Share

4. Gugup

Alice merasakan perang batin, haruskah ia kembali saja atau membangunkan pria itu. Ia melirik keluar ruangan, hari sudah mulai gelap. Akhirnya Alice memutuskan untuk mendekat menuju sofa itu dan menunduk, ia mendekatkan kepalanya ke wajah pria itu dan mengamati dari dekat wajah tampannya. Erickson selalu memasang wajah dingin dan kaku saat sadar, namun saat sedang tidur wajahnya lebih tenang dan polos, seperti anak kecil.

Alice terbayang bagaimana jika ekspresi wajah polos yang dilihatnya saat ini adalah ekspresi yang dipasang oleh pria itu setiap hari di kantor, pasti semakin banyak yang tergila-gila padanya. Sejujurnya ia cukup beruntung bisa berada dengan jarak yang dekat dengan bosnya seperti saat ini.

Ekspresi wajah Alice seketika berubah saat ingatannya tiba-tiba mengingat kejadian beberapa hari yang lalu saat seorang wanita datang ke kantor dan menemui Erickson. Usut punya usut, wanita itu adalah wanita kesekian yang dibawa oleh ayahnya untuk menjadi teman kencan Erickson, namun ditolak oleh pria itu. Lagi-lagi katanya, wanita itu datang untuk membujuk Erickson agar tidak menolak kencan mereka. Padahal penampilan wanita itu tidak bisa dibilang biasa saja, malah sangat cantik dan seksi, bahkan rekan-rekan kerja Alice melihat wanita itu dengan lekat seakan melihat bidadari.

Sedangkan Erickson melihat wanita itu dengan tatapan datarnya seperti biasa. Karena hal itu terus terjadi berulang kali, banyak rumor di kalangan karyawan yang mengatakan bahwa Erickson sudah mencintai pekerjaannya melebihi wanita. Bahkan ada yang bilang Erickson menganut kepercayaan bahwa pekerja merupakan pasangan hidupnya. Tentu saja Alice geleng-geleng kepala mendengar gosip itu.

"Presdir, apa anda tahu orang-orang bilang anda sudah menikah dengan pekerjaan?" kekeh Alice pelan di hadapan Erickson yang tertidur pulas. Tentu Erickson tidak mendengarnya karena ia sedangkan terlelap. Setidaknya itu yang Alice pikirkan sebelum Erickson membuka matanya.

Tidak sepatah katapun yang keluar dari bibirnya, namun perlahan mata yang terpejam itu terbuka hingga menunjukkan iris indah berwarna biru menatap tanpa ragu sosok perempuan di depannya yang kini terkesiap mendapati dirinya sudah tersadar.

"Eh, itu… saya… maafkan saya... apa Anda terbangun karena saya?" Alice tidak tahu harus berbuat apa, ia refleks membulatkan matanya menatap Erickson. Berarti sejak tadi Erickson tidak tidur dan mendengar ucapannya? Atau ia malah terbangun karena dirinya?

Alice menyesali kalimatnya yang keluar dengan mudahnya dari mulutnya tadi. Ia merasa malu. Tapi seharusnya Erickson menjawab panggilannya jika ia tidak tidur bukannya malah diam dan membuat Alice berbicara yang aneh-aneh. Untunglah ia tidak mendeklarasikan rasa kagumnya pada Erickson seperti siang tadi. Jika tidak, ia tak bisa bayangkan akan seberapa malu lagi dirinya saat ini.

"Anu… saya membawa proposalnya." Berusaha setenang mungkin, Alice mencoba mengalihkan pembicaraan mereka. Meski detak jantungnya masih berdebar hebat karena terkejut.

"Sudah yang keberapa kali?" Erickson bersuara parau. Ia bangkit lalu mengambil sekumpulan kertas di tangan Alice.

Suaranya yang terdengar serak di telinga Alice membuatnya berasumsi seperti Erickson baru saja bangun. Ternyata benar, dirinya membuat bosnya terbangun dari tidurnya. Rada bersalahnya sedikit tertutupi dengan kebingungan yang muncul, ia memiringkan kepalanya mencoba mengartikan apa maksud dari ucapan Erickson. "Apanya?" Alice berucap perlahan, lalu mengintip melalui sudut matanya, takut Erickson akan memarahinya.

"Kau mengantar proposal ini." Nada yang begitu menusuk, bahkan meskipun ia tak menatap Alice sedikitpun, Alice sudah merasa sedang dimarahi.

Benar dugaan Alice, Presdirnya itu sedang dalam mood yang jelek. Nadanya terasa lebih tajam dari biasanya. Ditambah ia yang sembarangan mengganggu istirahat Erickson mungkin menjadikannya semakin jengkel.

"4 kali…," ujar gadis itu pelan. Ia menggigit bibir bawahnya gugup menunggu balasan Erickson yang tak kunjung datang.

Lama membisu, akhirnya suara Erickson yang memecah keheningan. "Lumayan. Kita gunakan ini dalam meeting besok sebelum kamu survei ke lapangan." Nada ketus yang tadi sudah menghilang, yang sampai di telinga Alice hanya nada datar biasa yang selalu keluar dari mulut Erickson. Untunglah, pikirnya. Padahal ia sudah ingin bersiap untuk mengulang lagi.

Erickson yang tadinya duduk di sofa itu kini sudah berdiri lalu kemudian memakai jasnya yang tergeletak di ujung kursi. "Pulanglah. Kerja bagus untuk hari ini." Erickson mengancingkan dua kancing jasnya lalu menyapunya sedikit dengan tangannya.

"Baik, Presdir." Alice tersenyum cerah menanggapi ucapan Erickson. Matanya tak sengaja melirik keluar ruangan dan menyadari bahwa ternyata hanya tinggal mereka berdua yang berada di sana. Semua rekan kerjanya di lantai yang sama sudah tidak terlihat batang hidungnya. Lalu kecanggungan muncul perlahan dan ia tercenung dengan mulutnya sedikit terbuka setelah ia menyadari jangan-jangan Erickson menunggunya menyelesaikan proposalnya? Karena bahkan Arthur pun tak terlihat di sana. Rasa bersalah menelannya karena membuat Erickson jadi lembur gara-gara dirinya.

"Maafkan saya, Presdir. Saya jadi membuat Anda pulang terlambat." Alice sungguh merasa bersalah dan tidak enak hati.

Erickson menahan gerakan tangannya yang tadi tengah sibuk merapikan beberapa tumpukan di mejanya. "Aku tidak menunggumu. Aku menunggu Arthur." Ia tak berbohong saat mengatakan itu, ia memang bukan hanya menunggu proposalnya namun ia juga menunggu Arthur. Lagipula ia sudah biasa pulang lebih larut dari hari ini. Malah kebetulan saja hari ini pekerjaannya sudah hampir selesai saat matahari mulai terbenam sehingga ia bisa sedikit bersantai.

"Ah, begitu. Baik. Kalau begitu saya permisi." Alice tak berani bertanya atau memperdebatkan rasa bersalahnya pada Erickson karena itu mungkin malah membuat suasana semakin canggung baginya.

"Tunggu." Erickson menimbang sebentar. Alice menatapnya dalam diam, menunggu atasannya itu melanjutkan ucapannya.

"Apa rumahmu jauh?" Manik berwarna cerah yang indah itu menatap Alice, ekspresinya sangat sulit untum ditebak. Ia hanya menatap datar dan menunggu gadis itu menjawabnya.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status