LOGINPagi berikutnya, gua kecil yang selama berminggu-minggu menjadi rumah mereka terasa lebih sempit dari biasanya. Lian Xue bangun sebelum fajar, membersihkan tubuh dengan air dari mata air untuk terakhir kalinya. Ia memeriksa barang-barang yang tersisa. Pisau kecil ayahnya, selendang ibunya yang kini menjadi selimut Lian Mei, sedikit beras, dan beberapa ramuan penyembuh sederhana yang diberikan oleh Feng Ying.
Lian Mei duduk di batu kecil, memeluk lututnya sambil memandang kakaknya mengemas. Matanya besar, bercampur rasa takut dan penasaran. "Kak, Kita akan pergi ke mana ?" Lian Xue berlutut di depannya, menyisir rambut adiknya yang kusut dengan jari. "Kita akan pergi ke tempat yang lebih aman, Mei'er. Ada kota kecil di utara, bernama Qingfeng Town. Di sana ada sekolah kultivasi kecil dan pasar yang ramai. Kita bisa cari tempat tinggal disana.” Lian xue menatap adiknya lian mei sambil tersenyum. Lian Mei mengangguk pelan, meski kata-kata itu terlalu besar untuk anak seusianya. Ia hanya tahu satu hal, selama bersama kakak dan kakek tua yang menakutkan tapi baik itu, ia tak lagi merasa sendirian. Feng Ying muncul dari mulut gua, membawa sebuah tas kain sederhana berisi ramuan dan beberapa buah liar kering. "Kita berangkat sekarang. Perjalanan ke Qingfeng Town sekitar empat hari dengan berjalan kaki jika kita cepat. Feng Ying berkata pada Lian Xue. Kemudian melanjutkan lagi. “Hutan ini masih penuh bahaya, tapi setelah itu kita masuk ke jalan raya yang lebih aman." Ia menatap Lian Xue tajam. "Kau sudah cukup kuat untuk bertahan dari serangan binatang tingkat rendah. Tapi jangan sombong. Dunia luar jauh lebih kejam daripada gua ini. Ada manusia yang lebih ganas dari roh liar." Lian Xue mengangguk. Ia menggendong Lian Mei di punggungnya, memastikan selendang ibu melingkari tubuh kecil adiknya agar tidak kedinginan. Mereka meninggalkan gua tanpa banyak kata. Langkah pertama terasa berat. bukan karena tubuh, tapi karena setiap langkah membawa mereka semakin jauh dari kenangan Yunhe yang hancur. Lian Xue sempat menoleh sekali ke belakang, melihat lingkaran batu tempat ia pertama kali merasakan qi, tempat ia menangis, tempat ia bangkit. Feng Ying berjalan di depan, tongkatnya mengetuk tanah seperti metronom. Ia tak banyak bicara, tapi sesekali menunjuk tanaman langka atau jejak binatang, mengajarkan Lian Xue cara bertahan hidup dihutan. Siang hari, mereka beristirahat di tepi sungai kecil. Lian Xue meletakkan Lian Mei di rerumputan agar bisa bermain, lalu duduk bersila untuk meditasi singkat. Qi air di Dantian Bawahnya berputar lebih stabil sekarang, seperti danau tenang yang siap membentuk ombak kapan saja. Tiba-tiba, Feng Ying menegang. "Ada yang mengikuti kita." Lian Xue langsung berdiri, tangannya siap mengalirkan qi. Dari balik pepohonan, muncul tiga sosok pria berpakaian compang-camping, wajah mereka penuh bekas luka, mata lapar seperti serigala. "Perampok," gumam Feng Ying pelan. "Tingkat Qi Awal, mungkin baru saja membuka meridian.” Salah satu perampok maju, pedang karatan di tangan. "Kakek tua… anak kecil, serahkan makanan dan semua yang kalian bawa. Kami tak ingin membunuh kalian kalau tak perlu." Ancam perampok itu. Feng Ying tak bergerak. Ia hanya menatap mereka dengan mata dingin. Lian Xue melangkah maju, meletakkan Lian Mei di belakang batu besar. "Guru, biar aku." Feng Ying mengangkat alis, tapi tak menghentikan. "Ingat, jangan bunuh kalau tak perlu. Tapi jangan ragu kalau mereka memaksa." Ketiga perampok itu tertawa kasar. "Anak kecil, kau mau melawan kita.” perampok itu berkata sambil tertawa meremehkan Lian Xue. Lian Xue tak menunggu. Ia mengalirkan qi ke kaki, membuat gerakannya lebih cepat dari biasa. Dalam sekejap, ia sudah berada di depan perampok pertama. Tinju yang sudah ditempa batu menghantam perut pria itu. *Duukkk !