Share

Bab 8. Tekanan

Author: SassyKawai90
last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-19 22:24:54

POV Sekar

Sejak pertemuanku dengan Malvin, kegelisahan itu tak pernah benar-benar pergi.

Rahasia kelam yang perlahan menampakkan diri membuat dadaku tak lagi tenang. Setiap tarikan napas terasa pendek, seolah udara di sekitarku menyempit.

Takut.

Nama itu kembali bergaung di kepalaku.

Malvin.

Ia akan datang lagi—membawa masa lalu yang tak pernah selesai, membawa anakku, membawa hidupku, dan mungkin merenggut semuanya.

Aku melangkah masuk ke gedung kantor dengan langkah yang sedikit lebih cepat d
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Luka Itu Bernama Kamu   Bab 37. Ruang Yang Tidak Lagi Sama

    Pagi itu tidak benar-benar tenang, meskipun langit di atas perumahan terlihat cerah.Sekar duduk di lantai karpet ruang tamu, menemani Gara menyusun mobil-mobilan plastik kesayangannya. Anak itu tertawa kecil setiap kali dua mobil sengaja ditabrakkan, suara polos yang biasanya mampu mencairkan kecemasan apa pun. Tapi kali ini tidak. Karena mata Sekar, sesekali, melirik ke jendela.Mobil hitam itu masih terparkir di seberang jalan, persis seperti kemarin. Sejak mereka pindah ke rumah kontrakan ini, mobil itu sudah ada di sana. Tidak mendekat. Tidak mengganggu. Tapi juga tidak pernah pergi. Keberadaannya seperti bisikan ancaman yang tak bersuara.“Mama” Gara mengangkat mobil merah kesayangannya tinggi-tinggi.Sekar langsung tersenyum, memaksa hangat merambat di wajah yang mulai kaku. “Wah, keren banget, Sayang.” Ia mengusap rambut halus anak itu, tapi pikirannya melayang jauh. Ini bukan kebetulan. Bukan sekadar mobil yang parkir sembarangan. Ini adalah mata yang terus mengawasi.Tok.To

  • Luka Itu Bernama Kamu   Bab 36. Jarak Yang Dipilih

    Pagi di apartemen terasa asing.Tidak ada suara panci dari dapur. Tidak ada langkah kecil Gara yang berlarian di ruang tamu.Sepi.Malvin berdiri di ambang kamar. Kosong.Lemari yang semalam masih setengah terbuka kini sudah rapi. Tidak ada lagi tas kecil milik Sekar. Tidak ada baju anak-anak yang tergantung sembarangan.Hanya tersisa… ruang.Di atas meja, secarik kertas. Tulisan tangan yang ia kenal.Vin,Aku pergi. Jangan cari aku dulu.Aku butuh tenang. Bukan cuma untuk aku… tapi juga untuk Gara.—SekarTangan Malvin gemetar saat membacanya.Dada yang semalam sudah berat… kini terasa benar-benar kosong.Ia duduk perlahan di sofa. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia harus kehilangan lagi. Tapi kali ini… bukan karena papanya. Melainkan karena dirinya sendiri.***Hari itu juga, Malvin berdiri di depan gedung yayasan keluarga.Bangunan tinggi dengan kaca besar yang memantulkan bayangannya sendiri. Rapi. Dingin. Dan penuh tuntutan.Ia menarik napas panjang, lalu melangkah

  • Luka Itu Bernama Kamu   Bab 35. Syarat Yang Mengikat

    Malam turun perlahan di balik jendela apartemen.Lampu kota berpendar, tapi suasana di dalam justru terasa lebih gelap.Sekar sudah berada di dalam kamar, menemani Gara yang masih tertidur.Malvin berdiri sendiri di balkon. Siku bertumpu pada pagar besi yang dingin. Angin malam membawa bau kota—aspal, asap, dan sesuatu yang tak bernama. Ia menatap kosong ke arah jalanan di bawah, tapi tidak benar-benar melihat apa-apa.Yang ada di kepalanya hanya satu suara.Satu langkah salah, dan semuanya bisa runtuh.Ponselnya kembali bergetar.Papa.Dulu, getaran ini selalu membuatnya cemas. Membuatnya mencari alasan, membuatnya menunda, membuatnya tunduk.Tapi kali ini—Malvin tidak ragu.Ia langsung mengangkat.Kali ini… Malvin tidak ragu.Ia langsung mengangkat.“Aku mau ketemu, Pa.”Tidak ada basa-basi.Di seberang sana, terdengar suara napas berat yang kemudian berubah menjadi tawa tipis.“Akhirnya kamu sadar juga.”“Besok. Kita ketemu.”***Keesokan harinya.Pagi datang dengan langit kelabu.

