LOGINAsrama Angin Bambu adalah kawasan elit di Sekte Bintang Surya, dikelilingi oleh pepohonan hijau menjulang yang batangnya memancarkan sedikit aura spiritual. Lian Yue ditempatkan di kamar paling ujung, sebuah ruangan kecil yang indah dengan lantai kayu mengkilap, jendelanya menghadap ke hamparan hutan yang berkabut.
Ji Han, dengan sikapnya yang lembut dan penuh perhatian, membantunya meletakkan barang-barangnya. “Kamar ini adalah tempat yang sempurna untuk meditasi, Nona Lian,” kata Ji Han, suaranya tenang seperti mata air. “Energi spiritual di sini murni dan kuat. Jika Anda butuh sesuatu, jangan ragu memanggil saya. Saya tinggal dua kamar di sebelah sana.” Yue mengangguk canggung. Sejak insiden di gerbang sekte—ketika Xuan Nightblade hampir mengaum karena cemburu—ia merasa bersalah pada Ji Han, pemuda yang tidak bersalah itu. “Tentu saja dia tidak bersalah,” dengus Xuan di dalam kepala Yue, nadanya dingin dan mengejek. “Dia adalah murid inti dari sekte yang membenci semua yang kuwakili. Dia adalah masalah berjalan. Jauhkan dia darimu.” Dia mencoba bersikap baik! balas Yue dalam hati. “Kebaikan hanyalah jubah yang dikenakan untuk menutupi niat. Aku tidak suka caramu memandangnya,” jawab Xuan, posesifnya terasa mencekik. “Nona Lian?” Ji Han memanggil, sedikit khawatir. “Anda terlihat… tegang. Apakah ada yang mengganggu Anda?” Yue tersentak dari pertengkaran batinnya. “Tidak, Tuan Ji Han. Hanya… kelelahan.” Ji Han tersenyum, senyum yang begitu tulus hingga membuat Yue merasa lebih bersalah karena menyimpan Kaisar Iblis yang sangat cemburu di dalam dirinya. “Istirahatlah. Besok pagi, kita akan mulai dengan teknik pernapasan dasar. Sekte kita menghargai ketenangan. Jangan terburu-buru.” Setelah Ji Han pergi, Lian Yue mengunci pintu dan bergegas menuju jendela. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan detak jantungnya yang kacau. “Kau sangat kekanak-kanakan, Xuan,” desah Yue, melonggarkan ikatan rambutnya. Saat itu juga, Xuan Nightblade muncul di kamarnya. Bukan lagi bayangan, tetapi sosok pria yang padat, berdiri tegak di tengah ruangan. Rambut hitam peraknya berkilau redup di bawah cahaya lentera. “Kekanak-kanakan?” ulang Xuan, berjalan perlahan. “Aku tidak pernah kekanak-kanakan. Aku hanya memastikan milikku tidak disentuh. Dia menatapmu terlalu lama, Lian Yue. Dia mencoba melihat inti spiritualmu yang gelap.” “Dia hanya ramah!” “Ramah. Atau tertarik pada anomali?” Xuan menyudutkan Yue ke dinding. “Semua orang di dunia ini melihatmu karena dua alasan: ingin memanfaatkan inti terlarangmu, atau ingin menyegelku. Pria ini termasuk yang pertama.” “Lalu kau? Kau melihatku karena apa?” Yue balik bertanya, suaranya mengandung tantangan dan kerentanan. Xuan berhenti, matanya yang merah gelap menatap intens. Pertanyaan itu seolah menghentikannya. “Aku…” Xuan mengambil napas yang samar. “Aku melihatmu karena kau adalah wadahku. Aku melihatmu karena kau adalah satu-satunya yang bisa merespons jiwaku. Aku melihatmu karena… kau adalah perpanjangan diriku yang disegel.” Yue merasa kecewa dengan jawaban itu. Ia mengharapkan lebih, mengharapkan pengakuan yang lebih manusiawi. Tapi Xuan Nightblade adalah iblis kuno. “Aku hanya wadah,” ulangnya dengan pahit. Xuan menundukkan kepala, suaranya merendah, memecah ketenangan. “Kau bukan hanya wadah. Kau adalah… segel terindah yang pernah kulihat.” Ia mengulurkan tangan. Kali ini, tangannya menyentuh kulit telanjang di bahu Yue yang terbuka karena ia baru saja melonggarkan jubahnya. Sentuhan itu! Itu bukan lagi energi