Share

Bab 5. Retak

Author: SassyKawai90
last update publish date: 2026-02-11 17:00:25

Di rumah sakit, Gara langsung ditangani dokter. Sekar duduk di kursi tunggu dengan tangan gemetar, menatap pintu ruang periksa yang tertutup. Rasa bersalah menekan dadanya—ia terlalu sibuk memikirkan Arga, sampai lupa memperhatikan anak sekecil ini.

“Dok, bagaimana kondisi anak saya?” tanyanya begitu dokter keluar.

“Hanya demam biasa,” jawab dokter tenang. “Saya sudah resepkan obatnya. Tidak perlu dirawat, bisa langsung dibawa pulang.”

Sekar mengangguk lega. “Terima kasih, Dok.”

Namun kelegaannya hanya bertahan sebentar.

Di lantai lain rumah sakit itu, tiga lelaki tengah bercengkerama—lebih tepatnya meledek sahabat mereka yang terbaring di ranjang.

“Makanya, Nik, kalau mau happy-happy ajak kita. Mampus kan lu kecelakaan? Syukur nggak mati,” celetuk Revan.

“Kalau gue ajak kalian, yang ada nggak dapet cewek,” balas Niko malas.

“Apalagi kalau suhu playboy ini ikut,” sahut Niko.

“Cewek mah yang penting isi dompet sama isi celana,” Revan tertawa.

“Brisik. Pulang aja kalian,” usir Niko. “Gue mau istirahat.”

“Buset, diusir,” Revan menggeleng. “Udah, Van, kita balik.”

Melvin melangkah keluar, diikuti Revan. Saat pintu tertutup, Revan masih sempat berujar, “Jangan cepet mati ya, Nik.”

“Revan sialan,” umpat Niko dari dalam.

Baru beberapa langkah keluar dari lift, Melvin membeku.

Di hadapannya berdiri seorang wanita yang sangat ia kenal. Wanita yang dulu sangat ia sayangi—dan paling ia sakiti.

Sekar.

Ia menggendong seorang bayi yang tampak rewel. Mata mereka bertemu. Kenangan lama menghantam tanpa aba-aba.

“Masih sakit?” suara itu terngiang di kepala Melvin.

“Sedikit.”

“Kalau baru pertama kali memang begitu…”

Kenangan terlarang itu membuat dadanya sesak.

“Malvin!” Revan menepuk bahunya. “Lu bengong ngeliatin siapa dari tadi?”

Sekar sudah menghilang. Malvin menarik napas panjang.

“Nggak apa-apa,” katanya pendek. Sepertinya dia sudah menikah, gumamnya lirih.

***

Taksi yang ditumpangi Sekar berhenti di depan gang kosannya. Jalan sempit dan buntu itu sudah akrab baginya. Pak Rahmad membuka gerbang.

“Mbak Sekar, tadi ada cowok nyariin ke sini.”

Jantung Sekar mencelos. “Arga?”

“Iya. Saya bilang Mbak lagi pergi.”

“Terima kasih ya, Pak.”

Sekar menaiki tangga menuju lantai dua. Tubuhnya lelah, pikirannya lebih lelah lagi.

Di kamar, Sekar menidurkan Gara. Bayi itu terlelap cepat, seolah hanya ingin memastikan ibunya ada di sini.

Sekar meraih ponsel yang sejak tadi bergetar.

Banyak pesan dari Arga.

Namun tiga pesan terakhir membuat dadanya sesak.

Arga: kamu pergi ke mana?

Arga: siapa yang kamu gendong tadi?

Arga: apa ada yang kamu sembunyiin dari aku?

Sekar menutup mata. Bagaimana menjelaskannya? Bagaimana jika Arga tidak bisa menerima keputusannya—terlebih setelah penolakan ibunya pagi tadi?

Ia menatap Gara. Pipi bayi itu mulai chubby, napasnya teratur. Sekar tahu, ia tak akan sanggup melepaskan anak ini, meski bukan darah dagingnya.

Hari itu Sekar sengaja mengambil cuti. Ia menebus kelalaiannya—menghabiskan waktu bersama Gara. Bermain, tertawa kecil, memastikan demamnya turun. Bayi itu seolah merindukannya.

