MasukSudah dua minggu sejak perdebatan itu terjadi. Arga tak lagi menghubunginya.
Dan entah sejak kapan, diam menjadi sesuatu yang paling menakutkan bagi Sekar. Di tempat kerja, tubuhnya hadir, tetapi pikirannya tertinggal jauh—pada hubungan yang kini menggantung tanpa kepastian. Dua tahun bersama Arga bukan waktu yang singkat. Lelaki itu pernah begitu meyakinkan, begitu sabar memperjuangkan restu ibunya. Namun satu kesalahan yang ia simpan sejak awal—ketidakjujuran—mengubah segalanya. Arga kecewa. Merasa tidak dihargai. Dan memilih berhenti tanpa benar-benar pergi. Sekar menatap layar ponselnya. Tak ada pesan. Tak ada panggilan. Kosong. Ketakutan itu datang perlahan, menekan dadanya tanpa suara. Ia takut hubungan ini tak sekadar retak—melainkan selesai. Rasanya seperti mengulang luka delapan tahun lalu. Tanpa kabar. Tanpa penjelasan. Ditinggalkan begitu saja. Trauma lama yang belum sepenuhnya sembuh, kini mengetuk kembali. “Sekar, kamu nggak pulang?” suara Laras terdengar dari kejauhan. “Kamu bengong lagi.” “Hei!” Sekar tersentak. “Apa?” “Semua sudah pulang. Kamu mau sendirian di sini?” Sekar tak menjawab. Ia hanya membereskan barang-barangnya dan berjalan keluar. Laras menahan lengannya. “Kamu baik-baik saja?” Sekar mengangguk pelan. Terlalu pelan untuk disebut yakin. “Aku pulang duluan.” Di perjalanan, ponselnya bergetar berkali-kali. Pesan masuk. Senyum kecil muncul—bukan karena bahagia, tapi karena ada satu hal di hidupnya yang tak pernah benar-benar pergi. Anaknya. Hampir empat bulan mereka bersama. Sejak masih dalam kandungan, Sekar menjaga anak itu sendirian. Menuruti ngidam yang tak masuk akal, menahan lelah, mengalah pada dunia yang tak pernah benar-benar menerima kehadirannya. Aku memilihmu saat semua orang menolakmu. Sejak itu aku tak punya hak untuk menyerah. Karena jika aku runtuh, kamu tak punya siapa-siapa. Cinta tidak selalu lahir dari darah. Kadang ia lahir dari keputusan untuk tetap tinggal. Kau bukan anak yang kupinjam. Kau adalah rumah—satu-satunya yang tak pernah menolakku. *** Malam terbangun dalam sunyi. Sekar meraih ponselnya dari meja. Banyak pesan masuk. Nama Arga tertera di layar. Akhirnya. Senyum yang sempat muncul, perlahan mati. Dadanya mengencang. Air mata jatuh tanpa ia minta. Arga: Sekar, aku menyayangimu dengan sungguh-sungguh. Tapi aku sudah tidak bisa memperjuangkan hubungan ini lagi. Bukan karena tak sayang, melainkan karena bertahan hanya akan melukai kita perlahan. Aku mendoakan yang terbaik untukmu. Aku akan menghargai semua pilihanmu. Maaf karena aku tidak bisa sampai akhir bersamamu. Karena rasa sayangku, aku memilih melepaskanmu. Semoga suatu hari kamu menemukan lelaki yang lebih baik dariku. Jadi begini caramu pergi, Arga. Aku diam saat kamu mengatakan kita selesai. Karena patah hati tak selalu butuh suara. Alasanmu terdengar dewasa—tentang keadaan, masa depan, dan hal-hal yang katanya tak bisa kamu lawan. Yang tidak kamu sadari, kamu tidak hanya meninggalkanku. Kamu juga memutus semua rencana yang kusimpan diam-diam—tentang kita. Aku tak memintamu bertahan. Aku hanya berharap kamu jujur. Bahwa cintamu punya batas. Dan ketika hidup menjadi rumit, akulah yang