Home / Romansa / Luka Cinta Istri Kedua / Bab 74. Satu Rumah

Share

Bab 74. Satu Rumah

Author: Sulistiani
last update Huling Na-update: 2025-08-20 06:04:58

"Masuklah dulu, Ma… Mas, ayo kita masuk," ucap Hana pelan sambil tersenyum, meski wajahnya tampak letih. Ia melangkah mendahului, mengajak suami dan mertuanya masuk ke dalam rumah yang kini menjadi tempat tinggalnya bersama sang bayi.

Begitu duduk di ruang tamu, seorang perempuan paruh baya keluar dari kamar dengan senyum hangat. Wajahnya ramah, keriputnya menandakan usia, namun matanya tetap berbinar penuh kasih.

"Hana. Suamimu sudah datang rupanya," sapa perempuan itu, yang tak lain adalah Bu Rum, pemilik rumah yang kini ditempati Hana.

Hana tersenyum lebar. "Iya, Bu. Mas Irsyad datang bersama mamanya," ia menoleh pada Nur. "Bu, ini Mama Nur, mertuaku, Mama mas Irsyad. Mama, ini Bu Rum tetangga Hana dulu, pemilik rumah ini dan Alhamdulillah Bu Rum mengizinkan Hana dan Ihsan untuk tinggal bersama karena rumah orang tua Hana rata dengan tanah, Hana belum bisa membangunnya kembali."

Nur segera maju, menangkup tangan Bu Rum dengan hangat. "Assalamu’alaikum, Bu Rum. Terima kasih banyak s
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Luka Cinta Istri Kedua   Bab 85. Karma

    Hari-hari yang Irsyad lalui terasa berat saat bersama Sandra. Wanita itu menolak untuk kontrol ke psikiater, Irsyad takut mentalnya semakin tidak baik dan nanti akan berdampak buruk pada kehidupan mereka.Siang ini di hadapan irsyad sudah terhidang hidangan khas Italia, tapi bagi Irsyad, nafsu makan seolah hilang. Pikirannya terus melayang pada Sandra dan perusahaan kosmetiknya yang hampir tumbang.Marco melirik Irsyad yang tampak lesu. Ia meletakkan garpunya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi."Syad, kamu kelihatan nggak tenang. Padahal semua makanan di atas meja ini best seller. Ada masalah?" tanya Marco.Irsyad menarik napas panjang, lalu tersenyum kaku kearah sang bos. "Memang ada masalah, Pak. Sebenarnya... saya lagi kepikiran perusahaan Sandra. Perusahaan kosmetiknya sedang kolaps."Marco mengangguk pelan. "Hmm... aku pernah dengar sekilas. Apa yang sebenarnya terjadi?"Irsyad menunduk sebentar, lalu menatap Marco. "Penjualan menurun drastis, investor banyak yang tarik diri

  • Luka Cinta Istri Kedua   Bab 84. Semakin Parah

    Hari-hari yang dilalui Irsyad dan Sandra kini terasa semakin hambar. Di meja makan hanya ada bunyi sendok dan piring. Di ruang tamu hanya ada suara televisi yang menyala tanpa benar-benar ditonton, sementara masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.Sandra semakin tenggelam dalam krisis perusahaannya. Investor mendesak, laporan penjualan menurun, produksi kacau, bahkan pabrik sering kali bermasalah. Semua itu membuat Sandra gampang marah. Dan, seperti biasa, saat emosinya meluap, nama Hana kembali dibawa-bawa.Malam itu, setelah pulang dari kantor dengan wajah kusut, Sandra menjatuhkan tasnya ke sofa. Irsyad yang menunggunya di ruang tamu mencoba mendekat.Irsyad menatap wajah istrinya dan berkata pela. "Sandra, kamu kelihatan capek banget. Kalau ada yang bisa kubantu, bilang aja. Jangan kamu tanggung sendirian."Sandra menghempaskan tubuh ke sofa, nada ketus ia menjawab. "Kamu bisa bantu apa, Mas? Semua sudah kacau. Investor marah, produksi hancur, penjualan anjlok. Semua ini te

