登入Kabar tentang tumbangnya Han Zu—sang jenius kebanggaan yang digadang-gadang sebagai calon pemimpin masa depan—menyebar seperti api yang ditiup badai di seluruh wilayah perbatasan. Di puncak Gunung Awan Surgawi, suasana yang biasanya diselimuti ketenangan meditatif dan aroma dupa cendana yang luhur kini berubah menjadi ketegangan yang mencekam. Di dalam Aula Pertemuan Utama yang megah, tiga orang Tetua Inti duduk dengan wajah mendung sehitam awan bad
Udara di sekeliling Liang Xiao mendadak membeku, bukan karena suhu salju yang turun, melainkan karena tekanan spiritual yang luar biasa dahsyat dari proyeksi jiwa Ketua Sekte Bayangan Hitam, Mo Wuhen. Sosok raksasa yang terbentuk dari kabut hitam itu melayang angkuh di atas Cermin Pelacak Langit, matanya yang semerah darah menatap rendah ke arah Liang Xiao seolah-olah pemuda itu hanyalah seekor semut lancang yang sedang menunggu untuk diinjak."Jadi, kaulah serangga kecil yang berani mencuri apa yang seharusnya menjadi milikku?" Suara Mo Wuhen menggetarkan gendang telinga dengan resonansi energi yang menyakitkan, menyebabkan pepohonan kuno di Lembah Tabib Mistis tumbang seketika seolah-olah dihantam badai tak terlihat. "Berlututlah di hadapanku, serahkan fragmen itu, dan mungkin aku akan membiarkan jiwamu tetap utuh untuk kujadikan budak abadi di penjara kegelapan."
Langit di atas Lembah Tabib Mistis yang biasanya tenang dan diselimuti kabut putih, kini terbelah secara paksa oleh cahaya perak dingin yang memancar dari Cermin Pelacak Langit. Cahaya itu bukan sekadar penerang, melainkan energi destruktif yang mengoyak ketenangan alam. Di bawah pancaran cahaya yang mengintimidasi tersebut, sosok utusan khusus Sekte Bayangan Hitam, Zuo Yan, berdiri dengan angkuh di atas dahan pohon tua yang meranggas.Zuo Yan bukanlah praktisi sembarangan. Ia adalah pria dengan aura pedang yang sangat tajam dan tipis, dikenal di dunia persilatan sebagai "Pencabut Nyawa Tanpa Bayangan". Kecepatannya melegenda; konon, ia bisa memenggal kepala lawan sebelum bayangannya sendiri sempat bergerak mengikuti tubuhnya.Liang Xiao melangkah maju dengan tenang, menapakkan kakinya di atas tanah lembah
Aroma kayu cendana yang menenangkan berpadu dengan uap pekat dari rebusan tanaman herbal langka, memenuhi setiap sudut ruangan kayu milik Tabib Bertangan Dewa. Di atas ranjang bambu yang sederhana, Ling Er terbaring dengan napas yang semakin pendek dan berat. Keadaan fisiknya sangat memprihatinkan; kulitnya yang seputih salju kini dihiasi gurat-gurat merah membara yang menjalar seperti akar pohon—pertanda mengerikan bahwa energi Naga Langit yang maskulin dari fragmen kedua mulai melahap habis fondasi energi Yin murni miliknya.Tabib Bertangan Dewa, yang bernama asli Yao Jing, menghela napas panjang setelah melepaskan jemarinya dari denyut nadi Ling Er yang tidak teratur. "Energi Naga Langit itu terlalu murni, terlalu tajam, dan terlalu maskulin untuk tubuh seorang wanita tanpa persiapan khusus. Gadis ini telah meng