  • Luka Itu Bernama Kamu   Bab 34. Luka Yang Belum Selesai

    Bau apek khas basement apartemen menyambut begitu mesin mati. Senyap. Mobil berhenti di basement apartemen.Mesin dimatikan, tapi tidak ada yang langsung turun.Hening.Hanya suara napas yang masih belum benar-benar stabil setelah perjalanan tadi.Sekar memeluk Gara yang sudah tertidur di pangkuannya. Wajah kecil itu tenang, seolah dunia tidak sedang mengancamnya.“Sudah sampai,” ucap Malvin pelan.Sekar mengangguk, tapi tidak bergerak.Matanya justru menatap ke depan kosong.Tempat ini…Bukan sekadar apartemen.Ini adalah tempat yang dulu hampir menjadi rumah mereka.Lift bergerak naik perlahan.Setiap angka yang berubah seperti menarik satu kenangan lama ke permukaan.Sekar berdiri diam, memeluk Gara. Sementara Malvin sesekali melirik ke arahnya, tapi tidak berani berkata apa-apa.Ting.Pintu lif terbuka.Langkah Sekar terhenti tepat di ambang pintu.Unit apartmen itu masih sama.Tidak banyak berubah.Aroma ruangan, tata letak, bahkan sofa abu-abu di sudut ruang tamu… semuanya teras

  • Luka Itu Bernama Kamu   Bab 33. Bayang Yang Kembali

    Ponsel itu masih berdering di tangan Malvin.Malvin terdiam. Matanya beralih ke luar, menangkap sosok yang dimaksud Sekar. Dadanya berdegup kencang."Kita pergi bareng. Sekarang."Sekar terkejut. "Tapi kamu bilang cuma mau ajak Gara main—""Rencana berubah." Malvin menatapnya serius. "Mereka sudah tahu tempat ini. Nggak aman."Sekar ragu. Ia menunduk, menatap Gara yang masih asyik dengan mobilan hijau di tangannya. Anak itu sama sekali tak tahu apa-apa. Tak tahu bahwa di luar sana, ada orang-orang yang siap merenggutnya kapan saja.Ponsel Malvin kembali berdering.Layarnya menampilkan satu nama yang langsung membuat mereka berdua membeku.Papa.Ruangan kecil itu mendadak terasa sempit. Udara seperti tertahan. Sekar menatap Malvin tanpa berkedip, sementara Gara mulai merengek minta turun.Malvin menelan ludah. Jarinya sempat ragu, namun akhirnya ia menggeser tombol hijau itu. "Ya, Pa."Suara di seberang sana tidak perlu keras untuk terasa menekan."Kamu di mana?"Malvin melirik Sekar

  • Luka Itu Bernama Kamu   Bab 32. Yang Tak Sempat Tumbuh

    Cahaya matahari menyapa hangat melalui celah jendela kamar, membentuk garis-garis tipis di lantai. Debu-debu kecil menari-nari dalam sorot cahaya itu, seolah ikut merayakan pagi yang cerah. Gara sudah asyik bermain mobilan yang rodanya tinggal satu—bukan masalah baginya, ia tetap bersenandung kecil sambil mendorongnya maju mundur di atas tikar. Sekar terus memantau dari dapur, tangannya cekatan mengaduk bubur di atas kompor sambil sesekali melirik ke arah Gara. Senyumnya merekah melihat anak laki-laki itu begitu tenggelam dalam dunianya sendiri."Mama..."Suara kecil itu memanggilnya. Sekar segera menuang bubur ke mangkuk, memastikan hangatnya pas di lidah Gara. Ia menghampiri dengan langkah hati-hati, membawa semangkuk bubur ayam yang wangi."Sayang, kamu sudah lapar ya? Sini duduk dulu, Nak."Sekar mendudukkan Gara di meja makannya—meja kecil berwarna biru yang dulu ia beli saat Gara mulai bisa duduk sendiri. Ia mengambil paper bag warna putih dari atas lemari, mengeluarkan mobil-mo

  • Luka Itu Bernama Kamu   Bab 31. Masih Mengawasi

    Di sebuah ruangan kerja luas dengan dinding kaca tinggi, seorang pria paruh baya berdiri menghadap pemandangan kota.Tangannya memegang ponsel yang baru saja terputus.Morgan CalebNama yang cukup membuat banyak orang berpikir dua kali sebelum menentangnya.Ia memutar gelas berisi minuman di tangan

  • Luka Itu Bernama Kamu   Bab 30. Sepasang Mata Mengintai

    Pagi ini Sekar sudah bersiap berangkat kerja. Gara, anak itu masih tidur terlelap di balik selimut hangatnya. Semalam Gara rewel, membuat Sekar harus begadang."Bu, saya titip Gara ya. Subuh tadi dia baru benar-benar tidur.""Iya, Mbak. Tumben Gara rewel.""Mungkin badannya enggak enak, kemarin mai

  • Luka Itu Bernama Kamu   Bab 29. Terpaksa Pulang

    Malam turun perlahan di kota yang tak pernah benar-benar tidur.Malvin masih duduk di dalam mobilnya, parkir tidak jauh dari rumah kecil yang kini dihuni Sekar dan Gara. Lampu ruang tamu masih menyala redup. Dari balik jendela, bayangan Sekar sesekali terlihat bergerak.Entah kenapa, hanya dengan m

  • Luka Itu Bernama Kamu   Bab 28. Bawa Mereka Pergi

    POV MalvinLampu kamar Sekar masih menyala dari balik jendela kecil itu. Beberapa menit sebelumnya, dia berdiri di depan pintu dengan tatapan dingin. Mengatakan bahwa dia akan pergi jika keluargaku mulai mengganggu hidupnya lagi.Kalimat itu masih berputar di kepalaku.Aku akan pergi lagi, Malvin.

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status