spiritual yang samar seperti di kereta. Itu adalah sentuhan fisik yang nyata, dingin, namun memancarkan panas yang memabukkan. Xuan Nightblade, Kaisar Iblis yang seharusnya hanya roh, kini bisa menyentuhnya dengan kontak kulit yang nyata. Tubuh Yue menegang, jantungnya berdetak seperti ingin meledak. Sensasi panas menjalari lehernya ke bawah. “Energi gelapmu tidak stabil,” kata Xuan, suaranya berat, matanya fokus pada area di leher Yue. “Perubahan cepat ini membutuhkan penyesuaian intensif.” “Tapi… kau bisa menyentuhku…” Yue berbisik, terkejut dan terguncang. “Aku sudah bilang, semakin kuat inti spiritualmu, semakin kuat pula manifestasi fisikku. Kau memberiku energi, Lian Yue,” jawab Xuan, suaranya seperti bisikan gelap. Jari-jarinya yang dingin menyusuri tulang selangka Yue, lalu perlahan bergerak ke bawah, menuju pinggang tempat tanda kutukan Shadow Moon mulai muncul. “Kita harus menyeimbangkannya,” desaknya. Yue tidak bisa bernapas. Seluruh tubuhnya menolak, tetapi di saat yang sama, ia merasakan dorongan aneh, hasrat yang menuntut sentuhan. Xuan Nightblade menurunkan wajahnya. “Aku harus menyalurkan energi iblis murniku untuk menstabilkan Shadow Moon Core. Jika tidak, inti itu akan menghancurkan organ-organmu,” katanya, memberikan alasan teknis yang kejam untuk intimasi yang sangat tidak teknis ini. Ia menempelkan kedua telapak tangannya di pinggang Yue, tepat di atas tanda kutukan yang samar. Panas! Gelombang energi gelap itu masuk, tidak seperti api, tetapi seperti cairan panas yang menyebar ke seluruh tubuhnya. Yue terkesiap, punggungnya melengkung ke depan karena sensasi yang tiba-tiba. “Ssh…” Xuan mendekat, tubuhnya hampir menempel. Ia tidak lagi transparan, tetapi padat, dingin, dan mematikan. “Fokus, Wadahku. Jangan melawan.” Yue memejamkan mata, menggigit bibirnya lagi hingga terasa nyeri. Ini adalah latihan kultivasi yang paling mengerikan dan paling intim yang bisa ia bayangkan. Setiap inci kulitnya yang disentuh Xuan terasa seperti dibakar, tetapi di saat yang sama, ia merasakan kekuatan yang luar biasa. Setelah beberapa saat, Xuan menarik diri, wajahnya kembali tenang, tetapi ada kilatan yang lebih gelap di matanya. Yue tersengal, tubuhnya lemas. Ia bersandar di dinding, napasnya tidak teratur. “Aku tidak pernah… merasakan hal seperti itu,” bisik Yue, wajahnya masih memerah. Xuan menatapnya dengan intensitas yang membara. “Itu adalah koneksi jiwa, Lian Yue. Itu adalah kekuatan. Dan mulai sekarang, ini adalah ritual yang akan kita lakukan setiap malam, sampai kau bisa menguasai kekuatanku sepenuhnya.” “Dan jika aku menolak?” “Kau akan mati, karena inti spiritualmu akan meledak,” jawab Xuan dingin. Lalu, ia tersenyum tipis. “Dan aku akan mati bersamamu. Kau tidak mau itu, bukan?” Ancaman itu membuat Yue terdiam. Ia terikat, tidak hanya oleh takdir, tetapi juga oleh ketergantungan fisik yang baru dan mematikan. Keesokan paginya, Lian Yue bangun dengan inti spiritual yang lebih stabil, tetapi juga dengan perasaan gelisah yang mendalam. Ia adalah murid baru di sekte suci, tetapi ia menyembunyikan iblis kuno yang sangat posesif di dalam dirinya. Ia pergi ke area latihan dasar. Ji Han sudah menunggunya di sana, ditemani oleh beberapa murid inti lainnya. “Selamat pagi, Nona Lian,” sapa Ji Han dengan ramah. “Kita akan mulai dengan teknik pernapasan Air Murni. Ini akan membantu memurnikan energi spiritual Anda.” Saat Yue duduk di posisi meditasi, ia melihat sepasang mata mengawasinya dari kejauhan—Lian Huayan. Sepupunya itu kini tampak lebih elegan