Hembusan angin dingin yang menusuk di Puncak Salju Abadi perlahan-lahan berganti dengan udara yang lebih lembap, membawa aroma tanah basah dan lumut purba saat Liang Xiao dan Ling Er menuruni lereng curam pegunungan. Meskipun ancaman utama dari para eksekutor di puncak telah ditumbangkan dengan tragis, kondisi fisik Ling Er mulai menunjukkan tanda-tanda yang sangat mengkhawatirkan. Wajahnya yang semula merona hangat setelah proses penyatuan jiwa kini tampak sepucat pualam, dan langkah kakinya mulai kehilangan koordinasi, seringkali tersandung di atas permukaan tanah yang tidak rata."Ling Er, bertahanlah sedikit lagi. Kita hampir keluar dari zona beku ini," bisik Liang Xiao dengan nada penuh kecemasan sambil merangkul pinggang ramping gadis itu, memberikan seluruh dukungan fisiknya agar ia tidak jatuh terjerembab."Energi Naga Langit itu... ternyata terlalu mas
Sisa-sisa uap panas dari penyatuan jiwa yang sakral antara Liang Xiao dan Ling Er masih menyelimuti ceruk es sempit itu saat realitas pahit kembali menghantam mereka dengan keras. Hawa membunuh yang sangat dingin, lebih tajam dan lebih menusuk daripada badai salju Puncak Salju Abadi, merayap masuk hingga ke tulang sumsum. Liang Xiao segera mengenakan pakaian perangnya dengan gerakan yang kini jauh lebih ringan, presisi, dan bertenaga. Kultivasi ganda yang baru saja mereka lakukan tidak hanya menstabilkan gejolak energinya yang liar, tetapi juga berhasil menjebol sumbatan meridian utama yang selama ini menjadi penghambat kemajuan ilmunya menuju puncak tingkat Nascent Soul."Mereka memiliki metode pelacakan yang jauh lebih cepat dari yang kita perkirakan," bisik Ling Er sambil merapikan jubah sutra birunya yang kini tampak berpendar dengan aura es yang jauh lebih pekat dan murni. "Sekte Bayangan Hitam tidak
Udara di luar gua Puncak Salju Abadi terasa begitu kontras dengan kebekuan purba yang baru saja mereka tinggalkan di dalam jantung gunung. Sinar matahari yang memantul di hamparan salju putih yang tak berujung menciptakan pantulan yang menyilaukan mata, namun bagi Liang Xiao, rasa hangat yang menyentuh kulitnya tidak mampu meredam gejolak energi yang sedang mengamuk hebat di dalam pembuluh darahnya. Ritual persembahan darah yang baru saja ia lakukan untuk memicu pelepasan fragmen kedua Segel Kunci telah membangkitkan sesuatu yang sangat purba, liar, dan menuntut di dalam dirinya.Ling Er mendekat dengan langkah tertatih, wajahnya yang cantik tampak pucat pasi karena kelelahan yang luar biasa setelah pelarian yang sangat sempit dari kejaran Jenderal Feng. "Kakak Xiao, kau terlihat sangat tidak stabil. Energi Naga Langit Es itu... ia tidak hanya menyatu, ia sedang mencoba mengambil alih kesadaranmu. Ia menol
Langit di sekitar Pegunungan Awan Surgawi yang biasanya cerah kini tertutup oleh awan kumulonimbus hitam yang berputar-putar secara agresif, memancarkan kilatan petir ungu dan hitam yang memancarkan aura kematian. Tekanan udara turun drastis ke titik yang menyesakk
Gerbang Lembah Tulang Terlarang berdiri tegak di hadapan Liang Xiao dan Ling Er, sebuah lengkungan raksasa yang terbuat dari tengkorak naga bumi purba yang telah membatu selama ribuan tahun. Aura kematian di tempat ini begitu pekat hingga kabut di sekitarnya beruba
Perjalanan menuju Lembah Tulang Terlarang membawa Liang Xiao dan Ling Er melintasi hamparan padang gersang yang dikenal sebagai Tanah Kematian. Di wilayah terkutuk ini, langit selalu tertutup oleh mendung abu-abu yang statis, dan angin yang bertiup kencang senantia
Kabar mengenai pembantaian Pasukan Penegak Hukum di Hutan Kabut Abadi menyebar seperti api yang ditiup badai di seluruh wilayah persilatan. Di puncak tertinggi Pegunungan Awan Surgawi, Aula Utama Sekte Awan Surgawi yang biasanya dipenuhi dengan lantunan doa yang ag







