MasukWUUUSHHH! BLAAAAAARRR!Sensasi ditarik dengan kecepatan cahaya melintasi pusaran ruang dan waktu membuat perut Vania seolah diaduk-aduk. Tubuhnya terasa ditarik ke jutaan arah yang berbeda.Begitu kilatan cahaya emas yang membutakan itu mereda, kakinya kembali berpijak pada sesuatu yang sangat keras dan dingin.Angin segar yang membawa aroma magis bunga teratai langsung menyapu wajahnya, membersihkan paru-parunya dari sisa polusi dan bau kaporit.Vania membuka kelopak matanya lebar-lebar. Ia tidak lagi berada di apartemen tiga puluh meter perseginya yang berantakan, apalagi di rumah sakit.Ia berdiri tegak di tengah-tengah aula kristal raksasa yang memancarkan pendaran galaksi. Mimbar tinggi dengan enam singgasana raksasa bertahtakan es, karang, magma, giok, dan kristal matahari menjulang anggun di hadapannya.Mereka kembali. Kembali ke jantung Elysium Court."Apa... bagaimana bisa?" Vania terengah-engah.Ia menunduk dan terkesiap melihat pakaian pasien rumah sakit tipis yang tadi di
Seolah menjawab pertanyaan Vania, seluruh bangunan apartemen lantai dua puluh itu bergetar hebat layaknya diguncang gempa bumi magnitudo tujuh. Kaca balkon bergetar keras hingga retak.Dari balik bayangan malam di luar balkon, sebuah tangan batu raksasa merobek terali besi pengaman apartemen Vania dengan sangat mudah seolah itu hanya ranting kering.TRANG! KRAAAK!Gargantua menyusutkan wujudnya secara paksa agar bisa memanjat masuk melalui pintu kaca balkon. Raksasa itu menunduk sangat rendah agar kepalanya tidak menabrak plafon gipsum apartemen."Vio! Aku sangat merindukanmu!" suara bariton Gargantua menggelegar, membuat seluruh kaca piring di lemari dapur Vania berdenting keras. "Gedung kotak-kotak bersusun ini sangat rapuh, aku nyaris meruntuhkannya saat memanjat dari jalanan di bawah sana!""Kau memanjat dinding apartemen dari lantai dasar sampai lantai dua puluh dari luar?!" Vania membelalakkan matanya ngeri, membayangkan kehebohan warga saat melihat rekaman CCTV yang akan viral
VROOOM! CIIIIT!Mobil sedan hitam milik Vania berhenti mendadak di area parkir basement apartemen mewahnya, menciptakan decitan ban yang melengking memecah kesunyian malam ibu kota.Di kursi penumpang depan, Orion mencengkeram dashboard plastik mobil itu dengan rahang mengeras. Wajah sang Kaisar Naga terlihat agak pucat di bawah temaram lampu parkir yang redup."Benda besi ini adalah monster paling buruk, lambat, dan paling berisik yang pernah kutunggangi," geram Orion, berusaha menarik sabuk pengaman modern itu dengan kasar hingga nyaris robek. "Dia berteriak, berguncang di setiap tanjakan, dan baunya seperti sisa pembakaran minyak bumi rendahan. Jika ini di Elysium, aku sudah melelehkannya menjadi abu sejak roda pertamanya berputar!""Berhentilah mengeluh, Kadal! Kau sendiri yang bersikeras duduk di depan demi mendominasi ruang pandang!" sahut Lycan dari kursi belakang.BZZZT... KLIK! BZZZT... KLIK!Raja Serigala itu sama sekali tidak memedulikan ketegangan Orion. Lycan justru as
"Singgasana? Di dunia ini, singgasanaku adalah apartemen berukuran tiga puluh meter persegi, dan kau tidak akan menyentuh satu inci pun darinya malam ini!" desis Vania tajam, mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendorong dada zirah Orion.Sayangnya, tubuh sang Kaisar Naga itu terasa seperti dinding baja padat yang tidak bergeming sedikit pun."Oh? Kau menolakku, Istriku?" Orion justru menyeringai semakin lebar, merapatkan pelukannya hingga Vania nyaris tidak bisa bernapas. Mata merah darahnya menatap nyalang ke sekeliling kamar VIP yang berantakan. "Lalu di mana kau tidur? Di atas ranjang putih pucat yang berbau kematian ini? Aku bisa menghancurkannya sekarang juga dan membuatkan ranjang dari emas murni untukmu.""Berhenti memonopolinya, Kadal Sombong!" raung Lycan dari sudut ruangan.WUSHHH!KRAAAK!Raja Serigala itu mengayunkan pedang esnya, menciptakan gelombang udara beku yang langsung membekukan selimut rumah sakit di atas ranjang Vania."Dunia ini terlalu rapuh, Betina!" seru Ly
