Home / Romansa / Luka Itu Bernama Kamu / Bab 6. Setelah Putus

Share

Bab 6. Setelah Putus

Author: SassyKawai90
last update publish date: 2026-02-11 17:02:27

Sudah dua minggu sejak perdebatan itu terjadi. Arga tak lagi menghubunginya.

Dan entah sejak kapan, diam menjadi sesuatu yang paling menakutkan bagi Sekar.

Di tempat kerja, tubuhnya hadir, tetapi pikirannya tertinggal jauh—pada hubungan yang kini menggantung tanpa kepastian. Dua tahun bersama Arga bukan waktu yang singkat. Lelaki itu pernah begitu meyakinkan, begitu sabar memperjuangkan restu ibunya.

Namun satu kesalahan yang ia simpan sejak awal—ketidakjujuran—mengubah segalanya.

Arga kecewa.

Merasa tidak dihargai.

Dan memilih berhenti tanpa benar-benar pergi.

Sekar menatap layar ponselnya. Tak ada pesan. Tak ada panggilan.

Kosong.

Ketakutan itu datang perlahan, menekan dadanya tanpa suara. Ia takut hubungan ini tak sekadar retak—melainkan selesai. Rasanya seperti mengulang luka delapan tahun lalu. Tanpa kabar. Tanpa penjelasan. Ditinggalkan begitu saja.

Trauma lama yang belum sepenuhnya sembuh, kini mengetuk kembali.

“Sekar, kamu nggak pulang?” suara Laras terdengar dari kejauhan.

“Kamu bengong lagi.”

“Hei!”

Sekar tersentak.

“Apa?”

“Semua sudah pulang. Kamu mau sendirian di sini?”

Sekar tak menjawab. Ia hanya membereskan barang-barangnya dan berjalan keluar. Laras menahan lengannya.

“Kamu baik-baik saja?”

Sekar mengangguk pelan. Terlalu pelan untuk disebut yakin.

“Aku pulang duluan.”

Di perjalanan, ponselnya bergetar berkali-kali. Pesan masuk. Senyum kecil muncul—bukan karena bahagia, tapi karena ada satu hal di hidupnya yang tak pernah benar-benar pergi.

Anaknya.

Hampir empat bulan mereka bersama. Sejak masih dalam kandungan, Sekar menjaga anak itu sendirian. Menuruti ngidam yang tak masuk akal, menahan lelah, mengalah pada dunia yang tak pernah benar-benar menerima kehadirannya.

Aku memilihmu saat semua orang menolakmu.

Sejak itu aku tak punya hak untuk menyerah.

Karena jika aku runtuh, kamu tak punya siapa-siapa.

Cinta tidak selalu lahir dari darah.

Kadang ia lahir dari keputusan untuk tetap tinggal.

Kau bukan anak yang kupinjam.

Kau adalah rumah—satu-satunya yang tak pernah menolakku.

***

Malam terbangun dalam sunyi. Sekar meraih ponselnya dari meja. Banyak pesan masuk. Nama Arga tertera di layar.

Akhirnya.

Senyum yang sempat muncul, perlahan mati. Dadanya mengencang. Air mata jatuh tanpa ia minta.

Arga:

Sekar, aku menyayangimu dengan sungguh-sungguh. Tapi aku sudah tidak bisa memperjuangkan hubungan ini lagi. Bukan karena tak sayang, melainkan karena bertahan hanya akan melukai kita perlahan. Aku mendoakan yang terbaik untukmu. Aku akan menghargai semua pilihanmu. Maaf karena aku tidak bisa sampai akhir bersamamu. Karena rasa sayangku, aku memilih melepaskanmu. Semoga suatu hari kamu menemukan lelaki yang lebih baik dariku.

Jadi begini caramu pergi, Arga.

Aku diam saat kamu mengatakan kita selesai. Karena patah hati tak selalu butuh suara. Alasanmu terdengar dewasa—tentang keadaan, masa depan, dan hal-hal yang katanya tak bisa kamu lawan.

Yang tidak kamu sadari, kamu tidak hanya meninggalkanku.

Kamu juga memutus semua rencana yang kusimpan diam-diam—tentang kita.

Aku tak memintamu bertahan. Aku hanya berharap kamu jujur. Bahwa cintamu punya batas. Dan ketika hidup menjadi rumit, akulah yang pertama kamu lepaskan.

Yang paling menyakitkan bukan kepergianmu.

Melainkan kenyataan bahwa aku masih mencintaimu, bahkan setelah kamu memilih pergi.

Kepergianmu mengajarkanku satu hal:

tidak semua yang datang dengan hangat, berniat untuk tinggal.

