LOGIN“Kamu kemana aja dan kenapa kamu nggak ada, waktu Giselle dibawa ke rumah sakit? Sebenarnya apa saja yang kamu lakukan di luaran, Fan?” Suara tegas Bima membuat nyali Fani menciut.Bima memanggilnya dengan sebuah nama, hal yang hampir tak pernah terjadi dalam sejarah pernikahan mereka. Fani menyandarkan tubuhnya pada kursi besi yang berada di luar kamar. Dia pusing, bagaimana harus berkata-kata lagi agar suaminya percaya.“Iya, Mas, aku minta maaf aku pergi ke luar kota karena ingin bertemu dengan teman-teman lamaku. Kegiatanku ini juga positif kok, Mas. Kami rencananya ingin menggalang dana untuk Yayasan, juga hal-hal baik lainnya. Ehm, perasaan aku udah cerita banyak sama kamu waktu kamu pulang kemarin.” Fani menjeda kalimatnya.“Ya mungkin memang sudah menjadi nasib sialku saja, saat aku berada di luar rumah Giselle malah kondisinya semakin parah, hingga akhirnya dibawa ke rumah sakit. Aku bener-bener minta maaf Mas, aku lalai menjaga Giselle dengan baik. Aku memang ibu yang tidak
“Makasih ya, Kak Dika buat hari ini!” seru Fani dengan suara nyaring.“Sama-sama! Eits, jangan panggil Kak dong, kan tadi udah sepakat buat panggil nama aja. Kita kan juga nggak jauh-jauh amat terpaut usianya. Panggil nama aja biar lebih enak,” kata Dika.“Oke Dika. Sekali lagi, terima kasih.” Fani tersenyum. “Next kalau aku main ke kota ini lagi, kamu wajib siapkan waktu luang ya, spesial buat jadi tour guide ku seperti ini.”“Siap! Kabar-kabari aja pokoknya!” Dika mengacungkan jempol.Fani mengangguk, perempuan itu langsung melambaikan tangan dan membawa mobilnya membelah jalan raya. Pukul delapan malam Fani baru memasuki gerbang pintu tol. Perjalanan sampai ke rumah kurang lebih menghabiskan sekitar satu hingga satu setengah jam dari tol yang sekarang. Tergantung situasi dan kondisinya. Fani menyalakan ponselnya saat sudah berada di jalan tol. Dia mengambil rute kiri karena tak bermaksud untuk mendahului. Lagi pula dia juga tak berminat kebut-kebutan. Pelan-pelan saja asal sampai t
“Sepertinya aku harus balik deh, Fan, udah hampir sore juga. Aku mau pulang dulu buat kasih ini ke anak istriku.” Dika melirik arloji di pergelangan tangannya lalu menunjuk paper bag yang diletakkan di kursi sampingnya.“Memangnya Kak Dika kerja di Perusahaan apa, sih?” tanya Fani ingin tahu.“Aku di bidang properti. Ya kerjanya santai, cuma kalau nggak kekejar targetnya ya aku nggak gajian, Fan. Kadang masuk juga absen aja gitu, atau kalau nggak ada prospek dan ketemu klien ya aku cosplay jadi kang ojek,” jawab Dika jujur.“Memangnya pernah gitu nggak gajian ya, Kak?” “Alhamdulillah belum pernah sih, Fan, aku selalu dapat customer ya meskipun kadang pernah nggak capai target. Tapi kan lumayan hasilnya bisa bikin dapur tetep ngebul. Sorry jadi banyak cerita gini sama kamu ya, Fan. Ini aja aku habis antar makanan ke rumah, rencananya mau keliling lagi cari customer sambil aktifkan aplikasi.” Dika menatap Fani sejenak, lalu menghabiskan sisa minumannya dalam gelas.“Kalau gitu biar aku
Bab 18. Masuk perangkap Semalam Fani memberikan Giselle obat penurun panas dua kali. Jadi pagi ini Giselle badannya hanya sumer meskipun tak seceria biasa. Fani sedikit lega karena rencananya dia akan pergi bertemu dengan tambatan hatinya. Berkat koneksinya, akhirnya Fani bisa juga menemukan keberadaan Dika. Andai kapan hari dia tak melihat Dika, mungkin keinginan untuk mengejar dan mendekati lelaki itu tak akan pernah terpikirkan oleh Fani.“Bu, aku mau pergi ke luar kota. Paling sampai di sini nanti jam 9 malam. Itu juga paling lama, aku titip Giselle bisa kan, ya? Upah lebihannya aku bayar di muka, ini!” Fani memberikan selembar uang berwarna merah pada Bu Nur. Wanita paruh baya itu juga langsung meraihnya. Selama ada uang, maka Bu Nur akan melakukan apa yang diperintahkan oleh majikannya itu. “Makasih, Fani.”Fani mengangguk. Tekadnya untuk bertemu dengan Dika sudah lebih dari bulat. Antara rindu, ingin beramah tamah dan menjalin hubungan dekat dengan pria itu, adalah impiannya.
Fani pulang dengan sejuta pertanyaan. Pasalnya, tadi Pak U'ut berkata bahwa dia tak memiliki nomor ponsel Dika ataupun tau tempat tinggalnya. Tapi kepastiannya ternyata Dika sudah menikah dan mempunyai seorang anak. Hal itu tak membuat Fani menyerah walaupun dia sempat kecewa karena tambatan hatinya itu ternyata sudah berkeluarga. Fani masih bertekad untuk mencari tau tentang Dika. Ada ambisi yang menggebu-gebu untuk mendapatkan apa saja yang tak bisa diraihnya dulu.“Fan, ini Giselle kayaknya demam deh. Apa nggak sebaiknya kamu bawa ke dokter?” ujar Bu Nur.“Kasih aja obat penurun demamnya dulu, Bu, ada di kotak P3K yang rasa jeruk. Kalau 4 jam ke depan masih panas, minumkan lagi. Kita tunggu aja sampai besok, kalau masih demam juga baru aku bawa ke dokter,” kata Fani.Bu Nur hanya mengangguk saja. Dia menurut dengan apa saja yang dikatakan oleh majikannya.“Oke!” sahut Bu Nur. Dia langsung membalikkan badan untuk memenuhi ucapan Fani, memberikan obat sirup penurun panas untuk Gisell
Berat bagi Bima meninggalkan anak istrinya untuk kembali mencari nafkah, namun hal itu harus dilakukan karena sudah menjadi tanggung jawabnya. Apalagi kebutuhan dan kepentingan lainnya semakin meningkat, seiring dengan pertumbuhan putrinya. Jadi Bima harus berupaya dan bekerja keras dari sekarang, agar masa depan anaknya terjamin.“Aku berangkat dulu ya, Sayang? Kamu jaga diri baik-baik di rumah, aku selalu merindukanmu dan Giselle,” ucap Bima saat berada di Bandara. Penerbangan pesawatnya masih satu setengah jam lagi, tak apa menunggu sambil bersantai di sana daripada ketinggalan nanti. Fani yang sudah bisa mengontrol perasaannya sejak pagi tadi pun mengangguk seraya tersenyum. Terbesit sedikit perasaan bersalah karena kemarin dia sempat kasar pada suaminya.“Iya, Mas! Kamu kerjanya semangat dan jangan lupa berdoa. Semoga suatu saat nanti kamu bisa kerja di sini tanpa kita harus LDM kayak gini, ya, Mas? Aku minta maaf soal kemarin, mungkin suasana hatiku sedang buruk,” kata Fani.Di