BZZZT...TRING!Layar LED raksasa di seberang jalan itu berkedip keras satu kali, lalu kembali normal. Grafis epik dan wajah sang Kaisar Naga lenyap tanpa jejak, digantikan oleh tayangan iklan mobil keluaran terbaru yang bergerak monoton seolah tidak pernah terjadi apa-apa."Tidak mungkin..." Vania mengusap wajahnya dengan kasar. "Otakku benar-benar sudah rusak. Ini pasti halusinasi."Namun, bantahan logis di kepala Vania langsung dipatahkan saat benda pipih di dalam saku jaketnya bergetar hebat.DRRRTTT... DRRRTTT!Vania merogoh saku jaketnya dengan tangan gemetar. Layar ponselnya tidak menampilkan notifikasi pesan biasa. Alih-alih antarmuka modern yang familier, layar itu didominasi oleh kotak dialog berwarna emas dengan font purba khas Administrator Abyss.[Proses Unduhan Realita: 10%...] [Menyinkronkan Koordinat Wadah Utama...]"Sistem?! Bagaimana mungkin program game bisa meretas ponselku secara langsung?!" desis Vania panik.Matanya menyapu layar dengan cepat. Ia mencoba menekan
Jari telunjuk Vania yang bergetar melayang di atas layar ponselnya. Ragu, takut, namun didorong oleh keputusasaan yang tak terbendung, ia akhirnya menekan ikon aplikasi berwarna emas tersebut.Layar menjadi hitam sejenak.Sebuah alunan musik instrumen bergema dari speaker ponsel. Nada yang seharusnya terdengar megah dan epik itu terasa hampa di telinga Vania.Itu hanya versi MIDI digital dari paduan suara ribuan roh cahaya yang menyambutnya di Elysium Court.Layar memunculkan teks loading dengan font yang sangat ia kenal.[Menyinkronkan Data... 99%]Menu utama terbuka. Terdapat opsi Mulai Petualangan, Galeri Karakter, dan Pengaturan. Dengan napas tertahan, Vania menekan Galeri Karakter.Deretan ilustrasi dua dimensi muncul di hadapannya.Lycan dengan zirah bulu serigalanya, Zephyr dengan senyum liciknya, Aegir yang memegang trisula, Gargantua yang menjulang besar, dan di tengah... Orion, dengan rambut putih dan mata merah darahnya.Vania menyentuh wajah Orion di layar. Layar kaca yang
"Kenapa... kenapa kau peduli pada sisikku?" Tanya Aegir saat hendak menyesap darah Vania. "Karena kau bilang kau cantik. Aku ingin membuktikannya. Aku ingin melihat sisikmu tumbuh kembali. Aku ingin melihat siripmu yang indah mengembang di dalam air... agar aku bisa melihatmu berenang dengan bebas
“Panas… Tolong hentikan air panas ini!” Lolong keputusasaan itu merobek malam. Tubuh Aegir yang terendam di tepian danau bergolak liar. Sisik-sisiknya rontok seolah tersiram air mendidih, meninggalkan daging kemerahan yang mengepulkan asap. “Keluar dari air itu, Aegir!” Vania menerjang maju, men
Vania menatap telur hitam berukuran masif di hadapannya. Serat merah di cangkangnya berdenyut. Ini bukan sekadar barang sitaan. Vania tidak peduli seberapa bahayanya telur yang dikatakan oleh sistem. Yang ia pikirkan saat ini hanya ingin pergi dari tempat ini. Membawa serta ke empat pria yang ma
"Kau pikir aku akan percaya dengan kata-katamu hanya karena kau berlagak baik, hmm? Aku tidak akan menurut dengan manusia kejam sepertimu!" ujar Lycan. “Kalau kau mati karena gengsimu itu,” balas Vania datar, “siapa yang akan melindungi mereka?” Tatapan Lycan berubah. Vania melirik ke arah A