***

Sekar baru benar-benar mengerti arti kata putus bukan saat Arga mengucapkannya, tapi ketika pintu itu tertutup pelan dan tak ada lagi suara langkahnya di luar.

Sunyi yang tertinggal bukan sunyi biasa—ia berat, menekan dada, seperti udara yang lupa bagaimana caranya mengalir.

Ia duduk lama di sofa, masih dengan ponsel di genggaman. Layar itu gelap. Tak ada pesan lanjutan. Tak ada klarifikasi. Tak ada usaha untuk kembali.

Hubungan dua tahun itu runtuh hanya dengan satu kalimat yang diucapkan terlalu tenang.

Sekar menertawakan dirinya sendiri—tawa kecil yang patah di tengah jalan.

Lucu, pikirnya. Ia pernah membayangkan perpisahan ini dengan tangis dramatis, dengan pelukan terakhir, dengan janji-janji yang tak jadi ditepati.

Tapi kenyataannya lebih sederhana. Dan justru karena itu, lebih menyakitkan.

“Aku baik-baik saja,” gumamnya, entah pada siapa.

Di kamar anaknya, Sekar menahan napas. Bocah itu tidur dengan damai, pelukannya mengunci boneka lusuh yang sudah menemani sejak hari pertama mereka bertemu.

Sekar duduk di tepi ranjang, mengelus rambut halus itu dengan hati-hati.

Di depan anak ini, ia tak boleh runtuh.

Sekar sadar, perpisahan ini bukan hanya tentang kehilangan pasangan. Ini tentang ketakutan lama yang kembali bangkit—bahwa pada akhirnya, ia selalu sendirian menanggung segalanya. Bahwa mencintai berarti bersiap ditinggalkan.

Air matanya jatuh satu, membasahi sprei. Ia cepat mengusapnya, takut isaknya membangunkan sang anak.

Ia tak ingin anak itu tumbuh dengan mengingat ibunya sebagai perempuan yang lemah.

Malam itu, Sekar tidak tidur. Ia membersihkan rumah, menyusun ulang lemari, memindahkan barang-barang yang tak lagi perlu. Seolah dengan menata benda, ia bisa menata perasaannya.

Tapi rasa kehilangan tidak mengenal logika.

Menjelang subuh, Sekar akhirnya duduk di lantai dapur, punggung bersandar ke lemari es. Tangannya gemetar, dadanya sesak, dan untuk pertama kalinya sejak Arga pergi, ia membiarkan dirinya menangis tanpa suara.

Bukan karena ia ingin Arga kembali.

Melainkan karena ia lelah selalu menjadi kuat.

Ia teringat kata-kata Arga sebelum pergi—tentang restu yang tak kunjung datang, tentang masa depan yang terlalu rumit, tentang Sekar yang “terlalu banyak membawa beban”.

Tak satu pun dari kata itu ia bantah. Bukan karena setuju, tapi karena ia sudah terlalu sering membela diri di hidupnya.

Pagi datang tanpa permisi.

Sekar berdiri di depan cermin, menatap bayangan perempuan yang matanya sembab tapi punggungnya tetap tegak. Ia mengikat rambutnya rapi, membasuh wajahnya, lalu mengenakan senyum tipis yang terasa asing.

“Hari ini kita lanjut,” katanya pada diri sendiri.

Bukan karena tidak sakit.

Tapi karena hidup tidak menunggu orang yang sedang patah.

Di luar sana, dunia tetap berjalan. Dan Sekar tahu, ia tidak boleh berhenti—bukan demi siapa pun, tapi demi dirinya sendiri dan anak yang menggenggam masa depannya.

Ia belum tahu bagaimana caranya sembuh.

Ia belum tahu apakah hatinya akan utuh lagi.

Namun satu hal ia yakini:

Perpisahan ini bukan akhir dirinya—hanya akhir dari sesuatu yang tak pernah benar-benar bisa ia pertahankan sendirian.

Sekar melangkah keluar rumah dengan napas panjang.

Di dadanya masih ada luka.

