LOGINSabtu pagi, pukul enam lewat tiga puluh.
Sekar sudah bersiap sejak subuh. Gara sedang dibawa jalan pagi oleh Bu Sarah di depan kos. Udara masih sejuk, tapi dada Sekar terasa berat—seperti ada sesuatu yang akan runtuh hari ini. Arga: Aku bentar lagi sampai Arga: Tunggu di depan gang ya, biar langsung jalan Sekar: Oke “Mbak Sarah, Gara aku titip ya,” ucap Sekar sambil merapikan tas. “Mudah-mudahan malam aku sudah sampai.” “Iya, Mbak. Hati-hati di jalan.” Sekar menunduk, mencium kening bayi kecil itu. “Sayang, mama pergi sebentar ya. Jangan rewel.” Di ujung gang, mobil CR-V hitam berhenti. Kaca terbuka. “Sayang, ayo. Biar nggak kesiangan.” Sekar masuk ke mobil. Kendaraan melaju, membelah hiruk-pikuk pagi Jakarta. Pandangannya terpaku ke luar jendela—hingga langkahnya terhenti pada satu sosok di depan supermarket. Lelaki itu lagi. Entah mengapa, sejak kehadiran Gara, bayangan masa lalu itu semakin sering muncul. Padahal Sekar tahu, rumah lelaki itu bukan di sekitar sini. “Sayang,” suara Arga memecah lamunannya. “Iya.” “Kamu bengong dari tadi. Kenapa?” “Nggak apa-apa.” “Tenang. Aku sudah bilang ke Mama kalau kamu datang.” Arga menggenggam tangannya, seolah ingin menenangkan. Tapi Sekar justru semakin gelisah. Perjalanan hampir dua jam membawa mereka ke sebuah rumah dua lantai bercat putih. Ini kunjungan ketiganya. Dari dalam mobil, Sekar sudah melihat Tante Maya berdiri di teras—bersama seorang perempuan muda. Sandra. Jantung Sekar mencelos. “Assalamualaikum, Bu,” sapa Sekar sopan. Tante Maya menoleh sekilas. “Tentu saja kabar baik. Apalagi Sandra ada di sini.” Nada suaranya dingin. Tangan Sekar yang terulur diabaikan begitu saja. “Sandra, ayo masuk. Mama kangen.” Arga menggenggam tangan Sekar lebih erat. “Nggak apa-apa. Ada aku.” Di ruang tamu, mereka duduk berhadapan. Sandra tampak nyaman—terlalu nyaman. “Kak Arga,” ucap Sandra manis, “Papi titip salam. Katanya kangen.” “Iya,” jawab Arga singkat. Tante Maya menyambar, “Ga, orang tuanya Sandra nanya terus. Kapan kamu melamar Sandra?” “Ma,” Arga menahan napas, “kita sudah bahas ini. Arga serius sama Sekar.” “Sandra itu calon menantu Mama!” suara Tante Maya meninggi. “Bukan wanita ini!” Sekar menunduk. Dadanya terasa nyeri. “Ma!” Arga bangkit. “Sudah, Kak,” Sandra menyela lembut. “Biar aku yang nenangin Tante.” Mereka pergi, meninggalkan Sekar dan Arga dalam sunyi yang menyakitkan. “Aku ke atas sebentar,” ucap Arga lelah. Tak lama, Sekar menerima pesan. Bu Sarah: Mbak, badan Gara anget Sekar: Di laci ada penurun panas, Bu. Dikasih dulu ya Sekar: Kalau urusan aku kelar, aku langsung pulang Sekar menatap layar lama. Jantungnya berdegup cepat. Dari arah tangga, Sandra datang menghampiri. Sekar menarik napas. “Mbak Sekar tahu kan aku suka sama Kak Arga?” “Iya.” “Mbak tahu juga kan Mama nggak akan pernah merestui kalian?” Sandra mencondongkan badan. “Kenapa masih bertahan?” Sekar menatapnya lurus. “Karena Arga memilih aku.” “Saya akan merebut dia kembali.” Sekar tersenyum tipis—dingin. “Kamu bahkan tidak pernah benar-benar memilikinya.” Sandra terdiam. Wajahnya memucat. Arga muncul dari tangga. “Kita pulang saja,” ucap Sekar lembut. “Masih banyak waktu.” Arga mengangguk, meraih tangannya. Sandra menatap mereka dengan mata menyala cemburu. “Bye, Sandra.” Mobil melaju pelan. Keheningan menyesakkan. “Kita mau ke mana?” tanya Arga. “Pulang.” “Kamu kenapa? Kamu dingin.” “Jangan mulai, Ga.” Mereka berhenti di depan supermarket. “Aku balik dulu,” ucap Sekar cepat. Arga menahan tangannya. “Aku anter sampai kosan—” Wajah Arga mendekat. Ciumannya keras, bukan lembut. Ada amarah, takut kehilangan. “Arga!” Sekar mendorongnya. “Ini tempat umum!” Sekar turun, membanting pintu mobil. Di halaman kos, Bu Sarah sudah menunggu dengan wajah panik—menggendong Gara. “Bu, demamnya turun?” “Belum, Mbak.” “Kita ke rumah sakit