Home / Pendekar / Luka Yang Menembus Langit / Bab 128 - Keangkuhan yang Runtuh

Share

Bab 128 - Keangkuhan yang Runtuh

Author: Akaiy
last update publish date: 2026-04-20 01:00:47

Udara di perbatasan luar Lembah Dewa Jatuh mendadak terasa statis berat, seolah-olah oksigen di tempat itu telah tersedot oleh kehadiran entitas yang tidak semestinya berada di sana. Liang Xiao melangkah keluar dari balik rimbunnya semak berduri beracun dengan gerakan yang begitu halus hingga nyaris tak bersuara, namun intensitas auranya membuat dedaunan di sekitarnya layu seketika. Tiga murid inti dari Sekte Awan Surgawi, yang sedang sibuk menggunakan kompas p

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 163 - Perlawanan Terakhir

    Udara di sekeliling Liang Xiao mendadak membeku, bukan karena suhu salju yang turun, melainkan karena tekanan spiritual yang luar biasa dahsyat dari proyeksi jiwa Ketua Sekte Bayangan Hitam, Mo Wuhen. Sosok raksasa yang terbentuk dari kabut hitam itu melayang angkuh di atas Cermin Pelacak Langit, matanya yang semerah darah menatap rendah ke arah Liang Xiao seolah-olah pemuda itu hanyalah seekor semut lancang yang sedang menunggu untuk diinjak."Jadi, kaulah serangga kecil yang berani mencuri apa yang seharusnya menjadi milikku?" Suara Mo Wuhen menggetarkan gendang telinga dengan resonansi energi yang menyakitkan, menyebabkan pepohonan kuno di Lembah Tabib Mistis tumbang seketika seolah-olah dihantam badai tak terlihat. "Berlututlah di hadapanku, serahkan fragmen itu, dan mungkin aku akan membiarkan jiwamu tetap utuh untuk kujadikan budak abadi di penjara kegelapan."

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 162: Prahara di Lembah Tabib Mistis

    Langit di atas Lembah Tabib Mistis yang biasanya tenang dan diselimuti kabut putih, kini terbelah secara paksa oleh cahaya perak dingin yang memancar dari Cermin Pelacak Langit. Cahaya itu bukan sekadar penerang, melainkan energi destruktif yang mengoyak ketenangan alam. Di bawah pancaran cahaya yang mengintimidasi tersebut, sosok utusan khusus Sekte Bayangan Hitam, Zuo Yan, berdiri dengan angkuh di atas dahan pohon tua yang meranggas.Zuo Yan bukanlah praktisi sembarangan. Ia adalah pria dengan aura pedang yang sangat tajam dan tipis, dikenal di dunia persilatan sebagai "Pencabut Nyawa Tanpa Bayangan". Kecepatannya melegenda; konon, ia bisa memenggal kepala lawan sebelum bayangannya sendiri sempat bergerak mengikuti tubuhnya.Liang Xiao melangkah maju dengan tenang, menapakkan kakinya di atas tanah lembah

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 161: Penyatuan Yin dan Yang di Kolam Teratai Surgawi

    Aroma kayu cendana yang menenangkan berpadu dengan uap pekat dari rebusan tanaman herbal langka, memenuhi setiap sudut ruangan kayu milik Tabib Bertangan Dewa. Di atas ranjang bambu yang sederhana, Ling Er terbaring dengan napas yang semakin pendek dan berat. Keadaan fisiknya sangat memprihatinkan; kulitnya yang seputih salju kini dihiasi gurat-gurat merah membara yang menjalar seperti akar pohon—pertanda mengerikan bahwa energi Naga Langit yang maskulin dari fragmen kedua mulai melahap habis fondasi energi Yin murni miliknya.Tabib Bertangan Dewa, yang bernama asli Yao Jing, menghela napas panjang setelah melepaskan jemarinya dari denyut nadi Ling Er yang tidak teratur. "Energi Naga Langit itu terlalu murni, terlalu tajam, dan terlalu maskulin untuk tubuh seorang wanita tanpa persiapan khusus. Gadis ini telah meng

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 160: Jejak Darah Menuju Lembah Tabib Mistis

