ANMELDENDi rumah sakit, Gara langsung ditangani dokter. Sekar duduk di kursi tunggu dengan tangan gemetar, menatap pintu ruang periksa yang tertutup. Rasa bersalah menekan dadanya—ia terlalu sibuk memikirkan Arga, sampai lupa memperhatikan anak sekecil ini.
“Dok, bagaimana kondisi anak saya?” tanyanya begitu dokter keluar. “Hanya demam biasa,” jawab dokter tenang. “Saya sudah resepkan obatnya. Tidak perlu dirawat, bisa langsung dibawa pulang.” Sekar mengangguk lega. “Terima kasih, Dok.” Namun kelegaannya hanya bertahan sebentar. Di lantai lain rumah sakit itu, tiga lelaki tengah bercengkerama—lebih tepatnya meledek sahabat mereka yang terbaring di ranjang. “Makanya, Nik, kalau mau happy-happy ajak kita. Mampus kan lu kecelakaan? Syukur nggak mati,” celetuk Revan. “Kalau gue ajak kalian, yang ada nggak dapet cewek,” balas Niko malas. “Apalagi kalau suhu playboy ini ikut,” sahut Niko. “Cewek mah yang penting isi dompet sama isi celana,” Revan tertawa. “Brisik. Pulang aja kalian,” usir Niko. “Gue mau istirahat.” “Buset, diusir,” Revan menggeleng. “Udah, Van, kita balik.” Melvin melangkah keluar, diikuti Revan. Saat pintu tertutup, Revan masih sempat berujar, “Jangan cepet mati ya, Nik.” “Revan sialan,” umpat Niko dari dalam. Baru beberapa langkah keluar dari lift, Melvin membeku. Di hadapannya berdiri seorang wanita yang sangat ia kenal. Wanita yang dulu sangat ia sayangi—dan paling ia sakiti. Sekar. Ia menggendong seorang bayi yang tampak rewel. Mata mereka bertemu. Kenangan lama menghantam tanpa aba-aba. “Masih sakit?” suara itu terngiang di kepala Melvin. “Sedikit.” “Kalau baru pertama kali memang begitu…” Kenangan terlarang itu membuat dadanya sesak. “Malvin!” Revan menepuk bahunya. “Lu bengong ngeliatin siapa dari tadi?” Sekar sudah menghilang. Malvin menarik napas panjang. “Nggak apa-apa,” katanya pendek. Sepertinya dia sudah menikah, gumamnya lirih. *** Taksi yang ditumpangi Sekar berhenti di depan gang kosannya. Jalan sempit dan buntu itu sudah akrab baginya. Pak Rahmad membuka gerbang. “Mbak Sekar, tadi ada cowok nyariin ke sini.” Jantung Sekar mencelos. “Arga?” “Iya. Saya bilang Mbak lagi pergi.” “Terima kasih ya, Pak.” Sekar menaiki tangga menuju lantai dua. Tubuhnya lelah, pikirannya lebih lelah lagi. Di kamar, Sekar menidurkan Gara. Bayi itu terlelap cepat, seolah hanya ingin memastikan ibunya ada di sini. Sekar meraih ponsel yang sejak tadi bergetar. Banyak pesan dari Arga. Namun tiga pesan terakhir membuat dadanya sesak. Arga: kamu pergi ke mana? Arga: siapa yang kamu gendong tadi? Arga: apa ada yang kamu sembunyiin dari aku? Sekar menutup mata. Bagaimana menjelaskannya? Bagaimana jika Arga tidak bisa menerima keputusannya—terlebih setelah penolakan ibunya pagi tadi? Ia menatap Gara. Pipi bayi itu mulai chubby, napasnya teratur. Sekar tahu, ia tak akan sanggup melepaskan anak ini, meski bukan darah dagingnya. Hari itu Sekar sengaja mengambil cuti. Ia menebus kelalaiannya—menghabiskan waktu bersama Gara. Bermain, tertawa kecil, memastikan demamnya turun. Bayi itu seolah merindukannya. Ponselnya kembali berdering. Nama Arga muncul. Belum sempat diangkat, Sekar melihat notifikasi lain—dari ponsel Luna. Nomor tak dikenal. 