pertama kamu lepaskan. Yang paling menyakitkan bukan kepergianmu. Melainkan kenyataan bahwa aku masih mencintaimu, bahkan setelah kamu memilih pergi. Kepergianmu mengajarkanku satu hal: tidak semua yang datang dengan hangat, berniat untuk tinggal. *** Sekar baru benar-benar mengerti arti kata putus bukan saat Arga mengucapkannya, tapi ketika pintu itu tertutup pelan dan tak ada lagi suara langkahnya di luar. Sunyi yang tertinggal bukan sunyi biasa—ia berat, menekan dada, seperti udara yang lupa bagaimana caranya mengalir. Ia duduk lama di sofa, masih dengan ponsel di genggaman. Layar itu gelap. Tak ada pesan lanjutan. Tak ada klarifikasi. Tak ada usaha untuk kembali. Hubungan dua tahun itu runtuh hanya dengan satu kalimat yang diucapkan terlalu tenang. Sekar menertawakan dirinya sendiri—tawa kecil yang patah di tengah jalan. Lucu, pikirnya. Ia pernah membayangkan perpisahan ini dengan tangis dramatis, dengan pelukan terakhir, dengan janji-janji yang tak jadi ditepati. Tapi kenyataannya lebih sederhana. Dan justru karena itu, lebih menyakitkan. “Aku baik-baik saja,” gumamnya, entah pada siapa. Di kamar anaknya, Sekar menahan napas. Bocah itu tidur dengan damai, pelukannya mengunci boneka lusuh yang sudah menemani sejak hari pertama mereka bertemu. Sekar duduk di tepi ranjang, mengelus rambut halus itu dengan hati-hati. Di depan anak ini, ia tak boleh runtuh. Sekar sadar, perpisahan ini bukan hanya tentang kehilangan pasangan. Ini tentang ketakutan lama yang kembali bangkit—bahwa pada akhirnya, ia selalu sendirian menanggung segalanya. Bahwa mencintai berarti bersiap ditinggalkan. Air matanya jatuh satu, membasahi sprei. Ia cepat mengusapnya, takut isaknya membangunkan sang anak. Ia tak ingin anak itu tumbuh dengan mengingat ibunya sebagai perempuan yang lemah. Malam itu, Sekar tidak tidur. Ia membersihkan rumah, menyusun ulang lemari, memindahkan barang-barang yang tak lagi perlu. Seolah dengan menata benda, ia bisa menata perasaannya. Tapi rasa kehilangan tidak mengenal logika. Menjelang subuh, Sekar akhirnya duduk di lantai dapur, punggung bersandar ke lemari es. Tangannya gemetar, dadanya sesak, dan untuk pertama kalinya sejak Arga pergi, ia membiarkan dirinya menangis tanpa suara. Bukan karena ia ingin Arga kembali. Melainkan karena ia lelah selalu menjadi kuat. Ia teringat kata-kata Arga sebelum pergi—tentang restu yang tak kunjung datang, tentang masa depan yang terlalu rumit, tentang Sekar yang “terlalu banyak membawa beban”. Tak satu pun dari kata itu ia bantah. Bukan karena setuju, tapi karena ia sudah terlalu sering membela diri di hidupnya. Pagi datang tanpa permisi. Sekar berdiri di depan cermin, menatap bayangan perempuan yang matanya sembab tapi punggungnya tetap tegak. Ia mengikat rambutnya rapi, membasuh wajahnya, lalu mengenakan senyum tipis yang terasa asing. “Hari ini kita lanjut,” katanya pada diri sendiri. Bukan karena tidak sakit. Tapi karena hidup tidak menunggu orang yang sedang patah. Di luar sana, dunia tetap berjalan. Dan Sekar tahu, ia tidak boleh berhenti—bukan demi siapa pun, tapi demi dirinya sendiri dan anak yang menggenggam masa depannya. Ia belum tahu bagaimana caranya