Home / Pendekar / Luka Yang Menembus Langit / Bab 8 - Langkah Menuju Dunia Luas

Share

Bab 8 - Langkah Menuju Dunia Luas

Author: Akaiy
last update Last Updated: 2026-01-28 10:59:06

Pagi berikutnya, gua kecil yang selama berminggu-minggu menjadi rumah mereka terasa lebih sempit dari biasanya. Lian Xue bangun sebelum fajar, membersihkan tubuh dengan air dari mata air untuk terakhir kalinya. Ia memeriksa barang-barang yang tersisa. Pisau kecil ayahnya, selendang ibunya yang kini menjadi selimut Lian Mei, sedikit beras, dan beberapa ramuan penyembuh sederhana yang diberikan oleh Feng Ying.

Lian Mei duduk di batu kecil, memeluk lututnya sambil memandang kakaknya mengemas. Matanya besar, bercampur rasa takut dan penasaran.

"Kak, Kita akan pergi ke mana ?"

Lian Xue berlutut di depannya, menyisir rambut adiknya yang kusut dengan jari.

"Kita akan pergi ke tempat yang lebih aman, Mei'er. Ada kota kecil di utara, bernama Qingfeng Town. Di sana ada sekolah kultivasi kecil dan pasar yang ramai. Kita bisa cari tempat tinggal disana.” Lian xue menatap adiknya lian mei sambil tersenyum.

Lian Mei mengangguk pelan, meski kata-kata itu terlalu besar untuk anak seusianya. Ia hanya tahu satu hal, selama bersama kakak dan kakek tua yang menakutkan tapi baik itu, ia tak lagi merasa sendirian.

Feng Ying muncul dari mulut gua, membawa sebuah tas kain sederhana berisi ramuan dan beberapa buah liar kering.

"Kita berangkat sekarang. Perjalanan ke Qingfeng Town sekitar empat hari dengan berjalan kaki jika kita cepat. Feng Ying berkata pada Lian Xue.

Kemudian melanjutkan lagi. “Hutan ini masih penuh bahaya, tapi setelah itu kita masuk ke jalan raya yang lebih aman."

Ia menatap Lian Xue tajam.

"Kau sudah cukup kuat untuk bertahan dari serangan binatang tingkat rendah. Tapi jangan sombong. Dunia luar jauh lebih kejam daripada gua ini. Ada manusia yang lebih ganas dari roh liar."

Lian Xue mengangguk. Ia menggendong Lian Mei di punggungnya, memastikan selendang ibu melingkari tubuh kecil adiknya agar tidak kedinginan.

Mereka meninggalkan gua tanpa banyak kata. Langkah pertama terasa berat. bukan karena tubuh, tapi karena setiap langkah membawa mereka semakin jauh dari kenangan Yunhe yang hancur. Lian Xue sempat menoleh sekali ke belakang, melihat lingkaran batu tempat ia pertama kali merasakan qi, tempat ia menangis, tempat ia bangkit.

Feng Ying berjalan di depan, tongkatnya mengetuk tanah seperti metronom. Ia tak banyak bicara, tapi sesekali menunjuk tanaman langka atau jejak binatang, mengajarkan Lian Xue cara bertahan hidup dihutan.

Siang hari, mereka beristirahat di tepi sungai kecil. Lian Xue meletakkan Lian Mei di rerumputan agar bisa bermain, lalu duduk bersila untuk meditasi singkat. Qi air di Dantian Bawahnya berputar lebih stabil sekarang, seperti danau tenang yang siap membentuk ombak kapan saja.

Tiba-tiba, Feng Ying menegang.

"Ada yang mengikuti kita."

Lian Xue langsung berdiri, tangannya siap mengalirkan qi. Dari balik pepohonan, muncul tiga sosok pria berpakaian compang-camping, wajah mereka penuh bekas luka, mata lapar seperti serigala.

"Perampok," gumam Feng Ying pelan. "Tingkat Qi Awal, mungkin baru saja membuka meridian.”

Salah satu perampok maju, pedang karatan di tangan.

"Kakek tua… anak kecil, serahkan makanan dan semua yang kalian bawa. Kami tak ingin membunuh kalian kalau tak perlu." Ancam perampok itu.

Feng Ying tak bergerak. Ia hanya menatap mereka dengan mata dingin.

Lian Xue melangkah maju, meletakkan Lian Mei di belakang batu besar.

"Guru, biar aku."

Feng Ying mengangkat alis, tapi tak menghentikan.

"Ingat, jangan bunuh kalau tak perlu. Tapi jangan ragu kalau mereka memaksa."

Ketiga perampok itu tertawa kasar.

"Anak kecil, kau mau melawan kita.” perampok itu berkata sambil tertawa meremehkan Lian Xue.

Lian Xue tak menunggu. Ia mengalirkan qi ke kaki, membuat gerakannya lebih cepat dari biasa. Dalam sekejap, ia sudah berada di depan perampok pertama. Tinju yang sudah ditempa batu menghantam perut pria itu.

*Duukkk !*

Pria itu terpental mundur, muntah darah, jatuh tak sadarkan diri.