dengan jubah murid luar, tetapi tatapannya masih penuh racun. “Ada masalah lagi,” bisik Xuan di kepala Yue. “Roh klanmu itu menyebarkan kebohongan tentang dirimu. Jangan hiraukan.” Yue mencoba fokus pada instruksi Ji Han. “Tarik napas, rasakan energi murni Gunung Surya mengisi inti Anda,” instruksi Ji Han. Yue mencoba. Ia merasakan energi murni itu—hangat, ringan, seperti sinar matahari. Tetapi begitu energi itu mendekati Shadow Moon Core yang gelap, inti spiritualnya bereaksi dengan penolakan. Inti itu terasa dingin, padat, dan menuntut energi gelap. “Jangan terima energi matahari mereka,” perintah Xuan, suaranya tajam. “Itu akan menyakiti intiku. Ganti dengan Shadow Absorption.” Yue mencoba mengubah tekniknya, menarik energi gelap yang tersisa dari malam sebelumnya ke dalam intinya. Tiba-tiba, ia merasakan sakit menusuk di dadanya. Ia terkesiap dan membuka mata. “Nona Lian! Kenapa Anda tiba-tiba menarik energi? Itu bisa merusak jalur meridian Anda!” tegur Ji Han, segera mendatanginya. Yue menggigit bibirnya, tidak bisa menjelaskan bahwa ia sedang bertengkar batin dengan Kaisar Iblis. Saat Ji Han menyentuh bahunya untuk menenangkannya, Xuan Nightblade meledak. “JANGAN SENTUH DIA!” Kali ini, aura Xuan begitu kuat, hingga Yue bergidik dan tanpa sengaja energi gelap itu terlepas, membentuk pusaran hitam kecil di sekelilingnya. Semua murid yang melihatnya langsung terkejut dan mundur. Lian Huayan yang melihat kejadian itu langsung tersenyum kemenangan. “Lihat, Tuan Ji Han! Aku sudah bilang! Dia kerasukan! Inti spiritualnya adalah energi iblis! Dia adalah bahaya bagi Sekte Bintang Surya!” teriak Huayan. Ji Han menatap Yue dengan kaget dan sedikit rasa curiga. Aura hitam itu menghilang secepat ia muncul, tetapi kerusakan sudah terjadi. “Sial. Aku terlalu ceroboh,” dengus Xuan di dalam kepala Yue. “Aku lupa kekuatanmu masih lemah. Kontrol emosiku langsung memanifestasikan energiku.” “Maafkan saya,” kata Yue, berdiri dan membungkuk dalam-dalam. “Saya tidak mengendalikan energi saya dengan baik.” Ji Han masih terlihat tidak yakin. “Aura itu… Nona Lian, saya akan bicara dengan Nyonya Ling. Anda mungkin butuh latihan isolasi.” Latihan isolasi berarti diasingkan. Jelas ini adalah hasil dari sabotase Huayan dan kecerobohan Xuan yang terlalu cemburu. Yue meninggalkan area latihan, merasa terhina dan marah. “Kau menghancurkanku, Xuan!” tuntut Yue di dalam hati. “Aku melindungimu!” balas Xuan, nadanya defensif. “Aku tidak suka pria itu menyentuhmu! Dan lagi pula, jika kau diisolasi, itu justru akan mempermudah kita untuk melakukan penyeimbangan tanpa ada yang mengawasi.” Kata-kata itu membuat Yue terdiam. Segala tindak tanduk posesif Xuan, meski dilatarbelakangi kecemburuan, selalu berujung pada penguatan dan keintiman di antara mereka. Ia mulai menyadari bahwa ia tidak bisa marah pada Xuan, karena ia bergantung pada iblis itu untuk bertahan hidup. Saat ia berjalan melewati hutan bambu menuju area terpencil yang ditunjuk Ji Han sebagai tempat isolasi, ia mendengar suara tawa yang melengking, genit, dan sangat tidak sopan. “Oh, lihat! Gadis yang baru disambar aura gelap, berjalan sendirian. Ini pasti menyenangkan!” Di atas sebuah batu besar, seekor rubah putih kecil dengan sembilan ekor yang berkilau duduk dengan santai. Matanya cerdas dan nakal. Itu adalah Roh Rubah Putih—makhluk spiritual yang sangat langka. “Siapa kau?” tanya Yue. Rubah itu melompat turun. “Aku Shenya. Roh Penjaga Hutan Bambu ini. Dan aku sudah melihat semuanya, Lian Yue. Pertengkaranmu dengan roh cemburu