sembuh. Ia belum tahu apakah hatinya akan utuh lagi. Namun satu hal ia yakini: Perpisahan ini bukan akhir dirinya—hanya akhir dari sesuatu yang tak pernah benar-benar bisa ia pertahankan sendirian. Sekar melangkah keluar rumah dengan napas panjang. Di dadanya masih ada luka. Tapi juga ada ruang—kosong, sunyi, dan untuk pertama kalinya… terbuka pada kemungkinan yang belum ia pahami.POV SekarSejak pertemuanku dengan Malvin, kegelisahan itu tak pernah benar-benar pergi.Rahasia kelam yang perlahan menampakkan diri membuat dadaku tak lagi tenang. Setiap tarikan napas terasa pendek, seolah udara di sekitarku menyempit.Takut.Nama itu kembali bergaung di kepalaku.Malvin.Ia akan datang lagi—membawa masa lalu yang tak pernah selesai, membawa anakku, membawa hidupku, dan mungkin merenggut semuanya.Aku melangkah masuk ke gedung kantor dengan langkah yang sedikit lebih cepat dari biasanya. Aku ingin sibuk. Aku butuh dunia lain untuk menenggelamkan pikiranku.Namun nama itu tetap mengikutiku.Di meja kerja, layar komputer menyala, email masuk silih berganti. Rekan-rekan menyapaku seperti biasa. Aku membalas dengan senyum terlatih—senyum perempuan dewasa yang hidupnya tampak terkendali.Tak seorang pun tahu, dadaku sedang berantakan.Malvin.Nama itu berputar di kepalaku seperti luka lama yang digaruk kembali. Delapan tahun bukan waktu singkat. Aku sudah menghapus nomo
Tiga bulan setelah perpisahannya dengan Arga, Sekar memaksa dirinya tetap berjalan seperti biasa—bangun pagi, bekerja, pulang, lalu memeluk Gara seolah dunia masih baik-baik saja.Gara kini berusia tujuh bulan. Mulut mungilnya mulai pandai berceloteh, suaranya kerap terdengar seperti mantra penguat di hari-hari Sekar yang sunyi.“Ibu… ba… ba…”Sekar tersenyum tipis. Namun senyum itu tak pernah benar-benar sampai ke matanya.Ia menatap wajah kecil itu lama, terlalu lama, hingga dada Sekar tiba-tiba terasa nyeri.Bagaimana jika suatu hari nanti Gara bertanya tentang ayahnya?Tentang sosok yang seharusnya ada, tapi tak pernah hadir?Pertanyaan itu menusuk perlahan, mengendap sebagai luka yang tak pernah sembuh.Sementara itu, di sebuah apartemen sederhana, tiga lelaki duduk saling berhadapan, suasana di antara mereka jauh dari santai.“Vin, kamu serius nggak mau ke sana?” Niko memecah keheningan. “Pastiin dulu. Jangan sampai nanti kamu nyesel.”Malvin diam. Tatapannya kosong, jemarinya m
Sudah dua minggu sejak perdebatan itu terjadi. Arga tak lagi menghubunginya.Dan entah sejak kapan, diam menjadi sesuatu yang paling menakutkan bagi Sekar.Di tempat kerja, tubuhnya hadir, tetapi pikirannya tertinggal jauh—pada hubungan yang kini menggantung tanpa kepastian. Dua tahun bersama Arga bukan waktu yang singkat. Lelaki itu pernah begitu meyakinkan, begitu sabar memperjuangkan restu ibunya.Namun satu kesalahan yang ia simpan sejak awal—ketidakjujuran—mengubah segalanya.Arga kecewa.Merasa tidak dihargai.Dan memilih berhenti tanpa benar-benar pergi.Sekar menatap layar ponselnya. Tak ada pesan. Tak ada panggilan.Kosong.Ketakutan itu datang perlahan, menekan dadanya tanpa suara. Ia takut hubungan ini tak sekadar retak—melainkan selesai. Rasanya seperti mengulang luka delapan tahun lalu. Tanpa kabar. Tanpa penjelasan. Ditinggalkan begitu saja.Trauma lama yang belum sepenuhnya sembuh, kini mengetuk kembali.“Sekar, kamu nggak pulang?” suara Laras terdengar dari kejauhan.“
