MasukHari ketiga sejak kepergian Luna.
Sagara-bayi mungil itu-akhirnya diizinkan pulang setelah Sekar bolak-balik mengurus surat dan akta kelahiran. Tubuh kecil yang dulu hanya ia elus dari balik perut kini berada dalam gendongannya, hangat, nyata, dan sepenuhnya bergantung padanya. Sekar memutuskan satu hal tanpa ragu: Sagara akan menjadi anak kandungnya. Ia menjelaskan semuanya pada ibu kos-tentang Luna, tentang bayi itu, tentang keputusannya. Sekar sudah bersiap jika harus pergi, tapi perempuan paruh baya itu hanya terdiam lama sebelum akhirnya mengangguk. "Cari tempat tinggal baru itu nggak gampang, Mbak. Tinggallah dulu di sini." Sekar hampir menangis karena lega. Kos berukuran empat kali delapan meter itu kini menjadi tempat berlindung mereka berdua. Tidak luas, tidak mewah, tapi cukup untuk menahan panas dan hujan-cukup untuk memulai hidup baru. Sekar meminta bantuan Bu Sarah, istri penjaga kos yang juga biasa membersihkan kamar-kamar. Ia belum berani mempercayakan Sagara pada orang lain. Setidaknya, Bu Sarah sudah ia kenal hampir dua tahun. Luna bahkan sudah empat tahun tinggal di tempat itu. Lagipula, Bu Sarah belum dikaruniai anak. Sebuah kebetulan yang disyukuri Sekar, meski terasa getir. "Gara ganteng banget ya, Mbak Sekar," ucap Bu Sarah sambil menggendong bayi itu dengan hati-hati. "Pasti ayahnya juga ganteng." Sekar tersenyum tipis. "Anak pinter jangan nakal ya sama mamanya," lanjut Bu Sarah, terkekeh. "Kasihan mama capek pulang kerja." Kata mama membuat dada Sekar menghangat sekaligus sesak. Ponselnya bergetar. Argaku calling... Sekar menatap layar itu lama. Sudah tiga hari ia mengabaikan panggilan Arga. Bukan karena tak peduli-justru karena terlalu peduli. Ia belum siap menjelaskan semuanya. Belum siap menghadapi kemungkinan terburuk. Mereka pacaran jarak jauh. Sekar di Jakarta, Arga di Bogor. Hubungan mereka tak pernah benar-benar mulus, terlebih restu ibu Arga yang belum juga datang. Tapi Arga sudah pernah melamar-meski belum resmi. Pesan demi pesan memenuhi layar. Arga: Sayang Arga: Kenapa chat aku nggak dibalas Arga: Kamu marah? Arga: Aku ada salah apa? Sekar mematikan layar sebelum air matanya jatuh. Tangisan Sagara memecah keheningan. "Kayaknya Gara haus, Mbak," kata Bu Sarah. "Iya, Bu." Sekar mengecek botol susu. "Aku beli susu sebentar ya. Tinggal dikit." Supermarket itu hanya sepuluh menit berjalan kaki. Sekar membeli dua kaleng susu, memilih yang sama seperti sebelumnya. "Tiga ratus dua puluh ribu, Mbak," ucap kasir. Sekar mengangguk, membayar, lalu melangkah keluar. Di depan pintu, langkahnya terhenti. Seseorang berdiri tak jauh darinya. Sekilas. Samar. Tapi cukup membuat jantungnya berdetak tidak beraturan. Tidak, batinnya. Cuma mirip. Sekar menarik napas panjang. "Lupakan," gumamnya. "Sudah berlalu." Malam itu, setelah mandi dan Bu Sarah pulang, Sekar merebahkan diri di samping Sagara. Ponselnya kembali bergetar. Argaku calling... Sekar akhirnya mengangkat. "Halo..." "Sayang," suara Arga terdengar lega sekaligus marah tertahan. "Kenapa baru diangkat? Aku kira kamu kenapa-kenapa." "Aku lagi banyak kerjaan," jawab Sekar pelan. "Teman kos aku juga pindah." "Aku khawatir. Tiga hari kamu cuekin aku." "Iya... maaf. Aku capek. Aku tidur dulu ya. Besok kita ngomong." Tanpa menunggu jawaban, Sekar memutus panggilan. Ia menatap wajah mungil di sampingnya. Bayi yang dulu hanya terasa sebagai beban tambahan kini menjadi alasannya bertahan. Sagara tersenyum kecil dalam tidurnya. Sekar ikut tersenyum sebelum akhirnya terlelap. Tangisan kecil membangunkannya pukul empat lewat dua puluh. "Sayang, kamu haus ya?" bisiknya sambil menyiapkan