0853…: loe udah lahiran? kapan kita ketemu sesuai perjanjian kita. Sekar mengernyit. Perjanjian apa? Ia memilih tidak membalas. Setidaknya, Gara kini tidak sendirian lagi. Malamnya, Arga menelepon. “Kita ketemu,” katanya dingin. “Aku jemput.” Sekar mengangguk meski tahu Arga tak bisa melihatnya. Di sebuah kafe dekat kosan, Arga menatap Sekar dengan sorot mata yang tak bisa ia artikan. “Jadi,” ucap Arga akhirnya. “Siapa anak itu?” “Dia anak aku.” “Kamu selingkuh?” Sekar menggeleng pelan. “Dia anak temanku, Luna. Aku mengadopsinya.” “Kenapa sekarang sama kamu? Jelasin semuanya.” “Luna hamil di luar nikah. Keluarganya nggak mau mengurus anak itu.” “Kenapa nggak ditaruh di panti asuhan?” “Umurnya berapa?” “Tiga bulan.” Arga berdiri. “Jadi selama tiga bulan kamu sembunyiin ini dari aku? Kamu nganggep hubungan kita nggak serius?” “Aku cuma belum siap, Ga.” “Dan kamu nggak akan cerita kalau aku nggak maksa.” Ia berbalik. “Aku butuh waktu.” Sekar mencoba mengejarnya, tapi Arga pergi tanpa menoleh. Dua jam berlalu. Satu pesan Sekar tak berbalas. Sekar: Maaf. Lalu pesan Arga masuk—membuat napas Sekar tercekat. Arga: kamu pilih aku atau anak itu Arga: pilih aku, aku akan perjuangin kamu di depan ibu aku Arga: tapi kalau kamu pilih anak itu, aku nggak bisa Sekar menatap layar lama. Karena ia tahu, keputusan ini akan melukai seseorang—dan mungkin dirinya sendiri. *** POV ARGA Aku tidak langsung pulang. Mobil masih terparkir di seberang supermarket ketika aku melihatnya. Sekar. Menggendong seorang bayi. Wajahnya panik. Tangannya gemetar. Cara dia memeluk bayi itu—bukan seperti orang yang sekadar membantu. Terlalu protektif. Terlalu… ibu. Dadaku seperti ditampar kenyataan yang tidak pernah aku persiapkan. Bayi siapa itu? Kosannya tidak mengizinkan anak kecil. Dan Sekar tidak pernah bercerita apa pun. Tidak satu kata pun. Aku mematikan mesin mobil, tapi tidak turun. Aku hanya duduk, menatap punggungnya yang semakin menjauh. Sejak kapan dia menyembunyikan hidup lain dariku? Sejak kapan aku tidak lagi menjadi tempatnya bercerita? Di kafe, aku menunggu penjelasan. Tapi bahkan sebelum dia bicara, aku tahu—aku tidak akan siap mendengarnya. “Dia anak aku.” Kalimat itu menghantam lebih keras dari tuduhan apa pun. Aku marah. Bukan karena bayi itu. Tapi karena aku tidak dilibatkan. “Tiga bulan?” suaraku bergetar. “Tiga bulan kamu sembunyiin ini dari aku?” Aku mencoba menenangkan diri. Aku benar-benar mencoba. Tapi bayangan ibuku muncul di kepala. Tatapan dingin. Kalimat penolakan yang tidak pernah berubah. Aku ingin kuat. Aku ingin bilang aku sanggup. Tapi untuk pertama kalinya aku jujur pada diriku sendiri— Aku tidak cukup berani. “Aku butuh waktu,” kataku akhirnya. Aku pergi sebelum harga diriku runtuh sepenuhnya. Malam itu aku tidak tidur. Pesannya masuk. Maaf. Satu kata yang tidak bisa memperbaiki apa pun. Aku menatap layar lama sebelum mengetik. Bukan ancaman. Bukan ultimatum. Itu pengakuan kelemahanku. Kamu pilih aku atau anak itu. Karena aku tahu, jika dia memilih anak itu— aku akan kalah, bahkan sebelum bertarung. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku membenci diriku sendiri karena tidak sekuat yang dia butuhkan.POV SekarSejak pertemuanku dengan Malvin, kegelisahan itu tak pernah benar-benar pergi.Rahasia kelam yang perlahan menampakkan diri membuat dadaku tak lagi tenang. Setiap tarikan napas terasa pendek, seolah udara di sekitarku menyempit.Takut.Nama itu kembali bergaung di kepalaku.Malvin.Ia akan datang lagi—membawa masa lalu yang tak pernah selesai, membawa anakku, membawa hidupku, dan mungkin merenggut semuanya.Aku melangkah masuk ke gedung kantor dengan langkah yang sedikit lebih cepat dari biasanya. Aku ingin sibuk. Aku butuh dunia lain untuk menenggelamkan pikiranku.Namun nama itu tetap mengikutiku.Di meja kerja, layar komputer menyala, email masuk silih berganti. Rekan-rekan menyapaku seperti biasa. Aku membalas dengan senyum terlatih—senyum perempuan dewasa yang hidupnya tampak terkendali.Tak seorang pun tahu, dadaku sedang berantakan.Malvin.Nama itu berputar di kepalaku seperti luka lama yang digaruk kembali. Delapan tahun bukan waktu singkat. Aku sudah menghapus nomo
Tiga bulan setelah perpisahannya dengan Arga, Sekar memaksa dirinya tetap berjalan seperti biasa—bangun pagi, bekerja, pulang, lalu memeluk Gara seolah dunia masih baik-baik saja.Gara kini berusia tujuh bulan. Mulut mungilnya mulai pandai berceloteh, suaranya kerap terdengar seperti mantra penguat di hari-hari Sekar yang sunyi.“Ibu… ba… ba…”Sekar tersenyum tipis. Namun senyum itu tak pernah benar-benar sampai ke matanya.Ia menatap wajah kecil itu lama, terlalu lama, hingga dada Sekar tiba-tiba terasa nyeri.Bagaimana jika suatu hari nanti Gara bertanya tentang ayahnya?Tentang sosok yang seharusnya ada, tapi tak pernah hadir?Pertanyaan itu menusuk perlahan, mengendap sebagai luka yang tak pernah sembuh.Sementara itu, di sebuah apartemen sederhana, tiga lelaki duduk saling berhadapan, suasana di antara mereka jauh dari santai.“Vin, kamu serius nggak mau ke sana?” Niko memecah keheningan. “Pastiin dulu. Jangan sampai nanti kamu nyesel.”Malvin diam. Tatapannya kosong, jemarinya m
Sudah dua minggu sejak perdebatan itu terjadi. Arga tak lagi menghubunginya.Dan entah sejak kapan, diam menjadi sesuatu yang paling menakutkan bagi Sekar.Di tempat kerja, tubuhnya hadir, tetapi pikirannya tertinggal jauh—pada hubungan yang kini menggantung tanpa kepastian. Dua tahun bersama Arga bukan waktu yang singkat. Lelaki itu pernah begitu meyakinkan, begitu sabar memperjuangkan restu ibunya.Namun satu kesalahan yang ia simpan sejak awal—ketidakjujuran—mengubah segalanya.Arga kecewa.Merasa tidak dihargai.Dan memilih berhenti tanpa benar-benar pergi.Sekar menatap layar ponselnya. Tak ada pesan. Tak ada panggilan.Kosong.Ketakutan itu datang perlahan, menekan dadanya tanpa suara. Ia takut hubungan ini tak sekadar retak—melainkan selesai. Rasanya seperti mengulang luka delapan tahun lalu. Tanpa kabar. Tanpa penjelasan. Ditinggalkan begitu saja.Trauma lama yang belum sepenuhnya sembuh, kini mengetuk kembali.“Sekar, kamu nggak pulang?” suara Laras terdengar dari kejauhan.“
