Beranda / Romansa Dewasa / Luka Itu Bernama Kamu / Bab 3. Janji Yang Retak

Share

Bab 3. Janji Yang Retak

Penulis: SassyKawai90
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-11 16:56:28

Sagara kini menginjak usia dua bulan.

Waktu berjalan terlalu cepat, seolah tak memberi Sekar kesempatan bernapas. Dua bulan itu pula ia menyimpan satu rahasia besar—tentang seorang bayi yang kini menjadi pusat hidupnya, tentang sebuah keputusan yang ia ambil tanpa kompromi.

Sekar tahu, secerdik apa pun ia menyembunyikan Sagara, lambat laun semuanya akan terungkap. Rasa bersalah itu selalu datang setiap kali ponselnya berdering membawa nama Arga di layar.

Dan hari ini, kebohongan itu mulai retak.

“Aku kangen,” kata Arga di telepon pagi tadi.

Alasan sederhana, tapi cukup membuat dada Sekar sesak.

Sudah lima bulan mereka tak bertemu. Jarak Jakarta–Bogor, kesibukan kerja, dan restu yang belum datang membuat pertemuan menjadi barang langka. Saling percaya adalah prinsip yang mereka pegang—setidaknya sampai Sekar mulai menyimpan rahasia sebesar ini.

Arga: Sayang, aku sudah jalan

Arga: Aku juga sudah pesan hotel

Arga: Kita ketemu dekat hotel aja ya

Sekar menatap layar ponsel lama.

Perasaan cemas merambat pelan.

Apa memang sudah waktunya?

Ia menoleh ke arah Sagara yang sedang sibuk memainkan dotnya. Pipi bayi itu menggemuk, matanya jernih. Setiap kali Sekar menatap mata itu, bayangan seseorang selalu muncul—seseorang dari masa lalu yang meninggalkan luka paling dalam di hidupnya.

Jam menunjukkan pukul dua belas lewat empat puluh. Sekar duduk di sebuah kafe, ditemani segelas jus jeruk dan roti yang nyaris tak tersentuh. Akhir pekan membuat tempat itu ramai, suara obrolan bercampur aroma kopi.

Tiba-tiba tubuhnya menegang.

Tak jauh darinya, tiga lelaki baru saja masuk sambil tertawa, menaiki tangga menuju lantai dua. Jantung Sekar berdetak keras. Napasnya tercekat.

“Malvin…” gumamnya lirih.

Delapan tahun. Delapan tahun sejak lelaki itu menghilang tanpa jejak. Dan kini, ia berdiri di sana—baik-baik saja, seolah tak pernah meninggalkan kehancuran di hidup seseorang.

Sekar menunduk cepat, jari-jarinya gemetar.

Ternyata cuma aku yang tidak pernah baik-baik saja.

Di lantai atas, tiga lelaki duduk mengelilingi meja.

“Vin, lo yakin nggak salah nomor?” tanya Revan.

“Yakin. Dia sendiri yang ngetik nomornya,” jawab Malvin kesal. “Telepon nggak diangkat, chat masuk tapi dibaca doang.”

“Berarti dia bohong,” sahut Niko. “Kalau bener, pasti udah neror lo dari kemarin.”

Malvin menghela napas kasar. “Itu terakhir kali gue nelpon.”

Sekar tak menyadari Arga sudah berdiri di hadapannya.

“Sayang.”

“Sekar?”

“Hei, Sekar Andita.”

Sekar tersentak. “Iya—sori. Kamu dari tadi?”

“Baru juga datang. Kamu ngelamunin apa sih?”

“Nggak apa-apa. Aku laper. Ayo pesen makan.”

Mereka makan siang bersama, tertawa kecil, melepas rindu. Sekar berusaha hadir sepenuhnya, meski pikirannya masih tertinggal pada sosok yang baru saja membuka luka lama.

Di lantai atas, Malvin berdiri sambil menelepon. Dari sudut matanya, ia menangkap sosok yang terasa familiar.

“Vin! Buruan,” seru Revan.

Malvin menoleh sekali lagi sebelum akhirnya pergi, menyisakan keraguan yang mengendap.

Sore menjelang. Kafe semakin ramai.

“Sekar,” ucap Arga tiba-tiba serius. “Minggu depan kamu ada waktu?”

“Ada apa?”

“Kita temui ibu, mau?”

Sekar terdiam.

“Aku nggak bisa.”

“Kamu tahu sendiri kan ibu nggak suka sama aku.”

“Makanya kita datang bareng. Siapa tahu ibu sudah berubah.”

Arga menatapnya penuh harap. “Aku sudah mau dua puluh delapan tahun. Kita juga sudah dua tahun pacaran. Aku mau kita nikah.”

Sekar menatap mata Arga. Tak ada keraguan di sana. Justru dirinyalah yang kini dipenuhi ketakutan.

“Iya,” jawab Sekar akhirnya. “Minggu depan.”