Tapi juga ada ruang—kosong, sunyi, dan untuk pertama kalinya… terbuka pada kemungkinan yang belum ia pahami.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Luka Itu Bernama Kamu   Bab 37. Ruang Yang Tidak Lagi Sama

    Pagi itu tidak benar-benar tenang, meskipun langit di atas perumahan terlihat cerah.Sekar duduk di lantai karpet ruang tamu, menemani Gara menyusun mobil-mobilan plastik kesayangannya. Anak itu tertawa kecil setiap kali dua mobil sengaja ditabrakkan, suara polos yang biasanya mampu mencairkan kecemasan apa pun. Tapi kali ini tidak. Karena mata Sekar, sesekali, melirik ke jendela.Mobil hitam itu masih terparkir di seberang jalan, persis seperti kemarin. Sejak mereka pindah ke rumah kontrakan ini, mobil itu sudah ada di sana. Tidak mendekat. Tidak mengganggu. Tapi juga tidak pernah pergi. Keberadaannya seperti bisikan ancaman yang tak bersuara.“Mama” Gara mengangkat mobil merah kesayangannya tinggi-tinggi.Sekar langsung tersenyum, memaksa hangat merambat di wajah yang mulai kaku. “Wah, keren banget, Sayang.” Ia mengusap rambut halus anak itu, tapi pikirannya melayang jauh. Ini bukan kebetulan. Bukan sekadar mobil yang parkir sembarangan. Ini adalah mata yang terus mengawasi.Tok.To

  • Luka Itu Bernama Kamu   Bab 36. Jarak Yang Dipilih

    Pagi di apartemen terasa asing.Tidak ada suara panci dari dapur. Tidak ada langkah kecil Gara yang berlarian di ruang tamu.Sepi.Malvin berdiri di ambang kamar. Kosong.Lemari yang semalam masih setengah terbuka kini sudah rapi. Tidak ada lagi tas kecil milik Sekar. Tidak ada baju anak-anak yang tergantung sembarangan.Hanya tersisa… ruang.Di atas meja, secarik kertas. Tulisan tangan yang ia kenal.Vin,Aku pergi. Jangan cari aku dulu.Aku butuh tenang. Bukan cuma untuk aku… tapi juga untuk Gara.—SekarTangan Malvin gemetar saat membacanya.Dada yang semalam sudah berat… kini terasa benar-benar kosong.Ia duduk perlahan di sofa. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia harus kehilangan lagi. Tapi kali ini… bukan karena papanya. Melainkan karena dirinya sendiri.***Hari itu juga, Malvin berdiri di depan gedung yayasan keluarga.Bangunan tinggi dengan kaca besar yang memantulkan bayangannya sendiri. Rapi. Dingin. Dan penuh tuntutan.Ia menarik napas panjang, lalu melangkah

  • Luka Itu Bernama Kamu   Bab 35. Syarat Yang Mengikat

    Malam turun perlahan di balik jendela apartemen.Lampu kota berpendar, tapi suasana di dalam justru terasa lebih gelap.Sekar sudah berada di dalam kamar, menemani Gara yang masih tertidur.Malvin berdiri sendiri di balkon. Siku bertumpu pada pagar besi yang dingin. Angin malam membawa bau kota—aspal, asap, dan sesuatu yang tak bernama. Ia menatap kosong ke arah jalanan di bawah, tapi tidak benar-benar melihat apa-apa.Yang ada di kepalanya hanya satu suara.Satu langkah salah, dan semuanya bisa runtuh.Ponselnya kembali bergetar.Papa.Dulu, getaran ini selalu membuatnya cemas. Membuatnya mencari alasan, membuatnya menunda, membuatnya tunduk.Tapi kali ini—Malvin tidak ragu.Ia langsung mengangkat.Kali ini… Malvin tidak ragu.Ia langsung mengangkat.“Aku mau ketemu, Pa.”Tidak ada basa-basi.Di seberang sana, terdengar suara napas berat yang kemudian berubah menjadi tawa tipis.“Akhirnya kamu sadar juga.”“Besok. Kita ketemu.”***Keesokan harinya.Pagi datang dengan langit kelabu.

  • Luka Itu Bernama Kamu   Bab 34. Luka Yang Belum Selesai

    Bau apek khas basement apartemen menyambut begitu mesin mati. Senyap. Mobil berhenti di basement apartemen.Mesin dimatikan, tapi tidak ada yang langsung turun.Hening.Hanya suara napas yang masih belum benar-benar stabil setelah perjalanan tadi.Sekar memeluk Gara yang sudah tertidur di pangkuannya. Wajah kecil itu tenang, seolah dunia tidak sedang mengancamnya.“Sudah sampai,” ucap Malvin pelan.Sekar mengangguk, tapi tidak bergerak.Matanya justru menatap ke depan kosong.Tempat ini…Bukan sekadar apartemen.Ini adalah tempat yang dulu hampir menjadi rumah mereka.Lift bergerak naik perlahan.Setiap angka yang berubah seperti menarik satu kenangan lama ke permukaan.Sekar berdiri diam, memeluk Gara. Sementara Malvin sesekali melirik ke arahnya, tapi tidak berani berkata apa-apa.Ting.Pintu lif terbuka.Langkah Sekar terhenti tepat di ambang pintu.Unit apartmen itu masih sama.Tidak banyak berubah.Aroma ruangan, tata letak, bahkan sofa abu-abu di sudut ruang tamu… semuanya teras