sekarang.” Sekar menggenggam bayi itu erat. Ini pertama kalinya Gara demam setinggi ini. Taksi biru akhirnya berhenti. “Pak, tolong cepat. Anak saya demam tinggi.” Mobil melaju. Dari kejauhan, Sekar melihat mobil Arga masih terparkir di supermarket. Ia tak tahu—dan tak sadar—bahwa Arga melihat semuanya. Sekar menggendong bayi. Wajahnya panik. Tangannya gemetar. Bayi siapa itu? Sejak kapan ada bayi di kos Sekar? Curiga mulai menggerogoti pikiran Arga. Dan rahasia itu… tak akan lama lagi bertahan.Langit pagi lebih gelap dari biasanya, suara gemuruh datang silih berganti. Sekar sejak malam tadi selalu terjaga dari tidurnya. Gara, balita yang kini berumur lima belas bulan itu, tengah terlelap setelah meminum obat penurun panas. Sekar kembali merebahkan tubuhnya di samping Gara, tangannya membelai lembut rambut yang kini mulai tumbuh lebat itu. Tangannya beralih memeriksa kening putranya.“Sudah turun panasnya.” bisik Sekar.Ia hendak bangun ketika suara kecil menghentikan gerakannya. “Ma ... Ma...” Sekar tersenyum tipis lalu mencium kening Gara. “Tidurlah. Mama akan masak bubur buat kamu.”Sekar berjalan mendekati dapur kecilnya. Ia menyiapkan bahan dari dalam kulkas lalu memasaknya. Tiga puluh menit kemudian, Sekar selesai membuat bubur. Ia hendak mengambil handuk dan pergi mandi. Namun, sebelum itu, ia kembali memeriksa suhu tubuh Gara. Sekar terperanjat. Suhu tubuhnya kembali sangat tinggi. Ia buru-buru menggendong Gara. Sekar berjalan cepat menuruni tangga, berlari keluar
Sudah satu bulan Sekar dan Malvin tidak bertemu. Hanya saling berkirim kabar, itu pun tentang kondisi Gara. Mereka kembali asing seperti dulu. Sekar kembali menempati kosan yang lama setelah berusaha menghindari pengintaian dari keluarga Malvin. Sejauh apa pun Sekar menghindar, keluarga Malvin akan tetap selalu menemukannya.Sinar matahari menerobos dari sela-sela ventilasi kosan. Gara masih asyik terlelap dalam tidurnya. Saat asyik berselancar di media sosial, ponsel Sekar bergetar. Ada pesan masuk."Mungkin Malvin," pikir Sekar.Ia membuka pesan. Sekar diam mematung. Matanya fokus pada layar.Arga.Lelaki yang dulu sempat menempati hatinya selama dua tahun. Sosok yang mampu membuat Sekar kembali berani membuka hati.Arga: Sekar, apa kabar? Aku sedang di Jakarta. Bisakah kita bertemu?Arga: Hanya sebentar.Pesan yang dulu selalu menyapa ponselnya itu kini kembali hadir setelah sekian lama.Sekar diam. Ia meremas ponsel dalam genggaman. Tidak membalas. Tangannya menyentuh dadanya yang
Pagi itu tidak benar-benar tenang, meskipun langit di atas perumahan terlihat cerah.Sekar duduk di lantai karpet ruang tamu, menemani Gara menyusun mobil-mobilan plastik kesayangannya. Anak itu tertawa kecil setiap kali dua mobil sengaja ditabrakkan, suara polos yang biasanya mampu mencairkan kecemasan apa pun. Tapi kali ini tidak. Karena mata Sekar, sesekali, melirik ke jendela.Mobil hitam itu masih terparkir di seberang jalan, persis seperti kemarin. Sejak mereka pindah ke rumah kontrakan ini, mobil itu sudah ada di sana. Tidak mendekat. Tidak mengganggu. Tapi juga tidak pernah pergi. Keberadaannya seperti bisikan ancaman yang tak bersuara.“Mama” Gara mengangkat mobil merah kesayangannya tinggi-tinggi.Sekar langsung tersenyum, memaksa hangat merambat di wajah yang mulai kaku. “Wah, keren banget, Sayang.” Ia mengusap rambut halus anak itu, tapi pikirannya melayang jauh. Ini bukan kebetulan. Bukan sekadar mobil yang parkir sembarangan. Ini adalah mata yang terus mengawasi.Tok.To