Malam itu, langit Jakarta cerah. Bintang bertaburan, seolah merestui pertemuan dua insan yang saling melepas rindu. Namun bagi Sekar, cahaya itu justru membawa sunyi—membuka luka lama yang sudah lama ia kubur.

Bayangan masa SMA kembali menghantam.

“Andita, gue suka sama lo. Mau nggak pacaran sama gue?”

Malvin—idola sekolah. Playboy. Dan Sekar yang bodoh karena percaya. Satu tahun yang manis, sekaligus luka terdalam seumur hidupnya.

Minggu pagi, Sekar membawa Sagara mengunjungi bibinya.

Sejak ibunya meninggal dan ayahnya menikah lagi, Sekar lebih memilih tinggal bersama Bibi Arum. Di sanalah ia merasa punya rumah.

“Assalamualaikum, Bi.”

“Waalaikumsalam.” Arum menoleh. “Sekar? Kenapa nggak ngabarin?”

Pandangan Arum jatuh pada bayi di gendongan Sekar.

“Nanti aku ceritain semuanya, Bi.”

Di ruang tamu, Sekar menceritakan semuanya—tentang Luna, tentang Sagara, tentang keputusannya.

“Arga sudah tahu?” tanya Arum pelan.

“Belum, Bi.”

“Mau sampai kapan kamu sembunyi?”

Sekar menunduk. “Mungkin setelah kami menemui ibunya minggu depan.”

“Kalau ibunya tetap menolak?”

Sekar menarik napas. “Mungkin… aku harus mengakhiri semuanya.”

Arum menggenggam tangannya. “Apa pun keputusanmu, Bibi ada di pihakmu.”

Sekar menangis pelan.

Ponselnya bergetar.

Arga: Sayang jangan lupa minggu depan ya

Arga: Nanti aku jemput

Arga: Love you

Sekar menatap layar lama sebelum membalas.

Sekar: Iya 😊

Namun senyum itu tak sampai ke matanya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Luka Itu Bernama Kamu   Bab 8. Tekanan

    POV SekarSejak pertemuanku dengan Malvin, kegelisahan itu tak pernah benar-benar pergi.Rahasia kelam yang perlahan menampakkan diri membuat dadaku tak lagi tenang. Setiap tarikan napas terasa pendek, seolah udara di sekitarku menyempit.Takut.Nama itu kembali bergaung di kepalaku.Malvin.Ia akan datang lagi—membawa masa lalu yang tak pernah selesai, membawa anakku, membawa hidupku, dan mungkin merenggut semuanya.Aku melangkah masuk ke gedung kantor dengan langkah yang sedikit lebih cepat dari biasanya. Aku ingin sibuk. Aku butuh dunia lain untuk menenggelamkan pikiranku.Namun nama itu tetap mengikutiku.Di meja kerja, layar komputer menyala, email masuk silih berganti. Rekan-rekan menyapaku seperti biasa. Aku membalas dengan senyum terlatih—senyum perempuan dewasa yang hidupnya tampak terkendali.Tak seorang pun tahu, dadaku sedang berantakan.Malvin.Nama itu berputar di kepalaku seperti luka lama yang digaruk kembali. Delapan tahun bukan waktu singkat. Aku sudah menghapus nomo

  • Luka Itu Bernama Kamu   Bab 7. Nama Yang Kembali

    Tiga bulan setelah perpisahannya dengan Arga, Sekar memaksa dirinya tetap berjalan seperti biasa—bangun pagi, bekerja, pulang, lalu memeluk Gara seolah dunia masih baik-baik saja.Gara kini berusia tujuh bulan. Mulut mungilnya mulai pandai berceloteh, suaranya kerap terdengar seperti mantra penguat di hari-hari Sekar yang sunyi.“Ibu… ba… ba…”Sekar tersenyum tipis. Namun senyum itu tak pernah benar-benar sampai ke matanya.Ia menatap wajah kecil itu lama, terlalu lama, hingga dada Sekar tiba-tiba terasa nyeri.Bagaimana jika suatu hari nanti Gara bertanya tentang ayahnya?Tentang sosok yang seharusnya ada, tapi tak pernah hadir?Pertanyaan itu menusuk perlahan, mengendap sebagai luka yang tak pernah sembuh.Sementara itu, di sebuah apartemen sederhana, tiga lelaki duduk saling berhadapan, suasana di antara mereka jauh dari santai.“Vin, kamu serius nggak mau ke sana?” Niko memecah keheningan. “Pastiin dulu. Jangan sampai nanti kamu nyesel.”Malvin diam. Tatapannya kosong, jemarinya m