di dalam kepalamu itu sangat lucu.” Yue membeku. “Kau… kau bisa mendengar Xuan?” Shenya tertawa, tawa yang terdengar seperti lonceng perak. “Tentu saja. Auranya sangat kuat, seperti bau kembang api yang sangat tua. Dan dia sangat posesif, My Little Moon.” Rubah itu berlari di sekeliling Yue, hidungnya mengendus-endus bahu Yue. “Energi kalian menyatu dengan sangat panas. Tapi hati-hati, Nona Yue. Kaisar Iblis itu memang posesif, tapi dia juga menyimpan rahasia besar. Segelnya tidak hanya membutuhkan inti spiritual, tetapi juga… tubuh yang sepenuhnya siap untuk regenerasi fisik. Aku bisa membantumu mencari tahu bagaimana cara kerja kutukan ini, tetapi sebagai imbalannya, kau harus sering menggaruk daguku.” Untuk pertama kalinya sejak ia terikat dengan Xuan, Lian Yue merasakan sedikit harapan, dan sedikit hiburan. Kaisar Iblis itu sekarang punya musuh dari dalam—roh rubah genit yang suka membocorkan rahasia. “Apa yang kau sembunyikan, Xuan?” bisik Yue dalam hati. “Jangan percaya rubah genit itu, Wadahku! Dia adalah mata-mata para dewa!” raung Xuan Nightblade, penuh amarah yang lucu.Perjalanan menuju Celah Naga Tersembunyi adalah ujian sejati bagi Lian Yue. Daerah itu dikenal akan medan yang brutal: jalur pegunungan terjal, jurang dalam yang diselimuti kabut tebal, dan roh jahat yang mendiami hawa dingin. Energi Bayangan Bulan Lian Yue, yang merupakan energi gelap, menarik makhluk-makhluk itu seperti ngengat. Xuan Nightblade tidak membiarkan Yue sendirian sedikit pun. Ia berjalan di sampingnya, selalu sedikit di belakang, atau setengah melangkah di depan, auranya seperti perisai tak terlihat. Ia menggunakan energi Yue untuk menjaga kabut menjauh, tetapi itu berarti mereka harus tetap berdekatan. “Kabut ini diresapi dengan Spirit Qi yang mati,” jelas Xuan, suaranya pelan di tengah kesunyian pegunungan. “Itu melukai inti spiritual murnimu. Biarkan aku menutupi auramu dengan Bayangan Bulanku.” Ia mengulurkan tangan, dan kali ini, Yue tidak menolak. Tangan rohnya yang padat menyentuh punggung Yue. Seketika, rasa dingin kabut menghilang, digantikan oleh kehanga
Matahari terbit, mewarnai langit timur dengan gradasi merah tua dan emas, tetapi di hutan lebat itu, hanya sedikit cahaya yang mampu menembus kanopi daun purba. Lian Yue dan Xuan Nightblade masih berada di tepi sungai. Mereka telah merencanakan langkah selanjutnya: mencari Gulungan Kunci yang disebutkan oleh Elder Wen. Yue menatap Xuan. Pria itu tampak tenang, seperti patung yang diukir dari es dan perak. Ketampanannya sangat tidak manusiawi, dan aura gelap yang mengitarinya terasa begitu kuat setelah ia mengambil alih tubuh Yue semalam. “Ke mana kita harus pergi?” tanya Yue, suaranya pelan. Ia berusaha menjaga jarak fisik, meskipun tanda segel di pinggangnya terus-menerus memancarkan kehangatan yang mendesak. “Gulungan Kunci itu tidak akan berada di ibu kota atau sekte. Klan Lian menyembunyikan hal terpenting mereka di tempat-tempat yang dipenuhi energi spirit kuno,” jelas Xuan, matanya yang merah gelap menatap ke kejauhan. “Tempat terdekat yang bisa menyimpan rahasia leluhur