Ponselnya kembali berdering. Nama Arga muncul.

Belum sempat diangkat, Sekar melihat notifikasi lain—dari ponsel Luna. Nomor tak dikenal.

0853…: loe udah lahiran? kapan kita ketemu sesuai perjanjian kita.

Sekar mengernyit. Perjanjian apa? Ia memilih tidak membalas. Setidaknya, Gara kini tidak sendirian lagi.

Malamnya, Arga menelepon.

“Kita ketemu,” katanya dingin. “Aku jemput.”

Sekar mengangguk meski tahu Arga tak bisa melihatnya.

Di sebuah kafe dekat kosan, Arga menatap Sekar dengan sorot mata yang tak bisa ia artikan.

“Jadi,” ucap Arga akhirnya. “Siapa anak itu?”

“Dia anak aku.”

“Kamu selingkuh?”

Sekar menggeleng pelan. “Dia anak temanku, Luna. Aku mengadopsinya.”

“Kenapa sekarang sama kamu? Jelasin semuanya.”

“Luna hamil di luar nikah. Keluarganya nggak mau mengurus anak itu.”

“Kenapa nggak ditaruh di panti asuhan?”

“Umurnya berapa?”

“Tiga bulan.”

Arga berdiri. “Jadi selama tiga bulan kamu sembunyiin ini dari aku? Kamu nganggep hubungan kita nggak serius?”

“Aku cuma belum siap, Ga.”

“Dan kamu nggak akan cerita kalau aku nggak maksa.”

Ia berbalik. “Aku butuh waktu.”

Sekar mencoba mengejarnya, tapi Arga pergi tanpa menoleh.

Dua jam berlalu. Satu pesan Sekar tak berbalas.

Sekar: Maaf.

Lalu pesan Arga masuk—membuat napas Sekar tercekat.

Arga: kamu pilih aku atau anak itu

Arga: pilih aku, aku akan perjuangin kamu di depan ibu aku

Arga: tapi kalau kamu pilih anak itu, aku nggak bisa

Sekar menatap layar lama.

Karena ia tahu, keputusan ini akan melukai seseorang—dan mungkin dirinya sendiri.

***

POV ARGA

Aku tidak langsung pulang.

Mobil masih terparkir di seberang supermarket ketika aku melihatnya.

Sekar.

Menggendong seorang bayi.

Wajahnya panik. Tangannya gemetar. Cara dia memeluk bayi itu—bukan seperti orang yang sekadar membantu. Terlalu protektif. Terlalu… ibu.

Dadaku seperti ditampar kenyataan yang tidak pernah aku persiapkan.

Bayi siapa itu?

Kosannya tidak mengizinkan anak kecil. Dan Sekar tidak pernah bercerita apa pun. Tidak satu kata pun.

Aku mematikan mesin mobil, tapi tidak turun. Aku hanya duduk, menatap punggungnya yang semakin menjauh.

Sejak kapan dia menyembunyikan hidup lain dariku?

Sejak kapan aku tidak lagi menjadi tempatnya bercerita?

Di kafe, aku menunggu penjelasan. Tapi bahkan sebelum dia bicara, aku tahu—aku tidak akan siap mendengarnya.

“Dia anak aku.”

Kalimat itu menghantam lebih keras dari tuduhan apa pun.

Aku marah. Bukan karena bayi itu.

Tapi karena aku tidak dilibatkan.

“Tiga bulan?” suaraku bergetar. “Tiga bulan kamu sembunyiin ini dari aku?”

Aku mencoba menenangkan diri. Aku benar-benar mencoba.

Tapi bayangan ibuku muncul di kepala. Tatapan dingin. Kalimat penolakan yang tidak pernah berubah.

Aku ingin kuat. Aku ingin bilang aku sanggup.

Tapi untuk pertama kalinya aku jujur pada diriku sendiri—

Aku tidak cukup berani.

“Aku butuh waktu,” kataku akhirnya.

Aku pergi sebelum harga diriku runtuh sepenuhnya.

Malam itu aku tidak tidur.

Pesannya masuk.

Maaf.

Satu kata yang tidak bisa memperbaiki apa pun.