  • Luka Itu Bernama Kamu   Bab 6. Setelah Putus

    Sudah dua minggu sejak perdebatan itu terjadi. Arga tak lagi menghubunginya.Dan entah sejak kapan, diam menjadi sesuatu yang paling menakutkan bagi Sekar.Di tempat kerja, tubuhnya hadir, tetapi pikirannya tertinggal jauh—pada hubungan yang kini menggantung tanpa kepastian. Dua tahun bersama Arga bukan waktu yang singkat. Lelaki itu pernah begitu meyakinkan, begitu sabar memperjuangkan restu ibunya.Namun satu kesalahan yang ia simpan sejak awal—ketidakjujuran—mengubah segalanya.Arga kecewa.Merasa tidak dihargai.Dan memilih berhenti tanpa benar-benar pergi.Sekar menatap layar ponselnya. Tak ada pesan. Tak ada panggilan.Kosong.Ketakutan itu datang perlahan, menekan dadanya tanpa suara. Ia takut hubungan ini tak sekadar retak—melainkan selesai. Rasanya seperti mengulang luka delapan tahun lalu. Tanpa kabar. Tanpa penjelasan. Ditinggalkan begitu saja.Trauma lama yang belum sepenuhnya sembuh, kini mengetuk kembali.“Sekar, kamu nggak pulang?” suara Laras terdengar dari kejauhan.“

  • Luka Itu Bernama Kamu   Bab 5. Retak

    Di rumah sakit, Gara langsung ditangani dokter. Sekar duduk di kursi tunggu dengan tangan gemetar, menatap pintu ruang periksa yang tertutup. Rasa bersalah menekan dadanya—ia terlalu sibuk memikirkan Arga, sampai lupa memperhatikan anak sekecil ini.“Dok, bagaimana kondisi anak saya?” tanyanya begitu dokter keluar.“Hanya demam biasa,” jawab dokter tenang. “Saya sudah resepkan obatnya. Tidak perlu dirawat, bisa langsung dibawa pulang.”Sekar mengangguk lega. “Terima kasih, Dok.”Namun kelegaannya hanya bertahan sebentar.Di lantai lain rumah sakit itu, tiga lelaki tengah bercengkerama—lebih tepatnya meledek sahabat mereka yang terbaring di ranjang.“Makanya, Nik, kalau mau happy-happy ajak kita. Mampus kan lu kecelakaan? Syukur nggak mati,” celetuk Revan.“Kalau gue ajak kalian, yang ada nggak dapet cewek,” balas Niko malas.“Apalagi kalau suhu playboy ini ikut,” sahut Niko.“Cewek mah yang penting isi dompet sama isi celana,” Revan tertawa.“Brisik. Pulang aja kalian,” usir Niko. “Gu

  • Luka Itu Bernama Kamu   Bab 4. Retak Yang Tak Bisa Ditutup

    Sabtu pagi, pukul enam lewat tiga puluh.Sekar sudah bersiap sejak subuh. Gara sedang dibawa jalan pagi oleh Bu Sarah di depan kos. Udara masih sejuk, tapi dada Sekar terasa berat—seperti ada sesuatu yang akan runtuh hari ini.Arga: Aku bentar lagi sampaiArga: Tunggu di depan gang ya, biar langsung jalanSekar: Oke“Mbak Sarah, Gara aku titip ya,” ucap Sekar sambil merapikan tas.“Mudah-mudahan malam aku sudah sampai.”“Iya, Mbak. Hati-hati di jalan.”Sekar menunduk, mencium kening bayi kecil itu.“Sayang, mama pergi sebentar ya. Jangan rewel.”Di ujung gang, mobil CR-V hitam berhenti. Kaca terbuka.“Sayang, ayo. Biar nggak kesiangan.”Sekar masuk ke mobil. Kendaraan melaju, membelah hiruk-pikuk pagi Jakarta. Pandangannya terpaku ke luar jendela—hingga langkahnya terhenti pada satu sosok di depan supermarket.Lelaki itu lagi.Entah mengapa, sejak kehadiran Gara, bayangan masa lalu itu semakin sering muncul. Padahal Sekar tahu, rumah lelaki itu bukan di sekitar sini.“Sayang,” suara A

  • Luka Itu Bernama Kamu   Bab 3. Janji Yang Retak

    Sagara kini menginjak usia dua bulan.Waktu berjalan terlalu cepat, seolah tak memberi Sekar kesempatan bernapas. Dua bulan itu pula ia menyimpan satu rahasia besar—tentang seorang bayi yang kini menjadi pusat hidupnya, tentang sebuah keputusan yang ia ambil tanpa kompromi.Sekar tahu, secerdik apa pun ia menyembunyikan Sagara, lambat laun semuanya akan terungkap. Rasa bersalah itu selalu datang setiap kali ponselnya berdering membawa nama Arga di layar.Dan hari ini, kebohongan itu mulai retak.“Aku kangen,” kata Arga di telepon pagi tadi.Alasan sederhana, tapi cukup membuat dada Sekar sesak.Sudah lima bulan mereka tak bertemu. Jarak Jakarta–Bogor, kesibukan kerja, dan restu yang belum datang membuat pertemuan menjadi barang langka. Saling percaya adalah prinsip yang mereka pegang—setidaknya sampai Sekar mulai menyimpan rahasia sebesar ini.Arga: Sayang, aku sudah jalanArga: Aku juga sudah pesan hotelArga: Kita ketemu dekat hotel aja yaSekar menatap layar ponsel lama.Perasaan c

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status