Dua lainnya terkejut. Mereka menyerang bersamaan. satu dengan pedang, satu dengan tinju qi yang bercahaya merah samar.

Lian Xue membungkuk menghindar pedang, lalu memukul siku perampok kedua. Tulang siku itu retak dengan suara *crack* keras.

Pria itu meraung, tapi Lian Xue tak berhenti, ia menendang lututnya, membuat pria itu ambruk.

Perampok terakhir, yang memegang pedang, panik. Ia menusuk dengan liar. Lian Xue mengalirkan qi air ke telapak tangan, membentuk perisai tipis berbentuk air mengalir. Pedang itu membentur perisai dan terpental, seolah menghantam baja yang kokoh dan tak bisa ditembus.

Lian Xue maju satu langkah, tinju menghantam dada pria itu. Pukulan itu tak membunuh, tapi cukup membuat pria itu terbang mundur dan pingsan di tanah.

Semuanya selesai dalam hitungan napas.

Lian Xue berdiri di antara tiga tubuh tak sadarkan diri, napasnya agak tersengal tapi terkendali. Darah di tangannya bukan darahnya sendiri.

Feng Ying bertepuk tangan pelan, suara yang jarang terdengar darinya.

"Bagus, kau sudah mulai bisa mengontrol qi dengan sangat baik dalam sebuah pertarungan nyata. Kau tak ragu, tapi juga tak kejam berlebihan. Bagus bagus."

Ia mendekati para perampok, menyentuh dahi mereka satu per satu. Qi petir kecil menyambar, membuat mereka tetap pingsan lebih lama.

"Mereka akan bangun besok sore. Kita sudah jauh saat itu."

Lian Mei berlari dari balik batu, memeluk kaki kakaknya.

"Kakak…kau terluka ?"

Lian Xue mengangkat adiknya, tersenyum lelah tapi tulus.

"Tak apa-apa, Mei'er. Kakak baik-baik saja."

Mereka melanjutkan perjalanan saat matahari mulai condong ke barat. Hutan perlahan menipis, digantikan jalan setapak yang lebih lebar tanda bahwa mereka mendekati kota.

Di kejauhan, asap tipis terlihat mengepul dari cerobong Qingfeng Town sudah dekat.

Feng Ying berjalan di samping Lian Xue.

"Di kota itu, kau akan melihat dunia kultivasi yang sebenarnya. Sekolah kecil, klan kecil, pedagang, dan masih banyak lagi. Jangan percaya siapa pun begitu saja. Tapi juga jangan takut menjalin hubungan. Kau butuh sekutu suatu hari nanti."

Lian Xue mengangguk, matanya memandang ke depan.

"Aku mengerti, Guru."

Malam itu, mereka berkemah di tepi jalan. Lian Xue duduk menjaga api unggun kecil, Lian Mei tidur di pangkuannya. Feng Ying memandang bintang-bintang.

"Besok kau akan memasuki dunia yang lebih besar," katanya pelan. "Dan dendammu akan mulai menemukan bentuknya."

Lian Xue menatap api, api yang memantul di matanya seperti janji.

"Aku siap."

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Putri borlian
makin seru
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 75 - Menguasai Array Kuno dan Penemuan Baru

    Dengan warisan pengetahuan array tingkat tinggi dari Liang Qiao yang kini bersemayam di benaknya, Liang Xiao segera memulai pelatihannya di ruang rahasia bawah tanah. Tempat ini adalah surga bagi seorang kultivator , kolam spiritual yang memancarkan energi murni, rak rak buku giok yang tak terhitung jumlahnya, dan prasasti prasasti kuno yang mengukir teknik teknik terlarang. Namun, fokus utamanya saat ini adalah menginternalisasi dan mempraktikkan pengetahuan array yang baru saja ia serap secara instan namun masif tersebut.Liang Xiao duduk bersila di dekat kolam spiritual. Uap hangat yang membawa esensi bumi meresap ke dalam pori porinya, mempercepat proses pemulihan meridian dan memperkuat fondasi kultivasinya. Di dalam benaknya, ribuan pola array berputar putar seperti galaksi kecil, mulai dari formasi penyegelan dasar hingga struktur kompleks yang bahkan para master formasi di dunia luar

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 74 - Warisan Array Agung dan Pengetahuan yang Mengalir

    Ruangan rahasia di bawah reruntuhan itu bukan sekadar gudang penyimpanan; ia adalah sebuah ekosistem spiritual yang mandiri. Udara di dalamnya terasa berdenyut, seolah olah dinding dinding batu giok itu sendiri sedang bernapas. Cahaya keemasan dari kolam spiritual di tengah ruangan memantul pada permukaan rak rak buku yang jernih, menciptakan spektrum pelangi yang menari nari di langit langit aula yang tinggi. Liang Xiao melangkah perlahan, merasakan sensasi menggelitik di permukaan kulitnya saat pori porinya mulai menyerap energi murni yang meluap luap. Di tempat ini, konsentrasi Qi setidaknya sepuluh kali lipat lebih padat dibandingkan di dunia atas."Ini adalah jantung warisan Keluarga Liang," bisik Liang Xun. Wujud spiritualnya tampak lebih tenang di sini, seolah olah ia telah pulang ke rumah yang sebenarnya. "Kolam spiritual ini adalah Nadi Bumi yang dialirkan secara paksa oleh leluhur k