Di rumah sakit, Gara langsung ditangani dokter. Sekar duduk di kursi tunggu dengan tangan gemetar, menatap pintu ruang periksa yang tertutup. Rasa bersalah menekan dadanya—ia terlalu sibuk memikirkan Arga, sampai lupa memperhatikan anak sekecil ini.“Dok, bagaimana kondisi anak saya?” tanyanya begitu dokter keluar.“Hanya demam biasa,” jawab dokter tenang. “Saya sudah resepkan obatnya. Tidak perlu dirawat, bisa langsung dibawa pulang.”Sekar mengangguk lega. “Terima kasih, Dok.”Namun kelegaannya hanya bertahan sebentar.Di lantai lain rumah sakit itu, tiga lelaki tengah bercengkerama—lebih tepatnya meledek sahabat mereka yang terbaring di ranjang.“Makanya, Nik, kalau mau happy-happy ajak kita. Mampus kan lu kecelakaan? Syukur nggak mati,” celetuk Revan.“Kalau gue ajak kalian, yang ada nggak dapet cewek,” balas Niko malas.“Apalagi kalau suhu playboy ini ikut,” sahut Niko.“Cewek mah yang penting isi dompet sama isi celana,” Revan tertawa.“Brisik. Pulang aja kalian,” usir Niko. “Gu
Sabtu pagi, pukul enam lewat tiga puluh.Sekar sudah bersiap sejak subuh. Gara sedang dibawa jalan pagi oleh Bu Sarah di depan kos. Udara masih sejuk, tapi dada Sekar terasa berat—seperti ada sesuatu yang akan runtuh hari ini.Arga: Aku bentar lagi sampaiArga: Tunggu di depan gang ya, biar langsung jalanSekar: Oke“Mbak Sarah, Gara aku titip ya,” ucap Sekar sambil merapikan tas.“Mudah-mudahan malam aku sudah sampai.”“Iya, Mbak. Hati-hati di jalan.”Sekar menunduk, mencium kening bayi kecil itu.“Sayang, mama pergi sebentar ya. Jangan rewel.”Di ujung gang, mobil CR-V hitam berhenti. Kaca terbuka.“Sayang, ayo. Biar nggak kesiangan.”Sekar masuk ke mobil. Kendaraan melaju, membelah hiruk-pikuk pagi Jakarta. Pandangannya terpaku ke luar jendela—hingga langkahnya terhenti pada satu sosok di depan supermarket.Lelaki itu lagi.Entah mengapa, sejak kehadiran Gara, bayangan masa lalu itu semakin sering muncul. Padahal Sekar tahu, rumah lelaki itu bukan di sekitar sini.“Sayang,” suara A
Sagara kini menginjak usia dua bulan.Waktu berjalan terlalu cepat, seolah tak memberi Sekar kesempatan bernapas. Dua bulan itu pula ia menyimpan satu rahasia besar—tentang seorang bayi yang kini menjadi pusat hidupnya, tentang sebuah keputusan yang ia ambil tanpa kompromi.Sekar tahu, secerdik apa pun ia menyembunyikan Sagara, lambat laun semuanya akan terungkap. Rasa bersalah itu selalu datang setiap kali ponselnya berdering membawa nama Arga di layar.Dan hari ini, kebohongan itu mulai retak.“Aku kangen,” kata Arga di telepon pagi tadi.Alasan sederhana, tapi cukup membuat dada Sekar sesak.Sudah lima bulan mereka tak bertemu. Jarak Jakarta–Bogor, kesibukan kerja, dan restu yang belum datang membuat pertemuan menjadi barang langka. Saling percaya adalah prinsip yang mereka pegang—setidaknya sampai Sekar mulai menyimpan rahasia sebesar ini.Arga: Sayang, aku sudah jalanArga: Aku juga sudah pesan hotelArga: Kita ketemu dekat hotel aja yaSekar menatap layar ponsel lama.Perasaan c