Di rumah sakit, Gara langsung ditangani dokter. Sekar duduk di kursi tunggu dengan tangan gemetar, menatap pintu ruang periksa yang tertutup. Rasa bersalah menekan dadanya—ia terlalu sibuk memikirkan Arga, sampai lupa memperhatikan anak sekecil ini.“Dok, bagaimana kondisi anak saya?” tanyanya begitu dokter keluar.“Hanya demam biasa,” jawab dokter tenang. “Saya sudah resepkan obatnya. Tidak perlu dirawat, bisa langsung dibawa pulang.”Sekar mengangguk lega. “Terima kasih, Dok.”Namun kelegaannya hanya bertahan sebentar.Di lantai lain rumah sakit itu, tiga lelaki tengah bercengkerama—lebih tepatnya meledek sahabat mereka yang terbaring di ranjang.“Makanya, Nik, kalau mau happy-happy ajak kita. Mampus kan lu kecelakaan? Syukur nggak mati,” celetuk Revan.“Kalau gue ajak kalian, yang ada nggak dapet cewek,” balas Niko malas.“Apalagi kalau suhu playboy ini ikut,” sahut Niko.“Cewek mah yang penting isi dompet sama isi celana,” Revan tertawa.“Brisik. Pulang aja kalian,” usir Niko. “Gu
Sabtu pagi, pukul enam lewat tiga puluh.Sekar sudah bersiap sejak subuh. Gara sedang dibawa jalan pagi oleh Bu Sarah di depan kos. Udara masih sejuk, tapi dada Sekar terasa berat—seperti ada sesuatu yang akan runtuh hari ini.Arga: Aku bentar lagi sampaiArga: Tunggu di depan gang ya, biar langsung jalanSekar: Oke“Mbak Sarah, Gara aku titip ya,” ucap Sekar sambil merapikan tas.“Mudah-mudahan malam aku sudah sampai.”“Iya, Mbak. Hati-hati di jalan.”Sekar menunduk, mencium kening bayi kecil itu.“Sayang, mama pergi sebentar ya. Jangan rewel.”Di ujung gang, mobil CR-V hitam berhenti. Kaca terbuka.“Sayang, ayo. Biar nggak kesiangan.”Sekar masuk ke mobil. Kendaraan melaju, membelah hiruk-pikuk pagi Jakarta. Pandangannya terpaku ke luar jendela—hingga langkahnya terhenti pada satu sosok di depan supermarket.Lelaki itu lagi.Entah mengapa, sejak kehadiran Gara, bayangan masa lalu itu semakin sering muncul. Padahal Sekar tahu, rumah lelaki itu bukan di sekitar sini.“Sayang,” suara A
Sagara kini menginjak usia dua bulan.Waktu berjalan terlalu cepat, seolah tak memberi Sekar kesempatan bernapas. Dua bulan itu pula ia menyimpan satu rahasia besar—tentang seorang bayi yang kini menjadi pusat hidupnya, tentang sebuah keputusan yang ia ambil tanpa kompromi.Sekar tahu, secerdik apa pun ia menyembunyikan Sagara, lambat laun semuanya akan terungkap. Rasa bersalah itu selalu datang setiap kali ponselnya berdering membawa nama Arga di layar.Dan hari ini, kebohongan itu mulai retak.“Aku kangen,” kata Arga di telepon pagi tadi.Alasan sederhana, tapi cukup membuat dada Sekar sesak.Sudah lima bulan mereka tak bertemu. Jarak Jakarta–Bogor, kesibukan kerja, dan restu yang belum datang membuat pertemuan menjadi barang langka. Saling percaya adalah prinsip yang mereka pegang—setidaknya sampai Sekar mulai menyimpan rahasia sebesar ini.Arga: Sayang, aku sudah jalanArga: Aku juga sudah pesan hotelArga: Kita ketemu dekat hotel aja yaSekar menatap layar ponsel lama.Perasaan c