    Hembusan angin dingin yang menusuk di Puncak Salju Abadi perlahan-lahan berganti dengan udara yang lebih lembap, membawa aroma tanah basah dan lumut purba saat Liang Xiao dan Ling Er menuruni lereng curam pegunungan. Meskipun ancaman utama dari para eksekutor di puncak telah ditumbangkan dengan tragis, kondisi fisik Ling Er mulai menunjukkan tanda-tanda yang sangat mengkhawatirkan. Wajahnya yang semula merona hangat setelah proses penyatuan jiwa kini tampak sepucat pualam, dan langkah kakinya mulai kehilangan koordinasi, seringkali tersandung di atas permukaan tanah yang tidak rata."Ling Er, bertahanlah sedikit lagi. Kita hampir keluar dari zona beku ini," bisik Liang Xiao dengan nada penuh kecemasan sambil merangkul pinggang ramping gadis itu, memberikan seluruh dukungan fisiknya agar ia tidak jatuh terjerembab."Energi Naga Langit itu... ternyata terlalu mas

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 159: Kepungan Salju dan Amukan Naga

    Sisa-sisa uap panas dari penyatuan jiwa yang sakral antara Liang Xiao dan Ling Er masih menyelimuti ceruk es sempit itu saat realitas pahit kembali menghantam mereka dengan keras. Hawa membunuh yang sangat dingin, lebih tajam dan lebih menusuk daripada badai salju Puncak Salju Abadi, merayap masuk hingga ke tulang sumsum. Liang Xiao segera mengenakan pakaian perangnya dengan gerakan yang kini jauh lebih ringan, presisi, dan bertenaga. Kultivasi ganda yang baru saja mereka lakukan tidak hanya menstabilkan gejolak energinya yang liar, tetapi juga berhasil menjebol sumbatan meridian utama yang selama ini menjadi penghambat kemajuan ilmunya menuju puncak tingkat Nascent Soul."Mereka memiliki metode pelacakan yang jauh lebih cepat dari yang kita perkirakan," bisik Ling Er sambil merapikan jubah sutra birunya yang kini tampak berpendar dengan aura es yang jauh lebih pekat dan murni. "Sekte Bayangan Hitam tidak

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 158 - Gejolak Darah dan Penyatuan Jiwa

    Udara di luar gua Puncak Salju Abadi terasa begitu kontras dengan kebekuan purba yang baru saja mereka tinggalkan di dalam jantung gunung. Sinar matahari yang memantul di hamparan salju putih yang tak berujung menciptakan pantulan yang menyilaukan mata, namun bagi Liang Xiao, rasa hangat yang menyentuh kulitnya tidak mampu meredam gejolak energi yang sedang mengamuk hebat di dalam pembuluh darahnya. Ritual persembahan darah yang baru saja ia lakukan untuk memicu pelepasan fragmen kedua Segel Kunci telah membangkitkan sesuatu yang sangat purba, liar, dan menuntut di dalam dirinya.Ling Er mendekat dengan langkah tertatih, wajahnya yang cantik tampak pucat pasi karena kelelahan yang luar biasa setelah pelarian yang sangat sempit dari kejaran Jenderal Feng. "Kakak Xiao, kau terlihat sangat tidak stabil. Energi Naga Langit Es itu... ia tidak hanya menyatu, ia sedang mencoba mengambil alih kesadaranmu. Ia menol

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 2 -Abu dan Dendam

    Malam itu terasa tak berakhir. Di dalam gua kecil yang lembab di tepi sungai, Lian Xue memeluk tubuh kecil Lian Mei yang terus bergetar. Adiknya sudah kehabisan air mata, kini hanya isakan pelan yang tersisa, seperti hembusan angin dingin yang menyusup melalui celah-celah batu. Bau darah dan asap m

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 1 – Desa Yang Tenang, Bayangan yang mengintai

    Di lereng hijau pegunungan Yulong, tersembunyi sebuah desa kecil bernama Yunhe. Kabut pagi selalu menutupi atap-atap kayu, sementara sungai deras berkelok di antara sawah dan kebun. Penduduknya hidup sederhana. Mereka bukan kultivator yang bisa membelah langit atau menundukkan gunung; mereka hanyal

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 157 - Warisan Darah Naga di Jantung Es

    Dinding gua es itu tidaklah rata; permukaannya dipenuhi dengan relief-relief kuno yang sangat kompleks, menceritakan perang besar antara klan naga dan entitas dari Alam Bawah yang kini telah terlupakan oleh sejarah. Ukiran-ukiran tersebut tampak berdenyut dengan ca

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 156: Badai di Puncak Salju Abadi

    Meninggalkan gubuk Tabib Gila Gu di bawah naungan kabut, Liang Xiao dan Ling Er memacu kuda spiritual mereka menuju koordinat utara dengan kecepatan penuh. Namun, pemandangan daratan hijau yang subur segera berganti secara drastis menjadi hamparan putih yang menyil

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status