Aku menatap layar lama sebelum mengetik.

Bukan ancaman. Bukan ultimatum.

Itu pengakuan kelemahanku.

Kamu pilih aku atau anak itu.

Karena aku tahu, jika dia memilih anak itu—

aku akan kalah, bahkan sebelum bertarung.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku,

aku membenci diriku sendiri karena tidak sekuat yang dia butuhkan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Luka Itu Bernama Kamu   Bab 37. Ruang Yang Tidak Lagi Sama

    Pagi itu tidak benar-benar tenang, meskipun langit di atas perumahan terlihat cerah.Sekar duduk di lantai karpet ruang tamu, menemani Gara menyusun mobil-mobilan plastik kesayangannya. Anak itu tertawa kecil setiap kali dua mobil sengaja ditabrakkan, suara polos yang biasanya mampu mencairkan kecemasan apa pun. Tapi kali ini tidak. Karena mata Sekar, sesekali, melirik ke jendela.Mobil hitam itu masih terparkir di seberang jalan, persis seperti kemarin. Sejak mereka pindah ke rumah kontrakan ini, mobil itu sudah ada di sana. Tidak mendekat. Tidak mengganggu. Tapi juga tidak pernah pergi. Keberadaannya seperti bisikan ancaman yang tak bersuara.“Mama” Gara mengangkat mobil merah kesayangannya tinggi-tinggi.Sekar langsung tersenyum, memaksa hangat merambat di wajah yang mulai kaku. “Wah, keren banget, Sayang.” Ia mengusap rambut halus anak itu, tapi pikirannya melayang jauh. Ini bukan kebetulan. Bukan sekadar mobil yang parkir sembarangan. Ini adalah mata yang terus mengawasi.Tok.To

  • Luka Itu Bernama Kamu   Bab 36. Jarak Yang Dipilih

    Pagi di apartemen terasa asing.Tidak ada suara panci dari dapur. Tidak ada langkah kecil Gara yang berlarian di ruang tamu.Sepi.Malvin berdiri di ambang kamar. Kosong.Lemari yang semalam masih setengah terbuka kini sudah rapi. Tidak ada lagi tas kecil milik Sekar. Tidak ada baju anak-anak yang tergantung sembarangan.Hanya tersisa… ruang.Di atas meja, secarik kertas. Tulisan tangan yang ia kenal.Vin,Aku pergi. Jangan cari aku dulu.Aku butuh tenang. Bukan cuma untuk aku… tapi juga untuk Gara.—SekarTangan Malvin gemetar saat membacanya.Dada yang semalam sudah berat… kini terasa benar-benar kosong.Ia duduk perlahan di sofa. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia harus kehilangan lagi. Tapi kali ini… bukan karena papanya. Melainkan karena dirinya sendiri.***Hari itu juga, Malvin berdiri di depan gedung yayasan keluarga.Bangunan tinggi dengan kaca besar yang memantulkan bayangannya sendiri. Rapi. Dingin. Dan penuh tuntutan.Ia menarik napas panjang, lalu melangkah

  • Luka Itu Bernama Kamu   Bab 35. Syarat Yang Mengikat

    Malam turun perlahan di balik jendela apartemen.Lampu kota berpendar, tapi suasana di dalam justru terasa lebih gelap.Sekar sudah berada di dalam kamar, menemani Gara yang masih tertidur.Malvin berdiri sendiri di balkon. Siku bertumpu pada pagar besi yang dingin. Angin malam membawa bau kota—aspal, asap, dan sesuatu yang tak bernama. Ia menatap kosong ke arah jalanan di bawah, tapi tidak benar-benar melihat apa-apa.Yang ada di kepalanya hanya satu suara.Satu langkah salah, dan semuanya bisa runtuh.Ponselnya kembali bergetar.Papa.Dulu, getaran ini selalu membuatnya cemas. Membuatnya mencari alasan, membuatnya menunda, membuatnya tunduk.Tapi kali ini—Malvin tidak ragu.Ia langsung mengangkat.Kali ini… Malvin tidak ragu.Ia langsung mengangkat.“Aku mau ketemu, Pa.”Tidak ada basa-basi.Di seberang sana, terdengar suara napas berat yang kemudian berubah menjadi tawa tipis.“Akhirnya kamu sadar juga.”“Besok. Kita ketemu.”***Keesokan harinya.Pagi datang dengan langit kelabu.