* Pria itu terpental mundur, muntah darah, jatuh tak sadarkan diri. Dua lainnya terkejut. Mereka menyerang bersamaan. satu dengan pedang, satu dengan tinju qi yang bercahaya merah samar. Lian Xue membungkuk menghindar pedang, lalu memukul siku perampok kedua. Tulang siku itu retak dengan suara *crack* keras. Pria itu meraung, tapi Lian Xue tak berhenti, ia menendang lututnya, membuat pria itu ambruk. Perampok terakhir, yang memegang pedang, panik. Ia menusuk dengan liar. Lian Xue mengalirkan qi air ke telapak tangan, membentuk perisai tipis berbentuk air mengalir. Pedang itu membentur perisai dan terpental, seolah menghantam baja yang kokoh dan tak bisa ditembus. Lian Xue maju satu langkah, tinju menghantam dada pria itu. Pukulan itu tak membunuh, tapi cukup membuat pria itu terbang mundur dan pingsan di tanah. Semuanya selesai dalam hitungan napas. Lian Xue berdiri di antara tiga tubuh tak sadarkan diri, napasnya agak tersengal tapi terkendali. Darah di tangannya bukan darahnya sendiri. Feng Ying bertepuk tangan pelan, suara yang jarang terdengar darinya. "Bagus, kau sudah mulai bisa mengontrol qi dengan sangat baik dalam sebuah pertarungan nyata. Kau tak ragu, tapi juga tak kejam berlebihan. Bagus bagus." Ia mendekati para perampok, menyentuh dahi mereka satu per satu. Qi petir kecil menyambar, membuat mereka tetap pingsan lebih lama. "Mereka akan bangun besok sore. Kita sudah jauh saat itu." Lian Mei berlari dari balik batu, memeluk kaki kakaknya. "Kakak…kau terluka ?" Lian Xue mengangkat adiknya, tersenyum lelah tapi tulus. "Tak apa-apa, Mei'er. Kakak baik-baik saja." Mereka melanjutkan perjalanan saat matahari mulai condong ke barat. Hutan perlahan menipis, digantikan jalan setapak yang lebih lebar tanda bahwa mereka mendekati kota. Di kejauhan, asap tipis terlihat mengepul dari cerobong Qingfeng Town sudah dekat. Feng Ying berjalan di samping Lian Xue. "Di kota itu, kau akan melihat dunia kultivasi yang sebenarnya. Sekolah kecil, klan kecil, pedagang, dan masih banyak lagi. Jangan percaya siapa pun begitu saja. Tapi juga jangan takut menjalin hubungan. Kau butuh sekutu suatu hari nanti." Lian Xue mengangguk, matanya memandang ke depan. "Aku mengerti, Guru." Malam itu, mereka berkemah di tepi jalan. Lian Xue duduk menjaga api unggun kecil, Lian Mei tidur di pangkuannya. Feng Ying memandang bintang-bintang. "Besok kau akan memasuki dunia yang lebih besar," katanya pelan. "Dan dendammu akan mulai menemukan bentuknya." Lian Xue menatap api, api yang memantul di matanya seperti janji. "Aku siap."Udara di sekeliling Liang Xiao mendadak membeku, bukan karena suhu salju yang turun, melainkan karena tekanan spiritual yang luar biasa dahsyat dari proyeksi jiwa Ketua Sekte Bayangan Hitam, Mo Wuhen. Sosok raksasa yang terbentuk dari kabut hitam itu melayang angkuh di atas Cermin Pelacak Langit, matanya yang semerah darah menatap rendah ke arah Liang Xiao seolah-olah pemuda itu hanyalah seekor semut lancang yang sedang menunggu untuk diinjak."Jadi, kaulah serangga kecil yang berani mencuri apa yang seharusnya menjadi milikku?" Suara Mo Wuhen menggetarkan gendang telinga dengan resonansi energi yang menyakitkan, menyebabkan pepohonan kuno di Lembah Tabib Mistis tumbang seketika seolah-olah dihantam badai tak terlihat. "Berlututlah di hadapanku, serahkan fragmen itu, dan mungkin aku akan membiarkan jiwamu tetap utuh untuk kujadikan budak abadi di penjara kegelapan."
