LOGINSudah satu bulan Sekar dan Malvin tidak bertemu. Hanya saling berkirim kabar, itu pun tentang kondisi Gara. Mereka kembali asing seperti dulu. Sekar kembali menempati kosan yang lama setelah berusaha menghindari pengintaian dari keluarga Malvin. Sejauh apa pun Sekar menghindar, keluarga Malvin akan tetap selalu menemukannya.Sinar matahari menerobos dari sela-sela ventilasi kosan. Gara masih asyik terlelap dalam tidurnya. Saat asyik berselancar di media sosial, ponsel Sekar bergetar. Ada pesan masuk."Mungkin Malvin," pikir Sekar.Ia membuka pesan. Sekar diam mematung. Matanya fokus pada layar.Arga.Lelaki yang dulu sempat menempati hatinya selama dua tahun. Sosok yang mampu membuat Sekar kembali berani membuka hati.Arga: Sekar, apa kabar? Aku sedang di Jakarta. Bisakah kita bertemu?Arga: Hanya sebentar.Pesan yang dulu selalu menyapa ponselnya itu kini kembali hadir setelah sekian lama.Sekar diam. Ia meremas ponsel dalam genggaman. Tidak membalas. Tangannya menyentuh dadanya yang
Pagi itu tidak benar-benar tenang, meskipun langit di atas perumahan terlihat cerah.Sekar duduk di lantai karpet ruang tamu, menemani Gara menyusun mobil-mobilan plastik kesayangannya. Anak itu tertawa kecil setiap kali dua mobil sengaja ditabrakkan, suara polos yang biasanya mampu mencairkan kecemasan apa pun. Tapi kali ini tidak. Karena mata Sekar, sesekali, melirik ke jendela.Mobil hitam itu masih terparkir di seberang jalan, persis seperti kemarin. Sejak mereka pindah ke rumah kontrakan ini, mobil itu sudah ada di sana. Tidak mendekat. Tidak mengganggu. Tapi juga tidak pernah pergi. Keberadaannya seperti bisikan ancaman yang tak bersuara.“Mama” Gara mengangkat mobil merah kesayangannya tinggi-tinggi.Sekar langsung tersenyum, memaksa hangat merambat di wajah yang mulai kaku. “Wah, keren banget, Sayang.” Ia mengusap rambut halus anak itu, tapi pikirannya melayang jauh. Ini bukan kebetulan. Bukan sekadar mobil yang parkir sembarangan. Ini adalah mata yang terus mengawasi.Tok.To
Pagi di apartemen terasa asing.Tidak ada suara panci dari dapur. Tidak ada langkah kecil Gara yang berlarian di ruang tamu.Sepi.Malvin berdiri di ambang kamar. Kosong.Lemari yang semalam masih setengah terbuka kini sudah rapi. Tidak ada lagi tas kecil milik Sekar. Tidak ada baju anak-anak yang tergantung sembarangan.Hanya tersisa… ruang.Di atas meja, secarik kertas. Tulisan tangan yang ia kenal.Vin,Aku pergi. Jangan cari aku dulu.Aku butuh tenang. Bukan cuma untuk aku… tapi juga untuk Gara.—SekarTangan Malvin gemetar saat membacanya.Dada yang semalam sudah berat… kini terasa benar-benar kosong.Ia duduk perlahan di sofa. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia harus kehilangan lagi. Tapi kali ini… bukan karena papanya. Melainkan karena dirinya sendiri.***Hari itu juga, Malvin berdiri di depan gedung yayasan keluarga.Bangunan tinggi dengan kaca besar yang memantulkan bayangannya sendiri. Rapi. Dingin. Dan penuh tuntutan.Ia menarik napas panjang, lalu melangkah
Malam turun perlahan di balik jendela apartemen.Lampu kota berpendar, tapi suasana di dalam justru terasa lebih gelap.Sekar sudah berada di dalam kamar, menemani Gara yang masih tertidur.Malvin berdiri sendiri di balkon. Siku bertumpu pada pagar besi yang dingin. Angin malam membawa bau kota—aspal, asap, dan sesuatu yang tak bernama. Ia menatap kosong ke arah jalanan di bawah, tapi tidak benar-benar melihat apa-apa.Yang ada di kepalanya hanya satu suara.Satu langkah salah, dan semuanya bisa runtuh.Ponselnya kembali bergetar.Papa.Dulu, getaran ini selalu membuatnya cemas. Membuatnya mencari alasan, membuatnya menunda, membuatnya tunduk.Tapi kali ini—Malvin tidak ragu.Ia langsung mengangkat.Kali ini… Malvin tidak ragu.Ia langsung mengangkat.“Aku mau ketemu, Pa.”Tidak ada basa-basi.Di seberang sana, terdengar suara napas berat yang kemudian berubah menjadi tawa tipis.“Akhirnya kamu sadar juga.”“Besok. Kita ketemu.”***Keesokan harinya.Pagi datang dengan langit kelabu.