susu. "Pinter ya semalam nggak rewel." Setelah Sagara kembali tidur, Sekar bersiap kerja. Saat membuka lemari, pandangannya tertumbuk pada sebuah kotak cokelat berukuran sedang-milik Luna. Belum sempat ia bereskan. Tok. Tok. Ketukan pintu membuatnya mengurungkan niat. "Biar Mbak Sekar nggak telat kerja," kata Bu Sarah ceria. Di perjalanan menuju halte busway, lagi-lagi Sekar merasa dilihat. Sosok itu kembali muncul dalam bayangannya. Ia menggeleng, menepis perasaan tak enak. Di kantor, Laras langsung menyambarnya. "Sekar! Kamu ke mana aja? Arga neleponin aku terus." Sekar memaksa tersenyum. "Maaf. Aku repot. Nanti aku traktir." "Pokoknya nasi Padang!" Sore menjelang malam, Sekar pulang lebih lambat. Dari kejauhan, ia melihat seorang lelaki bertopi dan berkacamata hitam duduk di atas motor besar, tepat menghadap kosannya. Jantung Sekar mencelos. Motor itu pergi sebelum ia sempat mendekat. Di kamar, Bu Sarah menyodorkan ponsel bermotif bunga kuning-ponsel Luna. "Tadi bunyi terus, Mbak. Ibu nggak berani angkat." Sekar menatap layar. 20 panggilan tak terjawab dari: Riko Tangannya gemetar saat membuka pesan. Riko: Gw di bawah Riko: Turun Riko: Jangan buang waktu gw Riko: Lo nggak turun, gw cabut Sekar menatap jam pengiriman pesan itu. Dadanya terasa dingin. "Jadi..." bisiknya pelan, "cowok tadi itu... RikoPOV SekarSejak pertemuanku dengan Malvin, kegelisahan itu tak pernah benar-benar pergi.Rahasia kelam yang perlahan menampakkan diri membuat dadaku tak lagi tenang. Setiap tarikan napas terasa pendek, seolah udara di sekitarku menyempit.Takut.Nama itu kembali bergaung di kepalaku.Malvin.Ia akan datang lagi—membawa masa lalu yang tak pernah selesai, membawa anakku, membawa hidupku, dan mungkin merenggut semuanya.Aku melangkah masuk ke gedung kantor dengan langkah yang sedikit lebih cepat dari biasanya. Aku ingin sibuk. Aku butuh dunia lain untuk menenggelamkan pikiranku.Namun nama itu tetap mengikutiku.Di meja kerja, layar komputer menyala, email masuk silih berganti. Rekan-rekan menyapaku seperti biasa. Aku membalas dengan senyum terlatih—senyum perempuan dewasa yang hidupnya tampak terkendali.Tak seorang pun tahu, dadaku sedang berantakan.Malvin.Nama itu berputar di kepalaku seperti luka lama yang digaruk kembali. Delapan tahun bukan waktu singkat. Aku sudah menghapus nomo
Tiga bulan setelah perpisahannya dengan Arga, Sekar memaksa dirinya tetap berjalan seperti biasa—bangun pagi, bekerja, pulang, lalu memeluk Gara seolah dunia masih baik-baik saja.Gara kini berusia tujuh bulan. Mulut mungilnya mulai pandai berceloteh, suaranya kerap terdengar seperti mantra penguat di hari-hari Sekar yang sunyi.“Ibu… ba… ba…”Sekar tersenyum tipis. Namun senyum itu tak pernah benar-benar sampai ke matanya.Ia menatap wajah kecil itu lama, terlalu lama, hingga dada Sekar tiba-tiba terasa nyeri.Bagaimana jika suatu hari nanti Gara bertanya tentang ayahnya?Tentang sosok yang seharusnya ada, tapi tak pernah hadir?Pertanyaan itu menusuk perlahan, mengendap sebagai luka yang tak pernah sembuh.Sementara itu, di sebuah apartemen sederhana, tiga lelaki duduk saling berhadapan, suasana di antara mereka jauh dari santai.“Vin, kamu serius nggak mau ke sana?” Niko memecah keheningan. “Pastiin dulu. Jangan sampai nanti kamu nyesel.”Malvin diam. Tatapannya kosong, jemarinya m
