LOGINAura di dalam ruang kendali Benteng Karang Hitam semakin mencekam, terasa seperti ruang hampa yang siap meledak kapan saja. Penatua Gu tertawa kering, suara tawanya yang parau terdengar seperti gesekan amplas pada kayu tua yang membusuk. Ia menghentakkan tongkat kayu hitamnya ke lantai batu dengan kekuatan penuh, dan seketika sepuluh bayangan hitam pekat bangkit dari lantai, meliuk liuk membentuk Array Bayangan Seribu Jiwa.
![]()
Lin Zhe memacu kuda spiritualnya tanpa henti, membelah malam yang pekat seperti anak panah yang lepas dari busurnya. Kuda itu, seekor Bicorn bertenaga petir, mengeluarkan busa dari mulutnya saat mereka melewati gerbang kota kekaisaran Qingyun yang megah. Ibukota Qingyun adalah puncak dari peradaban kultivasi; sebuah keajaiban arsitektur di mana menara-menara tinggi berlapis emas dan giok seolah menusuk awan, dengan formasi pertahanan Arkaik Biru yang memancarkan cahaya safir lembut, membungkus seluruh kota dalam kubah energi yang konon tak tertembus. Namun, bagi Lin Zhe, semua kemewahan dan benteng cahaya itu kini terasa serapuh kaca tipis yang siap hancur di bawah tumit sepatu Liang Xiao.Di dalam Aula Pertemuan Agung, suasana menceka
Malam di bekas reruntuhan Sekte Awan Surgawi tidaklah sesunyi kuburan yang sewajarnya menaungi ribuan nyawa yang melayang. Justru, tempat itu kini berdenyut dengan kehidupan yang menyimpang, sebuah ekaristi kegelapan yang merayakan keruntuhan tatanan lama. Di aula utama yang atapnya telah hancur dihantam teknik Guntur Surgawi, menyingkapkan langit malam yang bertabur bintang namun terasa menekan, Liang Xiao masih bertakhta. Ia tidak sekadar duduk; ia seolah-olah menyatu dengan kegelapan itu sendiri.Aura merah keunguan yang pekat menyelimuti tubuhnya, berputar-putar seperti naga bayangan yang sedang membelit mangsa. Energi itu bukan lagi qi murni, melainkan esensi Malice yang telah dimurnikan melalui pembantaian massal. Di depannya, di
Suasana di markas besar yang dulunya milik Sekte Awan Surgawi kini telah bermutasi menjadi pemandangan yang ganjil, sebuah perpaduan antara kemegahan yang rusak dan kebejatan yang merajalela. Langit di atas pegunungan itu seolah menolak untuk menjadi cerah, tertutup oleh lapisan awan kelabu yang rendah, memerangkap bau anyir darah yang mengental di dalam lembah. Reruntuhan bangunan yang dulunya merupakan simbol kesucian dan jalur menuju keabadian kini tak lebih dari latar belakang bisu bagi pemandangan yang akan menghancurkan kewarasan manusia biasa.Liang Xiao duduk dengan angkuh di atas singgasana batu obsidian yang ia bentuk secara kasar dari sisa-sisa gerbang utama sekte. Tekstur batu itu dingin dan tajam, namun ia bersandar di sana seolah itu adalah bantalan sutra yang paling empuk. Di bawah kakinya, jasad para tetua agung yang mencoba melakukan perlawanan terakhir dibiarkan bertumpuk. Tubuh-tubuh mer
Kehancuran Sekte Awan Surgawi dalam semalam bukan sekadar tragedi regional; itu adalah gempa tektonik yang menggetarkan fondasi politik dan spiritual seluruh benua Long-Zhu. Ribuan burung pengirim pesan bersayap perak dilepaskan dari berbagai menara pengintai, terbang membelah badai, membawa gulungan perkamen yang berisi laporan mengerikan. Kabar tentang seorang pemuda bernama Liang Xiao—yang dalam satu putaran rembulan telah membantai ribuan nyawa dan mendirikan istana di atas tumpukan mayat—menyebar seperti wabah hitam.Di pusat kekuasaan, Ibu Kota Kekaisaran Angin Timur, suasana yang biasanya penuh dengan kemewahan berubah menjadi tegang. Berita itu merayap masuk ke aula tahta giok, membungkam musik para pemain kecapi. Sang Kaisar, yang selama ini menganggap sekte-sekte besar sebagai penjaga stabilitas, merasa otoritasnya ditantang secara langsung. Ia tidak bisa membiarkan sebuah lubang hita
Asap hitam yang pekat masih mengepul dengan malas dari sisa-sisa bangunan Sekte Awan Surgawi yang kini telah rata dengan tanah. Bau anyir darah yang mengental, hasil dari pembantaian ribuan nyawa dalam satu malam, bercampur aduk dengan aroma kayu gaharu yang terbakar dan sisa-sisa ozon dari petir energi. Perpaduan bau itu menciptakan atmosfer yang mencekam di sepanjang puncak gunung, sebuah aroma kematian yang akan menetap di sana selama puluhan tahun ke depan.Liang Xiao tidak terburu-buru. Setiap langkahnya di atas puing-puing itu disengaja, penuh dengan otoritas seorang penakluk yang baru saja memenangkan dunia. Ia berdiri di titik tertinggi reruntuhan Aula Utama, tempat di mana singgasana Zhao Feng dulunya berada. Dari ketinggian itu, ia menatap hamparan lembah di bawahnya yang kini diselimuti oleh kabut merah tipis—sisa-sisa dari Domain Kabut Kehampaan
Aula Utama Sekte Awan Surgawi kini tak lebih dari sekadar tumpukan puing yang terendam dalam lautan darah yang menggenang setinggi mata kaki. Pilar-pilar naga yang dulunya merupakan simbol kemegahan abadi telah tumbang, hancur berkeping-keping di bawah tekanan energi yang tak terkendali. Di tengah apokalips kecil ini, Liang Xiao berdiri tegak. Napasnya teratur, tenang secara mengerikan, meskipun jubah putihnya kini telah berubah warna menjadi merah legam, basah kuyup oleh darah musuh-musuhnya yang masih mengepulkan uap hangat di udara dingin pegunungan.Di hadapannya, satu-satunya sosok yang masih berdiri di atas kakinya adalah Sang Pemimpin Sekte, Zhao Feng. Pria yang dulunya dipuja sebagai puncak kultivasi di wilayah ini kini tampak menua puluhan tahun dalam hitungan jam. Matanya menatap Liang Xiao dengan kebencian yang mendalam, sebuah amarah yang bercampur dengan ketakutan primitif yang berusaha keras