Bau apek khas basement apartemen menyambut begitu mesin mati. Senyap. Mobil berhenti di basement apartemen.Mesin dimatikan, tapi tidak ada yang langsung turun.Hening.Hanya suara napas yang masih belum benar-benar stabil setelah perjalanan tadi.Sekar memeluk Gara yang sudah tertidur di pangkuannya. Wajah kecil itu tenang, seolah dunia tidak sedang mengancamnya.“Sudah sampai,” ucap Malvin pelan.Sekar mengangguk, tapi tidak bergerak.Matanya justru menatap ke depan kosong.Tempat ini…Bukan sekadar apartemen.Ini adalah tempat yang dulu hampir menjadi rumah mereka.Lift bergerak naik perlahan.Setiap angka yang berubah seperti menarik satu kenangan lama ke permukaan.Sekar berdiri diam, memeluk Gara. Sementara Malvin sesekali melirik ke arahnya, tapi tidak berani berkata apa-apa.Ting.Pintu lif terbuka.Langkah Sekar terhenti tepat di ambang pintu.Unit apartmen itu masih sama.Tidak banyak berubah.Aroma ruangan, tata letak, bahkan sofa abu-abu di sudut ruang tamu… semuanya teras
Ponsel itu masih berdering di tangan Malvin.Malvin terdiam. Matanya beralih ke luar, menangkap sosok yang dimaksud Sekar. Dadanya berdegup kencang."Kita pergi bareng. Sekarang."Sekar terkejut. "Tapi kamu bilang cuma mau ajak Gara main—""Rencana berubah." Malvin menatapnya serius. "Mereka sudah tahu tempat ini. Nggak aman."Sekar ragu. Ia menunduk, menatap Gara yang masih asyik dengan mobilan hijau di tangannya. Anak itu sama sekali tak tahu apa-apa. Tak tahu bahwa di luar sana, ada orang-orang yang siap merenggutnya kapan saja.Ponsel Malvin kembali berdering.Layarnya menampilkan satu nama yang langsung membuat mereka berdua membeku.Papa.Ruangan kecil itu mendadak terasa sempit. Udara seperti tertahan. Sekar menatap Malvin tanpa berkedip, sementara Gara mulai merengek minta turun.Malvin menelan ludah. Jarinya sempat ragu, namun akhirnya ia menggeser tombol hijau itu. "Ya, Pa."Suara di seberang sana tidak perlu keras untuk terasa menekan."Kamu di mana?"Malvin melirik Sekar
POV MalvinRumah itu masih sama. Terlalu rapi. Terlalu sunyi.“Kamu kelihatan capek,” kata Mama saat aku masuk.Aku hanya mengangguk, meletakkan kunci mobil di meja, lalu duduk di sofa. Napasku terasa berat sejak tadi.“Ada yang mau kamu bilang?”Aku menatap lantai. Wajah Sekar terlintas. Gara.“Ak
Sudah dua minggu sejak pertemuan terakhir dengan Malvin.Satu pesan masuk ke ponselnya.Malvin: Bentar lagi aku ke sana, kamu siap-siap.Tidak ada balasan. Seolah pesan itu adalah paksaan yang tidak membutuhkan persetujuannya.Sekar mengembuskan napas, memandang Gara yang semakin tumbuh besar.“Pap
Malam kembali tenang setelah Malvin pulang.Sekar mengira ia akan lega. Nyatanya, ada ruang yang terasa lebih kosong dari sebelumnya. Rumah ini kembali hanya berisi dirinya dan Gara, seperti biasa. Tapi keheningan kali ini berbeda—terlalu rapi, terlalu sadar.Gara terbangun menjelang tengah malam.
Sejak kejadian kemarin, Malvin dan Sekar semakin dekat. Akhir pekan ini mereka habiskan bersama. Pagi-pagi Malvin sudah datang membawa sarapan dan mainan untuk Gara, tak lagi menghabiskan waktunya di kafe. Menemani anak itu bermain perlahan menjadi rutinitas baru yang tak ingin ia lewatkan.Cahaya