Langit di atas Lembah Tabib Mistis yang biasanya tenang dan diselimuti kabut putih, kini terbelah secara paksa oleh cahaya perak dingin yang memancar dari Cermin Pelacak Langit. Cahaya itu bukan sekadar penerang, melainkan energi destruktif yang mengoyak ketenangan alam. Di bawah pancaran cahaya yang mengintimidasi tersebut, sosok utusan khusus Sekte Bayangan Hitam, Zuo Yan, berdiri dengan angkuh di atas dahan pohon tua yang meranggas.Zuo Yan bukanlah praktisi sembarangan. Ia adalah pria dengan aura pedang yang sangat tajam dan tipis, dikenal di dunia persilatan sebagai "Pencabut Nyawa Tanpa Bayangan". Kecepatannya melegenda; konon, ia bisa memenggal kepala lawan sebelum bayangannya sendiri sempat bergerak mengikuti tubuhnya.Liang Xiao melangkah maju dengan tenang, menapakkan kakinya di atas tanah lembah
Aroma kayu cendana yang menenangkan berpadu dengan uap pekat dari rebusan tanaman herbal langka, memenuhi setiap sudut ruangan kayu milik Tabib Bertangan Dewa. Di atas ranjang bambu yang sederhana, Ling Er terbaring dengan napas yang semakin pendek dan berat. Keadaan fisiknya sangat memprihatinkan; kulitnya yang seputih salju kini dihiasi gurat-gurat merah membara yang menjalar seperti akar pohon—pertanda mengerikan bahwa energi Naga Langit yang maskulin dari fragmen kedua mulai melahap habis fondasi energi Yin murni miliknya.Tabib Bertangan Dewa, yang bernama asli Yao Jing, menghela napas panjang setelah melepaskan jemarinya dari denyut nadi Ling Er yang tidak teratur. "Energi Naga Langit itu terlalu murni, terlalu tajam, dan terlalu maskulin untuk tubuh seorang wanita tanpa persiapan khusus. Gadis ini telah meng
Hembusan angin dingin yang menusuk di Puncak Salju Abadi perlahan-lahan berganti dengan udara yang lebih lembap, membawa aroma tanah basah dan lumut purba saat Liang Xiao dan Ling Er menuruni lereng curam pegunungan. Meskipun ancaman utama dari para eksekutor di puncak telah ditumbangkan dengan tragis, kondisi fisik Ling Er mulai menunjukkan tanda-tanda yang sangat mengkhawatirkan. Wajahnya yang semula merona hangat setelah proses penyatuan jiwa kini tampak sepucat pualam, dan langkah kakinya mulai kehilangan koordinasi, seringkali tersandung di atas permukaan tanah yang tidak rata."Ling Er, bertahanlah sedikit lagi. Kita hampir keluar dari zona beku ini," bisik Liang Xiao dengan nada penuh kecemasan sambil merangkul pinggang ramping gadis itu, memberikan seluruh dukungan fisiknya agar ia tidak jatuh terjerembab."Energi Naga Langit itu... ternyata terlalu mas