  • Luka Cinta Istri Kedua   Bab 83. Tanpa Senyuman dan Pelukan

    "Syad… itu apa yang kamu bawa?'Irsyad yang sedang fokus menyetir, sempat terdiam beberapa detik. Kedua tangannya menggenggam setir lebih erat. Ia tahu cepat atau lambat, Nur akan bertanya."Itu, Ma…"Irsyad menarik napas panjang, mencoba jujur. "Oleh-oleh buat Sandra. Aku beli lewat jastip. Barang-barang dari Paris."Nur menoleh, menatap wajah anaknya. "Jastip?"Irsyad mengangguk pelan. "Iya, Ma. Aku cuma ingin Sandra percaya ku keluar negeri seminggu untuk urusan pekerjaan. Makanya aku pesan barang-barang itu, supaya kelihatan nyata.'Nur terdiam cukup lama, lalu menghela napas panjang, dalam, berat."Ya Allah, Syad. Kamu sampai harus berbohong seperti itu?!"Irsyad menunduk sedikit, matanya redup. "Aku paling nggak suka bohong, Ma. Akan tetapi Sandra… kondisinya rapuh. Kalau aku jujur, aku takut dia makin kacau. Aku cuma pengen melindungi semua orang, Ma. Pengen Hana aman, pengen anakku aman, tapi aku juga nggak mau Sandra jatuh lagi."Nur menatap jalanan di depan, tapi pikirannya

  • Luka Cinta Istri Kedua   Bab 82. Oleh-oleh Jastip

    Di teras rumah sederhana milik Bu Rum, suasana haru tak terelakkan. Hari itu, Irsyad dan Mama Nur harus kembali ke kota, meski hati mereka masih tertambat di desa tempat Hana tinggal.Mama Nur duduk sambil menggendong Ihsan, cucu kecilnya, erat sekali. Wajahnya basah oleh air mata, berkali-kali ia menunduk menciumi pipi dan kening bayi mungil itu seakan tak ingin melepas. Hana hanya bisa menunduk, menahan perasaan yang campur aduk antara sedih, pasrah, dan rela."Ma." suara Irsyad lirih, berusaha menenangkan ibunya, "kita harus berangkat sekarang."Mama Nur menggeleng pelan, suaranya bergetar, "Bagaimana mama bisa pergi, Syad…? Cucu ini masih kecil, ibunya pun tinggal jauh dari kita. Rasanya mama tak sanggup meninggalkan mereka di sini."Hana buru-buru meraih tangan mertuanya, mencium punggung tangan itu penuh takzim. "Mama jangan khawatir, insyaAllah Hana bisa menjaga Ihsan dengan baik. Mama juga jangan sedih, aku ingin Mama tenang di kota."Air mata Mama Nur semakin deras. Ia mengel

  • Luka Cinta Istri Kedua   Bab 81. Makam Keluarga

    "Terima kasih, Hana. Memang tidak ada yang lebih baik darimu, istri yang selalu menuruti dan menyenangkan suami ya," ucap Irsyad lalu mencium kening Hana.Setelah cukup lama membujuk Hana, malamnya pun akhirnya Hana setuju untuk melakukan hubungan suami istri dengan Irsyad, tetapi Irsyad harus melakukan pelepasan di luar. Hana juga tak tega jika Irsyad harus menunggu sampai bulan depan, malam itu akhirnya menjadi puncak kemesraan mereka selama seminggu mereka bersama."Besok hari terkahir aku di sini, aku mau ke makam orang tuamu, boleh?" tanya Irsyad."Boleh, nanti kita sama-sama kesana," ucap Hana.Keesokan harinya.Pagi itu, udara desa masih segar. Kabut tipis menutupi jalan setapak yang dilalui Hana bersama Irsyad, Bu Nur, dan Bu Rum. Suasana hening, hanya suara dedaunan yang berbisik diterpa angin. Di tangan Hana ada sebungkus bunga tabur, sementara Bu Rum membawa kendi berisi air untuk menyiram pusara.Mereka berjalan menyusuri pematang, hingga akhirnya tiba di area pemakaman de

  • Luka Cinta Istri Kedua   Bab 80. Tak Tahan

    "Demi Allah, aku tidak seperti itu, Hana. Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?" tanya Irsyad terkejut dengan ucapan Hana.Hana menghela nafas, menundukkan wajahnya mengingat awal pernikahan mereka. Irsyad begitu dingin, jangan kan untuk menyentuhnya, tidur sekamar pun tidak mau. "Dulu kamu begitu dingin dan enggan menyentuhku, lalu karena paksaan mbak Sandra kita melakukannya. Setelah itu pasti mbak Sandra sering nolak kamu, jadi kamu melampiaskan nya padaku," ucap Hana seraya memainkan kuku jarinya."Tidak seperti itu, Hana." ucap Irsyad, ia meraih tangan Hana dan menatap wajah istri keduanya dalam-dalam. "Saat awal pernikahan aku bersikap dingin karena aku belum terbiasa dengan kehadiran kamu, aku akui malam pertama kita terpaksa aku lakukan karena desakkan Sandra. Namun setelah itu ...."Ucapan Irsyad terhenti, hal itu membuat Hana menatap Irsyad dan mengerutkan keningnya. "Setelah itu?" tanya Hana."Di malam pertama kita aku merasakan hal yang belum pernah aku rasakan sebelumya

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status