terjangnya. Aku tidak ingin lelaki itu mencari celah untuk merebut Amara. “Zein mau dibelikan rasa apa? Ayah sedang di toko es krim?” Hampir setiap hari saat pulang bekerja, kusempatkan untuk membelikan Zein makanan. A

  • PERGI UNTUK KEMBALI   Bab 44 - Ada yang Cemburu

    Benar apa yang dikatakan orang-orang. Air mata haru tidak dapat tertahan ketka tiba di Masjidil Haram dan melihat langsung Baitullah. Air mataku bercampur senyuman saat Radit menatapku dengan binaran yang sama. Kubiarkan ia membanggakan pencapaiannya, bahwa ia telah berhasil memenuhi janjinya.“Walau tidak haus, tetap harus minum.” Radit menyodorkan botol air minum yang sudah ia isi ulang dengan air zam-zam.Aku dan Radit baru saja menyelesaikan tawaf. Radit menarikku ke pinggir agar dapat duduk sejenak untuk mengumpulkan tenaga karena setelah ini kami akan melanjutkan rukun sa’i.“Kamu berkeringat.” Radit mengusap ujung hidungku yang dihinggapi bulir-bulir peluh. “Kalau lelah istirahat dulu.”Suhu udara di masjidil haram hampir mencapai 45 derajat celcius. Meski matahari terasa seperti tepat di atas kepala, tetapi kelembaban udara terukur rendah. Normalnya, berjalan kaki mengitari ka’bah tidak akan mengeluarkan keringat. Mungkin efek obat yang kuminum untuk menghilangkan rasa meriang

  • PERGI UNTUK KEMBALI   Bab 43 - Lugas Katakan Cinta

    “Kamu berangkat berdua Radit saja, Nduk. Biar Ibu nunggu tahun depan. Jangan sungkan, itu rezeki kalian. Radit sudah membiayai ongkos haji Ibu. Sudah lebih dari cukup buat Ibu. Terima kasih sudah mau menerima Radit kembali, Nduk. Maafkan kesalahan-kesalahan Radit terdahulu. Maafkan Ibu juga yang kurang mampu mendidik Radit. Ibu selalu mendoakan kalian agar rukun dan makmur sampai hari tua.”Kuputar ulang rekaman suara Ibu yang dikirimkan Mbak Arum lewat pesan. Aku masih berusaha agar Ibu ikut serta dalam perjalanan umrohku beserta Radit. Namun, sesuai yang telah disampaikan Radit sebelumnya, Ibubmemang menolak.Semua sudah dipersiapkan. Zein sudah bersedia ditinggal dalam pengasuhan Alia selama aku dan Radit tidak ada. Bude Asih akan diperbantukan untuk menyediakan keperluan Zein selama menginap di rumah Papa.Meski semua persiapan sudah lengkap, ada satu hal yang sejak kemarin menghadirkan gundah di hatiku. Cincin pernikahan yang memang sengaja aku lepas setiap akan pergi mandi, mend

  • PERGI UNTUK KEMBALI   Bab 42 - Kado Terindah

    Perjalanan pulang kembali ke kota didominasi celoteh Zein tentang serunya bermain bersama anak-anak desa. Seminggu berada di kampung halaman Radit rupanya memberi pengalaman baru bagi Zein. Bocah kecil itu menitikkan air mata sedikit saat berpamitan dengan sang nenek. Baru setuju untuk diajak pulang setelah ayahnya menjanjikan akan ada liburan susulan ke desa setelah kenaikan kelas.Radit sudah memindahkan barang-barang pribadinya ke rumahku minggu lalu. Setelah melalui diskusi panjang, akhirnya Radit mengalah. Kami akan menetap di rumahku sampai Zein menamatkan sekolah dasar. Pertemanan Zein di lingkungan tetangga menurutku pantas untuk dipertimbangkan. Jarak menuju sekolah Zein juga akan semakin jauh jika harus ditempuh dari rumah ayahnya. Sesuai kesepakatan bersama, rumah pribadi Radit selama lima tahun ke depan akan disewakan pada salah satu instansi yang sedang membutuhkan rumah dinas.Seminggu ini juga aku bingung memikirkan kado apa yang akan aku berikan sebagai hadiah ulang ta

  • PERGI UNTUK KEMBALI   Bab 41 - Mengulang Kenangan Berdua

    Tempat ternyaman selain rumah Ibu, adalah berada di samping Amara di mana pun aku berada. Dulu, semasa kuliah, duduk di dekatnya saja sudah mampu menghilangkan permasalahan hidupku hari itu. Setelah menikah, mencium dan memeluknya menjadi tempat pelampiasan gundah terindah bagiku. Menyatu dengannya ibarat mendapatkan energi terbarukan yang membuatku siap untuk melakukan apa saja setelahnya.Pasti Amara menganggapku gila atas apa yang baru saja kulakukan padanya. Aku tahu ia kewalahan, tetapi aku juga yakin ia menikmatinya setara denganku. Keadaan yang terang benderang mungkin membuat gairahku lebih menyala. Aku bisa melihat indahnya Amara tanpa terhalang apa pun.“Radit, ayo bangun.” Jemari Amara kembali mengusikku. “Sudah hampir pukul setengah lima sore.”Sejak tadi sebenarnya aku tidak tidur. Aku mengatur napas setenang mungkin agar Amara mengira demikian. Jika Amara tahu bahwa aku hanya pura-pura, pasti wajah perempuan itu akan merona merah seketika. Amara menciumi wajahku, dahiku,

  • PERGI UNTUK KEMBALI   Bab 40 - Balada Burung Dalam Sangkar

    Terhitung tiga hari berlalu sejak kami tiba di kampung halaman Radit, pagi ini Mbak Arum tetap dengan ramahnya menyiapkan sarapan untuk kami sekeluarga. Saat kuutarakan rasa sungkanku, perempuan itu tersenyum lebar sampai memunculkan lesung pipinya yang samar-samar.“Rumah ini sudah seperti rumahku. Setiap hari, dua atau tigakali aku kemari untuk nengokin Ibu,” ujarnya. “Apa yang dimasak di rumah, pasti setiap hari aku antar buat Ibu.”“Terima kasih, Mbak,” ucapku mewakili Radit.“Selama di sini kamu nggak usah repot-repot masak, nyuci baju, nyuci piring, biar aku yang kerjakan,” larangnya persis seperti kemarin saat aku kedapatan mencuci tumpukan gelas setelah tamu lebaran pulang.“Aku nggak enak ngelihat Mbak Arum capek beres-beres sendirian.”“Gantian,” ujarnya. “Nanti kalau ada rezeki, aku, Mas Cipto dan anak-anak bisa mampir ke rumah Radit, aku juga nggak mau kerjain apa-apa di sana.”“Oh, baik, Mbak,” sahutku seraya meringis kecil.“Guyon aku,” ucapnya sambil tertawa. “Maksudnya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status