Sisa-sisa uap panas dari penyatuan jiwa yang sakral antara Liang Xiao dan Ling Er masih menyelimuti ceruk es sempit itu saat realitas pahit kembali menghantam mereka dengan keras. Hawa membunuh yang sangat dingin, lebih tajam dan lebih menusuk daripada badai salju Puncak Salju Abadi, merayap masuk hingga ke tulang sumsum. Liang Xiao segera mengenakan pakaian perangnya dengan gerakan yang kini jauh lebih ringan, presisi, dan bertenaga. Kultivasi ganda yang baru saja mereka lakukan tidak hanya menstabilkan gejolak energinya yang liar, tetapi juga berhasil menjebol sumbatan meridian utama yang selama ini menjadi penghambat kemajuan ilmunya menuju puncak tingkat Nascent Soul."Mereka memiliki metode pelacakan yang jauh lebih cepat dari yang kita perkirakan," bisik Ling Er sambil merapikan jubah sutra birunya yang kini tampak berpendar dengan aura es yang jauh lebih pekat dan murni. "Sekte Bayangan Hitam tidak
Udara di luar gua Puncak Salju Abadi terasa begitu kontras dengan kebekuan purba yang baru saja mereka tinggalkan di dalam jantung gunung. Sinar matahari yang memantul di hamparan salju putih yang tak berujung menciptakan pantulan yang menyilaukan mata, namun bagi Liang Xiao, rasa hangat yang menyentuh kulitnya tidak mampu meredam gejolak energi yang sedang mengamuk hebat di dalam pembuluh darahnya. Ritual persembahan darah yang baru saja ia lakukan untuk memicu pelepasan fragmen kedua Segel Kunci telah membangkitkan sesuatu yang sangat purba, liar, dan menuntut di dalam dirinya.Ling Er mendekat dengan langkah tertatih, wajahnya yang cantik tampak pucat pasi karena kelelahan yang luar biasa setelah pelarian yang sangat sempit dari kejaran Jenderal Feng. "Kakak Xiao, kau terlihat sangat tidak stabil. Energi Naga Langit Es itu... ia tidak hanya menyatu, ia sedang mencoba mengambil alih kesadaranmu. Ia menol
Pagi itu, sinar matahari menembus kanopi hutan dengan lebih terang dari biasanya, seolah alam memberi isyarat bahwa hari ini akan menjadi titik balik. Lian Xue berdiri di depan sebuah batu besar setinggi pinggangnya permukaannya kasar, berlumut, dan tampak tak tergoyahkan. Bekas pukulan pohon kemar
Pagi itu, kabut masih menyelimuti lembah seperti selimut tebal yang enggan dilepas. Lian Xue membangunkan Lian Mei dengan lembut, memberinya sisa nasi dingin yang dibungkus daun bambu. Adiknya makan dalam diam, matanya masih merah karena menangis semalaman. "Kita akan pergi hari ini, Mei'er," kat
Malam itu terasa tak berakhir. Di dalam gua kecil yang lembab di tepi sungai, Lian Xue memeluk tubuh kecil Lian Mei yang terus bergetar. Adiknya sudah kehabisan air mata, kini hanya isakan pelan yang tersisa, seperti hembusan angin dingin yang menyusup melalui celah-celah batu. Bau darah dan asap m
Di lereng hijau pegunungan Yulong, tersembunyi sebuah desa kecil bernama Yunhe. Kabut pagi selalu menutupi atap-atap kayu, sementara sungai deras berkelok di antara sawah dan kebun. Penduduknya hidup sederhana. Mereka bukan kultivator yang bisa membelah langit atau menundukkan gunung; mereka hanyal