  • Luka Itu Bernama Kamu   Bab 34. Luka Yang Belum Selesai

    Bau apek khas basement apartemen menyambut begitu mesin mati. Senyap. Mobil berhenti di basement apartemen.Mesin dimatikan, tapi tidak ada yang langsung turun.Hening.Hanya suara napas yang masih belum benar-benar stabil setelah perjalanan tadi.Sekar memeluk Gara yang sudah tertidur di pangkuannya. Wajah kecil itu tenang, seolah dunia tidak sedang mengancamnya.“Sudah sampai,” ucap Malvin pelan.Sekar mengangguk, tapi tidak bergerak.Matanya justru menatap ke depan kosong.Tempat ini…Bukan sekadar apartemen.Ini adalah tempat yang dulu hampir menjadi rumah mereka.Lift bergerak naik perlahan.Setiap angka yang berubah seperti menarik satu kenangan lama ke permukaan.Sekar berdiri diam, memeluk Gara. Sementara Malvin sesekali melirik ke arahnya, tapi tidak berani berkata apa-apa.Ting.Pintu lif terbuka.Langkah Sekar terhenti tepat di ambang pintu.Unit apartmen itu masih sama.Tidak banyak berubah.Aroma ruangan, tata letak, bahkan sofa abu-abu di sudut ruang tamu… semuanya teras

  • Luka Itu Bernama Kamu   Bab 33. Bayang Yang Kembali

    Ponsel itu masih berdering di tangan Malvin.Malvin terdiam. Matanya beralih ke luar, menangkap sosok yang dimaksud Sekar. Dadanya berdegup kencang."Kita pergi bareng. Sekarang."Sekar terkejut. "Tapi kamu bilang cuma mau ajak Gara main—""Rencana berubah." Malvin menatapnya serius. "Mereka sudah tahu tempat ini. Nggak aman."Sekar ragu. Ia menunduk, menatap Gara yang masih asyik dengan mobilan hijau di tangannya. Anak itu sama sekali tak tahu apa-apa. Tak tahu bahwa di luar sana, ada orang-orang yang siap merenggutnya kapan saja.Ponsel Malvin kembali berdering.Layarnya menampilkan satu nama yang langsung membuat mereka berdua membeku.Papa.Ruangan kecil itu mendadak terasa sempit. Udara seperti tertahan. Sekar menatap Malvin tanpa berkedip, sementara Gara mulai merengek minta turun.Malvin menelan ludah. Jarinya sempat ragu, namun akhirnya ia menggeser tombol hijau itu. "Ya, Pa."Suara di seberang sana tidak perlu keras untuk terasa menekan."Kamu di mana?"Malvin melirik Sekar

  • Luka Itu Bernama Kamu   Bab 32. Yang Tak Sempat Tumbuh

    Cahaya matahari menyapa hangat melalui celah jendela kamar, membentuk garis-garis tipis di lantai. Debu-debu kecil menari-nari dalam sorot cahaya itu, seolah ikut merayakan pagi yang cerah. Gara sudah asyik bermain mobilan yang rodanya tinggal satu—bukan masalah baginya, ia tetap bersenandung kecil sambil mendorongnya maju mundur di atas tikar. Sekar terus memantau dari dapur, tangannya cekatan mengaduk bubur di atas kompor sambil sesekali melirik ke arah Gara. Senyumnya merekah melihat anak laki-laki itu begitu tenggelam dalam dunianya sendiri."Mama..."Suara kecil itu memanggilnya. Sekar segera menuang bubur ke mangkuk, memastikan hangatnya pas di lidah Gara. Ia menghampiri dengan langkah hati-hati, membawa semangkuk bubur ayam yang wangi."Sayang, kamu sudah lapar ya? Sini duduk dulu, Nak."Sekar mendudukkan Gara di meja makannya—meja kecil berwarna biru yang dulu ia beli saat Gara mulai bisa duduk sendiri. Ia mengambil paper bag warna putih dari atas lemari, mengeluarkan mobil-mo

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status