Pagi di apartemen terasa asing.Tidak ada suara panci dari dapur. Tidak ada langkah kecil Gara yang berlarian di ruang tamu.Sepi.Malvin berdiri di ambang kamar. Kosong.Lemari yang semalam masih setengah terbuka kini sudah rapi. Tidak ada lagi tas kecil milik Sekar. Tidak ada baju anak-anak yang tergantung sembarangan.Hanya tersisa… ruang.Di atas meja, secarik kertas. Tulisan tangan yang ia kenal.Vin,Aku pergi. Jangan cari aku dulu.Aku butuh tenang. Bukan cuma untuk aku… tapi juga untuk Gara.—SekarTangan Malvin gemetar saat membacanya.Dada yang semalam sudah berat… kini terasa benar-benar kosong.Ia duduk perlahan di sofa. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia harus kehilangan lagi. Tapi kali ini… bukan karena papanya. Melainkan karena dirinya sendiri.***Hari itu juga, Malvin berdiri di depan gedung yayasan keluarga.Bangunan tinggi dengan kaca besar yang memantulkan bayangannya sendiri. Rapi. Dingin. Dan penuh tuntutan.Ia menarik napas panjang, lalu melangkah
Malam turun perlahan di balik jendela apartemen.Lampu kota berpendar, tapi suasana di dalam justru terasa lebih gelap.Sekar sudah berada di dalam kamar, menemani Gara yang masih tertidur.Malvin berdiri sendiri di balkon. Siku bertumpu pada pagar besi yang dingin. Angin malam membawa bau kota—aspal, asap, dan sesuatu yang tak bernama. Ia menatap kosong ke arah jalanan di bawah, tapi tidak benar-benar melihat apa-apa.Yang ada di kepalanya hanya satu suara.Satu langkah salah, dan semuanya bisa runtuh.Ponselnya kembali bergetar.Papa.Dulu, getaran ini selalu membuatnya cemas. Membuatnya mencari alasan, membuatnya menunda, membuatnya tunduk.Tapi kali ini—Malvin tidak ragu.Ia langsung mengangkat.Kali ini… Malvin tidak ragu.Ia langsung mengangkat.“Aku mau ketemu, Pa.”Tidak ada basa-basi.Di seberang sana, terdengar suara napas berat yang kemudian berubah menjadi tawa tipis.“Akhirnya kamu sadar juga.”“Besok. Kita ketemu.”***Keesokan harinya.Pagi datang dengan langit kelabu.
Bau apek khas basement apartemen menyambut begitu mesin mati. Senyap. Mobil berhenti di basement apartemen.Mesin dimatikan, tapi tidak ada yang langsung turun.Hening.Hanya suara napas yang masih belum benar-benar stabil setelah perjalanan tadi.Sekar memeluk Gara yang sudah tertidur di pangkuannya. Wajah kecil itu tenang, seolah dunia tidak sedang mengancamnya.“Sudah sampai,” ucap Malvin pelan.Sekar mengangguk, tapi tidak bergerak.Matanya justru menatap ke depan kosong.Tempat ini…Bukan sekadar apartemen.Ini adalah tempat yang dulu hampir menjadi rumah mereka.Lift bergerak naik perlahan.Setiap angka yang berubah seperti menarik satu kenangan lama ke permukaan.Sekar berdiri diam, memeluk Gara. Sementara Malvin sesekali melirik ke arahnya, tapi tidak berani berkata apa-apa.Ting.Pintu lif terbuka.Langkah Sekar terhenti tepat di ambang pintu.Unit apartmen itu masih sama.Tidak banyak berubah.Aroma ruangan, tata letak, bahkan sofa abu-abu di sudut ruang tamu… semuanya teras
Sudah dua minggu sejak perdebatan itu terjadi. Arga tak lagi menghubunginya.Dan entah sejak kapan, diam menjadi sesuatu yang paling menakutkan bagi Sekar.Di tempat kerja, tubuhnya hadir, tetapi pikirannya tertinggal jauh—pada hubungan yang kini menggantung tanpa kepastian. Dua tahun bersama Arga
Di rumah sakit, Gara langsung ditangani dokter. Sekar duduk di kursi tunggu dengan tangan gemetar, menatap pintu ruang periksa yang tertutup. Rasa bersalah menekan dadanya—ia terlalu sibuk memikirkan Arga, sampai lupa memperhatikan anak sekecil ini.“Dok, bagaimana kondisi anak saya?” tanyanya begi
Sagara kini menginjak usia dua bulan.Waktu berjalan terlalu cepat, seolah tak memberi Sekar kesempatan bernapas. Dua bulan itu pula ia menyimpan satu rahasia besar—tentang seorang bayi yang kini menjadi pusat hidupnya, tentang sebuah keputusan yang ia ambil tanpa kompromi.Sekar tahu, secerdik apa
Hari ketiga sejak kepergian Luna.Sagara-bayi mungil itu-akhirnya diizinkan pulang setelah Sekar bolak-balik mengurus surat dan akta kelahiran. Tubuh kecil yang dulu hanya ia elus dari balik perut kini berada dalam gendongannya, hangat, nyata, dan sepenuhnya bergantung padanya.Sekar memutuskan sat