Keputusan sudah dibuat. Setelah ancaman Dewa Jinlong dan intrik Elder Wen, Sekte Bintang Surya terlalu berbahaya. Lian Yue harus mencari sisa gulungan kuno yang berisi detail ritual leluhur Klan Lian. Malam adalah satu-satunya kesempatan mereka untuk melarikan diri tanpa terdeteksi. Lian Yue berdiri di depan cermin, mengenakan jubah gelap dan mengikat rambutnya tinggi-tinggi, menyembunyikan tanda-tanda kebangkitan Bayangan Bulan. Namun, ia tidak bisa menyembunyikan denyutan hangat di pinggangnya, tempat lunar mark Xuan bersinar redup. Xuan Nightblade muncul di belakangnya, auranya sedingin bayangan, tetapi matanya memancarkan kehangatan eksklusif untuk Yue. “Kau terlalu lama, Yue. Jika kau gagal bertindak cepat, mereka akan mengerahkan formasi pencarian spiritual,” bisik Xuan, suaranya seperti sutra dingin. “Aku tahu,” balas Yue, mencoba menenangkan detak jantungnya. “Tapi aku belum pernah menyelinap dari sekte elit. Aku takut.” Rasa takut yang jujur itu memicu reaksi insta
Setelah Dewa Jinlong menghilang, suasana di Sekte Bintang Surya bukan lagi sekadar hormat, melainkan ketakutan yang mencekam. Murid-murid memandang Lian Yue seolah dia adalah bom waktu berjalan, bukan gadis lemah yang mereka kenal sebelumnya. Yue kembali ke kamarnya, kakinya lemas. Ia duduk di tepi ranjang, jantungnya masih berdebar kencang. Itu adalah pertama kalinya ia berhadapan langsung dengan makhluk setingkat Dewa, dan fakta bahwa Xuan mampu melindunginya hanya menegaskan betapa berbahayanya roh itu—sekaligus betapa ia membutuhkannya. Xuan Nightblade muncul sepenuhnya di hadapannya, auranya kini tenang, namun tatapan matanya yang merah gelap dipenuhi perhitungan. “Dinding di Sekte ini sudah terlalu tipis,” kata Xuan, suaranya dingin. “Kemunculan Jinlong adalah peringatan. Ia menguji seberapa cepat aku bangkit. Dan sekarang, mereka akan bergerak.” “Siapa yang akan bergerak?” tanya Yue, suaranya bergetar. “Semua orang. Dewa Jinlong akan mencari cara lain untuk menyegelm
Lian Yue terbangun di kamarnya yang sunyi di Sekte Bintang Surya. Bayangan ungu yang membawanya dari Lembah Bayangan Bulan telah menghilang, dan jubah yang ia kenakan sudah kering. Tubuhnya terasa berat, tetapi pada saat yang sama, ia merasakan lonjakan energi Bayangan Bulan yang stabil—semua berkat Kristal Darah dan intervensi Xuan. Namun, yang paling mendominasi adalah sensasi di pinggangnya. Lunar mark yang kini permanen itu terasa hangat, berdenyut pelan, seperti jantung kedua yang hanya berdetak untuk dia. “Jangan bergerak terlalu cepat,” suara Xuan Nightblade terdengar dalam dan dingin di benaknya. Ia tidak perlu muncul untuk memancarkan dominasinya. “Energi segel sedang menyatu dengan Inti Bayangan Bulanmu. Setiap langkahmu kini memperkuat ikatan kita.” Yue mencoba duduk. Rasa lemas membanjiri dirinya. “Ini salahmu,” gumamnya, meskipun ia tahu protes itu sia-sia. Xuan muncul setengah fisik, duduk santai di ambang jendela kamar Yue, seolah ruangan itu adalah takhtanya.
Setelah Shenya menghilang dengan cekikikan terakhirnya, suasana di gua menjadi tegang. Energi gelap Xuan Nightblade terasa seperti kabut pekat yang siap meledak. Ia marah karena rahasianya—bahwa pemutusan ikatan melibatkan emosi dan hasrat—telah dibocorkan. “Lupakan omong kosong Rubah itu,” desis Xuan, tanpa perlu mengeluarkan suara. “Fokus. Kita harus menemukan Kristal Darah. Itu adalah sisa-sisa dari inti spiritual makhluk kuno yang kupaksa tunduk ribuan tahun lalu. Jika kau menyerapnya, inti Bayangan Bulanmu akan melompat setidaknya dua tingkat.” Yue mengangguk, tetapi pikirannya sibuk memproses informasi Shenya. Cinta dan hasrat. Itu adalah kelemahan Xuan, dan sekaligus kunci kebebasannya. Mereka keluar dari gua. Lembah Bayangan Bulan, sesuai namanya, dipenuhi bayangan yang menari. Yue mulai menggunakan energi Bayangan Bulannya untuk melihat dan bergerak lebih cepat. Ia harus mencapai jantung lembah. “Kau terlalu lambat. Gunakan bayangan di kakimu sebagai penopang,” instr