  • Luka Itu Bernama Kamu   Bab 33. Bayang Yang Kembali

    Ponsel itu masih berdering di tangan Malvin.Malvin terdiam. Matanya beralih ke luar, menangkap sosok yang dimaksud Sekar. Dadanya berdegup kencang."Kita pergi bareng. Sekarang."Sekar terkejut. "Tapi kamu bilang cuma mau ajak Gara main—""Rencana berubah." Malvin menatapnya serius. "Mereka sudah tahu tempat ini. Nggak aman."Sekar ragu. Ia menunduk, menatap Gara yang masih asyik dengan mobilan hijau di tangannya. Anak itu sama sekali tak tahu apa-apa. Tak tahu bahwa di luar sana, ada orang-orang yang siap merenggutnya kapan saja.Ponsel Malvin kembali berdering.Layarnya menampilkan satu nama yang langsung membuat mereka berdua membeku.Papa.Ruangan kecil itu mendadak terasa sempit. Udara seperti tertahan. Sekar menatap Malvin tanpa berkedip, sementara Gara mulai merengek minta turun.Malvin menelan ludah. Jarinya sempat ragu, namun akhirnya ia menggeser tombol hijau itu. "Ya, Pa."Suara di seberang sana tidak perlu keras untuk terasa menekan."Kamu di mana?"Malvin melirik Sekar

  • Luka Itu Bernama Kamu   Bab 32. Yang Tak Sempat Tumbuh

    Cahaya matahari menyapa hangat melalui celah jendela kamar, membentuk garis-garis tipis di lantai. Debu-debu kecil menari-nari dalam sorot cahaya itu, seolah ikut merayakan pagi yang cerah. Gara sudah asyik bermain mobilan yang rodanya tinggal satu—bukan masalah baginya, ia tetap bersenandung kecil sambil mendorongnya maju mundur di atas tikar. Sekar terus memantau dari dapur, tangannya cekatan mengaduk bubur di atas kompor sambil sesekali melirik ke arah Gara. Senyumnya merekah melihat anak laki-laki itu begitu tenggelam dalam dunianya sendiri."Mama..."Suara kecil itu memanggilnya. Sekar segera menuang bubur ke mangkuk, memastikan hangatnya pas di lidah Gara. Ia menghampiri dengan langkah hati-hati, membawa semangkuk bubur ayam yang wangi."Sayang, kamu sudah lapar ya? Sini duduk dulu, Nak."Sekar mendudukkan Gara di meja makannya—meja kecil berwarna biru yang dulu ia beli saat Gara mulai bisa duduk sendiri. Ia mengambil paper bag warna putih dari atas lemari, mengeluarkan mobil-mo

  • Luka Itu Bernama Kamu   Bab 23. Ancaman

    Rumah besar itu tetap terlihat megah seperti biasa.Lampu kristal menggantung di langit-langit ruang tamu, memantulkan cahaya hangat yang terasa dingin bagi siapa pun yang berdiri di dalamnya.Namun bagi Malvin, rumah ini tidak pernah terasa seperti rumah.Pintu ruang kerja terbuka.“Masuk.”Suara

  • Luka Itu Bernama Kamu   Bab 22. Mencoba Kembali

    POV MalvinMotorku berhenti di depan gerbang kos kecil itu.Mesinnya sudah mati, tapi aku masih duduk diam di atas kemudi. Tanganku masih bertumpu di stang motor, sementara pikiranku berputar tanpa arah.Delapan tahun.Delapan tahun aku meninggalkannya.Dan selama itu pula aku mencoba meyakinkan di

  • Luka Itu Bernama Kamu   Bab 21. Pengungkapan Berujung Ancaman

    POV MalvinRumah itu masih sama. Terlalu rapi. Terlalu sunyi.“Kamu kelihatan capek,” kata Mama saat aku masuk.Aku hanya mengangguk, meletakkan kunci mobil di meja, lalu duduk di sofa. Napasku terasa berat sejak tadi.“Ada yang mau kamu bilang?”Aku menatap lantai. Wajah Sekar terlintas. Gara.“Ak

  • Luka Itu Bernama Kamu   Bab 20.

    Sudah dua minggu sejak pertemuan terakhir dengan Malvin.Satu pesan masuk ke ponselnya.Malvin: Bentar lagi aku ke sana, kamu siap-siap.Tidak ada balasan. Seolah pesan itu adalah paksaan yang tidak membutuhkan persetujuannya.Sekar mengembuskan napas, memandang Gara yang semakin tumbuh besar.“Pap

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status