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 73 - Peninggalan Leluhur

    Langkah kaki Liang Xiao menggema pelan di atas lantai batu yang retak. Debu tebal yang menyelimuti reruntuhan aula utama berterbangan setiap kali ujung jubahnya menyapu lantai. Di depannya, sosok transparan Liang Xun melayang dengan anggun, namun raut wajah spiritualnya memancarkan ketegangan yang nyata. Sisa jiwa itu berhenti tepat di depan sebuah dinding batu yang tampak tidak istimewa. Permukaannya kasar, ditumbuhi lumut kering, dan penuh dengan goresan akibat cuaca ekstrem selama bertahun tahun. Secara kasat mata, dinding itu hanyalah bagian dari struktur bangunan yang telah mati.Liang Xun mengangkat tangan kanannya yang berpendar biru pucat. Ia mengarahkan jari telunjuknya ke sebuah titik spesifik yang terletak setinggi dada di permukaan batu tersebut. "Jangan tertipu oleh penampilan luar, Liang Xiao. Dunia luar mengenal klan kita sebagai keluarga bangsawan yang kaya, namun mereka tidak pernah tahu b

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 72 - Rahasia Tersembunyi Keluarga Liang

    Langkah kaki Liang Xiao terasa berat saat ia menapaki ubin batu yang retak di gerbang utama kediaman klan nya. Setelah bersujud sebagai tanda hormat terakhir kepada para leluhur di ambang pintu yang hancur, ia melangkah masuk ke dalam area yang kini lebih mirip pemakaman massal daripada sebuah kediaman bangsawan. Debu tebal yang telah mengendap selama bertahun tahun terbang tertiup angin, menyelimuti bayangan struktur struktur megah yang kini hanya tinggal kerangka kayu yang melapuk dan ditelan tanaman merambat liar. Di beberapa sudut, jejak kebakaran hebat masih terlihat jelas; arang hitam yang menyatu dengan batu menjadi saksi bisu betapa brutalnya api yang melahap tempat ini di masa lalu. Udara di sini terasa dingin dan menyesakkan, seolah setiap inci tanahnya masih menyimpan memori kesedihan dan teriakan kematian yang tak sempat terbalaskan.Liang Xiao melangkah dengan waspada, tangan kanannya menggeng

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 71 - Bersujud di Gerbang yang Membeku

    Kesunyian akademi saat masa liburan memberikan keleluasaan bagi Liang Xiao untuk menuntaskan rasa penasarannya. Berbekal akses dari Perpustakaan Terlarang Tingkat Tinggi, ia menghabiskan waktu berhari hari untuk membedah setiap inchi perkamen pemberian Feng Ying. Simbol simbol kuno yang awalnya tampak seperti coretan acak mulai bertransformasi menjadi koordinat geografis yang presisi. Setelah melalui penelitian intensif yang menguras energi mental, peta itu akhirnya menunjuk pada satu titik di ujung utara yang terisolasi, sebuah wilayah yang dikenal dengan nama mengerikan: "Sungai Abu".Sungai Abu bukanlah sekadar nama kiasan. Wilayah ini adalah lembah kematian di mana vegetasi enggan tumbuh dan udara terasa seperti mengandung serpihan logam. Sungai yang mengalir di dasarnya membawa sedimen vulkanik berwarna abu abu pekat, menciptakan ilusi visual seolah olah seluruh dunia di sana telah hangus terbakar oleh api langit. Masyarakat sekitar menghindari tempat ini, menyebutnya sebagai tan

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 70 - Dendam yang Kembali Menyala

    Suasana hangat yang diciptakan oleh kehadiran Liang Mei di penginapan perlahan memudar seiring malam yang larut. Setelah memastikan adiknya tertidur lelap, Liang Xiao kembali ke kamarnya. Ia duduk bersila di atas kasur, matanya menatap kosong ke dinding di depannya, namun pikirannya berkelana jauh ke masa lalu. Kemenangan atas Ming Yu dan posisi barunya di peringkat sepuluh besar Daftar Seratus Murid Berbakat adalah pencapaian yang membanggakan. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia tahu bahwa ini hanyalah sebuah sarana, bukan tujuan akhir.Pengingat akan senyum tulus adiknya, kemurnian hatinya, adalah tamparan yang lembut namun kuat. Semua yang ia lakukan, semua bahaya yang ia hadapi, semua intrik yang ia lalui, pada akhirnya adalah demi keamanan dan masa depan Liang Mei, serta untuk memenuhi sumpah yang telah ia ukir di hatinya: balas dendam atas pembantaian keluarganya.Dengan pijakan yang kini semakin kokoh di Akademi Bintang Jatuh, dengan akses ke sumber daya yang lebih luas, dan deng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status