Sudah dua minggu sejak perdebatan itu terjadi. Arga tak lagi menghubunginya.Dan entah sejak kapan, diam menjadi sesuatu yang paling menakutkan bagi Sekar.Di tempat kerja, tubuhnya hadir, tetapi pikirannya tertinggal jauh—pada hubungan yang kini menggantung tanpa kepastian. Dua tahun bersama Arga bukan waktu yang singkat. Lelaki itu pernah begitu meyakinkan, begitu sabar memperjuangkan restu ibunya.Namun satu kesalahan yang ia simpan sejak awal—ketidakjujuran—mengubah segalanya.Arga kecewa.Merasa tidak dihargai.Dan memilih berhenti tanpa benar-benar pergi.Sekar menatap layar ponselnya. Tak ada pesan. Tak ada panggilan.Kosong.Ketakutan itu datang perlahan, menekan dadanya tanpa suara. Ia takut hubungan ini tak sekadar retak—melainkan selesai. Rasanya seperti mengulang luka delapan tahun lalu. Tanpa kabar. Tanpa penjelasan. Ditinggalkan begitu saja.Trauma lama yang belum sepenuhnya sembuh, kini mengetuk kembali.“Sekar, kamu nggak pulang?” suara Laras terdengar dari kejauhan.“
Di rumah sakit, Gara langsung ditangani dokter. Sekar duduk di kursi tunggu dengan tangan gemetar, menatap pintu ruang periksa yang tertutup. Rasa bersalah menekan dadanya—ia terlalu sibuk memikirkan Arga, sampai lupa memperhatikan anak sekecil ini.“Dok, bagaimana kondisi anak saya?” tanyanya begitu dokter keluar.“Hanya demam biasa,” jawab dokter tenang. “Saya sudah resepkan obatnya. Tidak perlu dirawat, bisa langsung dibawa pulang.”Sekar mengangguk lega. “Terima kasih, Dok.”Namun kelegaannya hanya bertahan sebentar.Di lantai lain rumah sakit itu, tiga lelaki tengah bercengkerama—lebih tepatnya meledek sahabat mereka yang terbaring di ranjang.“Makanya, Nik, kalau mau happy-happy ajak kita. Mampus kan lu kecelakaan? Syukur nggak mati,” celetuk Revan.“Kalau gue ajak kalian, yang ada nggak dapet cewek,” balas Niko malas.“Apalagi kalau suhu playboy ini ikut,” sahut Niko.“Cewek mah yang penting isi dompet sama isi celana,” Revan tertawa.“Brisik. Pulang aja kalian,” usir Niko. “Gu
Sabtu pagi, pukul enam lewat tiga puluh.Sekar sudah bersiap sejak subuh. Gara sedang dibawa jalan pagi oleh Bu Sarah di depan kos. Udara masih sejuk, tapi dada Sekar terasa berat—seperti ada sesuatu yang akan runtuh hari ini.Arga: Aku bentar lagi sampaiArga: Tunggu di depan gang ya, biar langsung jalanSekar: Oke“Mbak Sarah, Gara aku titip ya,” ucap Sekar sambil merapikan tas.“Mudah-mudahan malam aku sudah sampai.”“Iya, Mbak. Hati-hati di jalan.”Sekar menunduk, mencium kening bayi kecil itu.“Sayang, mama pergi sebentar ya. Jangan rewel.”Di ujung gang, mobil CR-V hitam berhenti. Kaca terbuka.“Sayang, ayo. Biar nggak kesiangan.”Sekar masuk ke mobil. Kendaraan melaju, membelah hiruk-pikuk pagi Jakarta. Pandangannya terpaku ke luar jendela—hingga langkahnya terhenti pada satu sosok di depan supermarket.Lelaki itu lagi.Entah mengapa, sejak kehadiran Gara, bayangan masa lalu itu semakin sering muncul. Padahal Sekar tahu, rumah lelaki itu bukan di sekitar sini.“Sayang,” suara A
Sagara kini menginjak usia dua bulan.Waktu berjalan terlalu cepat, seolah tak memberi Sekar kesempatan bernapas. Dua bulan itu pula ia menyimpan satu rahasia besar—tentang seorang bayi yang kini menjadi pusat hidupnya, tentang sebuah keputusan yang ia ambil tanpa kompromi.Sekar tahu, secerdik apa pun ia menyembunyikan Sagara, lambat laun semuanya akan terungkap. Rasa bersalah itu selalu datang setiap kali ponselnya berdering membawa nama Arga di layar.Dan hari ini, kebohongan itu mulai retak.“Aku kangen,” kata Arga di telepon pagi tadi.Alasan sederhana, tapi cukup membuat dada Sekar sesak.Sudah lima bulan mereka tak bertemu. Jarak Jakarta–Bogor, kesibukan kerja, dan restu yang belum datang membuat pertemuan menjadi barang langka. Saling percaya adalah prinsip yang mereka pegang—setidaknya sampai Sekar mulai menyimpan rahasia sebesar ini.Arga: Sayang, aku sudah jalanArga: Aku juga sudah pesan hotelArga: Kita ketemu dekat hotel aja yaSekar menatap layar ponsel lama.Perasaan c